Shen Yu hanyalah seorang pemburu yatim piatu dari desa terpencil yang setiap hari hidup dalam hinaan. Takdirnya berubah saat ia memperoleh warisan Menara Dewa Kuno, peninggalan terakhir Sekte Dewa Kuno yang telah dimusnahkan.
Di balik kekuatan itu tersembunyi rahasia kematian kedua orang tuanya dan konspirasi Dua Belas Sekte Besar yang menguasai dunia kultivasi.
Dengan tekad membalas dendam, membangkitkan kembali Sekte Dewa Kuno, dan mencapai puncak kultivasi, Shen Yu memulai perjalanan untuk menjadi True God.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Irama yang Membunuh
Shen Yu bangkit berdiri perlahan seraya mengusap kasar sisa darah segar di sudut bibirnya dengan punggung tangan. Dadanya masih terasa sangat sesak dan panas, seolah-olah organ dalamnya bergeser akibat hantaman satu petikan kecapi Lin Yue.
"Gila... Hanya dengan satu kali petikan santai, aku sudah terpental sejauh ini," gumam Shen Yu, membetulkan kuda-kuda kakinya.
Lin Yue tetap berdiri anggun dan tenang di titik tengah arena lingkaran. Wajah cantiknya nyaris tidak menunjukkan ekspresi fana sedikit pun, sedingin patung giok.
"Kau masih memiliki nyali untuk melanjutkan ujian ini, Anak Muda?" tanya Lin Yue datar, suaranya mengalun merdu namun menekan.
Shen Yu memutar bahunya yang terasa pegal dan kaku. "Aku sudah melangkah sejauh ini, Nona Cantik. Kalau aku memilih menyerah dan lari sekarang, kakek tua di pinggir sana pasti akan menertawakanku seumur hidup."
Roh Menara yang sedang melayang memperhatikan di tepi arena seketika mendengus remeh. "Aku memang akan menertawakanmu habis-habisan jika kau berani mempermalukan nama sekte."
Shen Yu terkekeh kecil di tengah rasa sakitnya. "Ternyata kau sangat jujur ya, Kakek."
Meskipun mulutnya sempat bercanda, namun otak cerdas Shen Yu terus berputar dengan kecepatan penuh. Tatapan matanya mengunci setiap gerak-gerik Lin Yue.
"Ujian dari zirah Qin Luo di lantai bawah adalah untuk menguji batas kekuatan fisik dan naluri hewanku. Kalau begitu... ujian dari Nona Lin Yue ini pasti menguji sesuatu yang jauh berbeda," analisis Shen Yu dalam hati.
Ia kembali mengambil langkah lebar, merangsek maju memasuki area jangkauan arena.
Lin Yue tidak banyak bicara. Ia kembali mengangkat kecapi gioknya secara vertikal.
Tiiinggg...
Satu nada lembut kembali dipetik, menggema indah di dalam aula.
Namun bagi pendengaran dan insting Shen Yu, suara merdu itu seketika berubah wujud menjadi puluhan bilah belati udara tak kasat mata yang melesat membelah ruang dari segala arah!
Sret! Sret! Sret!
"Sial!" Shen Yu melesat menghindar. Kain lengan bajunya robek tercabik, dan pipi kirinya tergores tipis, meneteskan darah.
Shen Yu segera menjatuhkan dirinya, berguling di atas lantai batu dengan lincah. Belum sempat ia menegakkan tubuhnya kembali...
Tiiing! Tiiing!
Petikan kedua dan ketiga meluncur menyusul tanpa jeda! Gelombang suara destruktif menghantam permukaan tanah tempat Shen Yu berada sebelumnya, menghancurkan bebatuan besar hingga menjadi serpihan debu.
Shen Yu terus berlari zig-zag mengitari area arena. Ia menggunakan seluruh kelincahan fisiknya untuk menghindar, sama sekali tidak berani mencoba menangkis atau melawan gelombang suara itu secara langsung.
"Mengapa kau hanya bisa berlari dan menghindar, Pemburu? Apakah kemampuanmu hanya sebatas itu?" tanya Lin Yue, nadanya sedingin es.
Shen Yu menyeringai tipis di sela-sela larinya. "Karena seorang pemburu yang baik... tidak akan pernah melepaskan anak panahnya sebelum ia berhasil menemukan titik kelemahan fatal dari mangsanya!"
Lin Yue tidak memberikan respons verbal. Ia perlahan memejamkan kedua kelopak matanya, dan kesepuluh jarinya yang lentik mulai menari dengan sangat cepat di atas senar-senar kecapi giok.
Ting... Tang... Ting... Tang...
