Rania selalu dihina dan direndahkan oleh mertuanya, dia mendapatkan caci makian itu dan suaminya hanya berdiam diri tanpa membelanya.
Ardi sang suami selalu beralasan jika ibunya sudah tua sehingga ingin melihatnya menjadi orang sukses sehingga dia menggunakan identitas Rania untuk membuat ibunya bahagia.
Cinta yang besar dimiliki Rania tidak mampu membuatnya berharga dan terlihat dimata keluarga suaminya, dia memutuskan untuk berhenti dan mengambil kembali semua miliknya.
Suaminya yang Menumpang tapi dirinya yang selalu dihina, dia membalas semua rasa sakit hatinya membuat suami dan keluarganya panik dan kalang kabut
Akankah, perjuangannya mendapatkan kebahagiaannya kembali
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34
Pov Ardi
Awalnya dia pikir itu cuma lelah karena kehilangan Rania dalam perceraian itu, hatinya masih gamang tapi kehidupan nya tetap berjalan
Pagi datang seperti biasa. Alarm bunyi jam 5.30, dia matikan, berguling, lalu bangun tanpa ada yang membangunkannya setelah ini
Jalan ke kantor lewat rute yang sama menyapa satpam yang sama. Membalas "pagi" di grup kantor dengan stiker yang sama.
Tidak ada yang berubah. Tapi ada yang terasa... kosong.
Dia tidak tahu sejak kapan mungkin sejak hari itu hujan dan dia lupa bawa payung, tapi tidak ada yang menawari tumpangan. Mungkin sejak chat terakhir dibaca tapi tidak dibalas sampai akhirnya tenggelam oleh chat lain. Mungkin sejak dia tertawa di sebuah acara dan sadar tidak ada satu orang pun yang menoleh untuk melihat apakah dia benar-benar tertawa.
Kehilangan tidak selalu datang dengan suara pintu dibanting. Kadang ia datang seperti baterai yang habis pelan-pelan. Satu persen demi satu persen. Sampai suatu hari kamu buka ponsel dan ternyata sudah mati.
Dia masih melakukan semua hal dengan benar. Masuk kerja tepat waktu. Menyelesaikan laporan. Membalas email dengan "Siap, terima kasih". Mengirim ucapan ulang tahun di status. Menghadiri pertemuan.
Tapi rasanya seperti sedang memainkan peran. Dialognya hafal. Ekspresinya pas hanya saja hatinya tidak ikut di atas panggung.
Dia mulai kehilangan semangat untuk hal-hal kecil. Dulu dia bisa menghabiskan berjam-jam untuk perjalanan 15 menit untuk menemani ibunya pergi berbelanja.
Sekarang dia hanya bisa duduk termenung memikirkan seseorang yang akhirnya menyerah dengan segalanya dan tidak ingin mempertahankan dirinya seperti dulu.
Ibunya sering bertanya , "Kamu kelihatan baik-baik saja tanpanya.
Aku hanya bisa mengangguk Karena memang dia baik-baik saja, tidak sakit, tidak sedih berlebihan, tidak marah. Hanya... datar seperti air di gelas yang sudah didiamkan semalaman.
Malamnya dia scroll tanpa arah, jempol bergerak sendiri. Melihat teman-teman liburan, menikah, pindah kerja, Dia ikut senang tapi setelah menutup aplikasi, tidak ada sisa rasa apa-apa. Seperti makan kapas. Mengunyah, menelan, lalu lupa.
Dia mulai kehilangan keberanian untuk berharap. Dulu kalau ada proyek baru dia akan begadang dengan mata berbinar. Sekarang dia berpikir, "Ah, paling juga gitu-gitu lagi.
Yang paling aneh dia merasa kehilangan siapa-siapa, tidak ada yang merawatnya, Tidak ada yang pindah kota semua orang masih di tempatnya. Hanya saja jaraknya terasa berbeda. Seperti semua orang berdiri di satu sisi ruangan, dan dia di sisi lain. Masih bisa saling lihat. Masih bisa saling lambaikan tangan. Tapi suaranya tidak sampai.
Dia mencoba mengisi semuanya dengan pergi bersama adiknya main game sampai subuh. Bangun dengan kepala berat dan perasaan yang tetap sama.
Suatu sore dia duduk di balkon, langit diteras rumah . Angin membawa bau hamparan udara. Dia menatap itu lama. Dulu pemandangan seperti ini akan membuatnya kembali mengingat luka kini tapi bayangan Nama Rania yang terlihat
Di titik itu dia baru sadar. Dia sedang kehilangan orang yang menyayanginya melebihi dirinya sendiri. Pelan-pelan, tanpa drama, tanpa pengumuman.
