NovelToon NovelToon
Hanya Ibu Untuk Anakmu, Mas!

Hanya Ibu Untuk Anakmu, Mas!

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Balas Dendam
Popularitas:14.3k
Nilai: 5
Nama Author: Yam_zhie

Alysia percaya pernikahannya adalah jawaban atas doa setelah bertahun-tahun hidup sendiri. Saat Demian datang melamarnya, dia mengira akhirnya menemukan laki-laki yang memilih dirinya, bukan karena belas kasih, bukan karena keadaan, melainkan karena cinta.

Namun kenyataan yang menunggunya jauh lebih menyakitkan. Demian adalah duda muda dengan seorang anak kecil yang kehilangan sosok ibu. Dan Alysia baru menyadari satu hal setelah resmi menjadi istrinya. Dia tidak pernah benar-benar hadir sebagai perempuan yang dicintai. Dia hanya dipilih karena dianggap paling tepat menjadi ibu bagi anak Demian. Arkhasa.

“Aku menikahimu supaya anakku punya ibu.”
Kalimat itu mengubah segalanya.
Untuk pertama kalinya, Alysia memilih berhenti menunggu dicintai. Dia memutuskan pergi, meski harus meninggalkan anak yang sudah dia sayangi seperti darah daging sendiri.

Namun saat Alysia benar-benar menjauh, Demian mulai menyadari sesuatu yang terlambat dia pahami.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Alysia 1

Pukul enam pagi.

Seperti biasa, Alysia sudah berdiri di dapur sejak langit masih abu-abu. Aroma sup hangat mengepul di udara, roti sudah dipanggang, kopi hitam tanpa gula tersaji tepat seperti yang disukai Damian.

Tangannya bergerak cepat dan terlatih. Menyiapkan sarapan, mengecek bekal sekolah, memastikan seragam anak sudah rapi, lalu kembali ke meja makan. Dia melangkah menuju ke kamar utama, kamar yang selama enam tahun dia dan Damian huni dalam kesunyian dan dingin. Alysia menyiapkan segala kebutuhan Damian.

Alysia mendorong pintu kayu itu perlahan, nyaris tanpa suara. Di dalam, cahaya matahari pagi yang pucat baru saja merayap masuk melalui celah gorden, menerpa punggung Damian yang masih membelakanginya. Pria itu sudah terbangun, duduk di tepi ranjang dengan kemeja putih yang setengah terpasang, menyisakan kancing atas yang masih terbuka.

"Mas Damian," panggil Alysia pelan.

Suaranya terdengar datar, seolah dia sedang membaca daftar belanjaan alih-alih menyapa suaminya sendiri.

Damian tidak menoleh. Dia hanya berhenti sejenak dari aktivitasnya memasang jam tangan, lalu menghela napas pendek yang terdengar seperti embusan dingin di ruang yang pengap itu.

"Sudah jam enam?" tanyanya tanpa menoleh.

"Iya. Kopi sudah siap di meja. Sarapan juga," jawab Alysia.

Diaa mendekat, meletakkan setumpuk dokumen yang semalam Damian minta disiapkan di atas nakas, tepat di samping ponsel pria itu.

Gerakannya kaku, sengaja menjaga jarak agar tidak ada bagian tubuh mereka yang bersentuhan, walaupun itu tidak sengaja pun tidak. Karena Damian tak menyukainya. Dan Alysia mencoba memahami suaminya selama enam tahun ini.

Damian bangkit berdiri, merapikan kerah kemejanya dengan gerakan yang tegas dan ta-jam. Saat dia berbalik, tatapannya menyapu Alysia sekilas, namun tidak benar-benar melihat sosok wanita itu. Matanya dingin, seperti permukaan danau di musim dingin yang membeku.

"Arkhasa?" tanya Damian singkat.

"Sudah bangun. Sedang bersiap," balas Alysia.

Damian mengangguk sekali, sebuah gestur formal yang biasanya dia berikan pada rekan bisnis, bukan pada istrinya. Dia melangkah melewati Alysia menuju pintu, namun langkahnya terhenti tepat di samping bahu wanita itu. Ruang di antara mereka seolah dipenuhi oleh atmosfer yang hampa. Ada ribuan kata yang tersangkut di tenggorokan, namun tak satu pun yang berani meluncur.

