Kana Nada Praya dilahirkan oleh ibunya dengan doa akan anak perempuan yang kuat, penuh harapan dan dicintai. Seiring langkah kecil hingga ia dewasa, doa itu kerap menuntunnya pada keberhasilan gemilang yang ia raih. Hingga ia bertemu seorang lelaki yang mengubah semua itu. Mengubah hidup Kana menjadi sebuah kenyataan yang terbalik dari doa sang ibu.
Aruna Wira Mahendra bagai titisan berlian yang diturunkan tuhan dari langit. Ia dilahirkan dari keluarga terhormat dan berwibawa. Meski berada di keluarga kaya, Aruna tak pernah sekalipun memanfaatkan apa yang orangtuanya miliki. Dengan keahlian dan bakatnya, ia meraih kegemilangan hidup terutama saat bertemu Kana, magnet dalam hidupnya. Hingga sebuah keputusan demi keputusan salah menuntunnya pada jalan yang gelap.
Kana & Aruna, bagai kisah cinta yang begitu indah.
Kana & Aruna, bagai kisah cinta yang berakhir begitu saja.
Benarkah cinta adalah anugerah?
Ataukah cinta butuh lebih dari sekedar cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senseless
Sebuah ruangan ICU rumah sakit yang biasanya cukup sepi kali ini sedikit heboh. Pasalnya sang pasien yang terpantau dalam keadaan stabil dalam 10 menit terakhir menunjukkan tanda-tanda penurunan kondisi. Beberapa dokter harus turun tangan untuk memberi pertolongan. Untungnya, keadaan kritis tersebut cepat terlalui, pasien yang bernama 'Aruna Wira Mahendra' tersebut kembali stabil.
Lastri Mahendra duduk dengan cemas sambil terus meremas jemarinya. Ia sedang menunggu dokter Cakra sebagai salsah satu dokter penangunggjawab perawatan anak semata wayangnya itu. Abraham Mahendra, suaminya, terpaksa tidak bisa hadir sebab sedang harus menghadiri rapat direksi untuk pengangangkatan pimpinan baru perusahaan keluarga, yang tak lain dan tak bukan adalah Sanjaya Mahendra.
Meski polemik baru tentang kepemilikan dan pewarisan tahta itu sangat membuat Lastri frustasi, tetapi ia punya hal yang lebih penting. Kondisi Aruna beberapa hari terakhir ini memang terpantau terus menurun. Menjelang shubuh tadi kondisinya tiba-tiba kritis. Untungnya dokter dapat memberi tindakan yang tepat sehingga membantu tubuh Aruna kembali pada kondisi stabil. Meski begitu, belum ada tanda-tanda peningkatan kesadaran dari Aruna.
Dokter Cakra memasuki ruangan dengan membawa catatan medis ditangannya. Sekali lagi ia menyebutkan nama pasiennya, "Aruna Wira Mahendra."
"Ya, dokter. Gimana kondisi Aruna? Apa yang terjadi dengannya shubuh tadi?" cecar Lastri saat Cakra duduk berhadapan dengannya.
Cakra menghela nafasnya dan mulai berbicara menjelaskan panjang lebar. Pada kondisi tubuh Aruna yang saat ini sedang 'dibantu' hidupnya dengan peralatan medis, ada kondisi dimana tubuhnya jenuh. Kondisi ini membuat tubuh kurang merespon sinyal yang dikirimkan oleh otak, sehingga organ tubuh mengalami depresif dan penurunan kondisi. Cakra tahu bahwa jika hanya menjelaskan keadaan ini, tidak akan membantu Lastri. Ia harus memberi tahu lastri mengenai hal apa yang bisa Lastri lakukan untuk Aruna.
"Banyak-banyaklah berdoa, semangatin Aruna, Bu. Kalau bisa, bawalah seseorang yang membuatnya bersemangat. Ceritakan hal-hal yang ia sukai. Percaya atau tidak, dan meski memang belum ada jurnal ilmiahnya, tetapi memberikan semangat positif itu akan sangat membantu kondisi pasien, Bu Lastri," jelas Cakra sambil bersandar pada kursinya.
Menghela nafas panjang, Lastri sudah habis akal. Sudah beragam cerita dan motivasi ia sampaikan pada tubuh Aruna yang terdiam di tempat tidur. Mungkin ia harus mencari seseorang yang tepat, yang berarti bagi Aruna, untuk terus menyemangati tubuh dingin di ruangan ICU itu.
Setelah pamit keluar dari ruangan Dr. Cakra, Lastri menekan layar ponselnya, mencoba menghubungi seseorang disana.
"Halo, Krisna," sapanya dengan suara tegas.
