Aluna,seorang staf admintrasi bawahan, ia tidak menyangka kalau hidupnya akan berjungkar balik dalam waktu sehari .
Mendapat tekanan dari pekerjaan, niat hati ingin berkeluh kesah dan memeluk kekasiihnya namun kenyataan pahit ia terima kekasihnya berselingkuh didepan matanya.
Dengan derai air mata ia pulang kerumah namun lagi - lagi ia mendapati pemandangan yang memilukan Ayahnya bersimbah darah karena ulah kakak tirinya .
Hidup Aluna berubah menjadi mimpi buruk dalam semalam. Ayahnya kritis akibat dianiaya oleh kakak tirinya, dan kini Aluna terancam "dijual" untuk melunasi utang judi sang kakak.
Di ambang maut, sang ayah memohon satu hal: Aluna harus segera menikah agar punya pelindung.
Masalahnya, Aluna baru saja diselingkuhi dan menyandang status jomblo . Dalam kondisi panik dan terdesak di rumah sakit, ia nekat menarik lengan seorang pemuda asing yang kebetulan lewat. "Tolong, nikahi aku sekarang!"
Bagaiman kisah Aluna selanjutnya ? siapa sebenarnya suami dadakan Aluna ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terungkap kebenaran
Malam kian merayap makin jauh ke dalam peraduan kota. Angin malam berembus perlahan, menggoyahkan tirai tipis di ruang tengah rumah paviliun dan menyebarkan aroma tanah basah sisa siraman taman belakang. Di luar, suasana kompleks terasa begitu senyap, seolah-olah seluruh alam ikut mengheningkan cipta setelah guncangan hebat yang terjadi siang tadi.
Di ruang tengah yang diterangi lampu gantung berwarna keemasan, Elvan dan Aluna masih duduk berdampingan di atas sofa. Pak Kusuma sudah tertidur sangat lelap di kamar utama setelah melalui hari yang sangat melelahkan. Dapur dan ruang tamu telah dibersihkan sepenuhnya oleh tim rahasia Bram; bekas perusakan pintu oleh Kafka telah diperbaiki sementara dengan rapi, menyisakan ketenangan yang semu.
Namun, di dalam dada Aluna, badai emosi masih bergejolak hebat. Meskipun ia telah mengetahui bahwa suaminya adalah Elvan Aditama, pria di puncak tertinggi konglomerat raksasa negeri ini, dan ia telah menyatakan kepercayaannya, kenyataan itu terlalu besar untuk dicerna begitu saja dalam hitungan jam. Rasa pening yang samar masih menekan pelipisnya setiap kali ia teringat nama besar keluarga Aditama.
Elvan menyadari gejolak tersembunyi pada diri istrinya. Ia meletakkan cangkir teh hangatnya ke atas meja, lalu memutar tubuhnya menghadap Aluna. Ditatapnya wajah cantik sang istri yang kini tampak begitu polos di bawah pendar cahaya lampu.
"Aluna," panggil Elvan dengan suara baritonnya yang sangat dalam, lembut, dan menenangkan.
Aluna mendongak, menyambut tatapan mata elang suaminya. "Ya, Mas?"
"Pesan yang baru saja kubaca di ponselku tadi ..." Elvan jeda sejenak, mengulurkan tangannya untuk merengkuh kedua jemari Aluna yang hangat. "...berasal dari Bram. Ibu tiriku, Nyonya Herlina, telah memajukan jadwal Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Luar Biasa Adhitama Group menjadi lusa pagi."
Aluna menahan nafasnya pelan. "Lusa pagi? Mengapa begitu mendadak, Mas?"
"Karena dia menyadari aku masih hidup dan sedang mengintai gerak-geriknya dari dekat," jawab Elvan dingin. "Herlina panik. Dia ingin memanfaatkan RUPS tersebut untuk mengumumkan bahwa aku telah hilang secara permanen, sehingga dewan komisaris dipaksa menyerahkan kursi Direktur Utama secara sah kepadanya. Tidak hanya itu ... dia juga berencana menyebarkan identitasmu ke media massa nasional besok untuk menghancurkan nama baikmu."
