Warning
Lima tahun menikah, sikap Elang pada Rindu tetap sama. pria itu jarang menyentuh istrinya, padahal Rindu memiliki hasrat yang tinggi.
Rindu yang merupakan anak yatim piatu dengan perangai santun dan lembut, memberikan pesona pada wanita paruh baya yang tak lain adalah Bella, Ibu kandung Elang. Lalu, mereka pun dijodohkan.
Siapa sangka, ternyata sikap dingin Elang menutupi sebuah rahasia yang tidak diketahui Rindu. Dan saat rahasia itu terungkap, Rindu pun memiliki rahasia yang sama.
Rahasia apa yang tersimpan dalam rumah tangga yang selalu Rindu pertahankan mati - matian hingga akhirnya ia memilih menyerah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Molly Marco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hasrat Yang Kurindukan
"Hai.”
“Hai.”
Dua sejoli yang bukan suami istri itu saling berciuman di dalam mobil.
“Mmppphh …” Dengan agresif, wanita muda itu melumat bibir si pria.
“Ah, kamu memang selalu hot,” ujar si pria yang tak lain adalah Elang.
Elang merangkul pinggang Miska dengar erat. Bibir mereka menyatu dan melampiaskan nafsu. Wanita muda suka bercinta itu pun sengaja membungkuk tubuhnya untuk memeluk pria beristri itu.
Begitu tiba di bandar udara internasional Changi, Singapura, Elang langsung menaiki mobil sedan yang sudah disiapkan asistennya ke kampus Miska. Lagi – lagi, Elang berdusta. Pria itu tidak meeting dan ke kantornya pagi – pagi sekali. Elang justru terbang untuk menemui selingkuhan yang senantiasa menuntaskan hasratnya. Apalagi sudah beberapa minggu Elang berpuasa.
Rindu tidak juga memenuhi keinginannya untuk bercinta. Sehingga dalam beberapa kali terakhir ini, ia harus menuntaskan dengan cara yang jarang sekali ia lakukan.
“Hm, kasian yang udah puasa dua minggu,” ledek Miska sambil mengelus kejantanan Elang.
“Yah, dia tidak dikasih jatah.”
Miska tertawa. “Memang istri Mas masih marah?”
“Ssshhh. Ah.”
Disela lenguhan itu, Elang mengangguk. Ia tak tahan menahan gerakan tangan Miska yang begitu lembut mengelus miliknya, hingga bagian itu berdiri sempurna.
“Kasian sekali.” Miska kembali meledek dengan suaranya yang sensual, menambah gairah Elang yang haus sentuhan.
Sungguh, sebenarnya Elang rindu akan sentuhan Rindu. Namun, apa boleh buat? Rindu terlalu dingin, sedangkan miliknya ingin segera dihangatkan.
Elang melupakan janjinya lagi. Ia melupakan pengorbanan Rindu yang sudah bersusah payah mempertahan permintaannya untuk tetap bertahan.
“Ayo, Sayang! Mainkan milikku dengan mulutmu!”
Dengan senang hati, Miska membuka resleting celana bahan yang digunakan Elang. Lalu mengeluarkan senjata itu. Kemudian, melahapnya. Miska yang sudah pria dan lihai pun mampu membuat Elang terbuai.
“Ah, kamu memang yang terbaik, Mis.”
“Ah, terus. Nikmat, Ah.” Elang terus meracau. Sambil menyandarkan tubuhnya di punggung kursi kemudi, kepalanya menengadah merasakan kenikmatan yang wanita itu berikan.
Saat matanya terpejam, bayangan Rindu pun hadir.
“Maafkan aku, Rin. aku tidak pernah bisa menepati janji. Aku tidak bisa melepaskan kenikmatan yang wanita ini berikan,” ucapnya dalam hati.
Lagi – lagi, Elang melakukan kesalahan itu. kesalahan yang hanya ia sesali saat berhadapan dengan Rindu karena tidak ingin berpisah dari wanita itu. Ia akui bahwa nafsunya memang lebih besar dari cintanya terhadap Rindu.
