NovelToon NovelToon
Jika Takemichi Dan Izana Menjadi Perempuan

Jika Takemichi Dan Izana Menjadi Perempuan

Status: sedang berlangsung
Genre:Tokyo Revengers / Tamat
Popularitas:46.9k
Nilai: 5
Nama Author: sit nur Aisyah

bagaimana jika saat izana yang berjalan dengan santai tiba tiba di sergap? dia dipaksa untuk ikut dan setelah dia bangu, tiba tiba tubuhnya menjadi seorang wanita, tidak lama kemudian izana menemukan pemuda yang adalah anggota Toman, dia menguji coba serum yang dia temukan hingga membuat pemuda itu juga sama seperti nya.

"wanita cantik" takemichi

"apa kau lihat lihat!?" izana

"garang sekali" takemichi

"kau sekarang sama denganku" izana

"hah?" takemichi nge-lag

"waaaaaa kau jahat sekali izana!!" takemichi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sit nur Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

actual bullying

Pembully itu sungguh bodoh, mereka memilih musuh yang tidak tepat.

.

.

.

.

Takemichi memeluk tubuhnya sendiri saat banyak orang mulai memperhatikannya.

Seragamnya basah kuyup.

Tubuhnya gemetar karena dingin, sementara pakaian yang menempel akibat air membuat siluet tubuhnya lebih terlihat.

Takemichi menggertakkan giginya.

"Kenapa kalian keterlaluan sekali?!"

"Bukankah ini juga termasuk perundungan?!"

"Kalau berani, hadapi aku langsung!"

"Dasar dua jal*ng sialan!"

ucap Takemichi dengan tajam.

Entah sejak kapan, tetapi sepertinya ia mulai tertular kebiasaan Izana yang suka berbicara pedas saat marah.

"Heh."

Lifia menyilangkan tangan.

"Ternyata kau cukup berani."

"Kalau begitu akan kuberi pelajaran."

"Aku ingin memperlihatkan wajah aslimu."

"Siapa tahu bedakmu luntur kalau terkena air."

Takemichi langsung mendengus.

"Tidak sadar diri."

"Lihat saja wajahmu sendiri."

"Demi menjadi cantik, kau rela melakukan apa saja."

"Mungkin kau perlu menemui dokter spesialis agar otakmu diperiksa."

"Aku punya kenalan dokter bedah sekaligus psikolog."

"Kalau mau, nanti kuperkenalkan."

"Sekalian konsultasi kenapa cara berpikirmu bisa bermasalah seperti itu."

Takemichi tersenyum tipis.

Senyuman yang membuat beberapa orang merinding.

"Kau—!"

Wajah Lifia memerah karena marah.

"Baiklah!"

"Kalau itu yang kau mau!"

"Milan!"

"Siapkan satu ember lagi!"

Takemichi malah tersenyum meremehkan.

"Huhu."

"Aku takut sekali."

"Lihat tuh."

"Kalian membully orang dari atas."

"Kalau berani turun."

"Jangan bersembunyi seperti kura-kura."

"Lihat juga."

"Sekarang semua orang sedang menonton tingkah kalian yang memalukan."

"Kalau berani, jangan lawan aku."

"Sini lawan kakakku."

Suasana langsung menjadi gaduh.

Banyak murid yang tidak percaya mendengar Takemichi berbicara seperti itu.

Biasanya ia selalu lembut, tenang, dan jarang membalas perkataan orang.

...⚪⚪⚪...

Di sisi lain...

Izana masih duduk di kelas sambil menunggu Takemichi kembali.

Namun waktu terus berjalan dan Takemichi tak kunjung muncul.

Sementara Shiro sudah hampir tertidur karena membaca komik kesukaannya.

BRAK!

Pintu kelas terbuka dengan keras.

Semua orang menoleh.

Izana langsung mengernyit.

"Kenapa kau mendobrak pintu?"

"Biasa saja juga tidak apa-apa."

Seorang siswi berdiri sambil terengah-engah.

"Z-Zanami!"

"Michiko..."

"Hah... hah..."

"Michiko dibully oleh Lifia dan Milan!"

