Alisha, seorang gadis cantik berumur dua puluh empat tahun. Alisha seorang yatim piatu. Kedua orang tuanya meninggal pada saat Alisha berumur dua tahun. Alisha dirawat oleh paman dan bibinya.
Paman dan bibinya Alisha, mempunyai seorang anak perempuan yang bernama Amalia. Amalia tidak menyukai apapun tentang Alisha. Bahkan, terkadang Amalia mengerjai Alisha.
Suatu hari, Amalia menyuruh teman laki-lakinya untuk mengambil sesuatu yang paling berharga bagi Alisha, yaitu keperawanannya.
Akankah Alisha berakhir ditangan pria itu? Ataukah ada seseorang yang menolongnya? Mari, cari tahu takdir Alisha!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INRUMIDITAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pemakaman
Suasana di ruang tunggu rumah sakit saat itu sedang memegang. Semua orang terdiam dengan pikirannya masing-masing. Tiba-tiba, datang Alvin dan Citra bersamaan, mereka tanpa sengaja berpapasan saat akan masuk ke lorong ruang tunggu. Citra langsung memeluk Alisha tanpa berkata-kata.
"Alisha, kamu ganti dulu ya pakaian pengantin kamu, aku sudah bawakan baju ganti untukmu," ucap Citra pelan.
"Baik," ucap Alisha pelan. Alisha digandeng Citra menuju ke salah satu ruang ganti di rumah sakit tersebut. Disana, Alisha akan mengganti pakaian pengantin yang masih ia kenakan.
Sesampainya didepan ruang ganti, Alisha langsung masuk kedalam. Citra mencegah sejenak, lalu bertanya, "Apa kau bisa menggantinya sendiri?".
"Tentu," jawab Alisha singkat.
Alisha pun masuk ke ruang ganti. Sedangkan Citra, ia setia menunggu Alisha diluar ruang ganti. Setelah beberapa saat, Alisha keluar dari ruang ganti. Ia mengenakan dress sepanjang mata kakinya, dan rambutnya ia biarkan tergerai begitu saja.
Alisha tak ada waktu untuk melihat penampilannya saat itu, yang ia pikirkan hanyalah Dikta, suaminya. Alisha tak ada waktu untuk mengurus rambutnya, karena ia ingin segera kembali ke ruang tunggu pasien. Meskipun rambut Alisha terlihat kurang rapi, tapi Alisha masih terlihat cantik dan anggun walau tak ada senyum diwajahnya.
Alisha dan Citra kembali ke ruang tunggu. Kedatangan Alisha mengalihkan pandangan Alvin. Cantik sekali, andai dia istriku, batin Alvin saat melihat kedatangan Alisha. Astagfirullah, apa yang aku pikirkan! Dia itu istri temanmu, sadar Alvin ! Kau tidak boleh berpikir seperti itu lagi ! batin Alvin lagi.
Alvin langsung mengalihkan pandangannya dari Alisha. Ia takut akan memikirkan hal yang tidak-tidak lagi jika terus melihat Alisha. Suasana di ruang tunggu pasien masih menegang, tak ada perbincangan diantara mereka. Beberapa saat kemudian, dokter dan seorang perawat keluar dari ruangan tempat Dikta berada.
Semua orang langsung berdiri menghampiri dokter itu. "Bagaimana keadaan anak saya, Dok? Anak saya baik-baik saja, 'kan?" tanya Wisnu penuh harap.
"Maaf, kami sudah berusaha. Tapi tembakan itu tepat pada jantungnya. Dia tidak bisa diselamatkan," jawab dokter itu.
Semua orang yang berada di ruang tunggu sangat terkejut mendengar penuturan dokter sang dokter. "Dikta, anak mama!" teriak Sonya histeris. Wisnu langsung memeluk erat istrinya.
Mas, kita baru saja menikah. Kenapa kamu tinggalin aku? batin Alisha. Tubuh Alisha lemas, ia menjatuhkan dirinya dan duduk di lantai. Apa selamanya aku akan tetap sendiri? Apa selamanya orang-orang yang aku sayangi akan pergi meninggalkanku? Apa salahku ? batin Alisha. Astagfirullahal'adzim, aku tak boleh terlalu menyalahkan takdir, batin Alisha lagi.
Citra yang melihat Alisha duduk dilantai pun langsung memeluk Alisha. "Alisha, kita duduk disana ya, dibawah dingin, Sha." Citra berusaha memapah Alisha menuju ke deretan kursi.
"Dokter, apa saya boleh melihat suami saya?" tanya Alisha kepada dokter yang tadi menjelaskan keadaan Dikta.
"Tentu, keluarga bisa melihat pasien. Silahkan masuk, tapi hanya untuk tiga orang saja," jawab dokter itu.
