NovelToon NovelToon
Bukan Pengantin Pilihan Hati

Bukan Pengantin Pilihan Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Bukan Pengantin Pilihan Hati

"Dua hati yang terikat wasiat, dua masa lalu yang belum usai. Sanggupkah pernikahan tanpa cinta ini bertahan?"

Dunia Naura runtuh seketika. Kecelakaan tragis yang merenggut nyawa sang ayah memaksanya mengubur mimpi indah bersama Rama, kekasihnya. Demi wasiat terakhir, Naura terpaksa menikah dengan Arka,pria asing pilihan sang ayah.

Luka Naura kian menganga saat mengetahui Arka pun sebenarnya sudah memiliki kekasih. Mereka hanyalah dua orang asing yang terjebak dalam sangkar pernikahan tanpa cinta.

Namun, hari-hari di bawah satu atap perlahan mengubah segalanya. Di balik ketampanannya, Arka ternyata sosok suami yang sangat sopan, bertanggung jawab, dan penuh perhatian. Kelembutan dan sikap penyayang Arka pelan-pelan mulai meruntuhkan dinding pertahanan hati Naura.

Saat benih-benih cinta tulus mulai tumbuh di antara mereka, akankah masa lalu merelakan mereka bahagia? Ataukah mereka akan selamanya menjadi pengantin yang salah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sisi Lain Naura

Perjalanan pulang dari kediaman utama keluarga Pratama malam itu dilewati dalam keheningan yang jauh berbeda dari saat mereka berangkat. Jika beberapa jam lalu atmosfer di dalam mobil sedan hitam itu dipenuhi oleh ketegangan yang mencekam dari pihak Naura, kini rasa sunyi yang tercipta terasa begitu menenangkan dan hangat.

Rintik hujan gerimis kembali membasahi kaca depan mobil, memantulkan pendar lampu jalanan kota Jakarta yang temaram.

Arka fokus mengemudikan mobilnya dengan kecepatan konstan, sesekali melirik ke arah kirinya. Naura tampak menyandarkan kepalanya pada kaca jendela, menatap butiran air yang mengalir turun.

Gurat kecemasan yang sempat menghiasi wajah cantiknya selama makan malam tadi kini telah sepenuhnya sirna, digantikan oleh sepasang mata yang memancarkan kedamaian baru.

"Naura," panggil Arka lembut, memecah kesunyian di antara deru halus mesin mobil.

Naura menoleh, mengulas senyuman tipis yang sangat manis. "Ya, Kak?"

"Maafkan atas apa yang terjadi di meja makan tadi. Sikap Sonya terkadang memang keterlaluan, dia tidak mencerminkan bagaimana seharusnya anggota keluarga Pratama bersikap," ucap Arka, nada suaranya kembali dipenuhi rasa bersalah yang tulus selaku kepala rumah tangga.

Naura menggelengkan kepalanya perlahan. Ia merubah posisi duduknya menjadi menghadap penuh ke arah Arka. "Kak Arka tidak perlu meminta maaf. Justru aku yang harus berterima kasih. Kakak selalu ada di depan untuk membelaku, bahkan di depan keluarga besar Kakak sendiri. Hal itu ... sangat berarti bagiku."

Naura menjeda kalimatnya sejenak. Pikirannya melayang kembali pada percakapan rahasia antara ayah mertuanya, Pak Baskoro, dan Ibu Sofia yang tanpa sengaja ia dengar di koridor rumah utama tadi.

Fakta bahwa pernikahan ini didasari oleh rasa hormat, balas budi, dan janji suci antar dua sahabat membuat Naura tidak lagi merasa dirinya sebagai beban yang membelenggu kehidupan Arka.

Ia merasa dihargai, bukan sebagai objek wasiat, melainkan sebagai seorang wanita yang dititipkan untuk dilindungi seutuhnya.

"Aku hanya ingin memastikan istriku tidak merasa asing di tempat yang seharusnya menjadi rumahnya," balas Arka dengan nada baritonnya yang menenangkan, membuat sudut bibir Naura semakin terangkat membentuk senyuman penuh haru.

Keesokan harinya adalah hari Minggu, hari di mana Arka sepenuhnya membebaskan diri dari urusan kantor. Sejak pagi, suasana di rumah minimalis mereka terasa sangat santai.

