Siap, ini deskripsi singkat yang diambil dari naskah yang kamu kirim (lebih sesuai dengan konflik, karakter, dan tensinya):
Dalam sebuah perjanjian yang tak bisa dihindari, Talia harus menerima takdirnya untuk menikah dengan Etnan—pria dingin, penuh kuasa, dan menyimpan banyak sisi yang tak terduga.
Di balik hubungan yang terlihat formal, terselip ketegangan, kecemburuan, dan rahasia yang perlahan terungkap. Kehadiran Sophia yang obsesif, serta perasaan tersembunyi dari orang-orang di sekitar mereka, membuat hubungan itu semakin rumit.
Namun di antara sindiran, sentuhan yang tak diinginkan, dan emosi yang saling ditahan—perlahan tumbuh sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kewajiban.
Cinta yang seharusnya tidak ada… justru mulai mengikat mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indri novianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 : BEBAN SEJARAH DUA DARAH
Suasana di dalam private dining room seketika membeku. Gertakan Reymond Smith tidak membuat Ethan Noah Taylor gentar. Pria itu justru menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap balik Reymond dengan ketenangan yang mengintimidasi.
"Bawa dia pulang jika kau mau, Reymond," sahut Ethan, suaranya terlampau tenang, namun setiap kata yang keluar seperti belati es. "Tapi kau tahu persis konsekuensinya. Sumpah darah yang ditulis oleh buyut kita di atas kertas perjanjian damai itu tidak akan membiarkan Talia kembali ke rumah Smith dengan status janda tanpa memicu perang yang sudah diredam selama ini."
Mendengar kata 'perjanjian damai', Oliver Smith dan Noah Taylor saling berpandangan. Raut wajah kedua kepala keluarga itu seketika berubah tegang.
Pernikahan antara Ethan dan Natalia Oliver Smith bukanlah sekadar penyatuan saham atau bisnis kosmetik. Ini adalah pemenuhan janji kuno. Puluhan tahun lalu, buyut keluarga Taylor dan buyut keluarga Smith terlibat dalam perseteruan berdarah yang hampir menghancurkan dinasti kedua belah pihak.
Untuk menghentikan pertumpahan darah dan dendam turun-temurun, sebuah dekret damai dirancang: Keturunan utama di masa depan harus disatukan dalam ikatan suci demi mengunci perdamaian selamanya.
Dan malam ini, Ethan dan Talia-lah yang harus menjadi tumbal dari ambisi perdamaian masa lalu tersebut.
"Reymond, mundur," perintah Oliver Smith dengan suara baritonnya yang tegas namun tersirat kewibawaan. "Jangan biarkan emosimu merusak apa yang telah dijaga oleh leluhur kita."
Reymond mengepalkan tangannya di dalam saku jas. Alex dan Elex Barack Johnson yang berdiri di belakangnya juga hanya bisa terdiam dengan rahang mengeras. Mereka semua tahu, melanggar perjanjian buyut berarti menyalakan kembali api permusuhan yang bisa menghancurkan kedua keluarga.
Melihat ketidakberdayaan keluarga Smith, Sophia Adam Betrice tersenyum sinis di sudut meja. Ia tahu betul sejarah itu. Di dalam hatinya, ia merasa puas karena tahu Ethan menikahi Talia bukan karena cinta, melainkan karena keterpaksaan sejarah.
"Paman Oliver benar," sela Sophia dengan nada memprovokasi, matanya melirik Talia yang masih terdiam kaku. "Talia juga harus paham posisinya. Pernikahan ini terjadi hanya karena tugas sejarah yang ditinggalkan buyut kalian. Jadi, jangan menuntut Ethan untuk bersikap seolah-olah dia mencintaimu, Talia. Ikatan ini... hanyalah sebuah formalitas perdamaian."
Mendengar ucapan Sophia yang mulai melantur dan memprovokasi perjanjian sakral tersebut, suasana meja makan mendadak berubah tegang.
Namun, sebelum pihak keluarga Smith atau bahkan Talia membalas, sebuah dentingan sendok yang sengaja diletakkan dengan keras di atas piring memotong segalanya.
Itu adalah suara dari Steve Adam Betrice. Wajah pria paruh baya itu tampak mengeras penuh amarah, merasa sangat dipermalukan oleh kelancangan putrinya sendiri di depan dua kepala dinasti besar.