Alisha, Sonya, dan Wisnu masuk kedalam ruangan. Mereka bertiga langsung menghampiri tubuh Dikta yang tertutup kain. Alisha membuka penutup wajah Dikta, ia melihat wajah suaminya yang sudah tidak bernapas itu.
Alisha membuka lagi penutup itu sampai bagian perut. Alisha, Wisnu, dan Sonya melihat bekas jahitan pada bagian dada Dikta. Ketiga orang itu langsung memeluk Dikta bersamaan.
"Dikta, kenapa kamu ninggalin mama, Nak?" teriak Sonya sambil menangis.
"Ma, anak kita sudah tenang disana. Mama jangan berlebihan menangis ya, hal itu akan memberatkan dia. Kita do'akan dia, agar mendapat tempat terbaik disana." Wisnu mencoba menenangkan istrinya, walau dirinya sendiri juga sangat sedih kehilangan anak satu-satunya itu.
"Mas, terima kasih sudah menjadikan aku istrimu. Aku akan selalu berdo'a untukmu." Alisha mencium punggung tangan Dikta, lalu mencium kening Dikta.
Satu jam kemudian. Tubuh Dikta kini telah disucikan. Dan hal selanjutnya yang akan dilakukan adalah pemakaman. Jenazah Dikta telah dinaikkan kedalam mobil ambulan, keluarga dan teman Dikta pun ikut mengantarkannya ke peristirahatan terakhirnya.
Sesampainya di tempat pemakaman umum, jenazah Dikta dikeluarkan dari ambulan. Jenazah dibawa dan diletakkan disamping liang lahat. Mas, aku sudah antar kamu ya. Kamu hati-hati disini. Aku akan sering mengunjungi dan mendo'akanmu, batin Alisha.
Proses pemakaman pun dimulai. Beberapa orang berada dibawah liang lahat untuk membantu proses pemakaman. Satu jam berlalu. Kini, tanah yang tadinya terbuka telah tertutup.
Alisha dan Sonya menaburkan bunga diatas gundukan tanah tersebut. Kemudian, semua orang yang berada ditempat itu mendo'akan Dikta. Anakku, semoga kamu mendapat tempat terbaik, batin Sonya sambil mengusap air mata yang terus mengalir dipipinya.
Setelah satu jam, orang-orang berangsur pamit dari tempat pemakaman. Wisnu mengajak Alisha dan Sonya untuk pulang. "Mama, Alisha, kita pulang, yuk!".
"Baik, Pa," jawab Alisha. Sedangkan Sonya tak menjawab ajakan suaminya. Tapi, dia mau diajak pulang saat itu.
Alisha, Sonya, dan Wisnu masuk kedalam mobil. Wisnu langsung menjalankan mobilnya ke arah rumahnya. Disepanjang jalan tak ada perbincangan satupun, yang ada hanya kesunyian saja.
Setelah beberapa saat, mobil Wisnu telah sampai didepan rumah. Wisnu memparkirkan mobilnya. "Mama, Alisha, ayo kita masuk," ajak Wisnu kepada Sonya dan Alisha.
"Baik, Pa," respon Alisha.
"Alisha, kamu bisa tidur di kamar Dikta. Papa bawa mama ke kamar dulu ya." Wisnu membawa Sonya ke kamarnya. Sepertinya Sonya masih belum bisa menerima kepergian dari Dikta.
Alisha berjalan pelan menuju kamar Dikta. Tak lama, ia sampai didepan pintu kamar Dikta. Alisha membuka pelan pintu kamar tersebut, Alisha menghidupkan lampu di kamar itu, lalu menutup pintu kamarnya.
Alisha melihat keadaan sekitar kamar. Pandangannya terhenti ketika ia melihat sebuah foto yang dipajang diatas sebuah meja. Meja tersebut berada disamping ranjang tempat tidur. Alisha pun menghampiri meja itu, ia duduk diatas ranjang sambil memandangi foto tersebut.
Didalam foto itu, terdapat gambar dirinya, suaminya, dan ibu mertuanya. Alisha mencium foto itu dan memeluknya. Setelah itu, Alisha berbaring diatas ranjang. Alisha tertidur dengan posisi memeluk foto yang tadi ia ambil.
Didalam tidur Alisha, ia bermimpi bertemu dengan Dikta. Dikta mengucapkan permintaan maaf karena telah meninggalkan Alisha, Dikta memeluk Alisha erat. Dikta juga berpesan kepada Alisha, agar Alisha melanjutkan hidupnya. Alisha tidak boleh berlarut dalam kesedihannya.
Tak berselang lama, Alisha terbangun dari tidurnya. Alisha mengingat setiap kata yang diucapkan Dikta dalam mimpinya. Aku tidak tahu, itu kamu atau bukan, Mas. Tapi aku akan mengingat kata-kata itu sebagai penyemangatku, batin Alisha sambil tersenyum.
Salut ama sikap Alisha
Perjuangan Ucup mampir