NovelToon NovelToon
Di Balik Seragam Yang Sama

Di Balik Seragam Yang Sama

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Tazaya

Sebuah kisah 2 orang anak SMA, dibalik seragam yang sama ternyata kehidupan mereka sangat bertolak belakang

dengan kisah anak gadis bernama Naira dengan kehidupan nya yang sunyi dan dingin
dan kisah anak lelaki yang berkerja keras sambil bersekolah tapi dikelilingi keluarga yang hangat

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tazaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jam Sepuluh Siang

Keesokan harinya, sinar matahari pagi masuk menembus celah gorden kamar Naira. Meskipun suasana di rumahnya masih terasa dingin dan canggung akibat pertengkaran hebat tadi malam, perasaan Naira sama sekali tidak terpengaruh. Begitu membuka mata, hal pertama yang dia ingat adalah janjinya dengan Rama.

Sambil berguling di atas kasur king-sizenya, Naira meraih ponsel dengan senyuman yang langsung mengembang lebar.

> Naira:Ramaa, jadikan hari inii latihan nyaa hihii 🤭

> Naira: Mau dimana nihh?

Di seberang sana, Rama yang baru saja selesai membantu Ibunya menimba air langsung mengeringkan tangannya yang sehat. Dia membaca pesan Naira sambil menggeleng-gelengkan kepala. Cowok itu sengaja mengetik balasan dengan nada lempeng andalannya.

> Rama: Ih emang aku iyain? Perasaan kemarin kamu yang mutusin sendiri, Ra. Lagian tangan aku masih diperban begini, gimana mau ngajarin?

Naira yang membaca balasan itu langsung mengerucutkan bibirnya kesal di depan layar HP. Dia tidak mau menyerah begitu saja.

> Naira:Ih jadi dongg pliss 🙏🥺 Kan kamu bisa ngajarin pakai teori dulu, atau pakai tangan yang satunya. Pokoknya harus jadi, Ram! Aku udah siap-siap nih.

>

Rama mengembuskan napas kalah dari balik layar ponselnya. Melawan keras kepalanya Naira yang spek putri keraton itu memang tidak akan pernah ada menangnya.

> Rama: Ya sudah, iya. Sini Ra, di rumahku aja. Halaman depan agak lowong dikit kalau cuma buat latihan dasar. Aku share lock ya.

> Rama:(Lokasi Dibagikan)

Melihat balasan itu, Naira langsung bersorak kecil di kamarnya. Namun, sebelum bersiap, sebuah pertanyaan tiba-tiba terlintas di benaknya karena teringat obrolan sekilas kemarin.

> Naira:Eh Ram, kamu punya adik ya?

> Rama: Punya. Namanya Dika, kelas 3 SMP. Kenapa?

> Naira:Nggak apa-apa, nanya doang. Jam 10 siang aku sampai sana ya!

Naira langsung melompat dari kasur dan bersiap-siap. Kali ini dia memilih baju olahraga yang casual tapi tetap modis sebuah celana legging olahraga hitam bermerek dipadukan dengan kaos oversized berwarna lilak yang cerah. Rambut panjangnya dikuncir kuda dengan rapi, memperlihatkan lehernya yang jenjang. Tak lupa, dia memoleskan lip tint segar dan menyemprotkan parfum vanila mahalnya.

Tetap wangi dan cantik, walau tujuannya kali ini adalah untuk berkeringat.

Sebelum menuju ke rumah Rama, Naira sengaja berangkat lebih awal menggunakan mobil mininya. Dia mampir ke sebuah restoran keluarga yang cukup terkenal untuk memesan makanan dalam porsi yang sangat banyak. Ada ayam goreng krispi utuh, beberapa porsi sup jagung hangat, buah-buahan segar, hingga camilan kue-kue basah premium.

"Ini pasti cukup buat makan siang keluarga Rama," gumam Naira puas sambil menata kotak-kotak makanan itu di jok samping kemudi.

Tapi langkahnya belum selesai. Teringat kalau Rama punya adik laki-laki bernama Dika, Naira memutar mobilnya menuju toko es krim premium. Dia membeli dua bucket besar es krim rasa cokelat dan vanila lengkap dengan toppingnya. Naira tahu betul, anak seumur Dika pasti akan sangat senang jika dibelikan es krim sebesar itu di tengah hari yang mulai terik.

Tepat pukul sepuluh kurang lima menit, GPS di ponsel Naira berbunyi, menandakan bahwa dia sudah memasuki kawasan gang sempit sesuai dengan arah share lock dari Rama. Jantung Naira mendadak berdegup kencang lagi. Bukan karena takut dibegal seperti tadi malam, melainkan karena rasa gugup yang aneh karena ini adalah pertama kalinya dia akan menginjakkan kaki di rumah cowok itu.

Mobil mini Naira perlahan berhenti tepat di depan sebuah rumah papan sederhana. Di teras depan, Rama sudah berdiri menanti dengan kaos polos abu-abu dan celana pendek. Tangan kanannya masih terbalut perban putih yang rapi, sementara sudut bibirnya masih menyisakan bekas lebam kebiruan.