"Ah, iya Ndoro," sahut suara disebrang sana. Krisna, asisten kepercayaan Aruna di kantor. Saat ini sengaja Abraham pindah tugaskan ke kantor cabang di kota lain. Seorang asisten kepercayaan tidaklah boleh berganti tuan. Kesetiaanya harus terjaga dan dijaga. Itulah sebabnya Krisnya tidak boleh bekerja dengan Sanjaya.
"Saya sedang berada di rumah sakit. Baru saja menjenguk Aruna. Ada yang mau saya tanyakan," ucap Lastri lagi.
Krisna segera menepikan diri dari suasana kantor. Meski dalam keadaan di alih tugas dari asisten Aruna, Krisna tetap harus menunjukkan rasa hormat pada keluarga Mahendra itu. Kekayaan dan kekuasaan keluarga itu tidak main-main. "Ya, Ndoro. Apakah Aruna sudah sadar?"
Lastri terdengar menarik nafas, seolah bersiap menjawab, "belum sadar. Bahkan kondisinya semakin menurun. Hampir sulit mengatakan kapan Aruna sadar dan kembali bekerja."
Mendengar kalimat Lastri, Krisna turut prihatin. Pria muda yang menjadi bosnya dulu itu sangat baik perilakunya. Seorang yang giat, dan sangat berbakat menjalankan bisnis keluarga itu. Seolah terlahir untuk berbisnis dan kaya.
"Oh iya, tadi mau tanya apa, Ndoro?" tanya Krisna.
"Begini, apakah kamu tahu kalau Aruna pernah punya pacar? Atau seseorang yang dekat?"
Ditanyai seperti itu, Krisna sontak bingung. Aruna tidak pernah punya pacar maupun seseorang yang terbilang dekat. Tetapi bosnya itu memang mudah akrab dan memiliki pertemanan yang luas. Sebenarnya, untuk ukuran dekat, sedekat apa yang Sang Ndoro maksud? Apakah sekedar jalan dan makan malam atau clubbing bareng adalah dekat? Jika Ya, maka akan banyak sekali nama yang harus disebut. Jika kedekatan yang dimaksud lebih intim, maka... hampir tidak ada nama yang bisa Krisna sebut.
Kredibilitas Krisna dipertaruhkan pada pertanyaan ini. "Maaf Ndoro, saya rasa untuk pacar, mungkin bisa cek ke Mbak Freya. Saya kurang paham sejauh apa hubungan mereka, tapi..."
"Pasti bukan Freya, anak itu bahkan belum pernah datang menjenguk Aruna!"
Disebrang sana, Krisna menepuk dahinya. "Uh, maaf Ndoro. Saya tidak benar-benar tahu siapa yang NDoro maksud dengan orang terdekat Mas Aruna. Saya-"
Tut... tut... tut...
Krisna menatap layar ponselnya. Ia tahu bahwa disebrang sana, Sang Ndoro, Ibu dari Aruna pasti telah menyudahi percakapan sebab tidak puas terhadap jawaban Krisna. Meski sedikit sebal, Krisna menduga pastilah pertanyaan Ibu dari Aruna tadi akan ada hubungannya dengan keadaan Aruna saat ini. Ia hanya bisa berharap kondisi Aruna segera membaik.
"Bos, bos. Sampai pacar aja lo belom punya saking sibuknya," keluh Krisna saat melihat sebuah foto dirinya dan Aruna sedang ebrlibur di sebuah resort ternama.
Tersenyum sumringah mengingat kebaikan Aruna, Krisna berceloteh lagi. "Liburan aja harus bawa asisten karena sambil kerja. Gue ditanyain orang terdekat lo nih bos sama Ndoro, bingung gue jawabnya. Mau gue jawab diri gue sendiri tadinya. Haha."
Ada setetes air yang menggenang di mata Krisna mengenang Aruna. Bukan hanya baginya Aruna sangat dekat. Bahkan, istri Krisna pun sangat menyukai Aruna karena sering memberi Krisna day-off dari pekerjaan untuk mengurusi kepentingan keluarga. Istri- tunggu!
Krisna dengan cepat berjalan kedalam ruangannya dan buru-buru membuka laptop. Ia lalu membuka folder yang berisi berkas dan data pribadi Aruna. Uh, ini dia.
Kana Nada Praya. Mantan istri Aruna, dua tahun yang lalu.
Jika Aruna pernah menjalin sebuah hubungan serius dan dekat. Maka, hanya inilah dia satu-saunya perempuan yang pernah dekat, bukan?
