Menikah muda terdengar indah di mata banyak orang—tentang cinta, perhatian, dan hidup bahagia bersama pasangan. Namun, bagi Elvara Naomi Wijaya, kenyataannya jauh berbeda. Setelah resmi menjadi istri Arsen Rafael Mahardika, pria dingin dan ambisius yang sangat ia cintai, Elvara mulai menyadari bahwa pernikahan bukan hanya soal rasa cinta.
Di balik rumah mewah dan status sebagai pasangan sempurna, mereka perlahan terjebak dalam kesalahpahaman, ego, luka batin, dan rahasia yang tidak pernah terungkap sebelumnya. Arsen yang sulit mengekspresikan perasaan membuat Elvara merasa sendirian di dalam hubungan mereka sendiri.
Saat masalah demi masalah datang menghancurkan ketenangan rumah tangga mereka, Elvara harus memilih—bertahan demi cinta yang masih ia perjuangkan, atau melepaskan semuanya sebelum dirinya hancur lebih dalam.
Karena terkadang, realita menikah tidak seindah janji di hari akad.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cattygril, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 (Belenggu yang Kian Erat)
...HAPPY READING...
...🧸💕...
Kamis siang itu, suasana di dalam kamar apartemen terasa begitu sunyi. Tirai jendela yang sengaja ditutup rapat membuat pencahayaan ruangan menjadi temaram, menciptakan atmosfer yang tenang namun terasa mencekam bagi sebagian orang.
Di atas ranjang berukuran king size itu, Vivian akhirnya tertidur pulas. Kepala wanita itu bersandar nyaman di dada bidang Arsen, dengan satu tangan yang masih memeluk pinggang sang pria posesif. Wajahnya yang semula sembab akibat menangis histeris, kini tampak begitu damai, seolah semua beban dan ketakutannya telah menguap begitu ia berada di dalam dekapan Arsen.
Berbanding terbalik dengan Vivian, Arsen sama sekali tidak bisa memejamkan mata.
Pria itu berbaring telentang dengan satu tangan beralaskan kepalanya sendiri, menatap kosong ke arah langit-langit kamar yang sepi. Deru napas teratur Vivian yang menerpa kulitnya sama sekali tidak mampu menenangkan badai yang berkecamuk di dalam benaknya.
Pikirannya melayang, berputar-putar pada poros kesalahan yang kian membesar. Arsen merasa seperti seorang pesakitan yang sedang menghitung mundur waktu eksekusinya.
Di satu sisi, ada Vivian yang terlelap di pelukannya, membawa ikatan darah daging yang tak bisa ia abaikan begitu saja. Namun di sisi lain, bayangan Elvara yang tersenyum tulus menunggunya pulang tadi pagi kembali melintas, menghantam ulu hatinya dengan rasa bersalah yang teramat sangat. Belum lagi ancaman Kael yang sewaktu-waktu bisa mendatangi butik Elvara dan membongkar borok ini dalam sekejap.
Arsen menghela napas panjang tanpa suara, takut gerakannya akan mengusik tidur wanita di sampingnya. Ia terjebak di tempat tidur ini, memeluk selingkuhannya, sementara jiwanya didera ketakutan luar biasa akan kehilangan istri sahnya. Jam terus berdetik, dan Arsen tahu, setiap detik yang ia habiskan di kamar ini membawa rumah tangganya selangkah lebih dekat menuju kehancuran total.
...
Sementara itu di belahan kota yang lain, suasana di butik milik Elvara tampak begitu hidup. Gulungan kain brokat, sutra, dan manik-manik indah berserakan di atas meja kerja besar. Sejak pagi, Elvara benar-benar ditenggelamkan oleh pekerjaannya. Di tangannya, sebuah pensil sketsa bergerak lincah di atas kertas, mewujudkan gaun impian dari para pelanggannya.
Hari ini ia tidak sendiri. Elvara ditemani oleh Nayla, karyawan sekaligus asisten kepercayaannya di butik yang sibuk mencatat detail pesanan dan menyiapkan meteran kain.
Saat ini, Elvara sedang melayani seorang calon pengantin yang sedang berkonsultasi mengenai gaun impiannya.
"Kak El, aku mau baju nikah aku nanti kelihatan elegant banget," ujar sang pelanggan sembari menatap antusias pada sketsa kasar yang sedang dibuat Elvara. "Terus, kalau bisa, aku mau ada belahan tinggi di bagian pahanya supaya kelihatan sedikit modern dan jenjang."
Elvara tersenyum ramah, jemarinya dengan cekatan menambahkan guratan garis di bagian rok gaun pada kertas sketsanya. "Oh, okey. Belahan setinggi paha untuk kesan elegant sekaligus bold. Ada lagi yang mau ditambahkan?"
"Iya, Kak! Satu lagi," lanjut pelanggan itu dengan mata berbinar, membayangkan hari bahagianya.
"Sama tolong dikasih aksen apa ya, biar gaunnya kelihatan berkilauan gitu pas kena sorot cahaya lampu ballroom?"
