NovelToon NovelToon
I Hired A Billionaire

I Hired A Billionaire

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Patahhati
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Alceena Brox Riccardo (26 tahun), seorang diva papan atas Hollywood, mendapati dunianya runtuh saat kekasihnya mengirimkan undangan pernikahan tanpa kata putus.

Terluka dan menolak terlihat malang oleh paparazzi, ego Alceena memberontak.

Di sebuah bar eksklusif di Los Angeles, dia meluapkan amarahnya dan secara impulsif mengajak seorang pria asing yang dikiranya gigolo untuk menjadi pria simpanannya.

Pria itu adalah Xander Hayes-Stone (25 tahun), seorang pemuda kaya asal Chicago yang juga sedang melarikan diri dari pengkhianatan cinta.

Malam di penthouse mewah Alceena menjadi awal dari ikatan kontrak yang rumit di antara mereka.

Berawal dari pelampiasan dendam dan ego badai dua manusia yang patah hati, hubungan tanpa status ini perlahan menyeret mereka ke dalam pusaran, rahasia masa lalu, dan takdir baru yang tak terduga di bawah gemerlapnya kota Los Angeles.

~~~~~~

Happy reading 🌷🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#14

Suara deru mesin mobil sport yang membawa Xander pergi mungkin sudah tidak terdengar lagi dari lantai atas penthouse mewah itu, namun gema bentakan dan tuduhan kejam pria itu masih tertinggal, berputar-putar di udara bagaikan kabut beracun yang mencekik leher Alceena.

Alceena berdiri mematung di tengah kamar tidur utamanya yang kini terasa begitu luas, kosong, dan dingin.

Jubah mandi sutra hitam yang melekat di tubuhnya terasa seperti kain kafan yang membungkus harga dirinya yang telah mati surut pagi ini.

Matanya menatap nanar ke arah kasur yang masih acak-acakan.

Beberapa jam lalu, tempat itu adalah altar dari sebuah penyatuan yang dia kira dipenuhi rasa respect dan keikhlasan mutual. Namun kini, tempat itu berubah menjadi saksi bisu dari sebuah penghinaan paling rendah yang pernah dia terima sepanjang hidupnya.

"Licik? Ular? Menjebak?" Alceena menggumamkan kembali kata-kata Xander dengan suara yang bergetar.

Sedetik kemudian, sepasang mata indahnya yang biasa memancarkan binar keangkuhan seorang bintang Hollywood mendadak berubah menjadi dingin dan dipenuhi oleh kobaran api kebencian yang menyala-nyala.

Rasa sedihnya menguap, digantikan oleh keangkuhan seorang Riccardo yang terluka.

Demi Tuhan, dia membenci pria itu. Dia membenci setiap jengkal tubuh kekar yang semalam memujanya, dia membenci sepasang mata heterochromia yang sempat membuatnya kagum, dan dia membenci suara berat yang ternyata bisa mengeluarkan kalimat sekeji itu.

Alceena mengepalkan kedua tangannya begitu kuat hingga kuku-kuku jarinya memutih.

Di dalam hatinya, dia menanam sebuah sumpah yang sakral. Kalaupun nanti takdir bertindak gila dan mempertemukan mereka lagi di sudut bumi mana pun, dia tidak akan sudi mengenalnya.

Dia akan memperlakukan Xander Hayes-Stone seolah-olah pria itu hanyalah seonggok sampah tak kasatmata yang lewat di depannya.

Alceena menarik napas dalam-dalam, mencoba menguasai kembali kendali atas tubuh dan emosinya.

Dia berjalan menuju nakas, menyambar ponselnya sendiri, lalu mencari sebuah kontak.

Dia tidak menghubungi asisten yang membelikan pakaian untuk Xander kemarin—asisten junior yang terlalu banyak tahu itu sudah dia perintahkan untuk diam.

Kali ini, Alceena langsung menghubungi asisten pribadinya yang paling utama, orang kepercayaan yang menghandle seluruh hidup dan kariernya: Shireen.

"Shireen, ke penthouse-ku sekarang. Jangan membantah, cepat," perintah Alceena tanpa menunggu jawaban, langsung mematikan sambungan telepon dengan sepihak.

