Walaupun lima belas tahun telah berlalu, namun nyatanya Zenion masih belum mampu melupakan malam kelam yang menghancurkan seluruh hidupnya.
Kala itu, sebuah tragedi berdarah pecah di kerajaan tempat Zen tinggal, meninggalkan luka dan trauma yang membekas seumur hidup. Di kepalanya masih teringat jelas bagaimana sang ibu dihabisi dengan brutal di tengah kobaran api kastil yang melalap habis tempat tinggal mereka.
—————————
"Jangan sakiti mereka. Aku mohon!"
Suara napas yang tersengal hebat, deru langkah kaki yang memburu, dan suasana mencekam menyelimuti samar-samar kenangan pahit yang melintas tak beraturan dalam gelapnya dunia mimpi.
"Zen... Lucy... lari dari sini! Cepat lari!"
Seruan panik seorang wanita muda terdengar jelas. Tubuhnya terbelenggu dalam cengkeraman enam pria bertubuh besar, sementara suaranya terdengar serak dan penuh keputusasaan.
"Lepaskan ibuku! Lepaskan!" teriak bocah laki-laki itu dengan suara parau.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laabki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sebuah luka
Amanda duduk di atas kursi kayu, menatap kosong halaman kompleks ksatria elit melalui jendela kamarnya yang terbuka lebar. Tunik yang dikenakannya sedikit bergoyang tertiup angin malam yang berembus pelan, membawa hawa dingin yang menyusup ke kulit. Di bawah remang cahaya ruangan, jemari wanita itu meremas kuat pahanya di balik kain tunik yang sedikit tersingkap. Tekanannya begitu kuat hingga meninggalkan guratan kemerahan yang kontras dengan kulitnya yang pucat.
Yang Mulia meminta kita untuk menyusup ke Thorton. Raja ingin kita menemukan pembuat belati itu...
Suara Zen siang tadi masih bisa Amanda ingat dengan jelas, berputar tanpa ampun di dalam kepalanya. Amanda memejamkan mata kuat-kuat, mencoba menekan kilasan memori kelam yang mendadak bangkit ke permukaan.
"LEPASKAN AKU!"
Napas Amanda mendadak memburu.
Tubuhnya mulai bergetar hebat saat potongan-potongan ingatan malam itu kembali menghantam kesadarannya. Ia masih ingat bagaimana tubuh kecilnya dulu dibanting kasar ke atas tanah yang keras, lalu ditahan paksa oleh dua pria dewasa yang mencengkeram kedua lengan dan kakinya dengan kuat. Saat itu ia memberontak sekuat tenaga sambil menangis sesegukan, namun dirinya hanyalah seorang bocah sepuluh tahun yang lemah. Yang tersisa di kepalanya saat ini hanyalah suara tawa yang menjijikkan, bau alkohol yang menusuk, dan jeritan ketakutannya sendiri yang perlahan tenggelam oleh suara erangan mereka.
Lima belas tahun lamanya ia mati-matian berusaha mengubur seluruh kenangan buruk tersebut dari ingatannya. Namun, takdir seolah sedang mempermainkannya, sebab besok pagi, ia justru harus menjalankan misi yang mengharuskannya kembali ke tanah terkutuk yang pernah merenggut paksa masa kecilnya dengan begitu kejam.
Cengkeraman jemari Amanda di atas paha kian mengerat, kuku-kukunya ditekan begitu dalam hingga hampir menembus kain tunik, menciptakan rasa perih yang menembus ubun-ubunnya. Ia benci dirinya yang seperti ini. Ia adalah salah satu ksatria elit Castlewood, pedangnya telah menumbangkan banyak musuh di medan pertempuran, namun entah kenapa setiap kali nama 'Thorton' disebut, pertahanannya selalu runtuh.
TOK. TOK. Ketukan pelan di pintu kayu kamarnya seketika menarik kembali kesadaran Amanda.
Wanita itu terperanjat. Refleks ksatrianya membuat wanita itu langsung berdiri tegap, buru-buru melepaskan remasan pada pahanya lalu merapikan kain tunik yang sempat kusut. Setelah menarik napas dalam-dalam, ia menyapu bersih sisa kepanikan di wajahnya dan menampilkan kembali wajah tenang yang biasa ia tampilkan di hadapan semua orang.
Namun, sebelum sempat ia melangkah, daun pintu kayu itu sudah lebih dulu berderit terbuka.
"Zen..."