“Stop, Sayang!” Elang meminta Miska untuk menghentikan aktifitasnya.
“Kenapa?” tanya Miska bingung, pasalnya kekasih gelapnya itu tampak keenakan tapi tiba – tiba meminta berhenti.
“Ayo, cari hotel terdekat!”
Miska tersenyum menyeringai. Ia tahu apa yang ingin dilakukan Elang. “Ayo! Aku juga sudah tidak sabar.”
Elang membalas senyum itu dan melajukan kendaraannya. Saat mengemudi, hatinya masih kembali bergumam. “Maafkan aku, Rindu.”
Setibanya di hotel, Sam yang sedang duduk di lobi sambil memainkan ponsel, tiba – tiba mendengar suara familiar milik Elang. Ia pun mendongak dan menatap dari belakang tubuh yang dikenalinya itu.
Usai berbicara dengan petugas resepsionis di depan, Elang merangkul pinggang Miska menuju lift. Dan saat keduanya berjalan, Sam mengikuti, lalu membidik lagi sejoli itu dan dikirimkan pada Rindu. Sam yakin bahwa pria yang ada di depannya ini adalah suami teman kerjanya. Teman kerja yang dulu pernah ia sukai, tapi sayang cintanya bertepuk sebelah tangan karena Rindu memilih menerima pria yang dikenalkan salah satu donatur di panti asuhan tempatnya dibesarkan.
“Ini Elang kan? Laki lu kan? Dia di Singapura sama cewek. Di hotel tempat gue nginep.”
Sam langsung mengirim foto itu pada Rindu. Lalu, ia segera bersembunyi di balik tembok, karena Elang menengok ke belakang.
“Ada apa, Mas?” tanya Miska melihat tingkah aneh Elang.
Elang menggeleng dan meluruskan lagi kepalanya. “Tidak apa. Aku hanya seperti sedang diperhatikan.”
Miska ikut menengok ke belakang.
“Tidak ada siapa – siapa,” jawabnya.
Elang mengangguk, lalu melepaskan pelukannya pada pinggang Miska dan merogoh sakunya untuk mengambil ponsel. Kakinya melangkah memasuki lift, diikuti oleh Miska.
Miska cemberut, karena sang kekasih lebih fokus dengan ponselnya. Kemudian, Miska sengaja menggoda dengan menempelkan lagi tubuhnya pada dada Elang.
“Mas ngapain sih?” tanyanya sambil melihat ke arah ponsel yang dipegang Elang.
“Kirim pesan ke Rindu.”
“Buat apa? Kamu bilang kalau kita lagi berdua, jangan sebut – sebut nama itu.”
“Tapi, kami sudah berbaikan, Mis,” jawab Elang.
“Kalau sudah berbaikan, kenapa dia masih belum kasih Mas jatah?”
“Dia berjanji akan memberi jatah setelah pulang dari berlibur bersama teman kantornya.”
Miska semakin cemberut. “Jadi, setelah bercinta denganku hari ini, besok Mas bercinta lagi dengan istri Mas. Ih, curang aku disuruh setia di sini tapi Mas enggak.”
Elang tertawa. “Kan kamu sudah tahu konsekuensinya ketika berhubungan denganku, tapi kamu masih saja mau.”
“Nyebelin.”
Pasangan itu memang menyebalkan. Bahkan Sam yang mengikuti mereka saja dengan menaiki lift yang ada di sebelahnya, ikut ingin muntah melihat kelakuan sejoli itu.
“Kasian banget Rindu. Ck, Rindu … Rindu. Andai lu nerima lamaran gue. Lu ga bakal sakit hati kaya gini,” gumam Sam yang kembali membidik diam – diam saat Elang dan Miska memasuki kamar yang telah mereka pesan.
Di resort pulau itu, rindu termenung di dalam kamar. Hatinya bergemuruh, bahkan Lita yang sedari tadi bertanya ada apa? Ia cueki begitu saja.
“Rin.”
Lita kembali mendekati sahabatnya. Kemudian, ia mengambil ponsel yang sengaja digeletakkan oleh Rindu begitu saja.