Dari dalam rumah, aroma bumbu dapur yang sedang ditumis semerbak tercium sampai ke halaman. Ibu Rama rupanya sedang sibuk memasak untuk makan siang.

Naira menarik napas dalam-dalam untuk menetralkan debar jantungnya, lalu turun dari mobil sambil kesusahan membawa dua kantong plastik besar berisi makanan dan bucket es krim premium di kedua tangannya.

Melihat Naira yang kerepotan membawa barang bawaan sebanyak itu, Rama langsung melongo heran. Dia bergegas turun dari teras dan menyambar dua kantong plastik berat itu dengan tangan kirinya yang sehat.

"Ra, kamu ini mau latihan karate atau mau pindahan rumah? Banyak banget bawaannya," komentar Rama lempeng, menatap tumpukan kotak makanan mewah di tangannya.

"Ih, berisik! Ini buat makan siang keluarga kamu, tahu!" sahut Naira sambil merapikan kaos olahraga lilaknya yang sedikit kusut, menyembunyikan rasa salah tingkahnya.

"Yuk, masuk dulu," ajak Rama menuntun Naira naik ke teras rumahnya yang ringkas.

Begitu melangkah masuk ke ruang tamu yang beralaskan karpet plastik bermotif, Ibu Rama langsung keluar dari arah dapur sambil mengusap tangannya yang basah ke celemek. Melihat kehadiran Naira, wajah wanita paruh baya itu langsung berbinar hangat.

Naira dengan sopan langsung maju, membungkukkan badannya sedikit, dan mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Ibu Rama. "Siang, Ibu... Saya Naira," ucapnya dengan suara lembut dan pembawaan anggun, membuat aroma vanila mewahnya langsung mengisi ruangan sederhana itu.

"Oh, Naira..." Ibu Rama menerima salaman itu dengan senyum yang sangat tulus, lalu menepuk-nepuk punggung tangan Naira pelan. "Masyaallah cantiknya anak ini. Makasih banyak ya, Nak, sudah repot-repot bawa Rama ke klinik semalam. Ibu sempat panik banget waktu lihat dia pulang berdarah-darah."

Mendengar ucapan Ibu Rama, dada Naira mendadak berdesir penuh rasa bersalah sekaligus haru. Dia melirik Rama sekilas sebelum kembali menatap Ibu Rama dengan mata yang tulus.

"Ih, Ibu... harusnya Naira yang berterima kasih banyak ke Rama," ucap Naira dengan nada bersungguh-sungguh. Dia memegang tangan Ibu Rama dengan kedua tangannya. "Kalau semalam gak ada Rama yang nolongin, Naira gak tahu nasib Naira sekarang gimana, Bu. Rama yang udah taruhan nyawa demi jagain Naira di jalan sepi itu."

Ibu Rama tersenyum hangat, beralih menatap anak sulungnya dengan pandangan bangga. "Rama memang anak yang bertanggung jawab, Nak. Ya sudah, mari duduk dulu. Itu barang-barang bawaannya kok banyak sekali, repot-repot amat?"

"Gak repot kok, Bu! Ini cuma makanan sedikit buat makan siang bareng, sama ada es krim juga buat Dika," jawab Naira riang, mendadak merasa sangat diterima dan nyaman berada di rumah sederhana ini sebuah kehangatan tulus yang jarang dia rasakan di rumah mewahnya sendiri.

Setelah mengobrol sebentar dengan Ibu, Rama akhirnya membawa Naira ke halaman samping rumah yang beralaskan tanah kering dan sedikit rumput teki. Area itu cukup luas untuk ukuran rumah di gang padat penduduk.

Rama berdiri dengan tegak, mencoba memasang wajah seprofesional mungkin layaknya seorang sensei karate, lengkap dengan tangan kanannya yang masih terbebat perban.

"Oke, Ra. Karena tangan aku belum bisa dipakai pukul-pukulan, hari ini kita latihan dasar dulu. Kuda-kuda atau Zenkutsu-dachi," ucap Rama dengan nada serius, matanya menatap Naira tajam. "Buka kaki kamu selebar bahu, terus kaki kanan tarik ke belakang. Turunin pinggul kamu."

Naira mengangguk mantap. "Gampang itu mah!"

Dengan penuh percaya diri, Naira langsung mengambil langkah lebar-lebar. Tapi karena celana legging-nya terlalu ketat dan tanah di halaman itu agak licin akibat sisa embun pagi, kaki Naira justru meluncur terlalu jauh ke belakang.

"Eh... eh... Ramm! Tolong!" seru Naira panik saat keseimbangannya hilang.

Tubuhnya oleng ke depan. Insting bertahannya membuat Naira refleks mencengkeram apa saja yang ada di dekatnya. Sial bagi Rama, kaos abu-abu leceknya lah yang menjadi sasaran empuk.

SREEET—BUGH!

Naira sukses mendaratkan dahi mulusnya tepat di dada bidang Rama, sementara kedua tangannya mencengkeram erat kerah kaos Rama sampai melar. Rama yang tidak siap dengan serangan mendadak itu terpaksa mundur dua langkah untuk menahan beban tubuh Naira agar mereka tidak sama-sama terjungkal ke tanah.