"Mereka menyiramnya dari atas!"

Deg.

Izana langsung berdiri dari kursinya.

Mata ungunya menyipit.

Aura dingin langsung menyelimuti sekelilingnya.

"Di mana?"

Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, ia segera berlari menuju lokasi.

Dalam pikirannya hanya ada satu hal.

Ku harap Michi baik-baik saja.

...⚪⚪⚪...

Kembali ke Takemichi...

Ia menatap kedua gadis itu dengan datar.

Beberapa murid yang berada di sekitar mulai merasakan suasana yang tidak nyaman.

Takemichi yang biasanya lembut terlihat berbeda.

BUGH!

Sebuah sepatu melayang ke atas.

Tepat mengenai Milan.

"Aduh!"

Milan memegangi kepalanya.

Takemichi berdiri dengan satu sepatu yang sudah terlepas.

Seringai kecil muncul di wajahnya.

Ia sengaja memancing mereka agar turun.

"Takemichi!"

Suara panik terdengar dari kejauhan.

Takemichi menoleh.

"Chifuyu?"

"Hakkai-kun?"

Kedua pemuda itu segera menghampirinya.

Begitu melihat keadaan Takemichi yang basah kuyup, wajah mereka langsung berubah.

"Takemichi!"

"Apa yang terjadi?!"

"Kenapa kau sampai seperti ini?!"

tanya Chifuyu panik.

Takemichi tersenyum tipis.

"Oh."

"Aku hanya disiram oleh dua ulat bulu yang ada di atas sana."

Senyumnya membuat Lifia dan Milan semakin kesal.

"Hakkai!"

"Jaketmu!"

ucap Chifuyu.

Hakkai langsung melepas jaketnya.

Mereka segera membantu menutupi tubuh Takemichi yang masih basah.

"Dasar bodoh."

Chifuyu mendesah kesal.

"Banyak orang yang melihatmu."

"Kau harus lebih hati-hati."

Takemichi hanya tertawa kecil.

Namun Chifuyu sengaja mengeraskan suaranya.

"Aku yakin kalau Mikey tahu ada yang melakukan ini pada Takemichi..."

"Dia pasti mengamuk."

Hakkai ikut menimpali.

"Ya."

"Mungkin sekarang dia sedang sibuk."

"Tapi kalau dia tahu..."

"Bisa saja besok atau lusa seluruh kota jadi kacau."

"Apalagi dia sekarang penguasa Kanto."

Milan langsung memucat.

Lifia juga mulai terlihat gelisah.

"Filia..."

Milan menarik lengan temannya.

"Mereka serius."

"Kalau kita teruskan ini, kita yang akan celaka."

Namun Lifia masih keras kepala.

"Ck."

"Mereka cuma menggertak."

"Bukankah kita gadis tercantik di sekolah?"

"Kalau aku bergabung dengan salah satu geng mereka..."

"Aku pasti bisa menjadi ratunya."

Beberapa murid yang mendengar itu langsung memasang ekspresi aneh.

Milan semakin panik.

"Filia!"

"Ini bukan saatnya!"

BUGH!

Sepatu Takemichi kembali melayang.

Kali ini mengenai hidung Lifia.

"Aduh!"

Hidungnya langsung memerah.

"Turun kalian berdua!"

teriak Takemichi.

"Aku akan menghajar kalian kalau berani turun!"

"Sialan kau!"

Lifia benar-benar kehilangan kesabaran.

"Akan kucakar wajahmu!"

"Filia!"

teriak Milan.

Namun semuanya terlambat.

BUGH!

BUGH!

BUGH!

Seseorang tiba-tiba muncul dan menghantam Lifia beberapa kali di kepala.

"Dasar ulat bulu pengganggu."

Suara Izana terdengar dingin.

"Kau masih belum tahu siapa yang sedang kau usik?"

Lifia langsung membeku.

Izana berdiri di hadapannya dengan tatapan tajam.

"Sudah kuberi kesempatan."

"Tapi kau malah membuat adikku seperti ini."

"Lucu sekali."

"Apa kau benar-benar mengira semua orang akan diam saja?"

