Seorang wanita pekerja kantoran yang memiliki hidup penuh akan pekerjaan. Setiap hari dia selalu bekerja dan bekerja, waktu liburan dia hanya tidur dan tak melakukan kegiatan seperti orang lain pada umumnya.
Pola hidup yang tak pernah berubah membuat dirinya stress, hingga akhirnya ia mencapai titik dimana dia tak berpikir untuk hidup.
Namun, takdir membuatnya berpindah ke tubuh seorang bocah berusia 10 tahun. Mulai dari sana ia mengalami begitu banyak peristiwa yang membuatnya memiliki alasan untuk hidup.
Kisah kebangkitan seseorang pada kehidupan keduanya dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katsumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berkeliling Kota Dan Menemukan Tujuan Baru
Pagi hari, dimana matahari baru terbit menggantikan sang bulan untuk menyinari dunia. Di sebuah kamar suatu penginapan bernama penginapan bulan sabit, Altea masih berada di balik selimutnya, tertidur dengan lelap.
"Nona! Cepat bangun ini sudah pagi!" seru Mary tepat di samping telinga Altea.
"Lima menit lagi..." balas Altea, berguling membelakangi Mary dan menarik selimut untuk menutupi semua tubuhnya.
Mary hanya bisa menghela nafas melihat tingkah majikannya itu. "Bilangnya lima menit, tahu-tahu tidurnya sampai satu jam," gerutu Mary. Jika saja dirinya bisa menyentuh benda, selimut itu sudah dipastikan akan ditarik olehnya.
Mendengar Mary yang menggerutu, Altea mulai bangun, ia mengambil posisi duduk dengan kepala yang masih mengangguk-angguk menahan kantuk. "Selamat pagi Mary... Hoaamm~" sapanya sembari menguap.
Altea menggosok kedua matanya dengan tangan kanan, lalu beranjak dari temoat tidur, berjalan secara perlahan untuk membuka jendela kamar.
Angin sejuk berhembus dengan lembut dan sinar mentari menerpa wajahnya yang terlihat lesu. "Ternyata beneran sudah pagi," gumamnya.
"Tentu saja! Kapan saya membangunkan Nona, bukan di pagi hari?" seru Mary.
Altea menoleh dan menatap Mary dengan dingin, "oh, jadi maksudmu saat membangunkanku jam dua malam ketika di hutan itu sudah pagi?" katanya dengan jengkel.
Mary tampak terkejut, "eh, apa benar itu pernah terjadi, ya?" balasnya sembari memalingkan wajah.
Altea menghela nafas pendek, "dimana Arthur dan Sebastian?"
"Ah, Arthur sedang pergi melihat-lihat pelatihan kesatria yang ada di kota ini, sedangkan Sebas sedang mengumpulkan informasi tentang harga pasar, dan di serikat petualang," jawab Mary.
"Hmmm, serikat petualang ya?" gumam Altea sembari memangku dagunya dengan tangan kanan. "Hei, apa aku bisa mendaftar sebagai petualang meski sudah terdaftar di serikat alkemis?" Altea bertanya karena penasaran.
Dikarenakan ia sudah mendapatkan kehidupan kedua, ia menginginkan kebebasan dan ingin mencoba banyak hal. Mengumpulkan banyak pengalaman dan hidup dengan santai di masa tuanya.
"Ya, itu bisa dilakukan. Tapi jarang ada orang yang melakukannya," balas Mary. "Meskipun Nona mau mendaftar sebagai petualang, itu masih belum bisa dilakukan karena umur Anda belum cukup untuk mendaftar," jelas Mary.
"Nona baru bisa mendaftar setelah berumur dua belas tahun," tambah Mary.
"Bagaimana dengan serikat dagang?" Altea kembali bertanya.
"Nona bisa mendaftar sekarang, tapi apa Nona ingin jadi pedagang?" Mary balik bertanya.
"Mungkin..." balas Altea.
Selepas itu Altea mulai bersiap-siap, ia membasuh mukanya dengan air, mengelap semua tubuhnya dan membasuh rambutnya.
Kita lewatin aja, kalian tahu sendiri kalo cewek siap-siap itu berapa lama...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...----------------...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Lantai pertama penginapan...
Altea duduk di sebuah meja seorang diri, memesan roti dan sup hangat untuk sarapan pagi. Ngomong-ngomong soal uang yang diterima oleh Altea saat menjual ramuan cukup banyak.
Saat ini dikantong Altea terdapat 22.330 Zell setelah dipotong biaya penginapan 150 Zell dan uang sarapan 20 Zell. Jika diubah menjadi Rupiah saat ini Altea memiliki Rp. 22.330.000 (dua puluh dua juta tiga ratus tiga puluh ribu Rupiah).