Kedua alis Amanda bertaut samar saat mendapati ksatria itu sedang berdiri di ambang pintunya. Pria itu membawa sepasang jubah pelancong polos berwarna hitam lusuh yang tersampir di lengan kokohnya.
"Aku hanya ingin memberikan ini," ucap Zen datar.
Sorot matanya sempat turun sekilas ke arah paha Amanda saat menyadari ada lebam kemerahan yang tersembunyi di balik kain tuniknya, yang segera ditutupi kembali oleh tangan wanita itu. "Semua perlengkapanku sudah beres. Bagaimana denganmu? Kau siap untuk besok?"
Amanda mengangguk pelan, melangkah sedikit lebih dekat ke arah Zen. "Semua keperluanku sudah siap. Bagaimana dengan logistik perjalanan? Tujuh hari berkuda melintasi perbatasan bukan waktu yang singkat."
"Yang Mulia sudah mengurus semuanya. Kita hanya tinggal berangkat besok pagi," balas Zen datar.
Amanda melirik sepasang jubah yang masih tertahan di lengan Zen, lalu perlahan beralih menatap manik biru ksatria itu.
"Kau... mau masuk?" tanya Amanda ragu.
Namun, alih-alih menjawab, Zen justru melangkah masuk. Pria itu kemudian berjongkok di depan Amanda dengan satu lutut bertumpu pada lantai batu yang dingin. Sepasang jubah yang sedari tadi tersampir di lengannya dibiarkan terjatuh begitu saja ke lantai.
"Zen... apa yang kau—,"
Sebelum Amanda sempat melangkah mundur untuk menjauh, tangan Zen bergerak cepat menahan gerakannya agar wanita itu tetap diam di tempat. Dengan satu tangan, ia sedikit menyibak kain tunik Amanda untuk memastikan posisi luka di pahanya terlihat jelas. Sepasang matanya menatap lekat guratan merah pekat yang tercetak di atas kulit cerah itu.
"Zen, aku tidak apa-apa, itu hanya luka kecil," sela Amanda pelan, mencoba menarik kembali ujung pakaiannya.
Zen tidak langsung membalas. Setelah memastikan bahwa guratan tersebut murni luka memar permukaan dan bukan cedera yang serius, ia menarik kembali tangannya lalu segera berdiri tegap.
"Jangan sakiti dirimu," ucap Zen dingin, namun sarat akan penekanan. Sepasang manik birunya menghujam langsung ke netra Amanda.
Hanya tiga kata, tapi cukup untuk membuat Amanda tertegun. Kalimat singkat itu terasa begitu menusuk ulu hatinya, menembus dinding pertahanan yang mati-matian ia pasang sejak tadi. Sebagai seorang ksatria elit, ia benci terlihat lemah, terlebih di hadapan Zen, pria yang selama ini selalu berdiri sejajar dengannya di medan pertempuran.
Amanda terkekeh hambar seraya menarik turun ujung tuniknya, menyembunyikan lebam di pahanya dari pandangan Zen. "Luka seperti ini akan sembuh dengan sendirinya," kilahnya lirih, berusaha terdengar seolah tidak merasakan sakit sama sekali.
Tatapan Zen bertahan sesaat pada kain tunik itu sebelum akhirnya beralih ke wajah Amanda. "Lukamu cukup dalam," ucapnya singkat. "Obati sebelum membusuk."
Amanda mengalihkan pandangan ke sudut ruangan, menghindari tatapan Zen. Jemarinya bergerak gelisah, merapikan lipatan pakaiannya yang sebenarnya sudah rapi. Entah mengapa, ia mendadak merasa canggung.
"Ya, tentu... aku akan mengobatinya," sahut Amanda terbata. Ia menjawab sekenanya, sekadar agar Zen berhenti menguliti dinding pertahanannya dengan tatapan menuntut itu.
Zen akhirnya mengalihkan pandangan. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia membungkuk mengambil jubah pelancong yang terhampar di lantai, lalu meletakkannya perlahan di atas meja kecil dekat ranjang Amanda.
"Beristirahatlah," ucapnya singkat. "Perjalanan besok tidak akan mudah."
Amanda hanya mengangguk pelan.
Zen pun berbalik menuju pintu. Namun, tepat sebelum di ambang pintu, gerakannya terhenti sesaat. Pria itu tetap membelakangi Amanda, membiarkan punggung tegapnya menjadi sekat di antara mereka.