Aluna membelalakkan matanya. Jantungnya berdetak kencang mendadak. "Menyebarkan identitasku? Tapi ... kenapa harus aku, Mas? Aku tidak punya hubungan apa pun dengan dunia bisnismu!"
"Karena baginya, kamu adalah kelemahanku," tegas Elvan seraya meremas jemari Aluna, menyalurkan ketegaran yang mutlak. "Herlina tahu bahwa jika dia bisa menyudutkanmu dengan stigma wanita simpanan atau pemburu harta di mata publik, fokusku akan terpecah total. Dia ingin merusak mentalmu agar aku menyerah pada pertempuran RUPS."
Mendengar skenario licik dari ibu tiri Elvan, bulu kuduk Aluna meremang. Dunia yang dihuni oleh suaminya benar-benar sangat berbeda dengan dunia sederhana yang selama ini ia jalani. Di dunia tempat Elvan berasal, kebohongan, manipulasi media, dan penderitaan orang lain dijadikan alat politik untuk meraih kekuasaan tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Mas ..." bisik Aluna dengan suara bergetar, air mata kepasrahan kembali menggenang di pelupuk matanya. "Apakah aku ... apakah aku telah membawakan masalah baru untukmu? Seandainya waktu itu kamu tidak membantuku di rumah sakit dan menikahiku ..."
"Aluna, stop!" potong Elvan tegas namun sarat akan kehangatan yang pekat. Ia menangkup kedua pipi Aluna, memaksa wanita itu untuk menatap lurus ke dalam matanya. "Jangan pernah berpikiran seperti itu. Menikahimu adalah keputusan terbaik yang pernah kutinggalkan dalam hidupku. Kehadiranmu dan Ayah bukan beban, melainkan takdir indah yang menyelamatkan jiwaku dari kegelapan."
Elvan mendekatkan dahinya ke dahi Aluna, merasakan napas hangat istrinya yang terengah. "Malam ini, aku ingin menceritakan segalanya kepadamu. Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi identitas samaran, tidak ada lagi hal yang kusembunyikan di antara kita."
Aluna mengangguk pelan dalam dekapan Elvan. Ia memposisikan dirinya dengan nyaman, menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya sembari mendengarkan detak jantung Elvan yang berirama tenang.
"Dua tahun lalu," Elvan mulai bercerita, suaranya terdengar berat dan sarat akan luka masa lalu. "Ayahku, Tuan Besar Prasetya Aditama, meninggal dunia secara mendadak akibat serangan jantung. Namun, dari audit independen yang kulakukan kemudian, aku menemukan indikasi bahwa racun bertahap telah disuntikkan ke dalam obat harian Ayah oleh orang kepercayannya Herlina."
Aluna membelalakkan mata terkejut. "Racun? Jadi almarhum ayahmu ..."
"Ya, beliau dibunuh secara perlahan," jawab Elvan dengan rahang yang mengetat tajam. "Setelah Ayah wafat, Herlina berusaha memanipulasi surat wasiat. Tapi Ayah adalah pria yang sangat bijaksana. Beliau telah menyegel seluruh aset utama sebesar lima puluh satu persen saham Aditama Group ke dalam trust fund hukum yang hanya bisa dibuka olehku saat aku berusia tiga puluh tahun atau saat aku secara resmi dilantik sebagai Direktur Utama Tetap."
Elvan mengelus rambut panjang Aluna yang terurai. "Herlina yang haus kekuasaan mulai merencanakan penyingkiranku. Enam bulan lalu, saat aku sedang meninjau proyek ekosistem energi di perbatasan Jawa Tengah, mobil yang kutumpangi disabotase. Rem mobil ditusuk, dan beberapa pria bersenjata mengejar kendaraan kami hingga terperosok ke dalam jurang."
Aluna meremas baju Elvan di bagian dada, membayangkan betapa mengerikannya peristiwa pembunuhan yang hampir merenggut nyawa suaminya saat itu.