“Gila!” sentaknya dengan marah. “Elang bener – bener ya.”
Dada Lita pun bergemuruh.
“Udah gue bilang, laki kaya gitu dicerein aja. Ngapain sih masih dipertahanin?” Lita menggebu. Ia justru memarahi Rindu yang terlewat baik.
“Tidak semudah itu, Lit.” Rindu menjawab dengan sendu.
“Hanya karena hutang budi. Lu jadi sakit sendiri? Come on, Rin!” lita lagi – lagi kesal.
Rindu langsung memeluk sahabatnya. “Ngga tahu! Aku ga bisa mikir.”
Lita mengeratkan pelukan sahabatnya. Ia sengaja memberikan ketenangan lewat pelukan dan benar saja, tangis Rindu pun pecah.
“Menangislah, Rin. Tapi kamu harus janji, setelah ini ga boleh nangis lagi.”
Rindu menganggukkan kepalanya. Ia pun melampiaskan semua kegemuruhan hati itu pada Lita. Hingga lebih dari lima belas menit, akhirnya tangis itu mereda.
Rindu melepaskan pelukan.
“Udah lega?” tanya Lita.
“Lumayan," jawab Rindu sambil mengusap pipinya yang basah dan berusaha tersenyum.
“Mulai sekarang, ga boleh nangis lagi. Kita di sini buat seneng‑ seneng. Jadi lupakan Elang, lupakan pekerjaan, lupakan semua hal yang menyesakkan dada lu. oke!
Rindu mengangguk. Ia melihat Lita meraih ponselnya. Lalu, sahabatnya itu menonaktifkan ponsel Rindu.
“Selama di sini, ponsel lu ga boleh nyala. Kalau dia di sana bisa senang – senang. Di sini, lu pun bisa senang - senang. Oke!”
Rindu mengangguk pasrah. Ia berpikir yang sama. Rindu masih beruntung, karena Sam memberikan foto itu saat ia tak sendirian. Jika tidak dalam keadaan bersama Lita dan liburan, mungkin Rindu akan terus menangis di dalam kamar, sendirian. Tiga hari tiga malam, seperti yang ia lakukan sebelumnya saat baru mengetahui perselingkuhan itu.
“Kalau gitu, ayo kita ke restoran! Nanti jatah makan siang kita habis. Lu tahu kan teman - teman kita tuh rakus semua, apalagi kalo makanan enak, langsung diserbu.”
“Ayo!” Lita menarik tangan Rindu, membuat wanita itu bangkit dan mengikutinya.
Wanita yang sedari tadi di cari – cari Rayen di restoran akhirnya datang juga. Tapi sayang, di sana Rayen menangkap dua mata Rindu yang sembab.
Namun, Rayen tidak berani untuk mendekat dan bertanya, kenapa? Ia hanya memperhatikan sekretarisnya dari jauh.
Begitu banyaknya orang di sini, membuat Rayen tak bisa mendekati Rindu sembarangan. Perhatian kecil yang Rayen lakukan saat di kapal speedboat tadi saja sudah mengundang gunjingan dari sebagian karyawan divisi yang mengikuti acara ini. Divisi yang dulu pernah Rindu nanungi sebelum diangkat menjadi sekretaris CEO.
Rayen berusaha untuk melindungi Rindu dari para gunjingan itu. Ia tetap menunjukkan perhatian layaknya seorang bos kepada sekretarisnya saja, hanya itu. namun, hatinya tetap terus bertanya - tanya. Kepala dan tubuhnya pun mengajak untuk mendekat dan memeluk Rindu jika wanita itu kembali tersakiti.
Sore menjelang langit berganti, Rindu termenung dan duduk sendiri di atas pasir pantai. Kedua matanya memandang laut yang terhampar luas.
“Hei, sendirian?”
Rindu dikejutkan oleh suara bosnya. Ia menoleh dan melihat Rayen langsung duduk di sampingnya sembari tersenyum.
“Aku lihat dari tadi kamu diam saja. Kenapa? Ada masalah?” Rayen menatap dua mata indah Rindu.