"Amanda."
Perempuan itu refleks mengangkat wajah. "Ya?"
"Apa pun yang terjadi di Thorton nanti..." Zen menjeda kalimatnya beberapa saat. "... kau tidak perlu menghadapinya sendirian."
Amanda membeku di tempatnya. Namun, sebelum ia sempat membalas, Zen sudah lebih dulu melangkah pergi, meninggalkan dirinya bersama dinginnya embusan angin malam. Setelah pintu kayu itu tertutup rapat, seluruh kekuatan di kaki Amanda seolah menguap. Ia melangkah gontai menuju tepi ranjang, lalu menjatuhkan tubuhnya yang terasa teramat lelah.
Tangannya yang masih bergetar samar terulur pelan. Jemarinya menyibak kain tunik kusam yang ia kenakan, bergerak ragu menyentuh kulit paha yang kini setengah telanjang. Ia meraba permukaan lebam kemerahan di sana. Rasa perih seketika menyengat begitu ujung jarinya menekan perlahan guratan bekas kuku-kukunya sendiri.
Amanda memejamkan mata kuat-kuat, membiarkan rasa sakit fisik itu menyebar dan mendominasi kesadarannya, berharap rasa perih itu bisa mengalihkan pikirannya agar tidak kembali tenggelam dalam masa lalunya yang suram. Rasa takut itu masih ada, mencekik dadanya dengan kejam. Namun satu hal yang pasti, besok pagi ia dan Zen akan kembali ke tanah terkutuk itu, bukan lagi sebagai anak kecil yang tidak berdaya, melainkan sebagai orang dewasa yang membawa bilah pedang.
...**********************************...
Udara pagi yang sejuk menyambut langkah ringan Cassia saat ia melewati gerbang istana. Pagi ini, ia berniat pergi ke pasar Distrik Tengah untuk membeli persediaan pupuk bagi tanaman herbalnya. Di sela-sela kesibukannya, Cassia memang gemar merawat berbagai tanaman obat di salah satu sudut kebun istana, sebuah kegemaran yang lahir semata-mata karena rasa jenuh terhadap kehidupan istana yang membosankan.
Cassia melirikan pandangannya ke belakang. Napas berat langsung lolos dari bibirnya ketika melihat lima prajurit bersenjata lengkap sedang mengikutinya dari jarak aman.
"Merria, bisakah kau mengusir para prajurit itu?" Cassia berbalik setengah badan, melayangkan tatapan jengah ke arah pelayan pribadinya. Kedua tangannya terlipat erat di depan dada.
Merria yang berjalan di sisi Cassia hanya mampu menundukkan kepala dalam-dalam. "Itu bukan kewenangan hamba, Putri."
Cassia memutar bola matanya malas. Sebuah decakan sebal pun lolos dari bibirnya. "Ayah selalu saja merusak pagiku yang tenang dengan dalih 'perlindungan'. Padahal, aku hanya ingin pergi berdua denganmu, Merria."
"Yang Mulia hanya—,"
Belum sempat Merria menyelesaikan ucapannya, putri muda itu sudah mempercepat langkah, mengabaikan protokol istana yang menuntutnya untuk selalu berjalan dengan anggun. Di belakangnya, Merria hanya bisa menggelengkan kepala pasrah melihat tingkah majikannya itu. Lalu bergegas menyamakan langkah agar tidak tertinggal terlalu jauh.
Langkah kaki Cassia membawa mereka melintasi gerbang pembatas area istana hingga akhirnya hiruk-pikuk pasar Distrik Tengah mulai merayap masuk ke indra pendengarannya.
Suasana di sana sangat kontras dengan keheningan istana yang membosankan. Bau rempah-rempah yang tajam, aroma roti gandum yang baru dipanggang, serta riuh rendah suara para pedagang yang saling bersahutan menawarkan barang dagangan seketika memenuhi udara pagi. Cassia menghirup udara padat itu dalam-dalam. Baginya, kebisingan pasar ini jauh lebih menenangkan ketimbang bisik-bisik palsu para bangsawan di aula kerajaan.
"Putri, mohon jangan berjalan terlalu cepat," seru Merria sedikit terengah saat mereka mulai membelah kerumunan warga. Matanya sesekali melirik ke belakang, memastikan lima prajurit pengawal tadi masih bisa menjaga jarak aman di antara lautan manusia.
