Tiga siswa SMA biasa tidak pernah membayangkan hidup mereka akan berubah hanya karena sebuah buku fiksi misterius di perpustakaan sekolah.
Buku itu terbang ke atas air dan membentuk sebuah portal bercahaya tiba-tiba muncul dan menyeret mereka ke masa lalu, tepatnya ke sebuah dinasti Jepang kuno yang sedang berada di ambang kehancuran.
Negeri itu tidak hanya diguncang oleh perebutan kekuasaan di istana, tetapi juga diteror oleh Makhluk Kutukan, entitas mengerikan yang lahir dari kebencian, dendam, dan ambisi manusia. Kehadiran mereka membuat rakyat hidup dalam ketakutan, sementara para bangsawan sibuk saling menjatuhkan demi takhta.
Namun semakin dalam mereka terlibat, semakin mereka menyadari bahwa musuh terbesar bukanlah para monster yang berkeliaran di luar tembok istana, melainkan kegelapan yang bersemayam di hati manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kyc_ibell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33
Malam telah larut.
Keramaian yang sejak sore memenuhi istana kini perlahan menghilang, digantikan oleh ketenangan malam yang hanya ditemani cahaya lentera dan suara jangkrik dari taman-taman istana. Para bangsawan kembali ke kediaman masing-masing untuk beristirahat sebelum agenda esok hari dimulai.
Koridor istana yang panjang tampak lengang di bawah cahaya lentera malam.
Haru berjalan sambil memapah Ryujin yang nyaris tidak mampu melangkah lurus. Pemuda itu setengah menyeret kakinya, sesekali menggumamkan sesuatu yang tidak jelas.
Dari arah berlawanan, tampak sosok berjubah putih kebiruan berjalan dengan tenang.
Master Seijun.
Melihat gurunya, Haru segera menghentikan langkahnya dan membungkukkan badan dengan hormat.
"Selamat malam, Master."
Master Seijun mengangguk pelan.
"Selamat malam, Haru."
Lalu matanya beralih kepada Ryujin yang wajahnya merah karena mabuk.
"Hahaha... sepertinya dia benar-benar menikmati pesta malam ini."
Haru tersenyum canggung.
"Kurasa begitu, Master."
Namun tiba-tiba Ryujin yang sejak tadi menunduk perlahan mengangkat kepalanya. Matanya menatap lurus ke arah Master Seijun. Tatapan yang aneh. Terlalu serius untuk seseorang yang sedang mabuk berat.
"Eh... Ryujin?" gumam Haru.
Tanpa peringatan, Ryujin melepaskan diri dari pegangan Haru lalu berjalan sempoyongan menuju sang master.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Kemudian...
Brukkk
Ryujin berlutut tepat di hadapan Master Seijun. Bahkan sebelum siapa pun sempat bereaksi, kedua tangannya sudah mencengkeram jubah sang master.
Karena kehilangan keseimbangan, tubuhnya ikut melorot hingga hampir tengkurap di lantai sambil tetap menggandoli pakaian Seijun.
....
Haru membeku.
Master Seijun juga membeku.
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, sang master terlihat benar-benar tidak siap menghadapi sesuatu.
"R-Ryujin?!"
Haru panik.
Sementara Master Seijun menatap pemuda yang kini menangis di dekat kakinya.
"Eh?"
Sang master berkedip beberapa kali. Beliau menunduk lagi memastikan apa yang dilihatnya memang nyata.
"Ryujin?"
Ryujin mengangkat wajahnya yang sudah berantakan. Air mata mengalir tanpa henti.
"Master..."
Master Seijun langsung berubah khawatir.
"Ada apa, nak? kenapa kau seperti ini?"
Ryujin terisak.
"Tolong aku, Master..."
"Iya, iya. Kenapa? bicaralah."
Ryujin semakin erat memegang jubahnya. Sampai-sampai Haru khawatir jahitannya akan lepas.
"Master..."
"Ya?"
"Kekuatan sihirmu sangat hebat..."
Master Seijun mengangguk pelan.
"Tolong aku..."
Haru buru-buru menarik bahu Ryujin.
"Ayo berdiri! Jangan membuat masalah!"
Namun Ryujin mengelak dan kembali merapat ke kaki sang master. Master Seijun menatap Haru, lalu kembali menatap Ryujin. Wajahnya kini dipenuhi kebingungan.
"Ada apa sebenarnya, nak? apa yang kau inginkan?"