Beberapa puluh menit kemudian, bel pintu penthouse berbunyi. Alceena yang sudah mengganti pakaiannya dengan gaun rumah kasual berwarna putih tulang berjalan membuka pintu.

Sosok Shireen berdiri di sana dengan gaya modisnya yang santai, membawa sebuah tablet kerja dan tas desainer di bahunya. Shireen bukan sekadar karyawan yang digaji; perempuan berambut bob sebahu itu adalah sahabat paling dekat Alceena di industri hiburan yang kejam ini. Jika ada satu orang di dunia ini yang tahu seluruh isi kepala Alceena, orang itu adalah Shireen.

Begitu melangkah masuk melewati koridor, Shireen tidak langsung duduk. Perempuan itu melirik ke sana kemari dengan tatapan menyelidik, matanya menyipit saat melihat dua cangkir kopi yang masih berada di meja dapur, serta selembar sapu tangan sutra putih yang tergeletak di konter pantry.

Ya, perempuan itu juga tahu sang bos menyembunyikan seorang pria sejak dua hari lalu. Kabar tentang Alceena yang membawa pulang seorang pria tampan dari bar VIP sudah sampai ke telinga tajamnya, meskipun Alceena mencoba menutupinya dari publik.

"Aku akan kerja hari ini. Siapkan mobil dan hubungi studio," kata Alceena tiba-tiba dengan suara yang dibuat sedatar mungkin, berjalan menuju sofa raksasanya dan mengempaskan tubuh di sana.

Shireen tidak langsung menuruti perintah itu. Dia berjalan mendekati sofa, meletakkan tabletnya di atas meja kaca, lalu menopang dagu sambil menatap Alceena dengan senyuman menggoda yang usil.

"Kerja? Sejak kapan seorang Alceena Brox Riccardo yang sedang mengambil cuti patah hati mendadak gila kerja di pagi hari?" goda Shireen, matanya kembali melirik ke arah tangga lantai dua.

"Lagipula... di mana kau menyembunyikan si tampan misterius itu, huh? Aku ingin melihatnya langsung. Aku penasaran pria seperti apa yang bisa membuat diva dingin sepertimu nekat membawanya pulang dari bar."

Alceena memalingkan wajahnya ke arah jendela besar, menolak menatap mata sahabatnya. "Berhenti membual, Shireen. Dia telah pergi. Aku sudah bosan padanya."

Shireen menaikkan sebelah alisnya, menangkap nada ketegangan yang tidak biasa dari suara Alceena.

Dia berjalan memutari sofa dan duduk tepat di samping Alceena, mengamati wajah sahabatnya yang tampak sedikit pucat meskipun dahi wanita itu mengeras menahan emosi.

"Pergi? Cepat sekali?" Shireen terkekeh geli, menyenggol bahu Alceena dengan akrab.

"Kenapa? Apa pelayanan gigolomu itu kurang memuaskanmu? Begitu? Kau sudah gila, Alceena. Kau memecatnya atau dia yang melarikan diri karena tidak tahan dengan sifat cerewetmu?"

"Berikan jadwalku, Shireen! Aku akan bekerja hari ini, sekarang juga!" potong Alceena dengan nada yang mulai meninggi, matanya berkilat marah. Dia tidak ingin mendengar satu kata pun yang berkaitan dengan pria itu lagi.

Shireen menghela napas, senyuman menggandanya perlahan luruh melihat reaksi Alceena yang berlebihan. Dia meraih tablet kerjanya, lalu mengetuk layarnya beberapa kali.

"Tidak, tidak. Aku tidak akan memberikan jadwal apa pun padamu hari ini," ucap Shireen dengan nada tegas yang keibuan. "Aku sudah membatalkan jadwalku hari ini untuk menemanimu. Lagipula, draf film barumu baru akan dikirim besok oleh produser. Hari ini kau bebas."

Mendengar kata 'bebas' dan menyadari bahwa dia tidak memiliki pelarian berupa pekerjaan hari ini, dinding pertahanan yang sedari tadi dibangun Alceena dengan keangkuhannya mendadak runtuh total.

Kata-kata Shireen yang menggodanya tentang 'gigolo' dan 'pelayanan' seolah memicu trauma instan atas bentakan kejam Xander beberapa jam lalu.

