Benci jadi Cinta. Mungkin itulah ungkapan yang bisa menggambarkan perasaan Dimas. Namun bagaimana bila cinta yang tengah bersemi itu datang di saat yang tidak tepat?? Bahkan bercokol dengan sangat dalam hingga menutupi semua akal sehat, logika, dan dosa.
Hasrat yang begitu pekat teraduk dengan begitu indah dalam naungan gelora asmara.
Bahagia namun khawatir.
Senang namun takut.
Ketakutan dan juga kekhawatiran itu seakan tak lagi berarti saat geliat yang terjadi membakar gairah sampai menghanguskan nurani.
Cinta yang muncul di kala keduanya berstatus sebagai ibu dan anak. Cinta yang dianggap tabu oleh masyarakat. Cinta terlarang yang tak bisa mereka gapai.
Batasan norma menjadi penghalang bagi hubungan keduanya. Luna sang ibu tiri harus memilih antara mempertahankan rumah tangganya, atau memilih cintanya?
"Aku akan membuatmu bahagia, Lun. Meski itu berarti harus membuat semua dunia membenciku." Tatapan lembut Dimas membius Luna, di antara tetesan air shower, pandangan mereka saling mengunci.
"Dikucilkan pun aku tak peduli, Mas. Asal kamu selalu bersamaku." Luna mencium bibir Dimas lekat.
Sebuah Cinta yang muncul di saat yang tidak tepat, apakah bisa membawa mereka pada kebahagiaan sejati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devy Meliana Sugianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Pertama
Malam pertama harusnya menjadi malam paling indah bagi kedua mempelai. Sudah selayaknya malam indah itu menjadi malam yang tak terlupakan bagi keduanya. Menjadi malam yang panjang untuk berpeluh bersama. Memadu kasih, merengkuh kenikmatan bersama.
Namun bagaimana kalau ternyata bukan suami yang menikmati tubuh istrinya untuk yang pertama kali melainkan anak tirinya?
Dimas menatap wajah cantik Luna, wajah itu terlihat damai saat tidur dalam pengaruh alkohol. Bulu matanya yang panjang begitu lentik, hidung Luna juga mancung, bibirnya yang mungil sungguh terlihat menggoda.
Dimas mengusap bibir Luna dengan ibu jari sebelum mendaratkan ciuman lembut, belum pernah ia mencium seorang gadis sebelumnya. Meski pun Dimas seorang yang populer, dia bukan lelaki brngsek yang suka gonta ganti wanita. Dimas punya standart yang tinggi tentang tipe idealnya.
Luna merasa aneh saat tangan Dimas beralih ke tempat lain. Turun dari leher, ke arah bawah, memainkan semuanya perlahan-lahan hingga membuat kedua kaki Luna belingsatan. Kaki jenjang yang mulus itu bergerak pelan di antara kedua paha Dimas.
Tak hanya tangan yang turun, kepala Dimas ikut bergrilya kemana-mana, merajai lekukan tubuh Luna dengan bebas. Mengguyur gadis itu dengan sensasi yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
Dimas membuka kemejanya, melemparkannya sembarangan. Tubuh Dimas begitu atletis karena ia suka berolah raga. Abs kotak enam sisi, lengan kekar, juga bahu yang lebar. Di sisi kanan dada sampai ke pinggang nya ada tatto dengan angka romawi turun dari atas ke bawah.
(Sensor pokoknya begitulah^^)
"Ugh!!" Luna mengerjap pelan, ia berusaha membuka matanya. Tampak bayangan wajah Dimas yang samar karena air mata membuat pengelihatan Luna berkabut.
"Dimas ... hm ... Dim," lirih Luna. Alam bawah sadarnya yang begitu mencintai Dimas mulai merespon kenikmatan yang diberikan Dimas. Luna masih berada di antara ambang batas sadar dan tidak sadar hingga ia terus merancaukan nama Dimas.
[Kenapa dia manggil nama gue?] Batin Dimas kaget, Luna memanggilnya dengan penuh cinta seakan memang hanya Dimas yang Luna inginkan untuk menghabiskan malam pertamanya.
(Sensor)
Dimas melakukannya berkali-kali sampai Luna kelelahan. Gadis itu mulai membalas permainan Dimas, meski masih belum sepenuhnya sadar, Luna merasakan kalau hubungan yang ia alami itu nyata. Mungkin saat ini memang ia sedang bercinta dengan Surya, namun seakan membayangkan Dimas karena wajah Ayah dan anak itu sangat mirip.
Setelah pelepasan. Alangkah terkejutnya Dimas saat mendapati ada banyak bercak darah di atas sprei putih itu. Dimas tercengang, ia tak berhenti berkedip saat mendapati kalau Luna masih gadis, masih prawan.
Dimas kebingungan, ia pikir Luna adalah gadis nakal jadi sudah pasti banyak pria yang mencicipinya, jadi ia tidak lagi suci. Namun nyatanya Dimas salah, Luna masih gadis dan dia yang telah merebut kegadisan Luna.
"Daamn it, Dim!! Apa yang telah lo lakuin??" Dimas mengumpat pada dirinya sendiri. Dengan kasar Dimas menggosok wajahnya, berusaha untuk tidak panik.
Dimas melihat Luna menggeliat pelan dan meringkuk, mungkin masih sakit. Dimas memakai semua tenaganya saat ber cinta dan itu pasti sangat menyiksa bagi seorang prawan.
"Ah, pantes aja sempit." Dimas malah mikiran hal yang lain, dasar bocah mesum.
"Sorry deh, anggap aja impas, gue juga masih perjaka!" Dimas memakaikan kembali gaun tidur pada tubuh polos Luna lantas menutupinya dengan selimut.
Setelah merapikan diri, Dimas keluar dari kamar pengantin. Hatinya diliputi oleh rasa bersalah. Dimas merasa seperti binatang karena me niduri ibu tirinya sendiri. Merebut kepe rawanan Luna yang seharusnya dipersembahkan untuk sang ayah.
"Kenapa jadi nggak tenang sih?!" gerutu Dimas.
Rasanya gusar sampai ingin mengubur dirinya sendiri ke dalam lumpur. Bagaimana kalau ayahnya tahu bahwa Dimas yang menyentuh Luna pertama kali?
[Semoga nggak ketahuan!!] batin Dimas
...-- BERSAMBUNG --...
lebih baik luma sembuh dan mereka berpisah.. jalani hidup masing2..