Alysia mematung, menatap pantulan dirinya dan Damian di cermin besar lemari. Di sana, mereka terlihat seperti dua orang asing yang terjebak dalam sandiwara yang sama. Damian tidak mengatakan 'terima kasih' untuk sarapan yang telah disiapkan, dan Alysia tidak bertanya bagaimana tidurnya semalam.

Hanya ada suara detak jam dinding yang terdengar sangat nyaring, mengisi kekosongan yang mereka ciptakan sendiri selama enam tahun ini.

"Jangan lupa tanda tangani surat dari sekolah Arkhasa," tambah Alysia, memecah keheningan yang menyesakkan itu.

"Akan aku lakukan sebelum berangkat," sahut Damian, lalu pria itu melangkah keluar kamar tanpa menoleh lagi, meninggalkan Alysia sendirian dengan aroma parfum kayu cendananya yang tertinggal, perlahan memudar dimakan udara pagi.

Alysia segera menyusul ke ruang makan. Di sana, Arkhasa sudah duduk di kursi tingginya, kakinya yang kecil menggantung tak sampai ke lantai, sementara tangannya sibuk memutar-mutar sendok.

"Mama! Tadi malam Arkha mimpi dikejar robot raksasa, tapi robotnya pakai dasi kayak Papa!" celoteh Arkhasa dengan mata berbinar, mengabaikan roti panggang yang sudah diolesi selai di depannya.

Damian, yang duduk di ujung meja, sedang menatap tablet di tangannya dengan alis berkerut. Laporan keuangan perusahaan mungkin sedang menuntut fokusnya sepenuhnya. Namun, mendengar suara nyaring putranya, jari Damian yang sedang menggeser layar terhenti sejenak.

"Robot pakai dasi?" Damian akhirnya bersuara. Suaranya rendah, namun tidak sedingin saat dia bicara dengan Alysia tadi.

Arkhasa mengangguk antusias.

"Iya! Terus robotnya bilang, 'Arkha, jangan lupa kerjakan PR matematika!' Serem banget, kan?"

Damian meletakkan tabletnya di atas meja dengan bunyi klik yang pelan. Dia menatap putranya, dan untuk pertama kalinya pagi ini, ketegangan di bahunya tampak sedikit mengendur. Sebuah tipis garis di sudut bibir Damian tertarik ke atas, bukan senyum yang lebar, hanya sebuah pengakuan akan kekonyolan cerita anaknya.

"Kalau robot itu pakai dasi, berarti dia robot yang disiplin. Kamu harus dengarkan dia kalau tidak mau disuruh lembur," sahut Damian singkat.

Arkhasa tertawa kecil, suara ceria yang kontras dengan suasana rumah yang biasanya bisu.

"Aku lebih suka robot yang jago main bola, Pa."

Alysia yang sedang menuangkan susu ke gelas Arkhasa berhenti bergerak. Dia berdiri di sisi meja, menyaksikan interaksi singkat itu dengan perasaan yang sulit diartikan. Di mata Damian, Arkhasa adalah satu-satunya celah di mana dinding es pria itu bisa mencair. Alysia adalah pelayan rutinitas, sementara Arkhasa adalah satu-satunya warna di rumah ini.

Damian kembali meraih tabletnya, namun kali ini dia tidak langsung kembali larut dalam angka-angka. Dia sempat melirik Alysia yang berdiri tak jauh dari mereka. Tidak ada kata, hanya tatapan sekilas yang kembali datar, seolah dia baru saja tersadar bahwa dia telah membiarkan dirinya terlalu lama terbuka.

"Habiskan sarapanmu, Arkha," perintah Damian, kini suaranya kembali ke mode formal. Alysia menunduk, merapikan letak kursi Arkhasa.

"Ayo dimakan, sayang. Nanti terlambat sekolah."