Lifia mulai gemetar.

Bahkan Milan ikut mundur beberapa langkah.

"Akan kuberi tahu sesuatu."

Izana menatap mereka berdua.

"Dulu aku bukan orang baik."

"Dan aku sangat membenci orang yang mengusik keluargaku. Bahkan polisi setempat tak berani mengusikku dan kalian yang hanya murid biasa malah sok membully anak berandalan?." izana mendengus dengan dingin.

"lucu sekali."

Mata ungunya terlihat begitu tajam hingga membuat kedua gadis itu ketakutan.

Takemichi yang melihat suasana mulai terlalu tegang segera menarik lengan Izana.

"Izana."

"Ayo pergi."

"Aku lapar."

Suasana langsung berubah.

Izana yang tadi begitu menakutkan langsung menoleh ke arah Takemichi.

"Oh."

"Kalau begitu ayo."

Ia langsung menggandeng tangan Takemichi.

"Ayo ganti baju dulu."

Keduanya kemudian berjalan menuju loker untuk mengambil pakaian dan sepatu cadangan.

...⚪⚪⚪...

Di sisi lain...

Lifia dan Milan masih berdiri diam.

"Milan..."

"Mereka mantan berandalan..."

ucap Lifia dengan suara gemetar.

"Sudahlah."

"Mungkin mereka sudah pensiun."

"Ayo kembali ke kelas."

Milan berusaha menenangkan dirinya sendiri.

Namun saat mereka memasuki kelas, suasananya terasa berbeda.

Banyak murid berbisik-bisik sambil melirik ke arah mereka.

"Kudengar mereka baru saja mengusik orang yang dulu sangat terkenal."

"Iya."

"Katanya Zanami dulu pemimpin kelompok besar."

"Dan Michiko juga bukan orang sembarangan."

"Serius?"

"Tentu."

"Makanya jangan macam-macam dengan mereka."

Bisikan demi bisikan terus terdengar.

Lifia dan Milan semakin gelisah.

Apalagi beberapa murid sengaja melebih-lebihkan cerita untuk membuat mereka jera.

Sebenarnya tidak ada yang berniat menyakiti mereka.

Namun banyak murid merasa kesal dengan tindakan mereka terhadap Takemichi.

Terlebih setelah mendengar ucapan Lifia sebelumnya yang begitu sombong.

Karena itulah, sepanjang pelajaran berlangsung, Lifia dan Milan hanya bisa duduk diam sambil menahan rasa takut dan malu akibat ulah mereka sendiri.

.

.

.

.

.

...-TO BE CONTINUED-...

1
Kirana Yola adiba
lanjut kak penasaran sama cerita selanjutnya
Kirana Yola adiba
aku penasaran kak lanjut kak
Kirana Yola adiba
lanjut kak penasaran aku dg cerita selanjutnya
makasih ya kak udah up banyak
shinobu
lanjut min ceritanya bagus
Kirana Yola adiba
penasaran aku dg cerita selanjutnya
shinobu
lanjut min ceritanya bagus min
shinobu
lanjut ke konten utama nya
Kirana Yola adiba
lanjut kak
Kirana Yola adiba
aduh penasaran aku lanjut kak semangat
Saada Sania
lanjut author
Kirana Yola adiba
lanjut kak
hore kakak up
Kirana Yola adiba: sama sama
total 4 replies
REN & HARUKA
baguss thorrr🤩
누르하이다🤭☺️
pantesan thor aku tungguin gak up up ternyata eh ternyata.....
누르하이다🤭☺️: gak papa thor tapi kalo ada rencana mau buat cs/novel baru kabari ya thor biar aku bisa basa
total 2 replies
Kirana Yola adiba
padahal cerita nya bagus dan menarik
AkuAulia loplop pecinta BxB: iya bener
total 3 replies
haruchiyo aya
Luar biasa
aza
Kecewa
aza
Buruk
Kirana Yola adiba
lanjut kak
makasih ya kak udah up
up nya jangan lama lama ya kak
semangat ya kak
nea oktavia d
author lanjut
Shazarina Kamlun
di tunggu kelanjutaanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!