Arka memilih menghabiskan waktu dengan membaca beberapa buku tebal di ruang tengah, sementara Naura menyibukkan diri dengan membersihkan sisa-sisa debu di area lantai dua.

Menjelang sore, Arka menutup bukunya. Ia berniat menyeduh kopi hitam di dapur, namun langkah kakinya terhenti saat melintasi meja konsol kayu yang terletak di dekat ruang tengah.

Di atas permukaan meja tersebut, terdapat sebuah buku agenda besar bersampul kulit cokelat yang tampak sedikit usang.

Buku itu diletakkan dalam kondisi setengah terbuka, dengan beberapa lembar kertas sketsa menyembul dari sela-selanya.

Didorong oleh rasa penasaran yang jarang ia rasakan, Arka melangkah mendekat. Ia mengulurkan tangannya dan mengambil buku tersebut. Begitu ia membuka halaman pertama yang tersingkap, kedua mata elangnya langsung melebar karena terkejut.

Halaman itu menampilkan sebuah gambar sketsa gaun malam yang luar biasa indah. Detail garisnya begitu tegas namun luwes, dengan arsiran pensil yang sangat rapi untuk menunjukkan tekstur jatuh dari bahan kain yang dibayangkan.

Arka membalik ke halaman berikutnya, dan ia kembali disuguhi oleh rentetan desain pakaian yang memiliki karakter kuat,mulai dari pakaian kasual wanita yang minimalis namun elegan, hingga setelan blazer modern yang tampak sangat profesional.

Setiap desain dilengkapi dengan catatan kaki kecil menggunakan tulisan tangan yang rapi dan lentik, merincikan jenis bahan baku seperti sutra, katun premium, hingga rekomendasi warna pastel dan monokrom.

"Kak Arka ...?"

Sebuah suara panggilan yang sarat akan keterkejutan mendadak terdengar dari arah tangga. Naura berdiri di sana dengan memegang kain lap dan botol semprotan pembersih. Wajahnya mendadak memerah sempurna begitu menyadari buku apa yang sedang berada di dalam genggaman tangan suaminya.

Naura dengan tergesa-gesa berjalan menghampiri Arka, mencoba mengambil buku agenda tersebut dengan raut wajah panik sekaligus malu. "Maaf, Kak ... itu. .. itu hanya buku coretan lamaku. Tolong jangan dilihat, gambarnya sangat berantakan dan amatir."

Arka tidak langsung menyerahkan buku tersebut. Ia justru menjauhkan buku itu sedikit ke atas, memanfaatkan keunggulan tinggi badannya, sembari matanya tetap terpaku pada lembar-lembar sketsa.

Binar takjub dan kagum terpancar jelas dari manik mata hitam milik sang CEO muda.

"Kamu yang menggambar semua ini, Naura?" tanya Arka, suaranya terdengar lebih berat dari biasanya, menandakan ia benar-benar terkesan.

Naura menundukkan kepalanya dalam-dalam, menatap ujung jarinya yang saling bertautan karena salah tingkah. "Iya, Kak. Itu ... hobiku sejak kuliah dulu. Aku mengambil jurusan tata busana, dan dulu bermimpi ingin memiliki butik pakaian sendiri dengan merek namaku. Tapi ... setelah Mama sakit keras dan seluruh tabungan kami habis untuk biaya pengobatan, aku terpaksa mengubur mimpi itu dalam-dalam. Buku itu hanya caraku untuk melepas rindu pada dunia desain."

Arka menutup buku agenda kulit tersebut dengan perlahan, lalu menurunkannya. Ia melangkah mendekati Naura, mengikis jarak di antara mereka hingga Naura bisa merasakan embusan napas hangat suaminya di atas ubun-ubun kepalanya.

Arka mengulurkan tangan kirinya, menyentuh dagu Naura dan mengangkat wajah istrinya yang merona merah akibat rasa malu. "Naura, lihat aku."

Naura menatap lurus ke dalam sepasang mata elang Arka yang kini memancarkan keseriusan yang mutlak.

"Ini sama sekali tidak berantakan, dan ini jauh dari kata amatir," ucap Arka dengan nada suara yang berwibawa namun penuh dengan apresiasi yang tulus. "Aku memiliki beberapa lini bisnis yang bergerak di bidang retail dan tekstil di bawah Pratama Group, dan aku tahu bagaimana bentuk desain yang memiliki nilai jual tinggi.