Suasana mendadak hening. Wangi parfum vanila Naira langsung menyeruak, menusuk hidung Rama dalam jarak sedekat itu.

Rama mengerjapkan mata, menatap puncak kepala Naira yang masih nempel di dadanya. "Ra... kamu mau latihan karate atau mau ngajak tawuran?" tanya Rama lempeng, meski detak jantung di balik dadanya sebenarnya sudah berdegup dua kali lebih cepat.

Naira buru-buru menegakkan tubuhnya, wajahnya yang putih bersih seketika merona merah padam mengalahkan warna buah tomat. Dia buru-buru melepas cengkeramannya dari kaos Rama sambil merapikan rambut kuncir kudanya yang agak berantakan.

"Ih! Salahin tanah kamu tuh, licin banget!" kilah Naira galak, menutupi rasa salah tingkahnya yang luar biasa. "Lagian kamu ngasih instruksinya kurang jelas!"

Rama mengembuskan napas pendek, lalu berkacak pinggang dengan tangan kirinya. "Instruksinya udah jelas, Kamunya aja yang keberatan gengsi. Makanya, kalau dibilang turunin pinggul, ya diturunin, bukan malah kayang."

Belum sempat Naira membalas dengan omelan andalannya, suara tawa renyah tiba-tiba terdengar dari arah pintu samping ruko kayu.

"Pfftt... Hahaha! Kak Rama kalau ngajar galak banget kayak ibu kos, pantesan gak ada cewek yang mau!"

Dika muncul sambil bersandar di kosen pintu, masih memakai celana pendek santai dan kaos bola. Anak SMP itu tampaknya sudah menonton adegan "pelukan tak sengaja" tadi sejak awal.

Naira yang melihat Dika langsung tersenyum ramah, melupakan kekesalannya pada Rama. "Kamu Dika, ya?"

"Iya, Kak! Kak Naira, kan? Yang semalem ditolongin Kak Rama?" Dika langsung berjalan mendekat dengan wajah ramah. "Makasih ya Kak, es krimnya gede banget! Tadi udah Dika masukin ke kulkas biar gak leleh. Tahu aja Kakak kalau Dika suka es krim cokelat."

"Sama-sama, Dika. Dimakan yang banyak ya, sengaja Kakak beliin dua rasa biar kamu gak bosen," sahut Naira manis, membuat Dika langsung tersenyum lebar.

Dika kemudian melirik ke arah kakaknya, lalu beralih menatap Naira dengan tatapan jenaka. "Kak Naira, mending gak usah latihan sama Kak Rama deh. Dia mah kalau ngajarin aku main bola juga suka ngegas. Mending kita makan es krim aja di dalam, adem ada kipas angin."

"Wah, ide bagus tuh!" Naira langsung menyetujui, sengaja menjulurkan lidahnya ke arah Rama untuk mengejek. "Ayo Dika, kita masuk. Latihannya tunda minggu depan aja, pelatihnya gak seru, pelit senyum!"

Rama hanya bisa mengurut pangkal hidungnya, menatap pasrah ke arah adik kandungnya sendiri yang dengan mudahnya telah "dijual" dan membelot hanya demi dua bucket es krim premium dari sang putri keraton.

"Dika, awas kamu ya," gumam Rama pelan, sementara sudut bibirnya yang lebam diam-diam melengkung membentuk senyuman hangat melihat tawa lepas Naira yang menggema di halaman rumah sederhananya pagi itu.

1
Wawan
Sepertinya ini sama persis degan bab di depan 💪✍️
Wawan
Nah kena Amor lu 😍😄✍️
tazayaa: hahaha🤭
total 1 replies
Wawan
Kok mirip ceritaku ya ... "Pada Suatu Masa" 💪✍️
Wawan: Panjang kalau di ceritaku 😄 ... But ide tulisamu menarik dan menyenangkan Thor 💪✍️
total 2 replies
Wawan
Satu ilklan plus mawara buat yang lagi klepek klepek 😄✍️
tazayaa: hihii terimakasih 💪😄
total 1 replies
Wawan
Suit suiiit 😍
tazayaa: hihiii🤣
total 1 replies
Wawan
Rama dan Naira 😍😍😍
tazayaa: jangan lupa baca kisah selanjutnya yaa😍😍😍
total 1 replies
Protocetus
Bibit2 timnas 💪
Protocetus
Gk sekolah mau kerja apa bossku 😂
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
tazayaa: siapp, sama-sama👍
total 3 replies
Dhatu Lukita
terus semangaattt 💪💪💪
tazayaa: terimakasih kak, semangat jugaa 💪
total 1 replies
Dhatu Lukita
haloo thor aku mampir nih, semangat terus berkarya ya 💪💪💪
tazayaa: siapp kak, makasihh yaa
total 1 replies
tazayaa
bantu follow ya supaya admin semangat update niii🤭🤭
cila_aa
aduhh ada yang mulai tumbuh tapi bukan pohon nihh 🤭
tazayaa: wkwkw
total 1 replies
tazayaa
BAGUSSS POLLL!!!🩷🩷
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!