Saat ia mengidap penyakit tumor otak pun, ayahnya tidak peduli, istri menceraikannya, dengan sisa tabungan yang ia punya, ia pergi ke rumah sakit untuk operasi, sayangnya ia mati di meja operasi.
Keajaiban pun datang, ia mendapatkan kesempatan hidup sekali lagi dan kendapatkan sistem untuk menjadi dokter hebat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18
Arka mendekati pintu pengemudi. Sebelum jarinya menyentuh permukaan bodi, pintu mobil terangkat ke atas secara otomatis dengan suara hissing hidrolik yang halus.
Swoosh!
Aroma kulit sintetis mahal dan teknologi baru langsung menyengat hidungnya. Interior mobil itu tampak seperti kokpit pesawat tempur futuristik, dasbor penuh dengan panel sentuh yang menyala redup, dan roda kemudi berbentuk yoke seperti di jet tempur.
"Gila... keren banget dalamnya," bisik Arka takjub.
Tanpa ragu, ia melangkah masuk dan mendaratkan bokongnya di kursi pengemudi. Kursi itu langsung menyesuaikan bentuk tubuhnya secara otomatis, memeluk pinggangnya dengan pas.
[Sistem: Pemindaian Biometrik Berhasil. Pengemudi Terkonfirmasi: Arka]
HUMMMMMM!
Suara dengungan rendah yang sangat halus bergetar dari dalam mesin. Tidak ada suara raungan knalpot bising seperti mobil sport konvensional, melainkan desingan energi yang terasa bertenaga dan elegan.
Layar dasbor langsung menampilkan grafik peta area sekitar dan indikator kecepatan.
"Oke, oke, tenang Arka... jangan norak," Arka menepuk kepalanya sendiri, berusaha menahan cengiran di wajahnya. tangannya mencengkeram roda kemudi. "Gimana cara jalannya? Cuma perlu injak pedal kan?"
Arka perlahan menekan pedal gas.
ZWWWOOOSSHHH!
Mobil itu melesat ke depan dengan akselerasi yang begitu menyentak, membuat punggung Arka menempel erat ke sandaran kursi!
"WOAAAH! PELAN-PELAN!" teriak Arka kaget, refleks membanting setir ke kiri untuk menghindari tiang penyangga parkiran bawah tanah.
Creeeech!
Mobil berbelok tajam dengan kestabilan yang luar biasa. Ban serat karbonnya mencengkeram lantai semen dengan sempurna, sama sekali tidak slip.
"Anjay! Responsif banget!" tawa Arka pecah. Rasa kagetnya berubah menjadi sensasi gairah yang membakar adrenalinnya. "Ayo kita keluar dari tempat remang-remang ini!"
Ia menginjak pedal lebih dalam. Hyperion-V membelah kegelapan lorong parkiran bawah tanah dan melesat naik menanjak menuju jalur keluar.
BLAM!
Mobil itu menerobos sisa-sisa palang pintu parkir yang sudah berkarat, melayang tipis di udara, lalu mendarat dengan mulus di atas jalan raya kota.
"Wow... ini sangat luar biasa sekali," kata Arka puas, tangannya tak henti mengelus setir berlapis kulit di mobil barunya.
Krucuk... krucuk...
Arka tiba-tiba menekan perutnya. "Ah, tiba-tiba saja lapar. Ternyata, meskipun sudah naik mobil mewah, tetap tidak bisa meredam kelaparan," katanya terkekeh pada dirinya sendiri. "Uang bisa beli mobil, tapi lambung tetap harus diisi nasi."
Arka membelokkan mobilnya menuju pelataran parkir L’Amour, sebuah restoran mewah bergaya Eropa di pusat kota.
Begitu ia mematikan mesin, seorang petugas valet berseragam rapi langsung menghampirinya.
Petugas itu sedikit terkejut melihat pemuda berkaus kasual dan berjaket denim turun dari mobil yang harganya mencapai puluhan miliar.
"Selamat siang. Biar saya yang memarkirkan mobilnya, Tuan," ucap petugas valet itu dengan sangat sopan.
"Oh, iya. Tolong hati-hati ya, Mas. Masih baru soalnya, saya saja belum hafal ukuran bumpernya," canda Arka sambil menyerahkan kunci, membuat petugas itu tersenyum ramah.
Saat Arka melangkah masuk ke dalam restoran, alunan musik klasik yang lembut langsung menyambutnya.
Lampu kristal raksasa menggantung di langit-langit, memantulkan cahaya keemasan. Ia langsung disambut oleh seorang karyawan wanita di meja resepsionis.
"Selamat datang, silakan masuk, Tuan. Apakah sebelumnya sudah melakukan reservasi?" tanya karyawan itu dengan senyum profesional.
"Belum ada, Mbak. Apa masih ada meja kosong untuk satu orang?" jawab Arka santai.
"Tentu saja masih, Tuan. Mari, saya antar."
"Terima kasih," ucap Arka.
Ia berjalan mengikuti resepsionis tersebut dan memilih untuk duduk di kursi nomor 20, letaknya sangat strategis di dekat jendela kaca besar yang menghadap langsung ke pemandangan kota.
Tak lama setelah ia duduk, seorang pelayan pria dengan rompi hitam datang membawakan buku menu bersampul kulit tebal.
"Silakan, Tuan. Ini menu kami hari ini. Jika Anda membutuhkan rekomendasi, saya siap membantu," ucap pelayan itu.
Arka membuka buku menu tersebut. Matanya langsung menyipit membaca nama-nama makanan yang panjang dan berbahasa asing.
"Pan-seared Foie Gras with Truffle Reduction? Wagyu A5 Tomahawk Steak garnished with 24k Edible Gold? Sulit sekali," batinnya.