Untuk harga ramuannya nanti akan diberitahu di episode mendatang. Kalau kalian ingin menghitungnya sendiri 😆
Selepas sarapan Altea pergi keluar dari penginapan, berjalan tanpa arah tujuan. Melewati jalanan sembari melihat-lihat kota Graha, yang saat ini tempat dirinya berada.
Setelah berjalan cukup lama, pada akhirnya dia datang ke serikat alkemis, karena ingin menanyakan sesuatu pada ketua serikat.
-Dreett!
Suara pintu terbuka secara perlahan, tatapan semua orang langsung tertuju kesana, melihat seorang gadis yang membuat heboh kemarin sore. Seorang gadis kecil akemis jenius.
Altea menoleh ke kiri dan ke kanan dengan perasaan heran, "kenapa semua orang melihat ke arahku?" gumamnya kebingungan.
"Oh, kau datang lagi. Apa ada yang kau perlukan?" seorang Pria datang menghampirinya, itu adalah Pria kemarin yakni ketua serikat.
"Eh, a... iya, aku mau menanyakan sesuatu," saut Altea.
"Begitu ya, ikut denganku," ujar Pria itu sembari mengangkat tangan kanannya lebih tinggi sedikit dari bahu, menunjuk kebelakang dengan ibu jarinya.
Mereka berpindah ke ruangan ketua serikat, duduk saling berhadapan dengan sebuah meja kecil yang memisahkan jarak diantara mereka.
Memangku dagunya dengan kedua tangan yang disatukan, "jadi apa yang ingin kau tanyakan?" ucap Pria itu membuka pembicaraan.
"Ya, aku ingin tahu, apa aku bisa membuka toko untuk menjual ramuanku sendiri?" tanya Altea.
Pria itu cukup terkejut, "kau mau membuka tokomu sendiri?"
Altea mengangguk pelan dengan wajah yang terlihat serius.
Sebisa mungkin aku ingin mengumpulkan banyak uang, karena aku ingin mengelilingi dunia ini dan melihat banyak hal yang baru. Karena hal itu aku ingin membuka tokoku sendiri atau menjadi pedagang keliling. Gumam Altea dalam batinnya.
"Ya, kau bisa melakukannya," jawab Pria itu.
"Eh? Apa aku tak perlu mendaftar sebagai pedagang di serikat perdagangan?" Altea kembali bertanya karena heran.
"Tidak, jika kau hanya menjual ramuan dan tanaman obat saja, lain halnya jika kau menjual benda selain untuk alkemis," jelas Pria itu.
"Begitu ya," gumam Altea dengan rasa senang hati, terlihat senyuman di bibirnya yang mungil. "Terima kasih... eemm, maaf tapi siapa nama Anda?" ucapnya.
"Ah, mohon maaf, aku lupa memperkenalkan diriku ya," saut Pria itu dengan tertawa canggung. "Perkenalkan namaku Ronald, ketua serikat alkemis cabang kota Graha," ucapnya memperkenalkan diri.
"Jadi kau mau membuka toko dimana?" Ronald kembali bertanya.
Altea meletakkan tangan kanannya dibawah dagu, "hmm, aku belum tahu mau membuka toko dimana, jadi aku akan mencari tempat yang cocok untuk disewa," jawab Altea.
"Hmmm," Ronald tampak memikirkan lokasi itu juga. "Ah, bagaimana kalau kau pergi ke kota ini?" ia baru teringat akan sesuatu dan mengambil peta, menunjuk ke sebuah kota bernama Arum.
"Eh? Kenapa aku harus kesana?" Altea bertanya karena penasaran.
"Disana adalah kota petualang di negara ini, karena ada banyak labirin yang sering dimasuki oleh para petualang. Kota itu juga disebut sebagau kota labirin. Karena ada begitu banyak petualang, mereka pasti memerlukan ramuan untuk kebutuhan mereka menjelajahi labirin," jelas Ronald.
Altea mengangguk-angguk, mengerti dengan maksud dari Ronald. "Terima kasih atas sarannya Pak Ronald," ungkap Altea dengan tulus.
"Ya, aku akan menyiapkan surat untuk ketua serikat alkemis di kota itu," ujar Ronald dengan senyuman.
"Terima kasih," ucap Altea. Lalu berjalan menuju ke pintu keluar.
"Kapan kau akan berangkat?" Ronald menanyakan waktu Altea ingin berangkat ke sana.
"Setelah sewa penginapanku habis, dua hari lagi dan besoknya aku akan berangkat," jawab Altea sembari membuka pintu.
"Begitu ya, selama kau disini aku akan membeli ramuan yang kau buat, hitung-hitung membantu menambah modal untuk membuka toko nanti," ujar Ronald.
Altea tersenyum senang dan mengangguk pelan, "ya!" ujarnya dengan gembira dan pergi meninggalkan ruangan itu.
Emang sih jiwanya udah mbak-mbak kantoran tapi rasanya usia tubuh kadang perlu agak diperhatikan🗿