NovelToon NovelToon
BOSKU MENGINGINKAN TUBUHKU

BOSKU MENGINGINKAN TUBUHKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / CEO
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nesakoto

Demi melunasi utang orang tuanya, Kinara rela mengorbankan dirinya daripada dipaksa menikah dengan pria tua. Dikhianati oleh pria yang dicintainya dan adik tirinya sendiri, ia memilih meninggalkan rumah untuk memulai hidup baru. Namun satu keputusan nekat mengubah segalanya, menyeretnya ke dalam takdir yang mengikatnya dengan pria paling berkuasa yang tak pernah ia bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nesakoto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menjebak Bayu

Istirahat siang.

Suasana kantor yang biasanya dipenuhi suara obrolan ringan kini terasa lebih hening bagi Kinara. Langkah kakinya terasa berat saat berjalan bersama Gisella menuju ruang HRD.

Janji sudah terucap, Gisella hanya menemani sampai pintu. Setelah itu, Kinara harus menghadapi semuanya sendiri.

“Semoga berhasil ya, Kin.” Bisik Gisella sambil menggenggam tangannya, seolah mencoba untuk menguatkan.

Kinara hanya mengangguk. Jantungnya berdegup begitu keras, seolah akan meledak kapan saja.

Begitu memasuki ruangan, ia langsung disambut tatapan penuh tanya dari staf HRD. Awalnya Kinara berusaha tenang, tapi ketika menyebutkan nominal pinjaman yang ia butuhkan, ekspresi HRD itu sontak berubah.

“Sepuluh… miliar?” Suaranya tercekat, hampir tidak percaya.

Kinara menunduk. “Iya, Bu. Saya tahu ini jumlah yang tidak wajar, tapi saya benar-benar sangat membutuhkannya.”

Keheningan panjang membungkus ruangan. Staf HRD saling bertukar pandang sebelum akhirnya berkata pelan, “Permintaan sebesar ini tidak bisa diputuskan oleh kami. Hanya Pak Renald Dirgantara yang berwenang. Kalau kamu sungguh ingin, kamu harus langsung menemuinya.”

Mendengar nama itu, darah Kinara seakan berhenti mengalir. CEO perusahaan. Lelaki yang hanya beberapa kali ia lihat dari kejauhan dalam rapat besar.

Sosok dingin, berwibawa, dengan aura yang membuat semua orang memilih menunduk daripada berlama-lama menatap wajahnya.

Langkahnya terasa goyah saat diarahkan menuju ruangan di lantai paling atas. Setiap detik terasa panjang.

Begitu pintu terbuka, hawa ruangan itu berbeda. Mewah, dingin, dan penuh tekanan. Di balik meja kayu besar, berdiri seorang lelaki bertubuh tegap, dengan tatapan setajam pedang.

“Berapa nominal yang kau butuhkan?” Suaranya rendah, berat, tapi menggetarkan.

Kinara menelan ludah. “Eeem… sepuluh miliar, Pak.”

Alis Renald terangkat. “Sepuluh miliar?” Ia mencondongkan tubuh. “Apa kau sanggup mengembalikannya?”

Kinara buru-buru menjawab. “Saya bersedia dikontrak seumur hidup untuk bekerja di sini, dan… lima puluh persen gaji saya siap dipotong.”

Renald terkekeh pelan, sinis. “Naif sekali kamu. Bahkan gaji seumur hidupmu pun belum tentu bisa menutup angka itu.” Ia berhenti sejenak, lalu meliriknya dari kepala hingga kaki. Tatapan itu membuat bulu kuduk Kinara berdiri.

Renald menyipitkan mata. “Tapi baiklah. Akan aku pinjamkan. Dengan syarat…”

Kinara menahan napas.

“… apakah kamu masih perawan?”

Dunia Kinara seketika berhenti berputar. Pertanyaan itu memukulnya begitu keras, membuat wajahnya panas memerah.

“Maaf… apa hubungannya, Pak, dengan—”

“Hanya perlu jawab,” potong Renald tajam. “Masih, atau sudah tidak.”

Suara Kinara tercekat. “Ma… masih, Pak.”

Senyum tipis muncul di wajah Renald. “Bagus. Temui aku besok malam.”

“Maksudnya, Pak?”

Renald bersandar, menyilangkan tangan. “Dengar, di dunia ini tidak ada yang gratis. Apalagi untuk pinjaman sebesar itu. Temani aku kapanpun aku butuhkan… sampai aku bosan. Maka uang itu bisa kau dapatkan. Jika menolak, tidak masalah. Artinya pinjaman itu batal.”

Tubuh Kinara melemas. Kata-kata itu seperti belati yang menusuk ke dalam jiwanya.

Bahkan Bayu, kekasihnya yang sudah lama memintanya untuk menyerahkan diri, tak pernah berhasil ia beri. Ia selalu berpegang pada satu janji: menjaga kehormatan hingga hari pernikahan tiba. Dan kini, seorang lelaki yang bahkan bukan siapa-siapa baginya, menuntut itu sebagai syarat.

“Baiklah...” Ucap Renald akhirnya. “Aku beri waktu sampai besok pagi. Pikirkan baik-baik m mengenai hal ini.”

Kinara hanya bisa menunduk, lalu melangkah pergi tanpa sepatah kata.