Ryujin menunduk. Bahunya bergetar. Lalu dengan suara yang nyaris pecah, dia berkata,
"...Tolong buatlah keajaiban..."
Koridor kembali hening. Bahkan suara angin malam terasa lebih jelas. Master Seijun terdiam cukup lama.
Sementara Haru ingin sekali menghilang dari dunia karena rasa malu.
"Ryujin..."
Haru kembali menariknya. Kali ini dengan sedikit lebih paksa.
"Ayo pulang."
Ryujin masih berusaha bertahan beberapa detik sebelum akhirnya menyerah dan membiarkan dirinya dipapah. Haru segera membungkuk dalam-dalam.
"Maafkan kami, Master. Dia benar-benar kehilangan kendali."
Master Seijun menghela napas kecil.
Tatapannya mengikuti Ryujin yang masih terlihat murung meski dalam keadaan mabuk.
"Kurasa dia sedang tidak baik-baik saja."
Haru terdiam.
Master Seijun tersenyum tipis.
"Mungkin hari ini tidak ada masalah serius. Tapi sekarang dia adalah masalahmu, Haru."
Haru hanya bisa tersenyum kaku.
"Bawa dia segera beristirahat."
"Baik, Master."
"Aku sangat kasihan padanya." ucap Master Seijun sambil menatap Ryujin.
Haru mengangguk pelan lalu kembali melanjutkan perjalanan sambil menopang Ryujin. Tak lama kemudian keduanya menghilang di ujung koridor.
Master Seijun tetap berdiri di tempatnya. Angin malam berhembus pelan melewati jubahnya. Beliau menatap kosong ke arah mereka pergi.
....
Lalu mengusap wajahnya perlahan.
"Aku tidak menyangka."
Sang master tertawa kecil penuh keheranan.
"Jadi seperti itu rupanya perilaku Ryujin saat mabuk. Sulit dipercaya."
"Pemuda yang biasanya tegas, tenang, dan selalu menjaga wibawa itu menangis di bawah kakiku sambil meminta sebuah keajaiban."
Dan entah mengapa, pemandangan itu justru meninggalkan rasa pilu di hati Master Seijun. Seolah di balik air mata dan mabuknya, ada luka yang bahkan tidak mampu diungkapkan Ryujin saat dia sadar.
---
Sementara itu, jauh di sayap timur istana. Putri Hikari telah kembali ke kamarnya. Para dayang sudah pamit meninggalkannya untuk beristirahat. Kini hanya ada dirinya, cahaya lentera hangat, dan keheningan malam.
Di atas meja kecil di dekat jendela terletak sebuah kotak hadiah.
Hadiah dari Fumiro.
Tatapan Hikari tanpa sadar terus kembali pada kotak itu sejak tadi. Akhirnya dia meraih kotak tersebut dan membukanya perlahan. Saat tutupnya terangkat, kedua matanya sedikit membesar.
Di dalamnya tersimpan sebuah ornamen gantung yang begitu indah. Simpul sutra putih dan emas terjalin rapi membentuk pola yang elegan. Jumbai-jumbai panjang menjuntai lembut, memantulkan kilau keemasan ketika terkena cahaya lentera.
Begitu sederhana.
Namun justru karena kesederhanaannya itulah benda itu tampak begitu anggun. Putri Hikari mengangkatnya dengan hati-hati menggunakan ujung jemarinya.
Jumbai sutra itu bergoyang perlahan di udara.
"...Indah."
Bisiknya lirih.
Untuk beberapa saat dia hanya memandangi hadiah tersebut tanpa berkata apa-apa. Lalu entah mengapa, bayangan seseorang muncul di benaknya.
Senyum tenang Fumiro.
Tatapan matanya yang lembut.
Dan cara pria itu berbicara tanpa pernah berusaha mengambil hati siapa pun. Ujung bibir Hikari perlahan terangkat. Senyum kecil yang bahkan tidak dia sadari.
"Benar-benar..."
Dia menunduk sedikit sambil memeluk kotak hadiah itu ke dada. Pipinya terasa hangat.
"...kenapa aku jadi senang hanya karena menerima hadiah ini?"
Senyum malu-malu pun muncul di wajah sang putri. Untuk pertama kalinya malam itu, Hikari tidak memikirkan status, politik, ataupun kewajibannya sebagai putri kerajaan.
Dia hanya duduk di dekat jendela, memandangi ornamen sutra pemberian seseorang yang terus muncul di pikirannya.
Dan tanpa sadar, senyumnya
tak pernah hilang hingga larut malam.
