NovelToon NovelToon
MATA TAKDIR

MATA TAKDIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Kultivasi Modern / Komedi
Popularitas:678
Nilai: 5
Nama Author: samsu234

Gagal naik ke Alam Dewa karena masih terikat karma fana, jiwa sang Kultivator Tertinggi terpaksa kembali ke tubuh aslinya di dunia modern sebagai Dika.

Berbekal Mata Takdir untuk membereskan hutang budi dan dendam masa lalu, Dika berniat menyelesaikan misinya dengan cepat dan diam-diam.

Namun, sebuah kesalahan takdir membuat isi hati dan keluh kesah batinnya bisa didengar jelas oleh wanita-wanita di sekitarnya!

Sanggupkah Dika menjaga wibawanya sebagai calon dewa, saat semua strategi dan gengsinya bocor lewat suara hati sendiri?

#UrbanFantasy #RomanceKomedi #KultivasiModern

#IsiHatiTerdengar #PuraPuraLemah #MantanDewa

#ZeroToHero #BenciJadiCinta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jatuh ke Bumi, Bocor di Hati

Langit malam Jakarta mendadak pekat seperti tumpahan tinta. Di atas sana, gumpalan awan hitam berputar membentuk pusaran raksasa, seolah-olah ada tangan tak kasat mata yang sedang mengaduk atmosfer. Kilatan petir keunguan menyambar-nyambar tanpa suara guntur, menciptakan pemandangan ganjil yang membuat jutaan pasang mata di bawahnya mendongak ngeri.

Namun, di dalam sebuah kamar kos sempit berukuran tiga kali tiga meter di pinggiran ibu kota, atmosfernya jauh lebih mencekam.

Seorang pemuda berambut hitam acak-acakan mendadak membuka mata. Sepasang iris matanya memancarkan cahaya keemasan yang begitu pekat, berpendar menyerupai galaksi mini yang berputar lambat. Gelombang energi kasat mata berdesing hebat dari tubuhnya, membuat tumpukan baju kotor di sudut ruangan dan mie instan cup di atas meja bergoyang hebat.

Dika menarik napas dalam-dalam. Dadanya naik turun, merasakan pasokan oksigen bumi yang terasa begitu berat dan kotor jika dibandingkan dengan aura murni Alam Langit.

“Sialan... sialan! Sedikit lagi!”

Suara batin Dika menjerit frustrasi. Jiwanya yang baru saja mencapai puncak keabadian sebagai Yang Mulia Kultivator Tertinggi terpaksa dihempaskan kembali ke raga fananya yang fana, miskin, dan mengenaskan ini.

“Petir Kesengsaraan Ke-99... kenapa bisa sekacau itu? Aku sudah memotong semua emosi, menghancurkan ego, dan memurnikan jiwa. Tapi kenapa gerbang Alam Dewa malah menolakku dan menuntut penyelesaian karma fana? Karma apa lagi?! Aku di bumi dulu cuma kurir miskin yang sering ditindas!”

Dika memijat pelipisnya yang berdenyut berangsur-angsur normal. Perlahan, cahaya keemasan di kedua matanya meredup, menyembunyikan kekuatan purba yang kini bersemayam di balik kornea matanya. Mata Takdir. Itulah satu-satunya hadiah hiburan dari kegagalannya naik kelas. Sebuah kemampuan mutlak untuk melihat garis takdir, membedah rahasia dunia, dan menemukan kelemahan makhluk hidup hanya dengan sekali tatap.

Ia melirik cermin buram di dekat lemari pakaiannya yang engselnya sudah lepas. Wajah di cermin itu adalah wajahnya dari masa lima tahun lalu, sebelum ia tidak sengaja terlempar ke dunia kultivasi. Kulitnya agak pucat, kantung matanya tebal akibat kurang tidur, dan badannya kurus karena jarang makan teratur.

“Dika yang dulu... kurir miskin yang selalu diinjak-injak,” gumamnya dengan suara serak, kini berbicara lantang. “Baiklah. Jika takdir sialan ini memaksaku membereskan semua urusan fana sebelum mengizinkanku menjadi dewa, akan kuhancurkan siapa pun yang pernah menjadi batu sandunganku. Cepat, bersih, dan tanpa belas kasihan.”

Wajahnya mengeras, memancarkan aura dingin khas penguasa tunggal yang telah membantai ribuan monster suci. Baginya, urusan dunia modern ini seperti membalikkan telapak tangan. Dengan Mata Takdir, mengumpulkan uang triliunan rupiah atau meruntuhkan dinasti bisnis konglomerat bukanlah hal yang sulit.

Brak!

Pintu kayu kamar kosnya yang sudah lapuk mendadak ditendang dari luar hingga terbuka lebar.

Seorang gadis muda berdiri di ambang pintu dengan napas terengah-engah. Rambutnya diikat kuda asal-asalan, wajahnya yang manis tampak semrawut penuh keringat, dan seragam sekolah putih-abu-abunya tampak sedikit kusut. Dia adalah Lina, anak pemilik kos sekaligus teman masa kecil Dika yang terkenal galak dan bermulut tajam.

“Dika! Lo masih hidup, kan?!” Lina berteriak panik, matanya liar memeriksa seisi kamar. “Tadi gue lihat ada petir gede banget kayak mau runtuhin atap kamar lo! Lo nggak kesetrum, kan? Nggak mati, kan?!”

Dika menatap Lina dengan pandangan datar. Di matanya, garis-garis benang tipis berwarna merah dan hitam mendadak muncul di sekeliling tubuh Lina—inilah visualisasi takdir dan karma yang bisa ia lihat sekarang. Hubungan mereka di masa lalu penuh dengan utang budi; Lina dan ibunya adalah sedikit dari manusia yang tidak memperlakukan Dika seperti sampah saat ia kelaparan.

