Kematian Pak Broto yang mendadak meninggalkan duka sekaligus keanehan yang tak masuk akal bagi anak-anaknya. Dari jasad yang beratnya tidak wajar, bau tanah basah bercampur kemenyan saat dimandikan, hingga tanah liang lahat yang mendadak amblas.
Bu Retno, sang ibu, melimpahkan dukanya dengan mengurung diri selama berbulan-bulan di kamarnya, dan menutup total Warung Nasi Broto—usaha kuliner keluarga di pinggir jalan raya Madiun-Ngawi yang selama ini menghidupi mereka. Atas desakan dan perjuangan keras Galang, anak ketiga yang paling berbakti, Bu Retno akhirnya mau kembali bangkit.
Namun, kebangkitan Bu Retno membawa teror baru. Hanya dua bulan kemudian, Bu Retno memperkenalkan seorang pria misterius yang dingin sebagai calon suami barunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 - Kendali Gaib
Malam usai pengumuman pernikahan itu berlalu bagaikan siksaan tanpa henti bagi Galang. Di bawah pendar remang lampu ruang tengah, suara gelak tawa Bayu yang membicarakan rencana masa depan warung terasa seperti jarum-jarum halus yang menusuk gendang telinganya.
Bagi Bayu, Pak Sapta adalah dewa penolong yang turun menyingkap tabir kemiskinan mereka. Namun bagi Galang, setiap senyuman dan usapan tangan Pak Sapta di pundak adik-adiknya adalah perhitungan mundur menuju kembalinya maut.
Tepat pukul satu dini hari, tatkala seluruh rumah kembali terlelap, Galang melangkah ke teras depan. Angin malam Madiun bertiup kencang, membawa aroma daun jati basah bercampur sisa-sisa wangi asap tembakau mahal milik Pak Sapta yang masih tertinggal di tiang teras.
Di sana, di atas bale-bale kayu yang menghadap ke jalan raya, Bayu sedang duduk bersedekap. Pria itu menatap lurus ke arah plang nama Warung Nasi Broto yang baru dipasang. Matanya berbinar, dipenuhi impian-impian manis yang ditanamkan oleh calon ayah tiri mereka.
Galang berjalan mendekat, menyandarkan tubuhnya di tiang teras.
"Belum tidur, Mas?"
Bayu tidak menoleh. Ia tersenyum tipis, menghembuskan napas panjang yang sarat akan rasa puas.
"Gimana bisa tidur, Lang? Otakku jalan terus. Pak Sapta tadi bilang, kalau warung ini stabil dalam enam bulan, dia mau belikan kita mobil bak terbuka buat angkut bahan masakan. Kita nggak perlu lagi kepanasan naik motor tua Bapak."
Galang mengatupkan bibirnya rapat-rapar, menatap Bayu dengan campuran rasa kasihan dan frustrasi yang mendalam.
"Mas ... apa Mas Bayu beneran percaya sama Pak Sapta?"
Bayu menoleh pelan, dahinya berkerut dalam.
"Maksudmu apa, Lang? Kan sudah berkali-kali kubilang, kalau bukan karena Pak Sapta, kita ini sudah jadi pengemis! Kamu lihat Ibu kan? Sejak Pak Sapta datang, Ibu mau keluar kamar, mau makan, warung buka lagi. Apa lagi yang mau kamu ragukan?"
"Perangai Ibu berubah total, Mas! Ibu nggak pernah bersikap kayak begitu!" tegur Galang dengan suara ditekan serendah mungkin. "Dan Pak Sapta ... memangnya Mas nggak merasa aneh sama asal-usulnya? Kenapa dia tiba-tiba datang membawa uang belasan juta tepat di hari ke-120 setelah Bapak meninggal? Kenapa dia begitu kebelet mau menikahi Ibu dan mengambil alih posisi kepala keluarga?!"
Bayu menghela napas kasar, memutar tubuhnya menghadap Galang secara penuh. Raut wajahnya berubah keruh oleh kekesalan.
"Kamu itu kenapa sih, Lang?! Selalu saja curiga! Pak Sapta itu teman lama Bapak. Dia kaya, dia tidak punya anak, dan dia cuma mau bantu kita. Apa salahnya kalau dia mau menikahi Ibu? Ibu butuh pendamping, kita butuh figur ayah! Apa lagi?"
"Tapi ada yang salah sama orang itu, Mas!" bisik Galang penuh penekanan, matanya menatap tajam ke dalam manik mata Bayu. "Setiap kali Pak Sapta dekat sama adik-adik ... baunya bukan cuma bau minyak wangi mahal. Ada bau melati busuk sama tanah kuburan, Mas! Bau yang sama persis kayak waktu jasad Bapak mau dimandikan!"
"Cukup, Galang!" bentak Bayu seraya berdiri dari bale-bale. "Nggak usah bawa-bawa hal mistis yang nggak masuk akal! Aku capek dengar tuduhan-tuduhan gilamu! Dulu waktu warung tutup, kamu bingung cari makan buat adik-adik. Sekarang ada yang bantu sampai warung kita maju, kamu malah sibuk cari-cari kesalahan!"
"Aku cuma mau melindungi kalian!" balas Galang, matanya mulai memerah menahan amarah dan ketakutan yang membakar dada. "Mas Bayu itu anak sulung! Mas yang harusnya paling waspada! Kalau sampai ada apa-apa sama Pertiwi, Mia, Rian, atau Gilang ... Mas Bayu mau tanggung jawab?!"
Bayu menekan dada Galang dengan telunjuknya yang gemetar.
