Yasmin Nayara, seorang gadis dengan albinisme yang membuatnya selalu menjadi sorotan negatif—dari orang-orang yang takut dan menghindar, hingga keluarga pamannya yang memperlakukannya begitu buruk. Bahkan, Yaya dijadikan pelunas hutang untuk dinikahkan dengan seorang juragan kaya yang memiliki banyak istri.
----------
Tak mampu menanggungnya, Yaya kabur di hari pernikahannya dan merantau ke kota dengan bermodalkan nekat.
Namun takdir punya jalan lain. Di hari pertamanya di kota, Yaya hampir diperkosa oleh seorang pria dalam pengaruh obat, yang ternyata adalah Baskara Narendra yang sedang dijebak rekan bisnisnya.
Baskara yang kalap menarik Yaya ke dalam mobilnya untuk melakukan sesuatu yang tidak semestinya. Namun aksi Baskara itu dipergoki Warga dan dipaksa menikah secara mendadak.
----------
Apa yang akan terjadi pada hubungan tak terduga ini di tengah perbedaan latar belakang dan masa lalu yang menyakitkan? Apa lagi Baskara terkenal dingin dan pemarah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenMardhiah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tentang Yasmin
Mobil mewah yang dikendarai Baskara berhenti perlahan di halaman gedung perkantoran yang menjulang tinggi, simbol kekuasaan dan kesuksesannya. Namun, hari ini rasanya berbeda. Saat dia keluar dari kendaraan, tangan nya secara tidak sadar menepuk tas kerjanya, seolah memastikan wadah bekal pemberian Yasmin masih ada di sana. Rasa hangat yang tadi dirasakan di apartemen masih tertinggal, bercampur dengan kebingungan yang belum tuntas di benaknya.
Begitu melangkah masuk ke lantai teratas, zona eksklusif di mana hanya orang-orang tertentu yang boleh melintas, langkah tegasnya segera disambut oleh Ilham, asisten pribadinya yang sudah menunggu di depan pintu ruang CEO. Wajah Ilham tampak serius, dengan berkas dokumen tebal tergenggam erat di tangan kanannya. Itu adalah hasil penyelidikan yang diperintahkan Baskara beberapa hari lalu, saat dia baru saja mulai merasa curiga dan penasaran dengan latar belakang wanita yang kini ikut tinggal di apartemennya, Yasmin.
"Selamat pagi, Pak," sapa Ilham, suaranya rendah dan terukur, sesuai sikap profesionalnya selama bertahun-tahun melayani Baskara. Dia membuka pintu ruangan luas itu dan membiarkan bosnya masuk lebih dulu, sebelum mengikutinya dan menutup pintu rapat-rapat, memastikan tidak ada telinga lain yang mendengar.
Baskara meletakkan tas kerjanya di sudut meja besarnya, jauh dari pandangan langsung, lalu duduk di kursi kulitnya yang megah. Dia menatap Ilham, wajahnya kembali menyusun ekspresi dingin dan berwibawa yang biasa dilihat orang banyak.
"Ada apa, Ilham? Apa yang sudah kamu dapatkan tentang Yasmin?" tanyanya langsung, nada suaranya datar namun menyiratkan harapan yang dia sendiri tak mau akui.
Ilham maju selangkah, meletakkan berkas itu di atas meja, lalu mulai menyampaikan temuannya dengan gaya bicara yang ringkas namun penuh detail.
"Berdasarkan informasi yang berhasil saya kumpulkan dari desa asalnya dan beberapa sumber terpercaya, Nona Yasmin adalah anak yatim piatu sejak dia pertama kali melihat dunia, Pak. Ibunya meninggal dunia sesaat setelah melahirkannya, dan nasib buruk seakan tak berhenti di situ. Ayahnya tidak sanggup menanggung kesedihan dan beban hidup, hingga akhirnya meninggal dunia hanya beberapa bulan kemudian. Sejak saat itu, dia diasuh oleh paman dan bibinya."
Baskara diam, mendengarkan dengan saksama. Tangannya yang besar saling bertaut di bawah dagu, matanya tajam menyimak setiap kata.
"Lalu?" tanya Baskara pelan, namun ada getaran tak terduga di suaranya.
"Sebenarnya, kata 'diasuh' mungkin bukan kata yang tepat, Pak," jawab Ilham ragu-ragu, seolah berat untuk menyampaikan kenyataan yang pahit. "Sejak kecil hingga dewasa, Nona Yasmin diperlakukan jauh berbeda, bahkan lebih kejam dari seorang pembantu rumah tangga. Semua pekerjaan berat di rumah dibebankan padanya. Nona tidak pernah mendapatkan kasih sayang atau kehidupan yang layak, bahkan sekolahnya dibiayai oleh Non Yasmin sendiri dari upah mencuci baju tetangga. Makanan yang dia dapat pun seringkali hanya sisa-sisa yang tidak disentuh oleh keluarga pamannya."
Ilham berhenti sejenak, menghela napas sebelum melanjutkan bagian yang lebih menyedihkan.
"Masalah utamanya bukan hanya itu, Pak. Nona Yasmin memiliki kondisi kelainan genetik sejak lahir yang disebut Albinisme. Kondisi itu membuat warna kulitnya jauh lebih pucat dibanding orang sekitarnya, rambutnya berwarna terang, dan matanya juga memiliki ciri khas yang berbeda. Di desanya yang masih sangat memegang adat dan takhayul, perbedaan itu dianggap sebagai pertanda buruk atau sesuatu yang menakutkan. Orang-orang menjauh, anak-anak dilarang bermain dengannya. Hingga dewasa, dia tidak pernah memiliki satu pun teman. Dia hidup dalam kesendirian dan seringkali menjadi sasaran ejekan atau ketakutan warga desa."
Wajah Baskara berubah perlahan. Bayangan wajah Yasmin yang selalu tersenyum tulus, yang pagi ini dengan begitu telaten memakaikan kaos kaki dan mengikat tali sepatunya, kini berpadu dengan gambaran penderitaan yang baru saja didengarnya. Dia tidak pernah menyangka, di balik kelembutan dan ketulusan itu, tersimpan riwayat hidup yang begitu kelam. Rasa sesuatu yang tajam, seperti rasa bersalah atau sakit, mulai menusuk dadanya.
"Dan apa alasan dia bisa sampai ke kota ini?" tanya Baskara lagi, suaranya terdengar lebih berat dari sebelumnya.
"Nona Yasmin awalnya akan dinikahkan dengan seorang juragan yang menurut informasi memiliki banyak istri," ucap Ilham dengan jelas. "Paman nya memiliki hutang yang cukup besar kepada seorang juragan tanah bernama Irwan. Sebagai gantinya, mereka sepakat untuk menikahkan Yasmin dengan Juragan Irwan yang usianya sudah jauh lebih tua dan dikenal kejam. Acara ijab qobul sudah disiapkan, namun tepat sebelum prosesi berlangsung, Nona Yasmin memberanikan diri melarikan diri, berjalan jauh dan bersembunyi, hingga akhirnya sampai di kota ini. Dan seperti yang Bapak tahu, takdir kemudian mempertemukannya dengan Bapak pada kejadian malam itu."
Keheningan menyelimuti ruangan luas itu setelah Ilham selesai berbicara. Baskara menunduk, menatap permukaan meja kayunya yang mengkilap. Yasmin bukan hanya sekadar wanita yang dia temukan secara tak sengaja. Wanita itu adalah sosok yang sudah bertahan hidup di tengah badai penolakan dan kekejaman di lingkungannya. Namun Justru dari segala penderitaan itu, tumbuh kelembutan yang luar biasa.