"Bram dan beberapa pengawal setia berhasil menyelamatkanku dari kobaran api mobil," lanjut Elvan dengan nada datar. "Namun, aku mengalami luka dalam yang cukup parah dan harus menyembunyikan keberadaanku sepenuhnya. Kami memutuskan untuk memalsukan kematianku sementara waktu demi memancing Herlina keluar dari persembunyiannya dan mengumpulkan bukti-bukti penggelapan uang perusahaan yang dilakukannya."
"Lalu ... bagaimana kamu bisa berada di rumah sakit tempat Ayah dirawat?" tanya Aluna lembut.
"Hari itu, aku sedang berada di puskemas dan rumah sakit daerah tersebut untuk menemui seorang saksi kunci mantan akuntan Herlina yang bersembunyi di sana," jelas Elvan jujur. "Saat aku sedang menunggu Bram di koridor rumah sakit dengan pakaian biasa untuk menghindari kecurigaan detektif Herlina, aku melihatmu."
Elvan tersenyum tipis, sebuah senyuman nostalgia yang sangat hangat. "Aku melihat seorang gadis muda yang menangis terisak di depan ruang administrasi, mengemis pada petugas medis agar ayahnya tidak dikeluarkan dari ruang perawatan meskipun dia tidak punya uang sepeser pun. Aku melihat bagaimana kamu meremas jemarimu sendiri dan memohon dengan ketulusan yang luar biasa demi keselamatan ayahmu."
Aluna menunduk, mengingat kembali momen paling menyakitkan dalam hidupnya saat ia tak berdaya menanggung biaya medis Pak Kusuma.
"Di dunia tempat aku dibesarkan, Aluna ... tidak ada ketulusan seperti itu," bisik Elvan tepat di pelipis Aluna. "Di sekelilingku hanya ada orang-orang yang tersenyum karena hartaku, wanita yang mendekat karena gelarku, dan keluarga yang saling menusuk demi warisan.
Saat melihat ketulusanmu, hatiku yang sudah mati mendadak bergetar. Hari itu, ketika kamu secara tak sengaja memohon bantuan padaku untuk berpura-pura menjadi suamimu demi menenangkan pikiran Ayahmu yang kritis ... aku memutuskan untuk memeluk takdir itu."
"Mas ..." air mata haru kini menetes pelan dari mata Aluna, mengalir membasahi kaus yang dikenakan Elvan.
"Aku memalsukan dokumen pernikahan kita menjadi Elvan Prasetya bukan untuk mempermainkanmu, Aluna," tegas Elvan. "Tetapi untuk melindungi namamu dari intrik Herlina. Aku ingin memastikan ayahmu mendapatkan perawatan medis terbaik tanpa ada musuhku yang tahu bahwa wanita yang kukasihi berada di sana."
Mendengar seluruh kebenaran yang dibeberkan oleh Elvan tanpa ada satu pun yang ditutupi, runtuhlah seluruh sisa dinding keraguan di dalam sanubari Aluna. Luka masa lalu Elvan, kepedihan hidupnya di tengah gelimang harta, serta alasan di balik penyamarannya kini terhampar jelas.
Elvan bukanlah pria dingin yang manipulatif; ia adalah seorang pejuang yang selamat dari pembunuhan, yang menemukan tempat berteduh pada kepolosan dan ketulusan keluarga Aluna.
Aluna mendongakkan kepalanya, memegang kedua pipi tegap Elvan dengan tangan halus yang gemetaran. Ditatapnya sepasang mata elang suaminya yang selama ini menyimpan beban triliunan rupiah dan ancaman pembunuhan sendirian.
"Mas Elvan ..." panggil Aluna dengan suara yang sangat jernih dan tegas. "Terima kasih ... Terima kasih karena sudah jujur padaku."
Elvan menatap istrinya rapat-rapat. "Apakah kamu takut padaku, Aluna? Apakah kamu menyesal telah terikat dengan pria yang memiliki masa lalu berdarah seperti diriku?"
Aluna menggelengkan kepalanya dengan mantap. "Sama sekali tidak, Mas. Aku tidak peduli seberapa kaya dirimu, seberapa banyak musuhmu, atau seberapa besar nama Aditama yang menyertaimu. Pria yang kutahu adalah Mas Elvan, pria yang dengan sabar menyuapi ayahku, pria yang memasangkan selimut saat aku tertidur di sofa, dan pria yang berdiri paling depan mempertaruhkan nyawanya dari ancaman Kafka."
