~
Melani, seorang bidan muda yang berdedikasi, harus menelan pil pahit akibat keteguhan prinsipnya. Karena berani menolak lamaran untuk menjadi istri siri dari pejabat Dinas Kesehatan yang berkuasa, ia "dibuang" ke sebuah desa paling terpencil dan terperosok yang nyaris terisolasi dari peradaban.
~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 21
***
Sinar matahari pagi merayap hangat menembus celah-celah pepohonan rindang di Hulu Rawa. Rasa tegang yang sempat mencekam di perbatasan kini lebur sepenuhnya, digantikan oleh kedamaian yang mengalir tenang. Setelah luka di dahi Pak Rahardjo selesai diobati dan istirahat sejenak, Rangga Wira bersama Melani mengajak sang ayah untuk berjalan-jalan mengelilingi pemukiman desa.
Pak Rahardjo melangkah menyusuri jalan setapak tanah beralaskan kain tenun dan dedaunan basah. Di samping kanan dan kirinya, Rangga Wira melangkah tegap menjaga, sementara Melani merangkul lengan ayahnya dengan senyum manis yang tak kunjung padam dari bibirnya.
"Bapak, inilah Desa Hulu Rawa," tutur Melani lembut, menunjuk rumah-rumah panggung kayu yang berdiri kokoh dan rapi. "Tempat yang dulu Ibu dan Bapak cemaskan..."
Pak Rahardjo menarik napas dalam-dalam. Udara di desa itu terasa begitu bersih dan segar, sangat berbeda dengan hiruk-pikuk kota. Namun, yang paling mengejutkan Pak Rahardjo bukanlah keasrian alamnya, melainkan sambutan dari warga desa.
Baru beberapa meter mereka melangkah dari halaman Pustu, rombongan anak-anak kecil berlarian mendekati mereka. Bimo dan Ratih memimpin di depan seraya membawa sebuah keranjang anyaman bambu kecil berisi buah rambutan hutan dan mangga manis yang baru dipetik.
"Pak Rahardjo! Selamat datang di desa kami!" seru Bimo nyaring seraya menyodorkan keranjang bambu tersebut.
Pak Rahardjo tersentak kaget, lalu berlutut pelan menyamai tinggi anak-anak tersebut. "Wah... terima kasih banyak, Nak. Ini untuk Bapak?"
"Iya, Pak! Ini dari kami untuk Ayahnya Bu Bidan!" pukas Ratih polos dengan mata berbinar-binar. "Bu Bidan Melani itu baik sekali sama kami, Pak. Bu Bidan ngajarin kami membaca, menulis, sama berhitung. Kami sayang sekali sama Bu Bidan!"
Pak Rahardjo menatap wajah polos anak-anak itu, matanya berkaca-kaca oleh rasa haru yang tiba-tiba membuncah. Ia mengusap pelan puncak kepala Ratih. "Terima kasih ya, Anak-anak pintar..."
Saat mereka melanjutkan langkah menuju balai desa, para ibu muda yang sedang menggendong bayi mereka berkumpul di tepi jalan. Melati dan Bu Minah menyapa Pak Rahardjo dengan senyum paling tulus dan bungkukan badan sarat rasa hormat.
"Selamat datang, Pak Rahardjo," sapa Bu Minah hangat. "Bapak tidak usah cemas meninggalkan Bidan Melani di sini. Bidan Melani sudah seperti putri dan penolong bagi kami semua. Anak-anak kami sehat dan selamat berkat kebaikan dan kepintarannya."
"Betul, Pak," timpal Melati dengan mata berbinar. "Kami semua sangat menyayangi Bidan Melani. Kalau ada apa-apa, Ki Rangga dan seluruh warga desa siap mempertaruhkan nyawa untuk menjaga beliau."
Pak Rahardjo menatap wajah ibu-ibu itu satu per satu. Tidak ada sorot mata liar, penuh dendam, atau rasa benci seperti desas-desus buruk yang selama ini ia dengar di kota. Yang ada hanyalah rasa hormat, ketulusan, dan cinta kasih murni yang dipancarkan oleh rakyat desa kepada putrinya.
"Terima kasih... Terima kasih banyak, Ibu-ibu sekalian," balas Pak Rahardjo dengan suara bergetar, memegang dada kirinya yang terasa hangat dan lega.
Langkah mereka berlanjut menuju teras panggung Pustu tempat Melani biasa menggelar Kelas Belajar dan Kelas Kemitraan Medis. Di sana, tiga dukun beranak senior—Mbah Salma, Nek Timah, dan Mak Senah—sudah berdiri menanti bersama Mbah Karsa yang menopang tubuhnya pada tongkat kayu.
Mbah Karsa melangkah maju mendekati Pak Rahardjo. Tetua berambut perak itu membuang jauh-jauh tongkatnya, lalu menggenggam erat kedua tangan Pak Rahardjo dengan raut penyesalan dan rasa terima kasih yang teramat mendalam.
"Pak Rahardjo..." panggil Mbah Karsa dengan suara serak yang bergetar. "Saya adalah tetua di tanah ini. Dulu, saya adalah orang yang paling keras menolak kehadiran putri Bapak. Saya dibutakan oleh kesombongan tua saya."
Pak Rahardjo terpaku mendengarnya.