Namun Cassia tidak peduli. Sepasang manik ungunya berbinar penuh minat. Sang Putri langsung tertuju pada sebuah kedai tua di sudut pasar yang memajang jajaran karung berisi tanah hitam gembur dan berbagai macam jenis pupuk kering.
"Selamat pagi, Nyonya Elisa," sapa Cassia ramah, lengkap dengan senyum cerahnya.
Wanita tua pemilik kedai itu mendongak, lalu buru-buru meletakkan sekop kecilnya dengan wajah terkejut sekaligus gembira. "Putri... sudah beberapa hari Anda tidak kemari," sapanya, suaranya sengaja direndahkan agar tidak menarik perhatian warga lain, meski binar di matanya tak bisa disembunyikan.
"Akhir-akhir ini Ayah melarangku keluar dari istana. Sangat menyebalkan sekali," keluh Cassia sambil melangkah mendekat, jemarinya bergerak santai menguji kegemburan tanah hitam di dalam salah satu karung terbuka.
Nyonya Elisa terkekeh pelan, menyilangkan kedua tangan di depan celemek kainnya yang kotor. "Tapi, hamba mendengar kabar kalau kemarin Anda kabur dari istana lagi, Putri. Apakah itu benar?"
Dua alis Cassia seketika saling bertaut, menghentikan gerakannya lalu mengerucutkan bibir kesal.
"Benar, Nyonya, dan itu menyebalkan sekali! Zen yang kaku itu selalu saja berhasil menemukanku, padahal aku sudah berusaha keras untuk kabur dari istana. Tapi dia tanpa merasa bersalah langsung menyeretku kembali ke depan Ayah," serunya sambil membayangkan wajah datar Zen yang selalu tampak menyebalkan saat mengomelinya.
Pedagang tua itu hanya terkekeh pelan, maklum dengan tabiat sang putri yang terkenal keras kepala meski berhati lembut. "Ksatria Zen hanya menjalankan tugasnya, Putri." Ia kemudian menunjuk beberapa karung kecil di sudut tokonya. "Lalu, apakah Anda kemari untuk mencari pupuk daun yang sama seperti waktu itu?"
"Benar, Nyonya Elisa. Tanaman herbal di kebunku sepertinya butuh nutrisi ekstra agar daunnya tidak menguning," jawab Cassia, kembali tersenyum cerah seperti biasanya.
Setelah transaksi singkat yang diselingi tawa kecil itu selesai, Cassia menerima sebungkus kecil pupuk daun yang dibalut kain rami kasar. Ia menggenggamnya dengan perasaan puas, seolah benda sederhana itu jauh lebih berharga daripada sebongkah permata di aula istana.
Namun, begitu Cassia berbalik untuk melangkah pulang, binar gembira di sepasang manik ungunya seketika meredup. Di seberang jalan, di antara riuh rendah kerumunan pasar, lima prajurit pengawalnya masih berdiri tegak dengan tangan yang tak pernah lepas dari hulu pedang. Cassia menghela napas pendek. Ia benar-benar muak dengan semua protokol kaku ini.
...**********************************...
Damian mengamati para prajurit yang sibuk menurunkan karung-karung biji gandum dari puluhan gerobak kayu di lapangan luas dekat tembok raksasa Distrik Bawah. Suasana di sana riuh dan penuh kesibukan, setiap sudutnya dipenuhi aktivitas tanpa henti. Bukan hanya prajurit kerajaan, sejumlah penduduk pria dari berbagai usia turut mengangkat, memikul, dan memindahkan pasokan pangan demi mempercepat distribusi gandum yang sangat vital itu.
"Bagaimana, Pangeran? Apa Anda senang sekarang?"
Suara berat Lord Silvestere di sampingnya segera memecah keheningan. Damian menoleh, mendapati sang bangsawan paruh baya tengah berdiri dengan jubah beludru mewahnya yang tampak kontras dengan debu tanah Distrik Bawah.
Damian mengangguk tipis, matanya kembali menatap kerumunan rakyat di lapangan. "Ya. Senyuman dari rakyat selalu membuatku senang, Lord Silvestere."
"Seperti yang Anda minta kemarin, saya melepas setengah dari cadangan gandum saya ke tempat ini," ucap Silvestere tenang.
Ia menjeda kalimatnya sejenak, membiarkan matanya menyapu kerumunan warga kelas bawah yang sedang berebut logistik dengan gembira, sebelum akhirnya kembali menatap sang Pangeran.