Aluna mengecup bibir Elvan singkat, sebuah kecupan penuh kehangatan dan keberanian yang membuat mata Elvan membelalak terkejut.
"Jika lusa pagi kamu harus pergi bertarung merebut kembali hakmu di Aditama Group," lanjut Aluna dengan mata menyala penuh kesetiaan, "maka biarkan aku berdiri di sampingmu, Mas. Jangan sembunyikan aku lagi di rumah paviliun ini. Aku adalah istri sahmu, dan aku tidak akan membiarkan ibu tirimu atau siapa pun menghina pria yang sangat kucintai."
Keberanian dan keteguhan jiwa yang terpancar dari sosok Aluna seketika mengejutkan sekaligus melelehkan kebekuan di dalam diri Elvan. Wanita yang semula ia anggap rapuh dan harus selalu dilindungi di balik layar kini telah menjelma menjadi seorang pendamping yang siap berdiri sejajar bersamanya menghadapi badai paling dahsyat.
Elvan mengukir senyuman paling tampan dan tulus yang pernah ia miliki. Ia merengkuh tubuh Aluna ke dalam pelukan yang sangat erat, mencium kening, kedua pipi, dan bibir istrinya dengan rasa cinta yang membuncah tanpa batas.
"Terima kasih, Istriku ... Terima kasih banyak," bisik Elvan penuh haru.
Pukul sebelas malam.
Pintu ruang kerja di bagian depan rumah paviliun berbunyi pelan. Bram melangkah masuk setelah mendapat izin dari Elvan. Pria bersetelan jas itu membawa sebuah koper perak tebal dan diletakkan di atas meja kerja.
"Tuan Muda," sapa Bram seraya menunduk hormat. "Seluruh berkas bukti kejahatan Nyonya Herlina, hasil audit independen dari Firma Akuntan Singapura, serta surat kuasa mutlak atas kepemilikan saham dari Trust Fund telah siap seratus persen."
Elvan berdiri di balik meja, mengenakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga ke siku. Aura kepemimpinan sang penguasa Adhitama telah kembali sepenuhnya pada dirinya.
"Bagaimana dengan serangan media yang direncanakan Herlina untuk besok pagi, Bram?" tanya Elvan dingin.
"Tim kehumasan kita telah mencegat seluruh draf pemberitaan yang mencoba mencemarkan nama baik Nona Aluna di anak perusahaan media kita, Tuan Muda," jawab Bram mantap. "Namun, untuk portal berita independen luar yang disuap oleh Pengacara Danu, mereka berencana menaikkan berita tersebut esok siang."
Elvan menyunggingkan senyum sinis yang sarat akan bahaya. "Biarkan mereka menaikkannya."
Bram sedikit terkejut. "Biarkan mereka menaikkannya, Tuan Muda?"
"Ya," tegas Elvan dengan mata elangnya yang menyala tajam. "Biarkan Herlina merasa berada di atas angin esok hari. Biarkan publik gempar dengan berita tentang istri rahasia Elvan Aditama. Karena lusa pagi, pada saat RUPS Luar Biasa digelar di Adhitama Tower, aku sendiri yang akan melangkah masuk membawa Aluna di sampingku, dan meruntuhkan seluruh skenario Herlina tepat di depan ratusan kamera media nasional."
"Perintah dilaksanakan, Tuan Muda!" sahut Bram penuh semangat seraya membungkuk hormat.
Elvan berbalik menatap ke arah jendela ruang kerja, memandangi kegelapan malam yang perlahan akan berganti menjadi fajar. Rahasia besar yang selama ini ia sembunyikan telah terbongkar sepenuhnya di hadapan Aluna. Tak ada lagi kebohongan, tak ada lagi keraguan. Sang penguasa Aditama telah siap sepenuhnya untuk melepaskan seluruh kekuasaan mutlaknya dan menggulung musuh-musuhnya dalam satu serangan balik yang mematikan.