Tiba-tiba saja, tanpa ada tanda-tanda sebelumnya, Alceena berteriak histeris.

"AAARRGGHH!!"

Jeritan frustrasi itu keluar dari tenggorokannya, disusul dengan air mata yang langsung tumpah ruah membanjiri pipinya laksana tanggul yang jebol.

Alceena menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya, menunduk dalam-dalam, dan mulai menangis sejadi-jadinya. Tubuhnya yang ramping terguncang hebat oleh isakan yang begitu pilu dan sarat akan rasa terhina.

Shireen terkejut setengah mati.

Dia belum pernah melihat Alceena sehancur ini, bahkan saat berita tentang Aldridge yang berselingkuh dan menikah dengan jalangnya kemarin, Alceena hanya melempar vas bunga dan diam membatu.

Tapi sekarang? Sahabatnya menangis seperti anak kecil yang kehilangan dunianya.

"Hei, hei... Alceena? Ada apa? Mengapa kau menangis seperti ini?" Shireen langsung panik, menggeser duduknya lebih dekat dan merangkul bahu Alceena erat-erat, mencoba menenangkan sang diva.

"Huhuhu... Shireen... Aku... aku bodoh sekali! Huhuhu!" Alceena merancu di sela tangisnya, air matanya membasahi kemeja kerja Shireen.

"Aku menyerahkan diriku pada pria patah hati yang kukira seorang simpanan, Shireen! Aku membawanya pulang karena kupikir dia bisa menjadi obat penenang untuk rasa sakit hatiku karena Aldridge... tapi nyatanya dia jauh lebih gila!"

Shireen mendengarkan dengan saksama, mengusap punggung Alceena dengan lembut. "Lalu apa yang terjadi? Apa dia menyakitimu? Apa dia mencuri sesuatu?"

"Tidak! Dia tidak mencuri apa pun! Tapi dia mencuri seluruh harga diriku!" seru Alceena histeris, mendongak dengan mata yang sembap dan hidung yang memerah, tampak begitu mengenaskan namun tetap cantik.

"Bisa-bisanya... bisa-bisanya aku patah hati dua kali karena ditinggalkan oleh dua pria yang berbeda dalam minggu ini! Aldridge mencampakkanku demi jalang sialan itu, dan pria Chicago itu... pria brengsek bernama Xander itu... dia membentakku pagi ini, Shireen! Dia menuduhku sebagai wanita licik yang sengaja menjebaknya agar hubungannya dengan wanita masa lalunya hancur!"

Alceena memukul bantal sofa dengan frustrasi. "Padahal semalam... semalam dia begitu lembut. Dia sempurna, Shireen. Tubuhnya, wajahnya, caranya berbicara tentang kedewasaan... dia sangat tampan, dia sempurna hingga membuatku percaya bahwa kami bisa saling menyembuhkan. Tapi pagi ini dia berubah menjadi iblis hanya karena satu panggilan telepon! Dia menginjak-injak sumpahku dan berjalan keluar dari pintu itu seolah-olah aku ini seonggok sampah yang menjijikkan! Huhuhu!"

Mendengar seluruh runtunan cerita yang emosional itu, Shireen akhirnya paham.

Sahabatnya tidak hanya sedang meratapi Aldridge, melainkan sedang mengalami rebound patah hati yang gagal total.

Alceena yang berniat mencari pelarian pada pria asing di bar, justru berakhir tertusuk oleh duri yang lebih tajam dari pria yang ternyata memiliki konflik batin yang tak kalah rumitnya.

Shireen menarik Alceena ke dalam pelukannya yang hangat, membiarkan sahabatnya itu menumpahkan seluruh sisa air mata dan rasa terhinanya sampai habis. Dia mengusap rambut panjang Alceena dengan penuh kasih sayang seorang sahabat sejati.

"Huhuhu... kasihan sekali sahabatku ini," ucap Shireen dengan nada lembut namun menyelipkan sedikit nada candaan untuk mencairkan suasana.

"Kau ini seorang diva pemenang piala Oscar, Alceena. Wajahmu adalah fantasi jutaan pria di luar sana, tapi kenapa dalam satu minggu ini nasib percintaanmu mengenaskan sekali seperti drama sabun tingkat rendah, huh?"

Alceena hanya bisa sesenggukan, memeluk pinggang Shireen erat-erat.

