Setelah lima tahun berlalu, takdir cinta mempertemukan mereka kembali. Sayang, wanita yang disebut gadis purple olehnya saat menjalani kasih dahulu dan sangat dicintai Azka memilih mengganti identitasnya. Cinta yang begitu kuat dalam diri Azka, tak akan bisa dibohongi. Kenapa dan apa alasannya, wanita yang dulu dicintai kini begitu tak ingin bersamanya kembali. Rahasia apa yang dia sembunyikan, hingga Azka harus berjuang mencari tahu kebenarannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emmy Liana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenyataannya
Riko kembali ke mobilnya, pikirannya langsung berpacu. Sebagai seorang hacker ulung, dia tahu mencari orang yang sengaja menghilang adalah tantangan terberat. Namun, petunjuk dari kecelakaan Azka—yang secara misterius menempatkan mereka di kota yang sama—adalah kebetulan yang terlalu kuat untuk diabaikan.
Riko tahu ini adalah takdir yang harus ia selesaikan, demi sahabatnya.
Dia memarkir mobilnya di sebuah kafe tersembunyi dengan koneksi internet yang aman, jauh dari jangkauan Nyonya Farida. Di balik layar laptopnya yang dipenuhi kode-kode yang mengalir deras, Riko mulai menelusuri. Dia menyaring jutaan data, mencari jejak digital Gwenuella: catatan pajak, pendaftaran kendaraan, pendaftaran sekolah, atau bahkan sekadar transaksi kartu kredit. Dia tidak mencari akun media sosial, karena tahu Gwen pasti sudah menutupnya rapat. Dia mencari data administratif, jejak kehidupan nyata. Riko bahkan menembus sistem keamanan bank lokal, mencari transaksi dengan nama Gwenuella atau nama alias yang mungkin ia gunakan.
Butuh waktu hampir lima jam. Peluh dingin membasahi punggung Riko, tetapi matanya tetap fokus pada layar. Dia bekerja dengan kecepatan yang luar biasa, menggabungkan potongan data dari berbagai sumber—dari catatan kependudukan yang sangat tua hingga database sebuah klinik kesehatan anak. Akhirnya, dia menemukan seberkas data yang menghubungkan nama Gwenuella dengan sebuah alamat sederhana di pinggiran kota. Yang lebih mencengangkan, ada nama lain yang terkait dengan alamat itu: Naka. Umur Naka, berdasarkan data yang Riko temukan dari pendaftaran kependudukan, sesuai dengan pernyataan Nyonya Farida: sekitar empat tahun.
Nyonya Farida benar. Gwen punya anak. Pikiran itu menusuk Riko dengan rasa sakit yang aneh, seolah-olah ia merasakan sedikit patahan hati Azka.
Dia menghela napas panjang, memijat pelipisnya. Ini bukan hanya pencarian; ini adalah misi penyelamatan hati Azka. Riko memutuskan untuk tidak hanya mengirim koordinat. Dia harus melakukan penyelidikan lapangan terlebih dahulu. Azka masih di rumah sakit, terluka, dan hatinya rapuh. Azka tidak boleh melihat kejutan ini tanpa persiapan. Riko harus menjadi tamengnya, memastikan situasi di lapangan aman dan terkelola secara emosional.
Jauh dari kafe tersembunyi itu, di ruang kerjanya yang mewah, Nyonya Farida sedang menyesap teh melati. Di depannya, layar monitor menunjukkan rekaman CCTV dari ruangan Azka, lengkap dengan audio yang jernih. Semua pergerakan Azka dan Riko tidak luput dari mata tajamnya.
“Azka, apa yang terjadi?” tanya Riko... Aku perlu mencari tahu keberadaan Gwen.
Senyum licik terukir di wajah Nyonya Farida. Dia sudah tahu Riko adalah kunci Azka. Tentu saja, dia tahu tentang Gwen—bahkan jauh sebelum Azka mencarinya. Dia tahu Gwenuella ada di kota itu, tentang putranya, Naka, dan bahkan tentang Dokter Fino, seorang pria baik hati yang selalu siap membantu Gwen sebagai seorang sahabat dan figur ayah bagi Naka. Nyonya Farida tidak akan membiarkan reuni yang romantis itu terjadi.
Dia telah menanam benih rencana liciknya, menunggu waktu yang tepat untuk berbuah.
“Hubungi dia,” perintah Nyonya Farida dingin kepada seorang ajudan yang berdiri di sampingnya. “Minta dia datang ke alamat itu. Lima menit setelah Tuan Riko tiba. Pastikan Tuan Riko melihat apa yang perlu dia lihat di alamat itu, dan pastikan dia melihatnya sebelum Azka.”
Ajudan itu mengangguk patuh, segera melaksanakan tugasnya.
Nyonya Farida tertawa pelan. Dia tidak perlu menggunakan kekerasan atau ancaman. Dia hanya perlu memanfaatkan informasi yang dimilikinya dan membiarkan kesalahpahaman bekerja untuknya.
Di rumah sakit, Azka gelisah. Koordinat yang dikirim Riko terasa seperti janji yang terlalu indah untuk dipercaya. Lima tahun kekosongan dan penantian, kini hanya terpisah beberapa kilometer. Dia ingin segera pergi, tetapi rasa sakit di pundaknya membatasi gerak. Ia berulang kali memeriksa ponselnya, menunggu kabar dari Riko.