———

“Gimana hasilnya?” Gisella langsung menghampiri ketika Kinara kembali ke meja kerjanya.

Namun Kinara hanya tersenyum hambar. “Nggak apa-apa. Aku… aku masih harus mikirin lagi.”

Ia tak sanggup menceritakan detailnya. Bagaimana mungkin ia harus mengakui bahwa harga sebuah pinjaman adalah kehormatannya?

Sementara itu, di balik pintu ruangan besar, Renald berdiri menghadap jendela. Tangannya terkepal, tatapannya jauh.

Selama ini ia dikenal dingin, tak pernah tertarik menjalin hubungan dengan perempuan manapun. Banyak wanita mendekat, tapi tak satu pun yang mampu menarik perhatiannya. Ia punya prinsip: hanya wanita dengan rekam jejak bersih, tanpa noda masa lalu, yang pantas berada di sisinya.

Dan Kinara… untuk pertama kalinya, prinsip itu goyah. Ada sesuatu yang membuatnya ingin menaklukkan gadis itu.

“Aku harus mendapatkannya.” Gumamnya pelan.

Di tempat lain, sebuah drama berbeda kini tengah berlangsung.

“Ma, gimana semalam? Berhasil nggak bujuk Papa?” Diana, adik tiri Kinara, bertanya penuh antusias.

“Berhasil dong, sayang. Papamu itu gampang diarahkan asal Mama yang ngomong.” Jawab Rani—ibunya, sambil tersenyum puas.

Diana memeluk erat sang Mama. “Makasiih, Ma! Biar Kinara itu menikah sama lelaki tua bangka, dan aku bisa bebas deketin Bayu Minoto. Akhirnya keinginanku tercapai!”

“Bayu Minoto?" Raut wajah Rani berubah saat putrinya menyebut nama yang cukup asing ditelinganya.

“Iya, Ma. Itu, loh… anak dari pemilik perusahaan yang sekarang lagi naik daun. Dia pacarnya Kinara.” Jelas Diana dengan wajah sedikit malas.

“Hah? Masa sih?” Rani membelalakkan mata, ekspresinya penuh ketidaksetujuan. “Aduh, nggak cocok banget. Harusnya anak Mama yang secantik ini yang bersanding dengan Bayu itu.”

Rani menangkup kedua pipi putrinya, menatapnya penuh kebanggaan seolah yakin dunia memang seharusnya memihak pada Diana.

Diana tersenyum licik. “Makanya, apapun caranya, aku harus bisa dapetin dia. Dan aku yakin Bayu bakal lebih milih aku daripada Kinara.”

“Tenang, sayang. Mama akan dukung kamu sepenuhnya.”

Setelah merencanakan apa yang akan dilakukannya setelah jauh hari, malam ini Diana mulai melaksanakan rencananya. Ia tahu jadwal Bayu dengan detail—berkat teman-teman Bayu yang juga merupakan teman mainnya.

Malam itu, Bayu memang sudah merencanakan untuk menghabiskan waktunya di sebuah klub malam ternama di kota, Harmos.

Di sanalah Diana menunggu. Mengenakan gaun mini, dengan riasan yang dibuat semanis mungkin.

Kesempatan datang ketika Bayu tak sengaja berjalan melewatinya. Diana berpura-pura menabrak, sambil dengan cekatan menjatuhkan sesuatu ke dalam gelas minuman Bayu.

“Ah, maaf, aku nggak sengaja." Ucapnya manis.

Bayu hanya mengangguk singkat. “It's okay.” Ia kemudian duduk di sudut, menenggak minumannya.

Hanya butuh hitungan detik sebelum kepalanya mulai terasa berat. Bayu meremas pelipisnya, tubuhnya goyah.

Diana yang melihat hal itu dari jauh, tersenyum puas. Kemudian ia pun menghampiri. “Kamu kelihatan nggak enak badan. Biar aku bantu.”

Tanpa perlawanan berarti, Bayu membiarkan dirinya dipapah. Ia terlalu lemah untuk menolak.

Seolah sudah siap dengan semua rencananya, Diana masuk ke dalam kamar hotel yang sudah ia pesan. Begitu pintu kamar tertutup, Bayu direbahkan di ranjang. Tatapannya kabur, pikirannya pun mulai kacau.

Diana mendekat, bibirnya tersenyum licik. “Akhirnya…”

Perlahan sosok Diana berdiri di hadapannya. Wanita itu mulai menuntunnya ke dalam jebakan. Dan di malam itu juga Diana berhasil mengikat Bayu dengan cara yang paling licik.

Bagi Bayu, semua yang terjadi terasa samar. Tapi bagi Diana, itu adalah kemenangan untuk dirinya. Ia yakin setelah malam itu, Bayu tidak akan pernah bisa benar-benar kembali ke Kinara.

Desahan dan erangan memenuhi seluruh kamar, membuat kedua insan itu pada akhirnya terkulai lemas setelah melakukan apa yang harusnya tidak mereka lakukan.

Dan di luar sana, tanpa mengetahui apa yang terjadi, Kinara tengah menatap layar ponselnya dengan mata sembab. Antara menerima syarat Renald atau mencari jalan lain.

1
sandi sanda
/Drool/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!