Elvara mengangguk paham, lalu menoleh ke arah Nayla. "Nayla, tolong ambilkan sampel kain tulle kristal dan payet swarovski murni yang baru datang kemarin."
"Baik, Kak El," jawab Nayla cekatan, langsung bergerak menuju lemari penyimpanan material.
Elvara kembali menatap pelanggannya
dengan senyum profesional, mencoba melupakan sejenak beban pikiran tentang Arsen dan pesan misterius Kael semalam. Di tempat ini, di antara kain-kain indah dan impian pernikahan orang lain, Elvara mencoba menemukan kekuatannya kembali, tanpa tahu bahwa badai dalam pernikahannya sendiri justru sedang mengintai di luar sana.
Setelah pelanggan tersebut selesai berkonsultasi dan meninggalkan butik dengan wajah puas, Elvara akhirnya bisa mengembuskan napas lega. Ia menyandarkan punggungnya di kursi kerja, memijat tengkuknya yang terasa agak kaku setelah berjam-jam fokus menggambar sketsa.
"Kak El, ini kopi hitam tanpa gulanya," ucap Nayla sambil meletakkan sebuah cangkir hangat di atas meja kerja Elvara.
"Ah, makasih banyak ya, Nay. Penyelamat banget," balas Elvara dengan senyum tulus. Ia menyesap kopi itu perlahan, membiarkan rasa pahitnya membilas sedikit rasa lelah yang menggelayuti tubuhnya sejak pagi.
Nayla memperhatikan wajah atasannya yang tampak sedikit pucat. "Kak El kelihatan capek banget hari ini. Apa karena klien minggu ini padat banget ya?"
Elvara hanya tersenyum tipis, enggan membagi beban batinnya. "Biasalah, Nay. Namanya juga musim nikahan, jadi kita harus ekstra kerja keras biar hasilnya sempurna."
Namun, di dalam hati, Elvara tahu bukan hanya pekerjaan yang menguras energinya. Tatapan dingin Arsen semalam dan pesan misterius dari Kael masih berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak, menciptakan firasat buruk yang tak kunjung hilang.
Klontang.
Suara lonceng di atas pintu masuk butik berdenting, menandakan ada orang baru yang datang.
Elvara buru-buru meletakkan cangkir kopinya, bersiap kembali memasang senyum profesional terbaiknya. Namun, begitu ia bangkit berdiri dan menoleh ke arah pintu depan, senyum itu seketika tertahan di bibir.
Sosok pria dengan jaket kasual berdiri di ambang pintu, menatap langsung ke arahnya dengan pandangan mata yang sulit diartikan.
Itu Kael.
Pria itu benar-benar datang ke butiknya, mengabaikan penolakan halus yang Elvara kirimkan lewat pesan singkat semalam. Atmosfer di dalam butik yang tadinya terasa tenang, mendadak berubah menjadi canggung dan penuh antisipasi saat Kael melangkah lebar mendekati meja kerjanya.
Elvara menatap Kael dengan dahi berkerut, tidak bisa menyembunyikan rasa terkejut sekaligus heran atas kedatangan pria itu yang tiba-tiba.
"Kael, ada apa?!" tanya Elvara langsung, suaranya pelan namun penuh penekanan. "Kan sudah kubilang semalam kalau hari ini aku benar-benar sedang sibuk."
Kael menghentikan langkahnya tepat di depan meja kerja Elvara. Sorot matanya tampak begitu serius, bahkan ada kilat kecemasan sekaligus amarah yang tertahan di sana. "Aku tahu, El. Maaf aku lancang. Tapi... bisa kita bicara sebentar?"
Melihat keseriusan di wajah sahabatnya sejak masa sekolah itu, Elvara akhirnya menghela nafas panjang. Ia meletakkan pensil sketsanya. "Okey, silahkan. Ada apa?"
Kael melirik sekilas ke arah Nayla dan beberapa karyawan lain yang sedang sibuk menjahit di sudut ruangan. "Kita bicara berdua, El. Berdua saja."
Firasat buruk yang sejak semalam menghantui Elvara seketika mencuat kembali. Jantungnya berdesir aneh. Ia menoleh ke arah asistennya. "Ah... Nay, kamu dan yang lain bisa keluar dulu sebentar? Tolong belikan makan siang untuk anak-anak di depan."
"Baik, Kak El," jawab Nayla mengerti. Ia segera memberi isyarat kepada karyawan lain untuk mengikutinya keluar, meninggalkan keheningan yang mendadak mencekam di dalam butik.
Setelah pintu depan tertutup rapat dan lonceng tidak lagi berdenting, Elvara melipat kedua tangannya di dada, menatap Kael lekat-lekat. "Sekarang apa, Kael? Tolong jangan buat aku tegang begini."
Kael menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan keberanian untuk menghancurkan dunia wanita di hadapannya demi menyelamatkannya dari kebohongan. "El, Arsen nggak berubah. Dia masih berhubungan sama Vivian."