"Iya Mama, masakan Mama memang selalu yang terbaik! Apalagi bekal Mama! Aku selalu suka, karena teman-teman aku suka iri!"

Alysia hanya menjawab dengan senyuman sambil mengusap kepala Arkhasa. Di bawah meja, Alysia bisa merasakan kakinya sedikit ge-me-tar.

Kehangatan yang baru saja tercipta karena tawa Arkhasa terasa begitu rapuh, seolah bisa hancur kapan saja oleh satu hembusan napas Damian yang dingin. Damian hanya melihat hal itu dengan ujung matanya. Tak ada pembicaraan lebih antara mereka.

Sarapan berakhir dengan denting alat makan yang beradu dengan piring porselen, satu-satunya suara yang mengisi ruang makan hingga Damian berdiri. Pria itu menyambar tas kerja dari kursi di sebelahnya.

Alysia dengan sigap mengikuti di belakangnya menuju pintu depan, membawa serta sisa tanggung jawabnya sebagai istri. Dia berdiri di ambang pintu, menundukkan kepala sedikit. Sebuah ritual pagi yang selalu diaa lakukan meski tahu hasilnya akan selalu sama. Dengan napas yang tertahan, Alysia menyodorkan punggung tangannya ke hadapan Damian, sebuah upaya untuk meraih sedikit saja pengakuan akan keberadaannya.

Namun, tepat saat tangan Alysia terulur, Damian justru berpaling dengan tajam. Pria itu tiba-tiba sibuk membetulkan letak jam tangannya, lalu beralih merogoh saku jasnya seolah mencari kunci mobil yang sebenarnya sudah dia genggam. Dia bergerak menjauh satu langkah, membuat tangan Alysia yang terkatung di udara hanya menyentuh ruang kosong yang dingin.

Alysia merasakan jemarinya gemetar hebat. Dia menarik tangannya kembali ke sisi tubuh dengan gerakan yang sangat lambat, seolah tangannya itu terasa begitu berat dan tidak berguna.

Rasa sakit itu tidak lagi terasa tajam, melainkan tumpul, sebuah hantaman rutin yang sudah terlalu sering dia terima hingga ia hafal setiap detailnya.

"Arkha, jangan lari-lari saat turun dari mobil," ujar Damian, suaranya yang tegas memecah keheningan, diarahkan sepenuhnya kepada putranya yang sedang memakai sepatu, seolah Alysia tidak sedang berdiri di sana dengan hati yang sedikit retak.

"Siap, Papa!" seru Arkhasa ceria, tidak menyadari ketegangan yang baru saja terjadi di balik punggungnya.

Damian kemudian melangkah melewati Alysia tanpa meliriknya sedikit pun. Bau parfum cendana yang maskulin itu menyapu wajah Alysia saat pria itu lewat, meninggalkan sisa jejak yang menyesakkan.

Alysia berdiri mematung di dekat pintu, menatap bayang-bayang mobil Damian yang perlahan menjauh dari halaman. Dia memeluk lengannya sendiri yang terasa dingin, berusaha menenangkan detak jantungnya yang tidak beraturan.

Di rumah yang besar dan mewah ini, keheningan kembali merayap masuk, menyelimuti Alysia seperti selimut yang berat, mengingatkannya bahwa dia hanyalah pajangan yang berfungsi dengan baik, tetapi tidak pernah benar-benar disentuh.

"Mama? Ayo, nanti Arkha telat!" panggil suara kecil itu dari balik pintu mobil.

Alysia menarik napas dalam, memulas wajahnya dengan topeng ketenangan yang sempurna, lalu berbalik dengan senyum yang dipaksakan.

"Iya, Sayang. Mama datang."

