Sinopsis: Mati konyol akibat tersedak tutup pulpen saat mencoba pamer trik sulap di depan kucingnya, Raditya dilempar oleh Dewa Administrasi yang burnout ke Aethelgard—dunia fantasi purba yang super kejam dan mematikan.
Bukannya dibekali pedang suci atau sihir penghancur masal, Raditya hanya diberi sebuah Sistem Survival yang hobi menghujat, bermulut sarkas, dan gemar memberikan hadiah absurd seperti panci aluminium. Tanpa kemampuan bertarung, Raditya terpaksa mengandalkan logika Bumi yang pas-pasan, keberuntungan yang aneh, dan adu bacot dengan sistemnya sendiri demi tidak mati untuk kedua kalinya di dasar rantai makanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'Silent Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: Penembak Jitu Cabai Mercon vs Kadal Berbisa
Ding!
[Transaksi Berhasil!]
Item Diperoleh: 1x Ketapel Berburu Taktis 'Super-Bumi'.
Sisa Saldo Poin Anda: 180 Poin.
Catatan Sistem: Senjata telah disinkronisasikan dengan Gelar [Pelempar Sayur Profesional]. Akurasi tembakan berbasis proyektil organik meningkat sebesar 15%. Target yang terkena akan mengalami kebingungan emosional.
Sebuah benda bermaterial polimer hitam legam jatuh dari udara, tepat ke dalam tangkapan tangan Raditya. Ketapel ini bukan ketapel kayu sembarangan yang biasa dipakai anak-anak untuk berburu burung di kampung halaman. Ini adalah ketapel taktis dengan handgrip ergonomis, keker laser merah redup di bagian samping, dan karet pegas ganda berbahan lateks militer yang sangat tebal.
"Gila, keren banget! Ini baru modal buat survive!" Raditya tersenyum lebar, menimang ketapel tersebut dengan bangga.
Namun, senjata keren ini tidak ada artinya jika tidak ada peluru. Raditya meraba kantong celananya. Dia masih memiliki sisa potongan Cabai Aether Kuno yang dia iris di dalam goa tadi, serta beberapa butir Jamur Batu Tawar yang teksturnya sekeras karet ban bekas.
"Sistem, kalau jamur karet ini dijadikan peluru, efeknya bagaimana?"
[Analisis]: Jamur Batu Tawar memiliki bentuk bulat sempurna jika dipotong kecil-kecil. Dikombinasikan dengan ketapel Anda, daya hantamnya setara dengan peluru gotri besi. Cukup untuk memecahkan batok kepala reptil kecil.
"Sempurna. Panggil aku Raditya, Sang Sniper Sayur."
Raditya mulai melangkah menuruni bukit batu menuju padang gersang yang ada di bawahnya. Sesuai radar pada mini-map, area ini adalah wilayah kekuasaan Kadal Pasir Berbisa. Tanah di sini berwarna abu-abu pucat, kering, dan dipenuhi oleh ratusan lubang berdiameter seukuran lengan orang dewasa.
Baru saja Raditya menapakkan kakinya di tanah padang tersebut, permukaan tanah di depannya mulai bergetar.
SREK... SREK...
Dari dalam tiga lubang yang berbeda, muncullah sekelompok reptil yang sangat mengerikan. Panjang mereka sekitar satu meter, berkulit sisik abu-abu yang menyatu sempurna dengan warna tanah, tetapi memiliki leher yang bisa mengembang laksana ular kobra. Di ujung ekor mereka, ada jarum penyengat yang meneteskan cairan bening berbau asam.
Kadal-kadal itu langsung menegakkan tubuh mereka, mengendus udara sekilas, dan mata merah mereka langsung mengunci ke arah Raditya. Lebih tepatnya, mereka tertarik dengan bau busuk kotoran Ogre yang menempel di sekujur tubuh Raditya. Bagi kadal-kadal ini, bau itu seperti aroma pesta barbeku gratisan.
"HISSSSSS!"
Ketiga kadal itu bergerak maju secara bersamaan dengan kecepatan yang luar biasa, meliuk-liuk di atas tanah gersang.
"Oke, oke, jangan panik! Ingat tutorial main game FPS!" Raditya mengambil posisi kuda-kuda yang kokoh.
Tangan kanannya merogoh saku, mengambil sebutir potongan Jamur Batu Tawar yang sudah dia bulatkan, lalu memasukkannya ke dalam kantong kulit ketapel. Dia menarik karet lateks ketapel itu sekuat tenaga hingga otot lengannya yang lembek menegang. Keker laser merah dari ketapel otomatis menyala, memproyeksikan titik merah tepat di dahi kadal terdepan.
Ding!
[Gelar Aktif]: [Pelempar Sayur Profesional]
Kondisi: Fokus terkunci. Akurasi +15%.
Persentase Mengenai Sasaran: 94%.
"Rasakan ini, dasar reptil kurang gizi!"
JEPREEEEEET!
Suara lecutan karet ketapel menggema. Peluru jamur keras itu melesat membelah udara dengan kecepatan tinggi, menciptakan suara siulan tipis.