"Saya menepati janji sebelum tenggat tiga hari yang Anda berikan. Namun, saya harap Anda tidak lupa, Pangeran... kelaparan di tempat ini memang teratasi untuk sementara waktu. Kelangkaan yang sama akan kembali mencekik mereka begitu stok ini habis, sementara waktu panen berikutnya masih terlampau lama."
Damian enghela napas pendek, lalu membalikkan badan ke arah Lord Silvestere dengan mengulas senyum tipis di kedua sudut bibirnya.
"Kau benar, Lord Alaric. Ini memang hanya solusi sementara," sahut Damian tenang. "Dan tentu aku tidak sebodoh itu untuk menguras setengah cadangan gandum di gudangmu tanpa menyiapkan langkah antisipasi jika pasokan itu habis."
Damian memajukan kaki satu langkah, mendekati pembatas lapangan, lalu menunjuk ke arah barisan gerobak kayu yang kini mulai kosong. "Waktu panen memang masih terlampau lama. Itulah sebabnya, dalam waktu dekat, Parlemen akan mengesahkan dekret baru yang kuajukan tadi subuh."
Tatapannya kembali menghujam lurus ke netra Lord Silvestere.
"Kerajaan akan membuka jalur dagang alternatif dan memangkas pajak masuk untuk pasokan pangan dari Pulau St. Mardas selama enam bulan ke depan. Suka atau tidak, Raja Arthur dan Parlemen harus menyetujuinya jika mereka tidak ingin Distrik Bawah lumpuh total," lanjut Damian, menyitir balik kekhawatiran geopolitik yang Silvestere agungkan kemarin. "Dengan begitu, pasar kita akan tetap terisi tanpa harus bergantung pada belas kasihan para penimbun pangan lokal, ataupun didikte oleh tarif dagang kerajaan lain."
Damian menjeda kalimatnya sejenak.
"Kau tahu sendiri distrik ini adalah penopang ekonomi Castlewood. Jika kelaparan sampai melumpuhkan tempat ini, seluruh kerajaan akan ikut runtuh. Dan tindakanmu menimbun gandum di wilayah sekritis ini selama beberapa hari belakangan... adalah sebuah kekeliruan yang fatal, Lord Alaric."
Lengkungan miring di bibir Lord Silvestere seketika runtuh, digantikan kerutan tegang di dahinya. Pria paruh baya itu terdiam kaku. Rencana pembukaan jalur St. Mardas jelas akan menghantam kendali monopoli pangan yang selama ini digenggam erat oleh keluarganya. Banjir komoditas asing itu akan membuat cadangan gandum di gudang pribadinya kehilangan nilai tawar di pasar Castlewood.
Damian menepuk bahu berlapis beludru pria paruh baya itu dengan pelan, namun tepukan tersebut terasa seperti sebuah peringatan dari sang Pangeran.
"Aku sangat menghormatimu atas jasa-jasa yang selama ini kau berikan untuk kerajaan ini, Lord Alaric," ujar Damian. "Namun, zaman telah berubah, dan Castlewood tidak bisa terus-menerus digerogoti dari dalam oleh ambisi usang keluargamu. Pikirkan baik-baik langkahmu selanjutnya. Karena jika sampai ada satu gerobak lagi yang terlambat datang, atau ada satu rumor lagi di Parlemen yang mencoba menyabotase jalur dagang St. Mardas, aku tidak akan segan menunjuk ksatria elit untuk mengaudit seluruh aset pribadimu atas dugaan pengkhianatan ekonomi."
Damian menarik kembali tangannya dari bahu Silvestere, lalu menyunggingkan senyum tipis yang dingin.
"Selamat menikmati hari Anda di Distrik Bawah, Lord Silvestere. Udara di sini mungkin berdebu, tapi setidaknya, rakyat kita hari ini bisa tersenyum gembira."
Tanpa menunggu balasan dari sang bangsawan senior yang kini berdiri kaku dengan rahang yang mengatup rapat, Damian berbalik. Jubah militernya berkibar pelan saat ia melangkah meninggalkan lapangan, dikawal oleh dua prajurit setianya.
Di belakangnya, Lord Silvestere hanya bisa menatap punggung sang Pangeran dengan kilat amarah yang menyala di balik wajah tenangnya. Untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, sang Lord menyadari bahwa ia kini harus menghadapi lawan politik yang jauh lebih cerdas dan berbahaya daripada Raja Arthur.