Gisella terbangun dalam tubuh seorang wanita figuran dengan nama yang sama di dalam sebuah novel roman. Sialnya, momen transmigrasinya terjadi tepat saat sang suami, Adrian Arthur—seorang profesor riset jenius berusia 27 tahun yang dingin dan kaku—menyodorkan surat cerai di atas meja.
Mampukah Gisella mengubah takdir kematian tragisnya dan bertahan di samping sang profesor jenius, ataukah waktu satu bulan itu akan tetap menjadi akhir dari kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririne Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 34: Pembelaan di Depan Elena
Pengakuan di kamar nomor dua malam itu tidak berakhir dengan perdebatan sains yang melelahkan.
Ketika Gisella membeberkan segalanya—tentang jiwanya yang melintasi dimensi, tentang buku Belenggu Cinta di Aethelgard, dan bagaimana semua catatan di jurnal cokelat itu adalah upaya mitigasi krisis demi melindunginya—Adrian tidak memanggil dokter jiwa.
Pria itu hanya duduk diam selama satu jam, memandangi draf mitigasi sabotase laboratorium dengan ketelitian seorang ilmuwan yang sedang menelaah teori kuantum baru.
"Logikaku menolak ini,"
ucap Adrian malam itu, suaranya parau namun matanya memancarkan kedalaman rasa yang tak terukur.
"Tetapi denyut jantungmu yang stabil dan air matamu tidak menunjukkan indikasi manipulasi psikologis. Jika kau adalah jiwa baru yang dikirim untuk menyelamatkanku, maka aku akan menerima anomali ini sebagai takdir terbaik dalam hidupku."
Namun, badai di kediaman Arthur belum sepenuhnya mereda.
Jika Adrian bisa menerima kebenaran tersebut dengan logika cintanya, tidak demikian dengan struktur sosial keluarga besar Arthur.
Senin sore, sebuah kereta kuda mewah berlogo singa perak—lambang keluarga utama Arthur—berhenti di depan pagar besi halaman.
Tamu yang turun kali ini bukan lagi parasit seperti Catherine, melainkan sang matriark sejati: Nyonya Elena Arthur, ibu kandung Adrian dan Valerie.
Atmosfer di ruang tengah seketika berubah menjadi sidang formal.
Nyonya Elena duduk di sofa utama dengan keanggunan yang mengintimidasi.
Gaun sutra hitamnya yang bersahaja justru memancarkan otoritas mutlak.
Di sampingnya, Valerie duduk dengan kepala tertunduk, sementara Adrian berdiri di dekat jendela besar, tangannya bersendekep dengan rahang yang mengeras.
Nyonya Catherine rupanya tidak benar-benar pergi dari kota setelah diusir.
Wanita itu telah mengirimkan surat penuh distorsi fakta kepada Elena, menuduh Gisella telah menyiksa Valerie, mencuci otak Adrian, dan menyembunyikan dokumen rahasia universitas untuk menghancurkan nama baik keluarga.
"Aku datang bukan karena memercayai drama murahan ibumu, Gisella,"
buka Elena, suaranya tenang namun memiliki daya tekan yang luar biasa.
Sepasang mata tuanya yang tajam menatap Gisella yang duduk tenang di seberangnya.
"Namun, ketika nama baik universitas dan keselamatan Valerie disebut-sebut, aku tidak bisa diam saja di mansion luar."
Elena mengetuk meja dengan ujung jarinya yang dihiasi cincin giok.
"Kudengar dari pelayan, kemarin terjadi keributan besar. Dan ibumu menyebutkan tentang sebuah buku catatan rahasia berisi formula universitas yang kau sembunyikan di kamarmu. Benar begitu, Adrian?"
Sebelum Adrian sempat melangkah maju untuk memotong pembicaraan demi melindungi istrinya, Gisella sudah lebih dulu menegakkan punggungnya.
Dia memberikan isyarat halus dengan tatapan matanya agar Adrian tetap di tempatnya. Ini adalah panggungnya.
"Nyonya Elena,"
panggil Gisella, suaranya terdengar sangat jernih dan penuh rasa hormat, tanpa ada sedikit pun nada gemetar atau kepanikan yang biasa ditunjukkan oleh Gisella masa lalu.
"Informasi yang Anda terima dari Nyonya Catherine adalah sebuah distorsi informasi yang sengaja dirancang untuk menutupi kegagalannya dalam melakukan pemerasan finansial di rumah ini."
Elena mengangkat sebelah alisnya, sedikit terkejut dengan ketenangan vokal Gisella.
"Lalu bagaimana kau menjelaskan tentang buku catatan yang diributkan itu?"
Gisella tidak menjawab dengan kata-kata.
Dia merogoh tas kecilnya dan mengeluarkan buku catatan bersampul kulit cokelat tua itu—buku yang semalam telah menyatukan jiwanya dengan Adrian.
Dia meletakkannya di atas meja marmer, lalu menggesernya dengan sopan ke hadapan Elena.