"Sudahlah, dengarkan aku," Shireen merenggangkan pelukannya, memegang kedua pipi Alceena dan menghapus sisa air mata di sana dengan ibu jarinya.

"Baiklah. Kupastikan mulai detik ini, kau harus melupakan pria-pria sialan itu. Baik si brengsek Aldridge maupun si tampan Chicago bernama Xander itu. Mereka itu hanya pria-pria yang mampir sebentar dalam hidupmu untuk memberikan pelajaran, bukan untuk menetap."

Shireen menatap mata Alceena dengan tatapan serius dan penuh motivasi.

"Kau adalah Alceena Brox Riccardo. Duniamu bukan di ranjang ini, duniamu adalah di depan kamera dan di atas panggung megah. Besok draf naskah film barumu dari sutradara legendaris itu akan tiba. Fokus pada film barumu nanti, Alceena. Salurkan seluruh rasa sakit, amarah, dan air matamu ini ke dalam aktingmu. Buat karaktermu nanti menjadi mahakarya yang akan membuat kedua pria bodoh itu menangis darah saat melihat wajahmu di layar bioskop raksasa nanti!"

Alceena menatap Shireen, kata-kata sahabatnya perlahan-lahan menyuntikkan kembali sisa-sisa kekuatan ego Riccardo yang sempat runtuh.

Dia mengusap hidungnya, lalu mengangguk pelan.

Shireen benar. Dia tidak boleh tenggelam dalam kubangan air mata hanya karena seorang pria yang baru dikenalnya dua hari.

Xander Hayes-Stone telah memilih untuk mengibarkan bendera perang dan kebencian, maka Alceena akan memastikan bahwa pria itu tidak akan pernah memiliki akses lagi untuk melihat setitik pun kelembutan dari dirinya di masa depan.

1
ida wati
Xander said : hei hei hei kutil dino......akulah yg sudah unboxing Alceena jd singkirkan gossip murahanmu itu 🤣🤣🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: wkwkkw🤣🤭
total 3 replies
ida wati
dah lah cari aman aja daripada daripada yekaannn 😄😄😄😄😄
Ros 🌷🦋: iya dong🤭
total 1 replies
ida wati
HA HA HA HA HA #ketawajahat
ida wati
mana ada adegan pemersatu bangsa cuma 10 menit 🫣🫣🫣
Ros 🌷🦋: hahaha lawak 🤣🤣
total 1 replies
ida wati
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
ida wati
si modus 🤣
Ros 🌷🦋: kesayangan author 🤣
total 1 replies
ida wati
Xander ini manusia atau semacam tembok berlin? 😄🤣
Ros 🌷🦋: Haha Ngakak saya🤣
total 1 replies
ida wati
kalo pilem ultramen pasti ada sinar laser dari mata nya 🤣🤣🤣
♔, Seleneᥫ᭡𐂅◇☆, ꧁
Luar biasa
ida wati
wkwkwkwk akoh kira udh 20an 🤣 ternyatahh mabelastaon 🤣
Ros 🌷🦋: Haha berondong 🤣
total 1 replies
ida wati
kurang 2 kata mutlak nya thor 🤣
Ros 🌷🦋: typo kak🤭🤣
total 1 replies
ida wati
waduh basah kuyup 🤣 lanjutkan 🤣
Ros 🌷🦋: wkwkw🤭🤣
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
cerita xander sama alceena seruu😍
Ros 🌷🦋: ma'aciww kak 🫶
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
wahh cerita xander😍
Ros 🌷🦋: Happy reading kak 🫶
total 1 replies
ida wati
ENG ING ENG.......DUARRRR 🤣🤣🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: wkkwkw🤣🤭
total 1 replies
nayla tsaqif
Thor,, cerita Mrs. Only his mana,, kok gk ketemu??
Ros 🌷🦋: Sudah saya hapus Kak😭 nanti habis Tamat Cerita Ini baru tak buat ulang kak🤭
total 1 replies
nayla tsaqif
Lhaaa,, yg jebol gawang aja xander,, punya ank dr mna? Pede banget anda tuan angrybet,, bakal di ketawain keras ama bang xander🤣🤣
Ros 🌷🦋: Angry bird 😭😭
total 1 replies
durrotul aimmsh
wah...bakal ada pertarungan sengit ini
Ros 🌷🦋: heheh Ma'aciww komentarnya kak🙏🏻
total 1 replies
ida wati
haduhhh Alceena sm Xander yg terancam akoh yg deg2an 🤣🤣🤣 gamau liat ahh 🫣🫣🫣
Ros 🌷🦋: wkkwwk siapkan Cemilan 🤣
total 1 replies
ida wati
haduhhhh masalah baru 😏
Ros 🌷🦋: Hihihi semangat di dunia nyata ya kak🥰🫶
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!