Gambar-gambarmu ini memiliki jiwa, Naura. Desainmu sangat indah dan berkarakter."

Pujian yang meluncur dari mulut seorang Arka Pratama pria yang terkenal sangat pelit pujian dan selalu menuntut kesempurnaan di dunia kerja membuat jantung Naura berdegup kencang. Ada rasa bangga dan bahagia yang luar biasa yang mendadak meletup di dalam dadanya.

"Terima kasih banyak, Kak Arka. Tapi itu semua sudah berlalu, sekarang aku hanya ingin fokus menjadi istri yang baik untuk Kakak di rumah ini," lirih Naura, mencoba bersikap realistis meskipun binar matanya tidak bisa membohongi gairah besarnya terhadap dunia fashion.

Arka menggelengkan kepalanya dengan tegas. Ia meletakkan buku agenda itu kembali ke meja konsol, lalu menangkup kedua bahu Naura dengan lembut namun kokoh.

"Pernikahan kita bukan sebuah penjara yang harus menghentikan mimpimu, Naura," kata Arka, setiap katanya diucapkan dengan lambat dan penuh penekanan yang menusuk langsung ke lubuk hati Naura. "Wasiat papamu adalah agar aku menjagamu dan memastikan hidupmu bahagia. Dan aku tahu, kebahagiaan sejati seorang manusia adalah ketika ia bisa mengaktualisasikan diri dan mewujudkan impiannya. Bakat luar biasa seperti ini tidak boleh dikubur dalam-dalam hanya karena keterbatasan masa lalu."

Arka menatap lekat ke dalam sepasang mata indah Naura yang kini mulai berkaca-kaca karena rasa haru. "Jika kamu mau, aku bisa membantumu mewujudkan impian itu. Kita akan membangun butikmu sendiri. Aku yang akan menyokong seluruh fasilitas dan modalnya, dan kamu hanya perlu fokus menuangkan seluruh kreativitasmu ke dalam kain."

Air mata Naura akhirnya luruh membasahi pipinya. Dukungan yang diberikan Arka terasa begitu besar, begitu nyata, dan begitu tulus. Selama ini, semenjak ayahnya tiada, Naura selalu merasa sendirian di dunia ini, harus memikul beban kenyataan hidup yang pahit. Namun sekarang, ada sosok pria tegap yang berdiri di sampingnya, tidak hanya melindunginya dari gangguan fisik orang lain, melainkan juga siap menjadi sayap yang akan membantunya terbang menggapai mimpi-mimpinya yang sempat mati.

Tanpa mampu membendung luapan emosinya lagi, Naura bergerak maju secara spontan. Ia menghambur ke dalam pelukan Arka, melingkarkan kedua tangan lentiknya di sekeliling pinggang kokoh suaminya, dan menyembunyikan wajahnya yang basah di dada bidang pria itu.

Tindakan refleks yang penuh keintiman itu sempat membuat tubuh Arka membeku seketika selama satu detik. Ini adalah pertama kalinya Naura menginisiasi sebuah kontak fisik yang begitu erat di antara mereka. Jantung Arka mendadak bergemuruh hebat, berpacu liar menggedor rongga dadanya.

Namun, rasa kaku itu segera mencair. Arka mengembuskan napas panjang yang hangat, lalu perlahan mengangkat kedua tangan kekarnya untuk membalas pelukan Naura. Ia mendekap tubuh mungil istrinya dengan erat namun penuh kelembutan, seolah sedang menegaskan bahwa ia akan selalu menjadi tempat bersandar yang paling aman bagi wanita itu. Tangannya yang besar bergerak naik, mengusap rambut panjang Naura yang halus dengan gerakan menenangkan.

"Terima kasih, Kak Arka ... terima kasih banyak ... Kamu selalu baik sekali padaku," isak Naura di dalam dekapan dada hangat Arka, menghirup aroma maskulin suaminya yang kini menjadi aroma favoritnya.

"Sudah menjadi kewajibanku, Naura. Berhentilah menangis, atau aku akan mengira dukunganku ini justru membuatmu sedih," bisik Arka lembut tepat di dekat telinga Naura, menyunggingkan senyum tipis yang penuh dengan rasa sayang.