"Aku ini kakak tertua di rumah ini! Aku tahu mana yang baik dan mana yang buruk buat adik-adikku! Kalau kamu nggak suka sama Pak Sapta, atau kamu iri karena sekarang aku yang pegang kendali warung, bilang saja! Nggak usah pakai fitnah orang tua yang sudah berbuat baik sama kita!"
Kalimat iri itu menghantam Galang bagaikan godam berat. Ia terpaku di tempatnya. Bayu begitu buta oleh kemewahan instan dan rasa haus akan validasi hingga menutup rapat-rapat mata hatinya dari marabahaya yang sedang mengintai.
Bayu tidak tahu—dan tidak boleh tahu—bahwa dirinya sendiri adalah target utama berikutnya dari utang darah yang ditinggalkan almarhum ayah mereka.
"Mas ...." Suara Galang mendadak melunak, diisi oleh penderitaan yang teramat sangat. "Sumpah demi Allah, aku nggak pernah iri sama Mas Bayu. Aku cuma ... aku cuma merasa ada perikatan yang gelap di balik pernikahan ini. Tolong, Mas ... sekali saja, dengarkan aku. Jangan biarkan Pak Sapta mengatur semuanya sendirian. Jangan lepas pengawasan Mas dari dapur dan adik-adik."
Bayu menurunkan tangannya. Melihat raut wajah Galang yang begitu kelam dan kesakitan, amarah di dada Bayu sedikit meluruh, berganti dengan rasa heran yang mendalam.
Namun, bias manipulasi Pak Sapta sudah terlanjur meresap terlalu dalam ke dalam pikirannya.
"Kamu terlalu banyak pikiran, Lang," kata Bayu dengan nada yang lebih pelan, walau tetap kaku. "Mungkin kamu capek karena selama enam bulan ini nanggung beban sendirian. Istirahatlah. Besok warung buka jam enam pagi. Pembeli pasti membludak. Kita butuh tenaga."
Bayu berbalik dan berjalan masuk ke dalam rumah, meninggalkan Galang sendirian di teras yang dingin.
Galang menyandarkan kepalanya di tiang kayu teras, menatap langit malam Madiun yang tanpa bintang. Peringatannya pada Bayu telah gagal total. Kakak tertuanya itu telah sepenuhnya bertekuk lutut di bawah kendali Pak Sapta.
Dari balik jendela kamar utama yang remang-remang, Galang bisa melihat siluet Bu Retno berdiri mematung di balik tirai kusam. Ibunya tidak tidur. Siluet itu berdiri tegak, menatap lurus ke arah jalan raya—seolah-olah sedang menunggu detik demi detik berlalu menuju hari pernikahan yang akan mengunci takdir.
Tiba-tiba, dari arah jalan raya yang sepi, terdengar suara desingan halus.
Sebuah mobil sedan hitam milik Pak Sapta perlahan melintas pelan di depan teras warung tanpa menyalakan lampu utamanya. Mobil itu tidak berhenti, hanya bergulir lambat bagaikan bayangan hantu di tengah kegelapan malam. Saat mobil itu melintas tepat di depan Galang, kaca jendela belakang perlahan merosot turun beberapa sentimeter.
Di balik kegelapan kaca mobil tersebut, Galang melihat sepasang mata Pak Sapta yang memantulkan pendar merah samar di bawah pendar lampu jalan.
Pria tua itu tidak tersenyum. Ia hanya memberikan sebuah anggukan kepala yang sangat pelan—sebuah gestur dingin yang seolah menegaskan: Semua sesuai rencanaku, dan kamu tidak bisa menghentikannya.
Kaca mobil kembali naik rapat, dan kendaraan itu menghilang di balik tikungan jalan yang gelap.
Hawa dingin mendadak menyergap leher Galang, membuat bulu kuduknya berdiri tegak. Bau busuk tanah kuburan menguar tajam di teras warung selama beberapa detik sebelum akhirnya menyatu dengan angin malam.
Galang mengatupkan rahangnya erat-erat, air mata frustrasi menetes di pipinya.
Pernikahan itu bukan sekadar perayaan persatuan dua manusia. Itu adalah pementasan ikatan ghaib—sebuah sakramen hitam di mana Pak Sapta akan resmi bertindak sebagai algojo, dan kelima saudaranya telah berbaris rapi menunggu giliran untuk dikorbankan demi kekayaan.
mereka menunggu giliran meninggal untuk diambil nyawanya oleh penagih pesugihan pakk Broto
Terus sekarang kamu tergesa gesa pulang ke Madiun tanpa tahu bagaimana caranya menghentikan pesugihan ini, ya sama aja bohong.
kamu tetap tidak bisa menyelamatkan nyawa Mia.
kamu datang ke Madiun hanya akan melihat nyawa Mia , sedangkan nyawa Rian dan Gilang pun masih menunggu giliran
aku belum pernah kesana , Thor ....
paling lewaT aja lalu naik kereta mau ke Surabaya
setelah itu Rian .... terus Gilang.
5 garis keturunan.
ditambah janin anak sulung dan pakk Broto sendiri menjadi 7.
Benarkah Galang akan menyaksikan kembali kematian 3 tumbal yang tersisa?
apakah Galang benar benar tidak bisa menyelamatkan sisanya??
Meski dokternya tahu bahwa ini bukan penyakit biasa, seorang dokter tidak akan menyarankan berobat ke kyai .
kalau penyakit adikmu ini berhubungan dengan hal ghaib .
Jadi kacamata dokter tidak akan mendeteksi adanya penyakit di tubuh Pertiwi
Dan Galang ... menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri ketika Bayu dan sekarang Pertiwi meninggal karena sudah waktunya ditumbalkan.
dan
Galang sudah mengetahui tumbal garis keturunan ini , dan dia hanya bisa menyaksikan 1 per 1 tumbal diambil nyawanya