TAK!
Tembakan yang sangat presisi! Peluru jamur itu menghantam tepat di tengah dahi kadal pertama dengan kekuatan penuh. Suara hantamannya terdengar seperti batu yang dipukulkan ke batok kelapa. Kadal itu langsung terhenti seketika, matanya berputar-putar, dan tubuhnya ambruk ke tanah dengan kaki yang kejang-kejang di udara.
Ding!
[Efek Gelar Aktif]: Kadal Pasir mengalami efek 'Bingung' karena tidak paham mengapa dahi mereka dihantam oleh sebutir jamur hambar berkecepatan tinggi. Target lumpuh selama 5 detik.
"Hahaha! Berhasil!" Raditya bersorak.
Namun, dua kadal lainnya tidak memedulikan nasib temannya. Mereka justru semakin mempercepat lari mereka, jaraknya kini tinggal lima meter dari posisi Raditya. Air liur berbisa mereka mulai disemprotkan ke udara, membuat tanah batu yang terkena cipratannya berasap dan meleleh.
"Waduh, main semprot-semprotan ternyata!"
Raditya panik. Dalam kondisi terdesak, dia salah merogoh saku. Bukannya mengambil jamur biasa, tangan kanannya justru mengambil potongan kecil Cabai Aether Kuno yang masih mengandung sisa lava merah mercon cair.
"Ah, masa bodoh! Pakai ini saja!"
Raditya memasang potongan cabai merah menyala itu ke ketapelnya, menarik karetnya dengan cepat tanpa sempat membidik dengan laser, lalu melepaskannya ke arah mulut kadal kedua yang sedang menganga bersiap menggigit kakinya.
JEPRET!
Peluru cabai merah itu melesat indah, dan dengan keberuntungan komedi yang absurd, potongan cabai itu masuk plop tepat ke dalam tenggorokan kadal kedua yang sedang membuka mulutnya lebar-lebar.
Kadal kedua itu langsung mengerem mendadak. Tubuhnya menegang.
Selama dua detik, tidak ada yang terjadi. Kemudian, mata merah kadal itu mendadak melotot hingga hampir copot. Seluruh sisik abu-abunya perlahan-lahan berubah menjadi warna merah cerah, dan kepulan asap hitam pekat mulai keluar dari kedua lubang telinganya.
"HISS—HOOOOTTTT!"
Kadal itu mengeluarkan suara jeritan yang sangat aneh. Efek rasa pedas tingkat dewa dari Cabai Aether Kuno langsung membakar habis seluruh sistem saraf reptilnya. Kadal itu mulai berlari berputar-putar seperti gasing rusak, menabrak batuan di sekitarnya, sebelum akhirnya melompat panik dan masuk kembali ke dalam lubang tanahnya sendiri dengan ekor yang terbakar api kecil.
Kadal ketiga yang melihat temannya baru saja "bertransformasi menjadi naga" langsung menghentikan langkahnya. Makhluk itu menatap Raditya, lalu menatap lubang tempat temannya kabur, dan otak kecil reptilnya mendadak menyimpulkan satu hal: Manusia bau di depan ini adalah penyihir api yang sangat kejam.
Tanpa menunggu peluru ketiga dari Raditya, kadal terakhir itu langsung berbalik arah, memacu keempat kaki kecilnya secepat mungkin, melarikan diri kembali ke sarangnya dengan ketakutan yang amat sangat.
Suasana padang gersang itu kembali menjadi sunyi, menyisakan satu kadal pertama yang masih pingsan dengan dahi benjol akibat jamur.
Raditya menurunkan ketapelnya, napasnya terengah-engah, tetapi senyum kemenangan terukir di wajahnya yang kotor. Dia menepuk ketapel taktisnya dengan sayang. "Senjata ini... bener-bener gak masuk akal, tapi efisien banget."
Ding!
[Pertempuran Selesai!]
Evaluasi: Anda berhasil mengalahkan sekelompok monster berbisa menggunakan metode perang gerilya berbasis sayuran.
Reputasi Baru diperoleh: Anda kini ditakuti oleh komunitas reptil lokal sebagai 'Teror Merah Berbau Busuk'.
Kemajuan Misi Utama: 50% Selesai. Jarak menuju Reruntuhan Pos Pengawas tinggal 1 Kilometer lagi.
Raditya melihat ke langit. Matahari Aethelgard di balik kanopi ungu mulai turun, menandakan sore hari akan segera berganti menjadi malam yang mematikan. Dia tidak boleh membuang waktu lagi di padang ini.
"Sistem, ayo jalan cepat. Aku sudah tidak sabar untuk menukarkan poin dengan sabun mandi. Bauku ini beneran sudah mulai mengkristal di baju!"
Sambil bersiul kecil dengan ketapel yang siap siaga di tangannya, Raditya melanjutkan langkahnya menembus sisa padang gersang, menuju ke arah menara batu kuno yang tampak menjulang tinggi di kaki cakrawala.