Namun, wanita itu malah meluruskan lagi dua matanya ke depan. Kemudian, kepalanya menggeleng.
Rayen tahu, Rindu masih tidak ingin bercerita tentang masalahnya, karena Rindu adalah tipe orang yang diam jika ada masalah.
“Mau naik motor boat?” tawar Rayen pada Rindu yang tampak sendu.
Rindu pun mendelik. “Ke mana?”
“Ke pulau itu!” Rayen menunjuk sebuah pulau yang ada di seberang sana. pulau itu tampak kecil.
Rindu menggeleng. “Tidak. itu jauh, nanti keburu gelap.”
Rayen pun meyakinkan. “Tidak jauh. Hanya kelihatannya saja jauh.”
Rindu mempertimbangkan ajakan itu. Kebetulan, saat ini memang tidak ada rekan mereka yang berada di pantai ini. Rindu menepi dari kerumunan para teman divisinya yang sedang mengadakan acara sesuai rundown acara yang dijadwalkan panitia, termasuk Lita.
“Ayo!” Rayen berdiri dan kembali mengajak Rindu dengan mengulurkan tangannya.
Rindu tampak ragu, karena selain sore akan berganti malam, langit pun tampak mendung. Namun, ia yang ingin bersenang‑senang dan melupakan kesedihannya pun mengangguk.
“Ayo!” Akhirnya, Rindu mengikuti ajakan itu dan menerima uluran tangan Rayen untuk membantunya bangkit.
Rayen menyewa motorboad. Ia memakai pelampung untuk dirinya, lalu menoleh ke arah Rindu yang kesusahan memakai benda itu.
“Bisa?”
“Ngga.”
Rindu menggeleng bagai anak kecil, membuat Rayen terenyum dan meraih benda itu, lalu memakaikannya.
“Terima kasih.”
Rayen tersenyum dan mengangguk.
“Ayo, naik!” ajaknya lagi.
Dengan senang, Rindu pun menaiki motor itu.
“Pegangan, Rin, karena aku ingin ngebut!”
Benar saja, Rayen langsung memutar pedal gas ditangannya, hingga kendaraan itu melaju kencang dan mau tidak mau, Rindu memeluk pinggang Rayen dengan erat.
“Aaaa …”
“Aaa … Om jangan kencang – kencang bawanya,” protes Rindu yang kembali memanggil Rayen dengan sebutan Om karena mereka hanya berdua.
“Tidak bisa, Rindu. Ini seru!”
Tidak ada orang yang tahu, bahwa hidup Rayen pun penuh dengan tekanan. Tekanan pekerjaan dan perasaan. Wanita yang ia cintai berkhianat dengan pria yang sama, padahal Rayen sudah menutupi aib wanita itu dan menyayangi putri yang bukan darah dagingnya.
Rasanya perjuangan dan kasih sayang Rayendra selama ini sia – sia. Ia tetap hanya menjadi yang kedua.
Rayen terus melajukan motorboatnya, hingga sampai ke pulau kecil ini.
Jedar
Glegar
Suara petir terdengar menggelegar. Niat ingin berjalan – jalan saja, akhirnya Rayen membawa Rindu ke sebuah penginapan.
“Kita ke mana, Om?” tanya Rindu yang hanya mengikuti tangan yang ditarik oleh Rayen.
“Kita tidak bisa berada diluar seperti ini, Rin. Sebentar lagi hujan. Kita ke sana aja!” Rayen menunjuk ke penginapan kecil itu.
Rindu pun menurut.
“Om, Hujan!” Rindu sudah merasakan rintikan air yang turun dan membasahi sedikit rambutnya
Byur
Baru saja, Rayen berkata demikian, hujan pun turun.
Rayen langsung mengeratkann pegangannya pada tangan Rindu dan mengajak wanita itu untuk lari.
“ayo lari, Rin!”
Rindu tertawa. “Pelan – pelan, Om.”
“Tidak bisa, Rindu. Kita bisa basah kuyup. Ayo, lari lebih kencang.”