Pintu ruangan terbuka, dan Riko masuk. Azka langsung bangkit, rasa sakitnya terlupakan.
“Kau sudah melihatnya?” Azka bertanya, suaranya tercekat.
Riko menggeleng, tampak serius. “Belum. Tapi aku akan pergi ke sana sekarang. Kau dengarkan aku baik-baik. Kondisimu belum memungkinkan. Aku akan pergi dulu untuk memastikannya. Kau tunggu di sini.”
“Tidak, Riko. Aku harus…” Azka mencoba memprotes, tetapi Riko memotongnya dengan tegas.
“Tidak ada harus, Azka. Aku menemukan data Naka. Nyonya Farida benar, Gwen punya anak. Aku harus mencari tahu situasinya sebelum kau muncul di depan pintunya dengan tangan kosong dan emosi yang meluap. Biarkan aku yang tangani. Demi kebaikanmu. Kita tidak tahu apakah dia sudah bersama orang lain atau tidak. Kau harus siap untuk kemungkinan terburuk.”
Riko berhasil meyakinkan Azka dengan menyebut nama Nyonya Farida dan Naka, mengingatkannya pada ancaman yang ada.
Azka akhirnya menyerah, pandangan matanya dipenuhi kekhawatiran dan harapan yang campur aduk. “Baiklah,” ia berbisik. “Tapi, segera hubungi aku. Apa pun yang kau temukan, Riko. Aku harus tahu.”
“Tentu,” jawab Riko, menepuk bahu Azka sekali lagi. “Jaga dirimu.
Riko tiba di alamat yang ia lacak. Itu adalah sebuah rumah mungil dengan taman kecil yang asri, terletak di kompleks perumahan sederhana namun terawat. Dia memarkir mobil agak jauh dan berjalan mendekat, menyamar sebagai seseorang yang sedang mencari alamat.
Di taman depan, Gwenuella sedang menyiram bunga. Riko terpaku. Wajahnya tidak banyak berubah, hanya saja garis kelelahan dan ketegasan baru terukir di sana. Dia tampak lebih dewasa, lebih tegar, dan memancarkan aura seorang ibu.
Riko bersembunyi di balik pagar, memperhatikan. Beberapa saat kemudian, seorang anak laki-laki kecil berlari keluar dari rumah, tertawa riang. Rambutnya hitam, matanya cerah—persis mata Azka, pikir Riko dengan rasa sakit yang aneh di hatinya. Itu pasti Naka.
“Mommy, ayo main bola!” seru Naka kepada Gwen, memanggilnya 'mommy'.
Gwen tersenyum tulus, senyum yang sudah lima tahun tidak dilihat Azka. “Tunggu sebentar, sayang. Mommy selesai menyiram ini.”
Tepat pada saat itu, sebuah mobil sederhana berhenti di depan rumah. Seorang pria tampan dengan tubuh atletis keluar dari mobil. Itu adalah Dokter Fino, yang selama ini menjaga Gwenuella dan Naka. Dan sudah menganggap Naka sebagai putranya sendiri. Wajah Dokter Fino memancarkan kehangatan dan kebaikan.
Dia tersenyum hangat kepada Gwen. Riko merasa tegang. Siapa dia?
“Papi sudah datang, Nak. Sini, salim dulu sama papi,” kata Gwen lembut, mengajari anaknya sopan santun.
Naka berlari ke arah Dokter Fino yang disebut sebagai papi bagi Naka. Fino membungkuk, menyambut anak itu dengan pelukan yang erat dan akrab, mengangkat Naka tinggi-tinggi ke udara sebelum menurunkannya lagi. Interaksi ini, yang hanya merupakan persahabatan murni, di mata Riko terlihat sangat mendalam.
“Bagaimana sekolahmu hari ini, Nak? Kamu pasti sudah pintar membaca, ya?” tanya dokter Fino, suaranya penuh kasih. Kemudian, Fino mengacak rambut Naka dan berkata, “Anak papi memang hebat.”
Kata-kata itu, “Anak papi memang hebat,” terdengar seperti guntur di telinga Riko. Dia tidak salah dengar. Andre menyebut dirinya ‘Papi’.
Naka tidak mengoreksi, dan dia tampak bahagia dalam pelukan Fino. Gwen hanya tersenyum melihat interaksi mereka, senyum yang di mata Riko tampak seperti penerimaan atas keluarga barunya dan Ayah dari putranya.
Jantung Riko mencelos. Lima tahun pencarian Azka, semua harapan, semua penolakan terhadap Nyonya Farida, semua itu sia-sia. Ternyata Gwen tidak hanya pergi, dia melanjutkan hidup, membentuk keluarga baru. Dan pria itu, Fino yang baru saja tiba, adalah Ayah dari anak itu. Skema Nyonya Farida berhasil sempurna. Dia hanya perlu meminta Fino, yang memang memiliki hubungan dekat dengan Naka, untuk datang tepat waktu dan berinteraksi seperti biasa.
Riko berhasil memotret beberapa foto kedekatan keluarga kecil itu dari dekat. Kemudian dia mundur perlahan, seolah-olah dia baru saja menyaksikan pengkhianatan terburuk. Pikirannya dipenuhi kekacauan. Azka tidak akan sanggup menerima ini.