"Sophia! Jaga bicaramu!" tegur Adam dengan suara bariton yang bergetar menahan emosi. Matanya menatap tajam sang putri, menuntut kepatuhan mutlak.
Sophia tersentak, wajahnya seketika memucat. Ia tidak menyangka ayahnya akan membentaknya di depan umum seperti ini.
"Ayah, aku hanya mengatakan kenyataan bahwa—"
"Cukup, Sophia!" kini giliran Amelia Betrice yang menyela dengan nada ketus yang tak terbantahkan. Sebagai ibu, ia tahu persis ke mana arah obsesi bodoh putrinya selama ini.
Amelia menggenggam lengan Sophia dengan remasan yang cukup kuat, memberi isyarat fisik agar gadis itu bungkam.
"Berhenti bersikap kurang ajar dan memalukan keluarga kita di meja ini. Mama sudah berulang kali memperingatkanmu, buang jauh-jauh perasaan bodohmu itu! Ethan adalah sepupumu, dan sekarang dia adalah suami sah Natalia. Berhentilah mencintai pria yang tidak akan pernah menjadi milikmu!" Bisik Amelia namun dapat didengar oleh Bella dan Ethan.
Kata-kata Amelia yang menusuk itu langsung membungkam Sophia sepenuhnya. Air mata ego dan rasa malu seketika menggenang di pelupuk mata Sophia.
Di hadapan keluarga Smith dan Taylor, perasaannya yang selama ini ia sembunyikan di balik kedok 'perhatian seorang sepupu' dikuliti habis-habis oleh orang tuanya sendiri.
Adam kemudian menghela napas berat, menoleh ke arah Oliver Smith dan Noah Taylor dengan raut wajah penuh penyesalan. "Oliver, Noah... aku atas nama keluarga Betrice memohon maaf yang sebesar-besarnya atas kelancangan putri kami. Kami sangat menghormati perjanjian damai yang dirancang oleh para buyut kita, dan kami tidak akan membiarkan siapa pun—termasuk anak kami sendiri—merusak kedamaian ini."
Mendengar ketegasan keluarga Betrice, ketegangan di tubuh Reymond, Alex, dan Elex sedikit mengendur, meski pandangan mereka tetap waspada.
Sementara itu, Natalia Oliver Smith—atau Talia—hanya memperhatikan Sophia yang kini menunduk dalam-dalam menyembunyikan tangisnya dengan ekspresi tenang. Talia lalu melirik ke arah Ethan. Pria itu tetap bergeming, wajahnya sekaku patung marmer, seolah badai emosi yang baru saja terjadi di sekitarnya sama sekali tidak melibatkan dirinya.
Namun Natalia Oliver Smith bukanlah gadis lemah yang akan membiarkan harga dirinya diinjak-injak, terutama di depan keluarganya dan sepupunya yang sudah menahan amarah demi dirinya.
Talia menegakkan punggungnya, menatap Sophia dengan senyuman paling anggun dan tenang yang bisa ia tunjukkan.
"Kau benar, Sophia. Ini adalah formalitas perdamaian yang sakral," ucap Talia, suaranya jernih dan tegas membuat Sophia mengangkat kepalanya. "Namun, sekadar mengingatkanmu sebagai kerabat keluarga Taylor... sekadar formalitas pun, akulah wanita yang namanya tertulis di dalam dokumen resmi negara dan sumpah buyut tersebut."
Talia lalu menoleh ke arah Ethan, menatap suaminya yang masih berwajah dingin. "Dan sekeras apa pun suamiku mencoba mengabaikan pernikahan ini, sejarah telah mengunci posisinya di sampingku. Jadi, jika kau mencari pria yang bisa memberikan cinta sejati, Sophia... kurasa kau salah alamat jika terus menatap suamiku."
Kata-kata tajam Talia sukses membungkam Sophia hingga wajah wanita itu memerah menahan malu.
Ethan, yang sejak tadi bersikap acuh tak acuh, perlahan menoleh ke arah Talia. Ada kilat ketertarikan yang sangat tipis dan tersembunyi di balik sepasang mata kelamnya. Pria itu tidak menyangka bahwa gadis yang ia kurung di rooftop tadi memiliki cakar yang cukup tajam untuk melindungi harga dirinya sendiri di meja makan
"Maafkan kelancangan sophia nona Talia." Ucap Amelia.
"Tidak apa-apa bibi." ucap Talia. " Aku hanya ingin menegaskannya saja." Lanjutnya yang membuat Sophia semakin menundukkan kepalanya.