"Tapi putri Bapak..." lanjut Mbah Karsa dengan air mata yang menetes pelan di pipinya yang keriput, "Dia tidak membalas kejahatan saya dengan dendam. Saat cucu saya bertaruh nyawa antara hidup dan mati, Bidan Melani bersimbah darah menyelamatkan cucu dan cicit saya. Dia tidak hanya menyelamatkan nyawa, tapi membuka mata hati kami semua."
Mbah Karsa menundukkan kepalanya dalam-dalam di hadapan Pak Rahardjo.
"Terima kasih, Pak Rahardjo... Terima kasih telah melahirkan dan membesarkan seorang malaikat penyelamat seperti Bidan Melani untuk suku kami di Hulu Rawa."
Pak Rahardjo meremas jemari keriput Mbah Karsa, membimbing tetua itu untuk kembali mendongak. Dada Pak Rahardjo berguncang hebat oleh rasa bangga yang luar biasa terhadap putri tunggalnya.
"Mbah Karsa..." bisik Pak Rahardjo, mengusap air mata di sudut matanya sendiri. "Saya bangga... Saya sangat bangga memiliki putri seperti Melani."
Malam harinya, pelataran Rumah Adat Hulu Rawa tampak begitu indah dan syahdu di bawah pendar redup obor bambu dan cahaya bulan purnama. Sebuah jamuan makan malam sederhana digelar khusus untuk menghormati kedatangan ayah dari Bidan desa mereka.
Ibu-ibu desa menyajikan bermacam-macam hidangan lezat khas hutan—ikan bakar sungai yang segar, sayur pakis tumis, nasi bambu hangat, hingga buah-buahan segar. Seluruh warga duduk melingkar di atas tikar pandan, bersenda gurau dalam suasana kekeluargaan yang begitu kental.
Pak Rahardjo duduk di tempat kehormatan, berdampingan dengan Rangga Wira dan Melani. Di hadapannya, Mbah Karsa dan Mbah Baya mengangkat cangkir bambu berisi air kelapa muda.
"Malam ini..." seru Mbah Karsa nyaring, memecah keriuhan pelataran, "Kita berkumpul bukan hanya untuk menyambut Ayah dari Bidan kita, tapi juga untuk merayakan restu atas calon pendamping pimpinan kita, Ki Rangga Wira!"
Sorak riuh, tepuk tangan, dan siulan gembira membahana seketika di pelataran Rumah Adat. Anak-anak bersorak gembira, sementara ibu-ibu menggoda Melani yang seketika menunduk dengan pipi merona merah muda.
Rangga Wira yang duduk di samping Melani menyunggingkan senyum amat tampan. Jemari kekarnya di bawah tikar pandan meremas lembut tangan Melani, memberikan rasa aman dan kebahagiaan yang sempurna.
Pak Rahardjo menatap pemandangan itu dengan senyuman paling tulus di wajahnya. Segala ketakutan, kecemasan, dan berat hati yang menggelayuti pikirannya sejak berangkat dari kota kini telah sirnah tak berbekas. Ia melihat bagaimana putrinya dipanjakan dengan kasih sayang, dihormati oleh seluruh tingkatan warga, dan dilindungi oleh seorang pria gagah berhati mulia seperti Rangga Wira.
Pak Rahardjo memegang cangkir bambunya, lalu menoleh menatap Rangga Wira dan Melani.
"Rangga..." panggil Pak Rahardjo pelan, membuat Rangga dan Melani berpaling menatapnya.
"Iya, Pak?" balas Rangga penuh rasa hormat.
Pak Rahardjo menatap lurus ke dalam manik mata hitam Rangga yang tenang dan kokoh. "Besok pagi, Bapak akan kembali ke kota sendirian. Bapak akan menceritakan semua kebaikan, keindahan, dan kehormatan tanah ini kepada Ibunya Melani."
Melani menahan napasnya, matanya berbinar haru. "Bapak..."
"Bapak tidak lagi berat meninggalkanmu di sini, Melani," tutur Pak Rahardjo tulus, mengusap lembut jemari putrinya. "Karena Bapak tahu, putri Bapak tidak sedang dibuang atau menderita. Kamu berada di rumah yang sesungguhnya... di tengah orang-orang yang mencintaimu, dan di samping pria yang siap bertaruh nyawa untukmu."
Pak Rahardjo mengalihkan pandangannya pada Rangga Wira. "Rangga... Bapak titipkan Melani padamu. Jaga dia, cintai dia, dan bimbinglah dia menjadi pendampingmu yang bahagia di tanah ini."
Rangga Wira meletakkan cangkirnya, lalu membungkukkan tubuhnya penuh rasa hormat di hadapan Pak Rahardjo.
"Atas nama darah, jiwa, dan hukum adat Hulu Rawa..." pukas Rangga Wira mantap dengan suara baritonnya yang berat dan mantap, "Saya berjanji akan menjaga Melani melebihi jiwa saya sendiri, Pak Rahardjo. Terima kasih atas kepercayaan dan restu yang begitu berharga ini."
Gema sorak gembira warga kembali membahana di bawah naungan langit malam Hulu Rawa. Pendar cahaya obor memantulkan senyum kebahagiaan dari dua insan yang kini siap melangkah menuju ikatan pelaminan adat yang sakral dan tak tergoyahkan.
Bersambung...
kasih pelajaran lah buat Pak pramono tuuu... gemesssss
pasti lancar ya Thor 🤭