Krisna gusar, ia ingin menyampaikan temuan ini pada Sang Ndoro. Tapi ia bisa menduga bahwa Sang Ndoro tidak akan suka. Namun, suara hatinya berkata lain. Krisna mengetik dengan cepat pada ponselnya. Sebelum pesan itu ia kirimkan pada Sang Ndoro, Krisna memejamkan matanya berdoa.
'Maaf Ndoro, apakah sudah pernah mengecek Non Kana Nada Praya?'
Sementara itu, di cafe rumah sakit, hampir saja Lastri menjatuhkan gelas kopinya saat membaca pesan singkat yang dikirim oleh Krisna. Ia sampai harus membaca berulang-kali pesan singkat itu. Memastikan bahwa nama yang tertera pada layar ponselnya bukan sekedar halusinasi.
Sudah lama nama itu tak lagi mengganggunya. Nama yang ia anggap sudah selesai permasalahan dan hubungannya dengan putra semata wayangnya itu. Dari sisi Aruna, ia juga telah berjanji akan meninggalkan apapun itu yang ada hubungannya dengan nama perempuan itu. Sudah lama, sudah lama bahkan sampai rasanya aneh ketika menyebutkan namanya lagi.
"Kana," bisiknya pelan sambil menyesap kopi. Dan rasa pahit yang diantarkan kopi itu menyajikan Lastri ingatannya terhadap bagaimana ia berada diantara Aruna dan mantan istrinya dulu.
Lastri tak pernah menawarkan atau mengajarkan perceraian terhadap Aruna. Yang hanya Lastri inginkan adalah Aruna menerima apa-apa yang memang Aruna lakukan dan jalani di kehidupannya sebagai darah biru Mahendra. Kesuksesan yang keluarga bangsawan ini gapai bukanlah perihal kecil urusan bisnis semata. Ini banyak keterkaitannya, terutama pada rasa syukur dan hormat atas perjuangan leluhur dan para orangtuanya yang telah merintis jerih payah bisnis ini, juga mengenai beban keluarga Mahendra karena harus bekerja keras demi banyaknya tulang punggung yang bergantung dari bisnis mereka.
Sebagai tingkat teratas bisnis, mempertahankan kepenerusan adalah hal yang krusial. Dan ini merupakan tanggungjawab Lastri sebagai istri dari Abraham. Sudah sejak kecil ia mendidik Aruna mengenai tanggungjawab yang akan Aruna emban dewasa kelak nanti. Ya, hanya itu yang Lastri inginkan, Aruna menerima takdirnya sebagai penerus Mahendra.
Tetapi apa daya, mendapati kehormatan itu tak dipandang sama oleh Aruna kecil. Ia tidak ingin dipandang hebat karena 'orangtuanya', ejekan dan hinaan serta tanggapan meremehkan seringkali Aruna terima sepanjang hidupnya. Seolah mematahkan tangan dan kakinya tak pernah kenal lelah berusaha mencari pengakuan diri. Sering kali Aruna ingin lari dari tanggungjawab ini, berbagai cara ia lakukan, termasuk perjanjian menjelang kelulusan SMAnya. Aruna ingin hidupnya bebas memilih, ia ingin merasakan hidup merupakan pilihannya sendiri. Sebelum akhirnya nanti setelah masa kuliahnya berakhir, Aruna akan kembali pada jalan hidup yang sudah dibangun untuknya sejak dahulu.
Lastri menyesap lebih dalam, ia ingin menolak perasaan bersalah. Tetapi semakin dalam menyelami ingatan. Rasa bersalah itu perlahan menjalar hingga ketenggorokannya. Membuat rasa sesak perlahan menggerogoti dadanya.
Aruna yang ia inginkan setelah hampir setahun lepas dari pandangan dan genggamannya kini kembali mendatanginya. Menyambut jalan hidup yang telah digariskan dalam darah Aruna. Tetapi anak lelakinya itu, tak ingin membawa Kana pada jalan yang ia pilih ini.
Menurut Aruna, Kana terlalu berharga jika harus ikut mengemban tugas turun temurun beban keluarga ini. Kana adalah jiwa bebas penuh energi dan daya tarik yang bahagia. Ia tak perlu terlibat dalam polemik keluarga dan bisnis yang rumit. Aruna juga tidak menginginkan kisah Lastri dan Kaliandra yang bisa saja terjadi pada Kana.
Demi kebahagiaan Kana, Aruna setuju untuk berpisah. Dan keputusan Aruna saat itu sudah bulat. tak sedikitpun ia akan menoleh kembali. Tidak sedikitpun. Aruna sudah menutup pintu hatinya. Jalan yang ia pilih adalah jalan tanpa Kana disana. Semua rasa sudah ia hapus. Semuanya.
***
ni sepertinya alur maju mundur cantik bergabung 😂😂..tinggalin jejak thor
Mulai baca