Angin malam berhembus dingin, membawa aroma pinus yang tajam menyapu halaman belakang sekte pinggiran. Lin Chen duduk bersila di atas batu basal yang dingin, menarik napas panjang. Malam ini terasa berbeda. Setelah bertahun-tahun menderita dan dihina oleh sesama murid, ia akhirnya bangkit dan menyadari satu kebenaran mutlak yang selama ini tertidur di dalam darahnya: tubuhnya sama sekali bukanlah sampah. Meridian yang selama ini tersumbat perlahan mulai beresonansi, menandakan ia telah melangkah mantap di tahap awal kultivasi, yakni ranah Penempaan Tubuh.
Ia membuka mata perlahan. Tepat pada saat itu, dari kejauhan di bawah cahaya bulan purnama yang pucat, pandangannya tertuju pada sesosok gadis yang sedang berdiri di anjungan tebing.
Gadis itu adalah Su Qingyue. Untuk pertama kalinya, Lin Chen melihatnya dari jarak sejauh ini, tampak sangat dingin dan cantik tiada tara, seolah-olah ia bukanlah makhluk yang berasal dari dunia yang fana ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: Gulungan Hitam
Suasana di dalam Paviliun Kitab sekte pinggiran itu terasa hening, hanya diselingi suara gemerisik kertas dari beberapa murid yang sedang membolak-balik halaman. Mengabaikan tatapan heran dari murid-murid lain, Lin Chen berjalan lurus melewati rak-rak kayu berpelitur rapi yang memajang berbagai gulungan teknik dasar bela diri.
Ia terus melangkah menuju bagian paling belakang di lantai satu, sebuah area yang jarang disentuh karena berisi tumpukan perkamen rusak, bambu usang, dan catatan-catatan gagal dari para tetua terdahulu. Debu setebal satu inci menutupi lantai kayu di sana.
"Terus ke ujung, Bocah! Di sebelah kiri, di bawah rak yang kaki kayunya sudah dimakan rayap itu!"perintah Tua Hitam dari dalam kepalanya.Roh kuno yang bersemayam di dalam Cincin Hitam itu memang selalu sibuk mengomel dan menyombongkan masa lalunya.
Lin Chen berjongkok, mengibaskan jaring laba-laba tebal, dan menarik sebuah kotak kayu yang sudah setengah hancur. Di dalamnya, tergeletak sebuah gulungan bambu berwarna hitam pekat. Tidak ada nama yang terukir di permukaannya. Saat Lin Chen menyentuhnya, gulungan itu terasa sangat dingin, seolah menyerap panas dari ujung jarinya.
"Gulungan apa ini, Tua Hitam? Tidak ada tulisan sepatah kata pun," gumam Lin Chen dalam hati.
"Hah! Di mataku, itu tak lebih dari kertas bungkus kacang. Tapi untuk tubuh kurusmu yang baru menyentuh ranah Penempaan Tubuh, itu adalah fondasi yang lumayan,"cibir Tua Hitam dengan pongah."Masukkan sedikit energi Qi-mu ke dalamnya. Gulungan itu dilapisi segel roh tingkat rendah yang hanya bisa dibuka dengan paksa."
Lin Chen memusatkan energi murninya dari pusat Dantian dan mengalirkannya ke telapak tangan. Begitu Qi-nya menyentuh bambu hitam tersebut, sebuah cahaya kelabu memancar redup. Informasi dalam bentuk aliran ingatan langsung melesat masuk ke dalam pikiran Lin Chen.
"Teknik Penempaan Tubuh Gajah Purba."
Hanya dengan membaca baris pertama dari teknik itu, Lin Chen langsung merasakan sakit kepala yang luar biasa. Ini bukanlah teknik bela diri biasa. Alih-alih menyerap energi spiritual dari alam untuk memperkuat meridian, teknik ini menggunakan energi spiritual untuk menghancurkan otot dan tulang dari dalam, lalu membentuknya kembali menjadi jauh lebih padat dan keras. Prosesnya digambarkan setara dengan penderitaan direbus di dalam kawah magma.
"Bagaimana? Berani mencobanya? Teknik ini akan menyiksa tubuhmu, tapi hasilnya akan sepadan. Nanti, setelah ototmu sekeras baja, kau bisa berjalan ke hadapan gadis es itu, merobek bajumu, dan memamerkan dadamu yang bidang! Aku berani jamin, dia akan langsung memelukmu sambil menangis bahagia!"Tua Hitam tertawa puas dengan rencananya sendiri.
Teknik ini memang menyakitkan, tetapi inilah yang ia butuhkan. Mengetahui bahwa Su Qingyue akan segera melangkah ke panggung yang lebih besar seperti Akademi Bintang Tujuh, Lin Chen menyadari bahwa ia tidak boleh tertinggal. Jarak di antara mereka saat ini bagaikan bumi dan langit. Jika ia hanya menggunakan cara kultivasi biasa, ia butuh waktu puluhan tahun untuk menyusul.
"Aku akan mengambilnya," putus Lin Chen mantap. Ia menyimpan gulungan bambu hitam itu ke balik jubahnya.
Ia tidak peduli seberapa besar rasa sakit yang menanti. Ia tahu bahwa benih-benih takdirnya sedang tumbuh di tengah kerasnya kesulitan dunia kultivasi ini. Di masa lalu, ia hanya bisa melihat gadis itu dari kejauhan dan berpikir bahwa jalan mereka pasti jauh berbeda. Namun, hari ini, tujuannya telah terkunci dengan jelas.
Saat Lin Chen berjalan keluar dari Paviliun Kitab, sinar matahari siang menyinari wajahnya yang teguh. Waktu sebulan menuju seleksi masuk Akademi Bintang Tujuh akan menjadi bulan paling berat dalam hidupnya. Ia akan menempa tubuhnya hingga mencapai batas maksimal ranah Penempaan Tubuh, dan membuktikan kepada semua orang serta membuktikan pada dirinya sendiri bahwa ia pantas berdiri di tempat yang sama dengan sang dewi es.