Deg!
Dunia seolah berhenti berputar bagi Elvara. Kata-kata Kael barusan terdengar seperti petir di siang bolong yang menghantam ulu hatinya. Wajah Elvara seketika pias, matanya membelalak tidak percaya.
"Apa?!" Elvara menggelengkan kepala dengan cepat, mencoba mengusir kenyataan pahit itu. Suaranya bergetar hebat. "Kamu... kamu nggak lagi bohong kan, Kael?! Jangan bercanda soal ini!"
"Aku serius, El. Aku nggak pernah punya alasan untuk membohongi kamu soal hal sekerusial ini," jawab Kael tegas, melangkah satu tindak lebih dekat. "Semalam aku menemui Arsen langsung di rooftop Hotel Arkantha. Aku menuntutnya untuk jujur, tapi dia tetap defensif. Dan setelah dari sana, dia langsung pergi menemui Vivian di apartemen wanita itu."
Pertahanan Elvara runtuh seketika. Air mata yang sejak tadi ditahannya kini merebak di pelupuk mata. Ingatan tentang sikap dingin Arsen semalam, tatapan suaminya yang selalu menghindari kontak mata, dan kebohongannya tentang "meeting dadakan" langsung tersambung seperti teka-teki yang utuh.
"Arsen... kenapa dia tega membohongi aku seperti ini?" bisik Elvara lirih, tangisnya pecah seketika. Tubuhnya melemas hingga ia harus berpegangan pada tepi meja. "Jelas-jelas dia sudah berjanji waktu itu... Dia bilang dia akan berubah dan bersumpah akan meninggalkan cinta pertamanya. Kenapa dia bohongi aku lagi, Kael? Kenapa?!"
Melihat Elvara yang menangis tersedu-sedu dengan bahu yang terguncang hebat, hati Kael berdenyut nyeri. Namun di balik rasa sakit itu, ada bagian dari dirinya yang bersiap untuk maju, bersiap menjadi sandaran baru yang tidak akan pernah menyakiti Elvara seperti yang dilakukan Arsen.
Melihat pertahanan Elvara yang hancur lebur, Kael tidak bisa lagi menahan diri. Ia melangkah maju, meraih kedua bahu Elvara yang bergetar hebat, lalu memaksa wanita itu untuk menatapnya.
"Kalau gitu tunggu apa lagi, El?" desak Kael, suaranya terdengar tegas dan penuh tuntutan. "Gugat cerai Arsen sekarang juga! Tinggalkan laki-laki berengsek itu!"
Elvara tersentak. Ucapan Kael barusan terasa terlalu ekstrem dan mendadak, membuat kepalanya yang sudah pening semakin berputar hebat.
"Kael, lepas..." Elvara mencoba memberontak lemah, melepaskan cengkeraman Kael di bahunya, namun Kael justru mempererat genggamannya.
"Aku nggak bisa lihat kamu disakiti terus-menerus, El! Arsen sudah mengkhianati janji pernikahannya. Dia nggak pantas buat kamu!" Kael menatap Elvara dengan sorot mata yang menyala-nyala oleh amarah dan harapan terselubung. "Lepaskan dia. Kamu berhak bahagia dengan orang yang benar-benar bisa menghargai kamu!"
"Nggak bisa, Kael! Aku nggak bisa!" Elvara akhirnya berteriak lirik, air matanya kian deras membanjiri pipi. Ia menggelengkan kepalanya dengan frustrasi. "Aku nggak bisa menceraikan Arsen begitu saja..."
Kael terpaku, rahangnya mengeras. "Kenapa? Kenapa kamu masih mau bertahan setelah tahu dia membohongimu dengan perempuan lain?!"
"Karena aku mencintai dia!" tangis Elvara pecah, suaranya terdengar begitu putus asa di tengah keheningan butik. "Aku sangat mencintai Arsen, Kael... Kamu nggak tahu seberapa besar aku menaruh harapan pada rumah tangga ini. Hati aku... hati aku nggak bisa dilepas begitu saja meskipun rasanya sakit sekali."
Mendengar pengakuan jujur dari bibir Elvara, genggaman tangan Kael di bahu wanita itu perlahan melemas. Kalimat “Aku mencintai Arsen" menghantam dada Kael dengan telak, menghidupkan kembali rasa sakit yang sama seperti saat masa SMA dulu—rasa sakit karena selalu menjadi orang kedua yang tak pernah dilirik.
Elvara memundurkan langkahnya, menutup wajahnya dengan kedua tangan, membiarkan isak tangisnya memenuhi ruangan. Ia tahu Arsen bersalah, ia tahu suaminya telah lancang bermain api di belakangnya. Namun, mencabut cinta yang sudah mengakar dalam di hatinya tidak semudah membalikkan telapak tangan, dan kenyataan itu justru membuat Elvara merasa menjadi wanita paling bodoh dan malang di dunia.
Berambung…..