---
Di salah satu koridor yang remang, Haru berjalan tertatih sambil menopang tubuh Ryujin yang hampir seluruh berat badannya bersandar kepadanya. Langkahnya tidak teratur, sesekali tersandung oleh ujung pakaiannya sendiri.
"Hic..."
Ryujin menundukkan kepala.
"Haru..."
"Hm?"
"Apa kekuranganku?"
Haru berkedip bingung. Ryujin mengangkat wajahnya sedikit. Tatapannya kosong, tetapi kesedihan di dalamnya begitu jelas terlihat.
"Kenapa aku tidak beruntung?"
Pertanyaan itu datang begitu saja hingga membuat Haru terdiam. Dia menoleh ke arah sahabatnya. Untuk sesaat dia dapat melihat luka yang selama ini disembunyikan Ryujin di balik senyum santai dan sikap riangnya.
Haru menghela napas pelan.
"Kekuranganmu..."
Dia berpikir sejenak.
"Entahlah. Aku tidak bisa menilai orang."
Ryujin tertawa kecil, meski terdengar pahit.
"Jawaban yang buruk."
Mereka kembali berjalan.
Koridor panjang terbentang di hadapan mereka, diterangi cahaya bulan yang masuk melalui jendela-jendela tinggi istana.
Ryujin semakin berat bersandar di bahu Haru.
Sesekali Ryujin menggumamkan kata-kata yang tidak jelas, membuat Haru harus menahan tawa sekaligus rasa iba.
---
Kereta bangsawan melaju perlahan membelah jalanan ibu kota yang mulai lengang. Roda-roda kayunya berderit lembut di atas batu jalan, berpadu dengan suara malam yang tenang.
Yuna duduk sendirian di dalam kereta.
Malam ini bulan purnama menggantung begitu sempurna di langit. Cahayanya yang keperakan menyelimuti atap-atap rumah, pepohonan, dan jalanan yang mereka lewati.
Perlahan, Yuna membuka tirai jendela kereta.
Angin malam yang sejuk segera menyentuh wajahnya. Dia memejamkan mata sesaat, menghirup udara segar yang membawa aroma dedaunan dan embun.
Tatapannya kemudian terangkat ke langit. Bulan itu bersinar terang. Terang hingga seolah mampu menerangi setiap sudut yang biasanya tersembunyi dalam gelap.
Tanpa sadar, tangan kanannya ikut terangkat.
Di sela jemarinya tergantung sebuah ornamen gantung berwarna hijau dan putih. Hiasan itu bergoyang perlahan mengikuti gerakan kereta, memantulkan cahaya bulan yang lembut.
Senyum tipis muncul di bibir Yuna. Dia teringat bagaimana benda itu ditemukan.
Di bawah meja.
Tepat di tempat Ryujin berdiri beberapa saat sebelum Haru memapahnya keluar dari pesta.
Saat itu Ryujin sudah mabuk berat hingga langkahnya tidak lagi stabil. Tak seorang pun menyadari ketika ornamen kecil itu terjatuh.
Tak seorang pun...
Kecuali dirinya.
Yuna memandangi ornamen itu cukup lama. Dia membolak-balik gantungan itu dengan hati-hati. Entah mengapa, benda sederhana itu terasa memiliki kehangatan yang aneh.
Mungkin karena pemiliknya.
Mungkin karena malam ini dia melihat sisi Ryujin yang selama ini jarang diperlihatkan kepada orang lain.
Dia melihat Ryujin yang tersenyum pahit. Ryujin yang memilih menenggak minuman lebih banyak dari biasanya. Ryujin yang memandang seseorang dengan tatapan yang tidak sempat dimengerti banyak orang. Tatapan yang penuh perasaan.
Yuna menundukkan pandangannya pada ornamen di tangannya.
"Tuan Ryujin..."
Angin malam kembali berhembus melewati jendela kereta. Untuk sesaat dia teringat ucapan-ucapan Ryujin selama ini. Cara pria itu memperhatikan teman-temannya. Cara dia selalu mendahulukan kebahagiaan orang lain meskipun dirinya sendiri terluka.
Semakin dipikirkan, semakin Yuna merasa bahwa Ryujin jauh lebih baik daripada yang sering dia tunjukkan kepada dunia.
Yuna menggenggam ornamen itu sedikit lebih erat.
Dia kembali memandang bulan yang bersinar di langit malam. Sementara ornamen hijau-putih itu masih berada dalam genggamannya.