Dia kehilangan cara untuk terkejut. Kehilangan rasa ingin tahu. Kehilangan keinginan untuk cerita. Kehilangan alasan untuk merayakan hal kecil karena tempatnya pulang tidak lagi terasa sama, hambar dan kosong.
Bukan karena dunia jahat. Bukan karena ada yang menyakiti. Hanya karena terlalu lama berpura-pura kuat. Terlalu lama bilang "aku tidak apa-apa" sampai akhirnya dia sendiri percaya. Terlalu lama menunda istirahat sampai lupa rasanya beristirahat.
Kehilangan itu licik. Ia tidak mengambil semuanya sekaligus. Ia mengambil dulu rasa penasaran. Lalu rasa bangga, lalu rasa malu, lalu rasa rindu. Sampai yang tersisa hanya rutinitas yang berjalan dengan baik.
Malam itu dia tidak bisa tidur bukan karena overthinking, bukan karena cemas. Hanya karena ada ruang kosong di dadanya yang berisik. Kosong tapi berisik. Aneh.
Dia membuka galeri. Foto-foto lama. Dia yang sedang kotor karena cat. Dia yang tertawa dengan es krim meleleh di tangan. Dia yang menulis di jurnal sampai tintanya habis. Siapa itu? Masih dia. Tapi rasanya seperti melihat sepupu jauh.
Dia bertanya pada dirinya sendiri: "Kapan terakhir kali aku benar-benar merasa hidup?"
Tidak ada jawaban. Hanya diam.
Keesokan harinya dia tetap bangun. Tetap kerja. Tetap tersenyum. Tapi kali ini dia memperhatikan dirinya sendiri. Seperti sedang melihat orang lain dari jauh.
Dia sadar dia sudah lama tidak bertanya "aku mau apa hari ini". Yang ada hanya "apa yang harus aku lakukan hari ini".
Dia sadar dia sudah lama tidak bilang "aku kangen" duluan. Takut mengganggu. Takut tidak dibalas.
Dia sadar dia sudah lama tidak marah. Bukan karena bijak. Tapi karena sudah tidak peduli cukup untuk marah.
Menyadari itu sakit. Tapi anehnya, ada lega juga. Karena akhirnya ada nama untuk rasa kosong ini. Namanya: kehilangan. Kehilangan yang terjadi tanpa dia sadari.
Dia tidak langsung sembuh. Tidak ada adegan montase dengan musik inspiratif. Hari berikutnya dia masih lupa membalas chat. Masih melewatkan matahari terbenam. Masih makan seadanya.
Bukan untuk menjadi produktif. Hanya untuk membuktikan pada dirinya bahwa hari itu ada. Bahwa dia ada di dalamnya.
Dia mulai mengizinkan dirinya untuk tidak baik-baik saja. Saat ditanya "gimana kabar", dia menjawab "lagi biasa aja" alih-alih "baik". Saat capek, dia pulang lebih awal. Saat tidak mau ketemu orang, dia bilang tidak bisa.
Pelan-pelan, ruang kosong itu tidak seberisik dulu. Masih ada. Tapi tidak menggerogoti.
Dia belajar bahwa kehilangan tidak harus diisi dengan orang baru, proyek baru, atau hobi baru. Kadang yang perlu dilakukan hanya duduk di sebelah kekosongan itu. Menemani. Sampai ia tidak terasa seperti musuh lagi.
Beberapa bulan kemudian, dia menemukan secarik kertas di laci. Tulisan tangan Rania
"Jangan lupa bahagia ya."
Dia tidak ingat kapan Rania menulisnya. Dia tersenyum, bukan senyum lebar, hanya senyum kecil, yang asli.
Dia belum kembali menjadi dirinya yang dulu. Mungkin tidak akan pernah. Tapi dia mulai menjadi versi baru. Versi yang tahu rasanya kehilangan. Versi yang lebih hati-hati menjaga dirinya.
Kini kalau langit jingga lagi, dia masih menatap. Tidak menulis paragraf. Tapi dia merasakan. Dadanya menghangat sedikit. Itu cukup.
Kehilangan memang tidak selalu berisik. Kadang ia datang diam-diam, mencuri satu-satu hal yang membuatmu kamu. Tapi menyadarinya adalah langkah pertama untuk tidak kehilangan lebih banyak lagi.
Dan hari ini, dia memilih untuk tidak kehilangan dirinya lebih jauh.
Dia akan berjuang mendapatkan Rania kembali