NovelToon NovelToon
Jodoh Kok Bikin Emosi

Jodoh Kok Bikin Emosi

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Seranovelle

Hari pertama bekerja seharusnya menjadi awal yang sempurna bagi Naira Putri Prameswari. Namun semua rencananya berantakan ketika tanpa sengaja ia menumpahkan segelas kopi ke jas seorang pria asing yang dingin dan menyebalkan. Masalahnya, pria itu ternyata adalah Arga Mahendra Wijaya—CEO perusahaan tempat Naira baru diterima bekerja. Sejak saat itu, setiap pertemuan mereka selalu diwarnai adu mulut, sindiran, dan kekacauan yang mengundang tawa. Naira menganggap Arga terlalu kaku dan perfeksionis, sementara Arga merasa Naira adalah sumber masalah yang tak pernah habis. Takdir rupanya punya selera humor. Sebuah proyek penting memaksa mereka bekerja dalam satu tim. Semakin sering bersama, semakin banyak sisi lain yang mereka temukan. Di balik sikap dingin Arga tersimpan perhatian yang tulus, sementara di balik kecerobohan Naira ada hati yang hangat dan selalu membawa warna. Saat kebencian perlahan berubah menjadi rasa nyaman, masa lalu Arga datang menguji hubungan mereka. Mampukah mereka mengalahkan ego, atau justru kembali menjadi dua orang yang saling menyakiti? Karena terkadang, orang yang paling membuat kita emosi adalah orang yang paling sulit kita lepaskan. ❤️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seranovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32 - Masa Lalu yang Belum Selesai

Pagi itu, suasana kantor jauh lebih ramai dari biasanya.

Semua orang sibuk membantu Arga dan Nadira mempersiapkan kepindahan sementara ke kantor cabang Surabaya. Berkas-berkas dipindahkan, laptop dikonfigurasi ulang, hingga berbagai dokumen proyek disusun rapi.

Rina berjalan mondar-mandir sambil membawa kotak arsip.

"Aku masih nggak percaya."

"Apa?"

"Nanti nggak ada yang debat tiap pagi."

Nadira tertawa kecil.

"Emang kita berisik?"

"Berisik?"

Rina mendengus.

"Kalian itu hiburan gratis satu divisi."

Semua orang ikut tertawa.

---

Sore harinya, Pak Dimas mengumpulkan seluruh tim.

"Besok pagi Arga dan Nadira berangkat."

"Jaga nama baik kantor."

"Dan jangan lupa, proyek ini jadi langkah penting untuk perkembangan perusahaan."

Arga dan Nadira mengangguk bersamaan.

"Siap, Pak."

---

Keesokan harinya...

Bandara Soekarno-Hatta.

Mama Nadira memeluk putrinya erat.

"Jaga kesehatan."

"Iya, Ma."

Ayah Nadira menepuk bahu Arga.

"Nadira saya titip."

Arga langsung mengangguk.

"Insyaallah, Pak."

Ayah tersenyum.

"Saya percaya sama kamu."

Kalimat sederhana itu membuat Arga merasa memikul tanggung jawab yang jauh lebih besar.

Bukan sekadar rekan kerja.

Tetapi juga kepercayaan seorang ayah.

---

Dua jam kemudian...

Pesawat mendarat di Surabaya.

Begitu keluar dari bandara, udara panas langsung menyambut mereka.

"Bedanya jauh sama Puncak ya."

gumam Nadira.

Arga terkekeh.

"Kalau ini namanya langsung dites."

Seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun melambaikan tangan.

"Mas Arga?"

"Iya."

"Saya Anton."

"Manager operasional cabang Surabaya."

Mereka berjabat tangan.

"Selamat datang."

"Terima kasih, Pak."

---

Dalam perjalanan menuju kantor cabang, Anton menjelaskan kondisi proyek.

"Tim di sini masih sedikit."

"Jadi kalian mungkin akan sering lembur."

"Nggak masalah."

jawab Arga.

Anton mengangguk puas.

"Tapi ada satu orang yang akan banyak membantu."

"Siapa, Pak?"

"Koordinator administrasi cabang."

"Namanya..."

Anton berhenti sejenak.

"...Bianca."

Mendengar nama itu, tangan Arga yang sedang memegang botol minum mendadak kaku.

Nadira menangkap perubahan kecil itu.

"Gar?"

Arga segera tersenyum.

"Nggak apa-apa."

Namun senyum itu terlihat dipaksakan.

---

Sore harinya mereka tiba di kantor cabang.

Kantornya memang lebih kecil dibanding Jakarta, tetapi suasananya hangat.