Dika menegakkan tubuhnya, melipat tangan di dada dengan sikap angkuh, lalu berbicara dengan nada suara yang sengaja dibuat berat, dingin, dan berwibawa.

“Tenanglah, manusia fana. Petir tadi hanyalah fenomena alam kecil yang tidak akan bisa melukaiku seujung kuku pun. Urusan duniawi seperti ini tidak pantas membuatmu gemetar ketakutan.”

Lina langsung menghentikan kepanikannya. Kerutan dalam muncul di dahinya. Ia menatap Dika dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan pandangan tidak percaya. “Manusia fana? Otak lo geser ya gara-gara kesamber petir? Lo ngomong kayak jamet kebanyakan nonton anime tahu nggak!”

Dika tidak peduli dengan ejekan itu. Ia mempertahankan ekspresi wajahnya yang sekeras es, seolah-olah ia adalah entitas tertinggi yang sedang menatap semut kecil.

Namun, di dalam lubuk hatinya, ego Dika sebagai mantan kultivator tertinggi yang baru saja gagal total langsung meronta-ronta dengan sangat konyol.

“Aduh, mampus... memalukan banget! Kenapa cewek galak ini harus muncul sekarang sih? Padahal gue baru mau pasang pose keren mirip kaisar naga. Mana baju gue bau apek lagi, belum dicuci tiga hari karena nggak ada duit buat beli detergen. Kalau tahu begini, mending tadi gue pura-pura pingsan aja di lantai biar dia kasihan!”

Mendengar suara itu, tubuh Lina mendadak menegang. Matanya melotot lebar, menatap Dika dengan ekspresi horor seolah-olah dia baru saja melihat hantu di siang bolong.

“Lo... lo barusan ngomong apa?” suara Lina bergetar.

Dika mengernyitkan alis, merasa aneh dengan perubahan sikap Lina yang tiba-tiba. Namun, ia tetap menjaga persona dinginnya.

“Aku tidak mengatakan apa-apa lagi setelah kalimat terakhirku. Pendengaranmu mungkin sedang terganggu oleh sisa frekuensi petir tadi.”

Lina menggelengkan kepalanya dengan cepat. Wajahnya memucat. “Nggak! Nggak mungkin! Jelas-jelas barusan gue denger lo ngomong... lo ngomong soal kaisar naga, baju bau apek belum dicuci tiga hari, sama nggak punya duit buat beli detergen!”

Dika tertegun. Detak jantungnya mendadak melewatkan satu ketukan. “Tunggu... apa? Dia bisa dengar? Nggak mungkin, gue kan cuma ngomong dalam hati?

Apa indra pendengaran cewek ini bermutasi karena radiasi petir surgawi tadi?”

Mata Lina makin melotot. Ia menunjuk muka Dika dengan jari yang gemetar hebat. “Tuh! Lo ngomong lagi! Cuma ngomong dalam hati... radiasi petir surgawi... Dika, bibir lo sama sekali nggak gerak, tapi kenapa suara lo kedengeran jelas banget di kuping gue?!”

Seketika itu juga, benteng pertahanan ekspresi dingin di wajah Dika runtuh total. Matanya ikut melotot, dan mulutnya sedikit menganga.

“Demi hukum langit dan bumi... jangan-jangan... efek samping gagal naik kelas kemarin membuat energi batinku bocor ke dunia nyata? Sialan! Berarti semua keluh kesah dan rahasia di otak gue bisa didengar sama orang-orang terdekat?!”

“Iya! Gue denger semuanya, Dika!” Lina berteriak, maju selangkah dengan wajah campur aduk antara bingung, takut, tapi juga ingin tertawa.

“Jadi lo beneran lagi mikirin kalau otak lo bocor ke dunia nyata? Terus apa tadi? Gagal naik kelas? Lo nunggak SPP sekolah lagi sampai gagal naik kelas?!”

Dika langsung mundur dua langkah, memegang dadanya yang mendadak terasa sesak bukan karena penyakit, melainkan karena rasa malu yang luar biasa besar. Wibawa yang ia bangun selama ratusan tahun di Alam Langit hancur lebur dalam waktu kurang dari lima menit di bumi, hanya di depan seorang anak SMA.

“Aura dewa gue... harga diri gue sebagai penguasa takdir... habis. Benar-benar habis tak bersisa. Tuhan, kalau boleh minta, mending tolong samber gue pakai petir sekali lagi sekarang juga!” batin Dika meratap pilu.

Lina yang mendengar ratapan batin itu akhirnya tidak bisa menahan diri lagi. Rasa takutnya menguap, digantikan oleh rasa geli yang luar biasa melihat tingkah aneh bin ajaib dari pemuda yang biasanya pendiam dan murung ini. Lina membekap mulutnya sendiri, mencoba menahan tawa sampai bahunya bergetar hebat.

“Dika... lo beneran udah gila ya? Hahaha!”

Di bawah temaram lampu neon kamar kos yang berkedip-kedip, Dika hanya bisa berdiri kaku dengan wajah memerah. Perjalanan panjangnya untuk membereskan karma dunia fana baru saja dimulai, dan ia sudah tahu bahwa rintangan terbesarnya bukan lagi musuh-musuh kuat yang menghadang, melainkan mulut batinnya sendiri yang sama sekali tidak bisa diajak kompromi.

1
SANG
Semangat ya thor💪👍
SANG
Sembilan belas bunga untukmu thor/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
SANG
Mantap, mantap banget💪👍
SANG
Cerita baru semangat baru ya dek💪👍
SANG
Ceritanya seru banget💪👍
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!