Naura melepaskan pelukannya perlahan, menyadari betapa impulsifnya tindakan yang baru saja ia lakukan. Ia melangkah mundur satu tahap dengan wajah yang kini sudah semerah tomat akibat salah tingkah yang luar biasa. Ia menyeka sisa air matanya dengan ujung lengan kaus rajutnya dengan gerakan yang sangat menggemaskan di mata Arka.

"Maaf, Kak ... aku terlalu senang sampai tidak bisa menahan diri," lirih Naura sembari menundukkan kepalanya, tidak berani menatap mata elang Arka yang kini memancarkan binar jenaka yang samar.

Arka berdeham pelan, mencoba mengendalikan debaran di dadanya sendiri yang belum juga mereda. "Tidak apa-apa. Sekarang, rapikan peralatan bersih-bersihmu. Mulai besok, aku akan meminta orang untuk membersihkan ruang kerja kosong yang terletak di lantai dua, tepat di sebelah kamar kita. Ruangan itu memiliki pencahayaan matahari sore yang sangat bagus, sangat cocok untuk dijadikan studio desainer pribadimu. Kita akan mengisinya dengan meja gambar baru, mesin jahit profesional, dan semua kebutuhan yang kamu perlukan."

Naura mendongak, matanya berbinar-binar oleh rasa tidak percaya. "Benarkah, Kak?"

"Aku tidak pernah bermain-main dengan perkataanku, Naura," jawab Arka mantap dengan senyuman tipisnya yang menawan. "Sekarang, mari kita siapkan makan malam. Energi kreatifmu harus disokong oleh nutrisi yang baik."

Malam itu, di bawah atap rumah yang hangat, sekat-sekat pembatas emosional di antara mereka telah sepenuhnya melebur.

Naura tidak lagi memandang dirinya sebagai pengantin paksa yang malang, dan Arka tidak lagi memandang Naura sekadar sebagai kewajiban moral dari sebuah wasiat.

Sisi lain Naura yang penuh bakat telah membuka mata Arka bahwa wanita yang dikirimkan takdir ke dalam hidupnya ini adalah sebuah permata berharga yang patut ia jaga dan ia buat bersinar dengan seluruh kemampuannya. Dan di dalam hati Naura, rasa cinta itu kini telah tumbuh dengan akar yang teramat kokoh, siap mekar di bawah siraman perhatian dari sang Tuan Sempurna.

1
falea sezi
kenapa g jujur
MayAyunda: belum waktunya kak 😁🫢
total 1 replies
~SasMaya ✧
suami idaman
MayAyunda: jadi pengen ya kak 😁😁
total 1 replies
~SasMaya ✧
sekalian nyindir ga sih 😂
MayAyunda: ha..ha ..bisa jadi
total 1 replies
~SasMaya ✧
apa keinget Rama 🫣
MayAyunda: he ..he
total 1 replies
~SasMaya ✧
berbunga-bunga pasti Naura 🤭
MayAyunda: sampai berkembang kak 😁😁
total 1 replies
~SasMaya ✧
ah.. kan manis banget arka ini
MayAyunda: semanis yang baca 😍😁😁
total 1 replies
~SasMaya ✧
frustasi kah Rama? sampe g sempet cukuran
MayAyunda: iya kak😁
total 1 replies
~SasMaya ✧
Araka sama Rama, sama-sama baik...
MayAyunda: terimkasih kak
total 1 replies
~SasMaya ✧
secara ga langsung Arka menghargai Naura
MayAyunda: betul kak
total 1 replies
~SasMaya ✧
lah... jadi kaya nikah kontrak ya
MayAyunda: iya 😁
total 1 replies
~SasMaya ✧
ahh... kasiannya Rama.
MayAyunda: he he
total 1 replies
~SasMaya ✧
lah... gimana sama Rama, kasian... keknya Rama juga baik.
MayAyunda: iya kak 😄
total 1 replies
~SasMaya ✧
sabar ya Naura, aku tahu rasanya /Whimper/
~SasMaya ✧
Naura udah ga punya ibu juga kah?
MayAyunda: iya sudah meninggal
total 1 replies
~SasMaya ✧
keknya papahnya tau sesuatu yang Naura ga tau, makanya di jodohin sama Arka.
MayAyunda: iya kak
total 1 replies
~SasMaya ✧
Naura pasti dilema banget ini
~SasMaya ✧
keluarga pasti ikut syok banget /Whimper/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!