Beberapa karyawan langsung menyambut mereka.

"Selamat datang."

"Semoga betah."

Arga dan Nadira membalas dengan ramah.

Hingga terdengar suara langkah sepatu hak tinggi dari arah lorong.

"Pak Anton."

Semua menoleh.

Seorang wanita berambut sebahu dengan blazer krem berjalan mendekat.

Wajahnya cantik.

Percaya diri.

Saat melihat Arga...

Langkahnya mendadak terhenti.

"Arga?"

Suasana langsung hening.

Arga menghela napas pelan.

"Halo, Bianca."

Nadira bergantian memandang Arga dan wanita itu.

"Kalian saling kenal?"

Bianca tersenyum tipis.

"Bukan cuma kenal."

Ia menatap Arga tanpa mengalihkan pandangan.

"Kami pernah hampir menikah."

Kalimat itu membuat seluruh ruangan seketika membeku.

Nadira merasa seolah ada sesuatu yang menghantam dadanya.

"Hampir... menikah?"

Anton terlihat sama terkejutnya.

"Lho, kalian belum pernah cerita?"

Bianca tertawa kecil.

"Itu cerita lama."

"Tapi ternyata..."

Ia kembali menatap Arga.

"...takdir mempertemukan kami lagi."

Arga tidak membalas senyum itu.

Ekspresinya justru terlihat tegang.

Nadira mulai menyadari...

Selama mengenal Arga, pria itu hampir tidak pernah bercerita tentang masa lalunya.

Dan kini...

Masa lalu itu berdiri tepat di depan mereka.

---

Malam harinya, setelah semua pekerjaan selesai, Nadira duduk sendirian di balkon apartemen yang disediakan perusahaan.

Pikirannya masih dipenuhi ucapan Bianca.

*"Kami pernah hampir menikah."*

Tak lama kemudian, terdengar ketukan di pintu.

Tok.

Tok.

Tok.

Saat pintu dibuka...

Arga berdiri di sana dengan wajah lelah.

"Aku boleh masuk?"

Nadira mengangguk pelan.

Arga duduk di sofa, lalu menatap lantai beberapa saat.

"Aku rasa..."

"...aku harus menjelaskan semuanya sebelum kamu mendengar versi orang lain."

Nadira duduk di hadapannya.

"Siapa Bianca sebenarnya?"

Arga menarik napas panjang.

"Dia..."

"...adalah perempuan yang dulu hampir menjadi istriku."

Nadira berusaha tetap tenang.

"Lalu kenapa batal?"

Arga mengangkat wajahnya.

Tatapannya dipenuhi penyesalan.

"Karena..."

"...di hari pernikahan kami..."

"...dia tidak pernah datang."

Nadira membelalak.

"Apa?"

Arga tersenyum pahit.

"Itulah alasan kenapa aku tidak pernah membicarakan masa laluku."

Namun tepat di saat itu, ponsel Arga berdering.

Nama yang muncul di layar membuat Nadira ikut melihat.

**Bianca Calling...**

Arga terdiam.

Sementara di luar apartemen, tanpa mereka sadari, Bianca berdiri di balik dinding lorong.

Ia menatap pintu apartemen Nadira dengan sorot mata yang sulit diartikan.

Seolah ia baru saja memutuskan...

Bahwa kali ini, ia tidak akan kehilangan Arga untuk kedua kalinya.

**Bersambung ke Episode 33...**

1
Dewi Sinta
lusa hari senin dong.. kan mau ngerayain ultahnya mamanya arga hari minggu mesti nya besok😂
Seranovelle: "Ya ampun, bener juga. 🤣 Untung ada Kakak, kalau enggak Arga ngerayain ulang tahun mamanya lompat hari. 😂"
total 1 replies
Dewi Sinta
ayah tiri ya thoor, krn di bab sebelumnya ayah arga udah meninggal
Seranovelle: Cobaa tebak kak, ayah arga sudah meninggal atau belum yaa kak?
total 1 replies
Dewi Sinta
perasaan masih pagi thoor 😂
Seranovelle: Perjalanan dangat jauh ni kak, waktu pagi terasa singkat.. dan tibatiba sudah masuk jam makan siang deh kaa 🤭
total 1 replies
Dewi Sinta
Gar.. apa itu thor.. sy kira arga.. mesti nya bilang Ar..😌
Seranovelle: Btw kak, Gar itu nama panggil argaa yaa kak 😬🤍
total 2 replies
Dewi Sinta
sudah bertemu 3 kali thoor 😂
Seranovelle: Author lagi kena efek butterfly. Pertemuan ketiga tiba-tiba menghilang. 🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!