Kau adalah milikku. Jika aku tidak mendapatkannya, maka tidak siapa pun!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BumbleBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Flashback Masa Kecil
"Luna, kau lihat ini?" Paula remaja yang saat itu duduk di bangku SMP, menujukkan sebuah mahkota mainan dan sebuah boneka lucu.
Saat itu keluarga Willson sedang mengadakan acara kumpul keluarga. Luna dan Ayahnya juga ada di sana, sedangkan ibu Luna sudah meninggal saat melahirkannya.
Alih-alih ikut bergabung dengan keluarganya, Paula mengajak Luna untuk bermain di kamarnya, ia juga mengundang Megan, hanya saja gadis itu belum datang.
"Wah, indah sekali." Puji Luna sembari mengambil mahkota dari tangan Paula.
Paula menggangguk dengan wajah sumringah. "Kau ingin mencobanya," Paula kembali mengambil mahkota dan memasangkannya di atas kepala Luna.
"Lihat lah," Paula memutar tubuh Luna agar menghadap kaca. "Kau terlihat sangat cantik,"
Luna tersenyum, ia melepaskan mahkota dan memasangkannya di atas kepala Paula, "Tapi mahkota ini terlihat pas jika kau yang mengenakannya. Kau terlihat seperti princess,"
Senyum lebar terpatri di wajah Paula, "Ya, aku princessnya Aaron, selamanya begitu." sahutnya dengan bangga.
Pintu kamar Paula dibuka. Pax dan Megan berdiri di sana.
"Pax, lihatlah. Aaron membelikan mahkota untuk Lala. Belikan satu untukku yang seperti itu," Luna menghampiri Pax dan menarik-narik tangannya.
"Mintalah pada Pollux atau Aaron, dia akan memberikanmu." Pax menoleh ke arah Megan.
"Meg, kau mau mahkota?"
Megan menolak dengan menggelengkan kepalanya.
"Jika kau mau, aku bisa membelikannya," Pax menggidikkan bahu.
"Pax, kau ingin menjadikan Megan sebagai princessmu?" Paula berdiri dan terpekik girang. "Wah, aku akan senang jika Megan jadi keluarga kita. Aku, Luna, dan Megan akan selalu bisa bersama!" pungkasnya dengan sangat antusias.
"Aku menjadikan semua wanita sebagai princess?" sahut Pax dengan gaya khas playboy. Ya, jiwa pemburunya sudah terlihat sejak ia duduk di bangku SMP.
Setelah beberapa saat Pax pun ke luar dari kamar adiknya. Ia kembali bergabung dengan para sepupunya. Paula kembali memamerkan mahkota pemberian Aaron. Megan ikut senang mendengarkannya.
"Kelak aku akan menikah dengannya," tukas Paula dengan wajah bersemu merah. Ya, sejak Paula kecil ia sudah mengagumi Aaron. Aaron selalu melindungi dan menjaganya, menuruti semua kemauannya. Bagi Paula, Aaron adalah pelindungnya.
"Paula, kita masih kecil. Kau membuatku malu mendengarnya.Tapi bukankah Aaron sepupumu?"
"Ya, dia sepupuku. Tapi kami tidak ada ikatan darah sama sekali. Sudah lah, sulit untuk menjelaskannya. Ayo, kita bermain lagi," ajak Paula yang diangguki oleh Megan.
"Di mana Luna?" tanya Megan begitu menyadari mereka hanya berdua di dalam kamar.
Paula berdiri dari tempatnya, melangkah menuju ke kamar mandi. Memanyunkan bibirnya, karena tidak menemukan Luna di sana.
"Tidak ada," ucapnya kepada Megan.
"Ayo kita mencarinya," ajak Paula.
Keduanya ke luar dari kamar, mencari Luna di segala ruangan dan tidak menemukannya. Mereka bahkan bertanya pada Pax dan yang lainnya, tapi tidak ada yang melihat Luna. Pax dan yang lainnya kembali memainkan permainan mereka.
"Paman, apa kau melihat Luna?" tanya Paula begitu melihat Louise-ayah Luna, yang baru datang dari arah dapur.
"Paman tidak melihatnya, bukankah kalian bermain bersama?" tanya Louise dengan dahi mengernyit.
"Baiklah, kami akan mencarinya lagi, Paman." Paula memamerkan senyum terbaiknya. Louise pun ikut tersenyum sembari mengacak rambut Paula.
Setelah berpamitan pada Louise, keduanya pun pergi.
"Aku akan mencari ke belakang rumah, kau cari ke tempat lain, Meg. Mungkin dia ada di gudang halaman depan."
Megan mengangguk tanpa membantah. Keduanya berpisah dan pun mulai melakukan pencarian mereka.
Halaman belakang keluarga Willson cukup luas. Terdapat beberapa gudang yang digunakan untuk menampung barang bekas dan beberapa diantaranya digunakan untuk menyimpan makanan ternak. Ya, Willson memiliki beberapa kuda yang mereka beli untuk kesenangan mereka.
Paula memasuki gudang barang bekas. Pintu itu berdecit, menandakan bahwa ruangan itu jarang didatangi. Debu seketika menyambutnya membuat ia terbatuk. Ruangan itu sangat gelap, penerangan cahaya dari pintu yang terbuka tidak cukup baginya untuk melihat dengan jelas. Paula juga tidak menemukan di mana letak saklar lampu, ia memang tidak pernah ke sana sebelumnya.
"Luna," panggil Paula. Tidak ada sahutan sama sekali.