1
Oma Gavin
modarrr kalian bertiga saatnya mempertanggung jawabkan perbuatan kalian kuncoro selingkuhan nya cynthia sedangkan berlian terobsesi sama damian keluarga gila
Ambu Rinddiany Thea
tah kitu ari jadi lalaki tegas punya prinsip. ulah kahasut kunu teparuguh
Muft Smoker
jgn mudah memaafkan ddamian ,, biar dy membuktikan dlu semua ucapan ny ,,
biar dy juga merasakan apa yg km rasakan Selama 6th Alysia ,,
Ma Em
Apakah Alysia akan memaafkan Damian karena selama enam thn Alysia selalu diacuhkan dan tdk dianggap istri sama Damian , kalau menurut ku lbh baik Alysia pergi saja jgn mau kembali pada Damian .
Ambu Rinddiany Thea
bentar lagi juga bucin akut s damian mah 🤭 apalagi udh d kasih sesuatu ma alisya 🫣😁
Nasir: Kak, mampir di cerita saya ya "Dinikahi Papa Pacarku."
total 1 replies
Elina thea
si Damian banyak alasan,mau menjelaskan di saat waktu yg tepat katanya...waktu yg tepat itu kapan?
cowok yg kayak gini nich...yg berpotensi menghancurkan rumah tangga sendiri,usia boleh dewasa tapi sifatnya yg masih belum dewasa....cerai aja sich alysia,di luar sana masih banyak laki-laki yg lebih dari si Damian,ngapain kamu masih mempertahankan laki laki yg masih belum selesai sama masa lalunya...cuman buang waktu juga nyakitin dirimu sendiri aja.
Ambu Rinddiany Thea
tenang dam masih ada jalan menuju roma ..
Muft Smoker
jgn hanya byak bicara Damian ,,
bukti kan dg tindakan mu
nely_48
sok lah Damian buktikan kesungguhan mu
Lee Mba Young
Cihh masih gk berani cerita masih bertele tele. masih nyimpen rahasia. Banci.
Elina thea
si Damian ini bertele tele DECH...katanya minta kesempatan untuk berbicara sama alysia,saat ada kesempatan dia malah minta waktu buat memberi penjelasan soal ibunya Arkha,minta kesempatan kedua tapi dia sendiri malah masih ragu buat jujur...udah alysia cerai aja sich buat apa juga peduli sama anak yg bukan anakmu,toh anak itu kan masih ada bapaknya...jadi udah cerai aja,bebaskan semua penderitaanmu.
Lee Mba Young
Buang saja laki model bgitu alisya. laki gk mandiri, hidup di setir ortu.
6th sia sia buang waktu.
cerai trus upgrade diri ntar semoga dpt jodoh yg lebih Dr Damian. yg penting gk di setir ortu plus laki yg terbuka dng masa lalu serta yg sdh moveon.
Muft Smoker
jgn mudah luluh Alysia ,, biar Damian merasakan penderitaan mu Selama 6th di abaikan ,,
jika km tlah melihat kesungguhan serta bukti bahwa Damian bnr2 berubah ,, baru deh kesempatan mau km kasih atau gx ,,
Agunk Setyawan
6 tahun gak dianggap istri dijadiin pajangan rumah aja jgn mau luluh alsya
lovely_day
🥺alsya dengerin damian dulu ya
lovely_day: 🤗😄..,............
total 2 replies
Muft Smoker
tdaak perlu menyalahkan sypa pun Damian ,, tu kesalahan dirimu sndri yg tdak bisa tegas dlm mengambil keputusan ,,
terlalu takut kehilangan harta Dunia ,,
skraaang yg perlu km lakuin hanya memperbaiki semua ny Damian sblm bnr2 terlambaat
nely_48
semoga jln mu mulus ya Damian,, sok lah lawan ibu mu yg tamak itu
nely_48
br sadar kau Damian,,, semoga sadar mu tdk terlambat ya
Elina thea
si Damian seolah menyalahkan ibunya...yah meskipun ibunya emang salah sich,tapi yg paling bersalah emang si Damian itu sendiri...dia gak bisa tegas dan terlalu bergantung pada harta keluarganya,selama enam tahun dia diam aja saat istrinya di hina oleh ibunya dan orang lain,dan saat istrinya menyerah dia membayar waktu enam tahun istrinya hanya dengan kata maaf~~~bilang aja kamu keteteran karna anakmu gak ada yg ngurus kalo alisya minta cerai,laki laki modelan kayak di Damian buang aja ke laut...
Ade Chubi
kok dikit banget up nya Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!