Rindu yang baru menikmati lagi guyuran air hujan setelah puluhan tahun, malah tertawa menikmati terpaan air itu dengan langkah kaki yang berlari cepat.
Sesampainya di lobby penginapan kecil itu, mereka pun tertawa.
“Basah semua, Om.”
“Ya, pakaian Om juga basah.”
Melihat tawa itu, seketika Rayen pun terkesima. Bibirnya tersenyum lebar menikmati tawa Rindu yang begitu indah.
“Om memesan kamar?” tanya Rindu saat keduanya berjalan mengikuti pelayan berseragam.
“Kita tidak mungkin balik dalam keadaan seperti ini, Rin. minimal sampai pakaian kita kering dan hujan berhenti.”
Rindu mengangguk setuju.
Lalu, memasuki kamar itu usai pelayan tadi pergi.
“Kamar Om di mana?” tanya Rindu lagi melihat Rayen yang ikut masuk ke kamar ini.
“Maaf, Rin. Om hanya memesan satu kamar, karena kita hanya sebentar, hanya sambil menunggu hujan reda saja.”
Rindu kembali mengangguk setuju.
Kemudian, Rindu memilih menjauh dari Rayen yang sedang sibuk membuka kemejanya yang basah. Penampilan Rindu pun tak jauh berbeda.
Rindu mendekati jendela kamar itu. ia berdiri di sana sambil mengusap rambut panjangnya yang basah. Kemeja putih yang basah itu membentuk pakaian dalam yang Rindu kenakan. Bra berwarna hitam itu tampak jelas terlihat oleh Rayen.
Rayen yang berdiri di belakang Rindu, menelan salivanya kasar. Ia pria normal dan sudah lama sekali tidak bercinta. Setelah mengetahui kelakuan sang istri, Rayen pun tak ingin menyentuhnya lagi. sikap dingin Rayen, justru dimanfaatkan Vera dengan sering bepergian keluar kota dan keluar negeri.
Rindu mengangkat rambutnya yang basah ke atas. Ia hendak memeras rambut basahnya. Namun, tiba – tiba kulit lehernya terasa hangat.
Benar saja, saat menoleh Rindu mendapati tangan besar Rayen menyentuh lehernya. Bukan hanya itu, kedua mata mereka pun bertemu, membuat Rindu membeku.
“Kamu kedinginan?”
Rindu mematung, hingga akhirnya kepala itu mengangguk.
Rayen semakin mendekatkan tubuhnya, juga wajahnya.
Cup
Rayen mengecup bibir ranum Rindu. Dan, Rindu tidak menolak. Ia ikut hanyut dalam pagutan itu.
“Mmmppphh …”
Seketika, Rindu ingin melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan Elang.
Nafas Rayen memburu, begitu pun dengan Rindu. Ia tak lagi memegang teguh kesetiaan. Dikepalanya hanya ada rasa balas dendam. Ia ingin membalas apa yang dilakukan Elang kepada ayah dari wanita yang membuat rumah tangganya hancur. Lepas dari benar atau tidaknya Miska bukan anak kandung Rayen, tapi Rindu juga ingin menghancurkan keluarga itu, padahal keluarga Rayen memang sudah hancur tanpa Rindu ketahui.
Perlahan, Rayen membuka kancing kemeja itu. Suasana alam yang mendukung, langit yang mendung, dan suasana hati yang berkabung, membuat keduanya ingin merasakan kesenangan yang sama. Kesenangan yang dilakukan pada masing – masing pasangannya.
“Ah.” lenguh Rindu, saat mulut Rayen sampai di kedua gunung kembarnya dan memainkan ujung gunung itu bergantian.
“Eum.”
Rindu hanyut akan sentuhan itu, hingga tanpa ia sadari tubuhnya sudah dalam kungkungan Rayen di atas ranjang. Ia melebarkan kakinya, membiarkan Rayen menyentuh bagian sensitif yang semula hanya dimainkan oleh suaminya saja.
Rindu tak lagi memikirkan apa pun. Ia menikmati setiap sentuhan lembut yang diberikan Rayen. Rindu larut dalam hasrat yang sekian lama merindu.