"Luna, apa kau ada di dalam?" Paula melayangkan tatapannya, tanpa sengaja matanya menangkap sebuah lampu petromak. Nasib baik, sebuah korek juga ada di sana. Paula segera menyalakannya. Menenteng lampu bersamanya, ia masuk lebih dalam ke gudang dan ternyata tidak menemukan Luna di sana.
Paula ke luar, dengan membawa lampu ikut bersamanya. Ia memutuskan untuk melihatnya ke gudang tempat keluarganya menyimpan makanan kuda-kuda kesayangan mereka.
Ternyata gudang itu tidak gelap seperti gudang barang bekas yang ia masuki tadi.
"Luna," panggil Paula begitu melihat Luna yang sedang duduk dan memunggunginya. "Kau di sini rupanya."
Luna segera menoleh, Paula meletakkan lampu di lantai dan berjalan menghampiri Luna.
"Aku dan Megan mencarimu kemana-mana. Apa yang kau lakukan di sini?"
"Aku sedang bermain. Kemarilah, Luna. Bermain denganku."
Entah permainan apa yang sedang mereka mainkan, hingga api melahap semuanya.
Gudang itu sudah tidak terlihat lagi, semuanya sudah rata dengan tanah. Kobaran api melahap habis dalam hitungan menit. Semuanya terjadi begitu cepat.
Namun sayangnya bukan hanya gudang itu saja yang lenyap tak bersisa. Satu nyawa juga ikut melayang dalam insiden kebakaran itu.
Louise, Ayah Luna, terjebak setelah menyelamatkan keduanya. Luna dan Paula dilarikan ke rumah sakit.
Paula membuka matanya secara perlahan. Beberapa wajah terlihat begitu samar, tapi ia tahu pemilik suara itu adalah Daddy, Mommy, Kakek dan Neneknya.
Matanya pun terbuka secara sempurna. Kini ia bisa melihat dengan jelas wajah-wajah penuh khawatir dari keluarganya.
"Sayang," ibunya segera duduk di ranjang dan memeluk putrinya. "Terima kasih sudah bangun," wanita itu membanjiri wajahnya dengan ciuman bertubi-tubi. "Oh, terima kasih, Tuhan," akhirnya ia bisa bernapas lega.
Paula yang masih bingung mendapati dirinya berada di ranjang rumah sakit, hanya bisa diam dan terpaku saat keluarganya memeluknya satu persatu-satu. Bukan hanya Mommy-nya, ia juga melihat Daddy-nya menangis.
"Kau hampir membuat jantung Daddy berhenti berdetak," Lucas memeluk erat putrinya membanjiri puncak kepala Puala dengan ciuman penuh kasih sayang.
Pax dan Pollux juga ada di sana. Mereka bahkan sampai menangis saat memeluk adik kesayangan mereka itu.
Satu minggu setelah kepulihannya, ia tidak juga melihat Aaron mengunjunginya. Semua keluarganya sudah membesuk, kecuali Aaron dan juga Luna.
"Aku senang kau sudah sadar," Megan menangis dan memeluknya. Kedua sahabat itu saling berpelukan.
"Luna?" tanya Paula akhirnya. Ia juga belum mendengar kabar gadis itu. Keluarganya juga tidak memberi tahunya.
"Dia baik-baik saja, tapi.." Megan terlihat enggan untuk bersuara.
"Tapi apa?" tanya Paula penasaran.
"Ayahnya meninggal."
Paula terhenyak mendengar kabar itu, kenapa keluarganya tidak mengatakannya.
"Paula, itu bukan salahmu." Megan menarik Paula ke dalam pelukannya, gadis itu terlihat shock sehingga ia tidak bisa berkata apa-apa.
Satu minggu berlalu, dan bahkan sudah berganti bulan, Aaron tidak juga menunjukkan batang hidungnya di hadapan Paula. Dan hari ini ia dan keluarganya akan berkunjung ke rumah Aaron untuk menghadiri acara ulang tahun sepupu mereka itu.
Paula sangat antusias, ia sangat senang karena ia akhirnya akan bertemu dengan Aaron.
Sesampainya di rumah Aaron, Paula segera mencari keberadaan Aaron. Tidak menemukannya, ia segera menuju kamarnya. Pintu tidak terkunci, ia tersenyum begitu tangannya mencapai gagang pintu.
"Tidak. Aku akan di sini." senyum di wajah Paula memudar melihat Aaron memeluk dan menenangkan Luna.
"Tapi bukankah dia princessmu?" tanya Luna.
"Kapan aku mengatakannya?" tanya Aaron yang membuat hati Paula berdenyut.
"Aa_Aaron?" panggil Paula yang membuat keduanya menoleh.
"Lala," Aaron terlihat terkejut dengan kehadiran Paula di kamarnya.
"Lala, kau sudah datang. Aku senang kau sudah sadar." Luna segera menghampirinya. "Lala, lupakan kejadian itu, aku juga tidak akan menyalahkanmu karena kematian Ayahku," Luna menggenggam kedua tangan Paula.
Paula menatapnya dengan tajam, lalu menghempaskan tangan Luna dengan kasar.
"Paula!" bentak Aaron dan segera berdiri.
"Dia menuduhku." ucap Paula tidak terima.
"Kau memang penyebabnya, kau yang membawa lampu itu ke sana. Kau... kau... Ayahku.." Luna mulai menangis. "Aku jadi sebatang kara, sementara kau tidak kehilangan apa-apa sama sekali,"
"Tenanglah, Luna." Aaron menghampirinya, dan merangkulnya.
"Aaron," panggil Paula.
"Keluarlah." perintah Aaron tanpa menoleh ke arahnya.