"Buku ini memang ada. Dan saya sendiri yang menulisnya," ucap Gisella lugas.
"Gisella,"
desis Adrian memperingatkan, khawatir ibunya akan salah paham. Namun Gisella tetap tenang.
"Silakan Anda buka halaman pertama, Nyonya,"
lanjut Gisella tenang.
Elena dengan gerakan anggun membuka halaman pertama buku tersebut.
Kerutan di dahinya perlahan muncul saat matanya membaca baris demi baris tulisan tangan Gisella yang rapi dan geometris.
"Ini... daftar diet rendah natrium dan jadwal terapi uap?"
gumam Elena, suaranya sedikit kehilangan nada dinginnya.
"Itu adalah draf Manajemen Kesehatan untuk Anda, Nyonya Elena,"
jelas Gisella, matanya memancarkan ketulusan seorang profesional.
"Saya mengamati catatan medis Anda yang tertinggal di paviliun. Anda sering mengalami sesak napas saat transisi musim gugur ke musim dingin karena kadar kelembapan udara kota Aethelgard yang buruk. Saya menyusun draf nutrisi itu agar pelayan di mansion luar bisa menjaga kondisi tubuh Anda sebelum gejala asma Anda memburuk Desember nanti."
Elena tertegun.
Dia membalik halaman berikutnya, dan matanya menangkap analisis risiko faksi universitas serta strategi humas untuk melindungi paten riset Adrian.
Tidak ada satu pun formula curian; yang ada hanyalah sistem pertahanan berlapis untuk menjaga reputasi Adrian.
"Dan tentang Valerie..."
Gisella menoleh ke arah adik iparnya yang masih menunduk.
"Kemarin, Nyonya Catherine datang dan mencoba merendahkan Valerie, menyebutnya dengan kata-kata yang tidak pantas. Saya mengambil tindakan tegas untuk mengusirnya dan memanggil keamanan distrik semata-mata demi menjaga kesehatan mental dan kehormatan Valerie sebagai seorang Arthur. Valerie sendiri bisa memberikan kesaksian atas hal itu."
Mendengar namanya disebut, Valerie langsung mendongak.
Dengan mata yang berkaca-kaca namun penuh keberanian, gadis muda itu memegang tangan ibunya.
"Itu benar, Ibu!"
seru Valerie dengan suara bergetar.
"Gisella tidak seperti dulu lagi. Kemarin, saat Nyonya Catherine ingin memukulku dan menghinaku, Gisella berdiri di depanku seperti sebuah tameng. Dia melindungiku, Ibu. Jika bukan karena Gisella, aku mungkin sudah mengalami trauma berat lagi sekarang. Tolong jangan percayai surat fitnah itu!"
Ruang tengah itu seketika diliputi keheningan yang magis.
Elena menatap buku catatan cokelat di tangannya, lalu beralih menatap Valerie, dan akhirnya pandangannya tertuju pada Adrian.
Adrian melangkah mendekat, berdiri tepat di samping kursi Gisella, lalu meletakkan tangan kokohnya di atas bahu sang istri—sebuah gestur kepemilikan dan perlindungan mutlak yang belum pernah dia tunjukkan di depan ibunya selama ini.
"Logika dan tindakan Gisella selama seminggu terakhir adalah alasan mengapa rumah ini masih berdiri tegak, Ibu,"
ucap Adrian, suaranya berat dan penuh wibawa.
"Jika Ibu meragukan integritas wanita yang berada di sampingku ini, maka Ibu juga sedang meragukan keputusanku sebagai seorang pria."
Elena Arthur menatap menantunya dengan pandangan yang mendalam.
Sebagai seorang wanita yang telah puluhan tahun memimpin keluarga utama, dia tahu bagaimana cara membedakan antara kepura-puraan dan ketulusan murni.
Anggunnya sikap Gisella, keberaniannya membela Valerie, dan detail perlindungan dalam jurnal cokelat itu adalah bukti otentik yang tidak bisa dibantah oleh fitnah apa pun.
Perlahan, ketegangan di wajah Elena mencair.
Dia menutup buku catatan cokelat itu, lalu menggesernya kembali ke arah Gisella.
Sebuah senyuman tipis, namun penuh dengan rasa hormat yang tulus, terukir di wajah sang matriark.
"Ibumu adalah seorang pembohong yang buruk, Gisella," ucap Elena, suaranya kini terdengar hangat.
"Tapi kau... kau adalah kejutan terbaik yang pernah dikirimkan ke dalam rumah ini. Terima kasih telah menjaga anak-anakku dengan caramu yang luar biasa."
Mendengar pembelaan yang berakhir dengan penerimaan mutlak itu, Gisella mengembuskan napas lega yang teramat sangat.
Di bawah genggaman tangan Adrian di bahunya, dia tahu bahwa satu demi satu benang takdir yang tragis dalam novel ini telah berhasil dia urai menjadi sebuah akhir yang baru.
ditunggu updatenya
pengen tau pasti tentang cinta Mereka...