Irama musik yang semula terdengar lembut mendadak bertransformasi menjadi badai simfoni yang mematikan. Seluruh ruang udara di atas arena kini dipenuhi oleh distorsi gelombang suara yang memadat.
Tidak ada celah. Tidak ada jalur untuk melarikan diri.
BOOOOMMMM!!!
Shen Yu kembali terkena hantaman telak. Tubuhnya terpental hebat ke udara sebelum akhirnya menghantam salah satu pilar batu raksasa aula hingga memicu retakan yang dalam.
"Uhuk... Huff..." Shen Yu jatuh terduduk, terengah-engah parah dengan dada kembang kempis.
Ia tahu persis, jika ia terus-menerus pasif menerima gempuran tak kasat mata seperti ini, tubuh fisik Body Tempering miliknya akan hancur lebur berkeping-keping sebelum ia sempat menyentuh pakaian Lin Yue.
Namun, tepat pada saat ia hendak memaksakan dirinya untuk kembali berdiri... sepasang mata tajamnya menangkap sebuah detail visual yang teramat kecil.
Jari-jari Lin Yue.
Setiap kali wanita itu memetik senar ketujuh untuk membalikkan ritme lagu, pergerakan bahu kanannya secara tidak sadar akan bergerak sedikit lebih lambat dari biasanya.
Jeda keterlambatan itu sangat kecil—hanya sepersekian detik. Hampir mustahil disadari oleh mata kultivator biasa. Namun bagi seorang pemburu liar seperti Shen Yu yang sejak kecil terbiasa mengamati getaran terkecil dari mangsa di tengah semak lebat, sekecil apa pun perubahan visual adalah sebuah celah emas!
Sudut bibir Shen Yu perlahan terangkat, membentuk senyuman penuh kemenangan. "Akhirnya... aku berhasil menemukan celah cacat dari irama musikmu, Nona."
Di kejauhan, Roh Menara yang menyadari perubahan sorot mata Shen Yu ikut menyunggingkan senyum kepuasan. "Benar. Ujian dari Lin Yue sama sekali bukan tentang adu kekuatan kasar. Melainkan... tentang kemampuan jeli untuk melihat sesuatu yang tidak dapat dilihat oleh mata orang lain."
Shen Yu menyeka sisa darah di bibirnya dengan kasar. Sorot matanya kini tidak lagi tertuju pada kecapi giok, melainkan terkunci mati pada pergerakan jemari tangan Lin Yue.
"Petikan senar ketujuh... di sana selalu ada jeda kosong yang teramat tipis. Jika aku bisa memanfaatkan fraksi detik itu..."
Tiiinggg!
Lin Yue kembali memetik senarnya, meluncurkan gelombang suara yang membelah udara bagai anak panah raksasa.
Namun kali ini, Shen Yu sama sekali tidak melompat mundur. Ia justru mengambil langkah ekstrem—berlari lurus ke depan menyongsong serangan tersebut!
"Bocah gila! Apa dia sudah bosan hidup?!" gumam Roh Menara terkejut.
Boom! Boom! Boom!
Rentetan ledakan gelombang suara menghantam permukaan tanah tepat di sisi kiri dan kanan tubuh Shen Yu. Serpihan batu beterbangan dan kepulan debu tebal seketika menyelimuti arena pertarungan.
Namun, derap langkah kaki Shen Yu sama sekali tidak terhenti. Ia menerobos badai debu itu bagai seekor serigala lapar.
Lima belas langkah... Sepuluh langkah... Lima langkah!
Lin Yue akhirnya membuka sepasang kelopak matanya. Untuk pertama kalinya sejak awal, ada riak keterkejutan yang melintas di wajah sedingin es miliknya. Ia dengan cepat mempercepat tempo petikan jarinya.
Ting! Tang! Ting!
Gelombang suara kini meluncur jauh lebih rapat dan cepat. Baju Shen Yu robek di bagian lengan kiri, dan darah segar mulai mengalir deras membasahi bahunya. Namun, wajah pemuda itu justru memancarkan kegilaan.
"Ketemu polamu!" raung Shen Yu.
Ting!
Tepat pada saat petikan senar ketujuh berbunyi, pergerakan bahu kanan Lin Yue kembali mengalami jeda keterlambatan sepersekian detik.
DUG!
Shen Yu menghentakkan kaki kanannya ke lantai batu dengan kekuatan penuh. Tubuhnya melesat maju ke depan bagai anak panah yang lepas dari busurnya, memotong jarak pertahanan terakhir dalam satu kedipan mata.
Lin Yue tersentak kaget. Ia refleks hendak menarik tubuhnya mundur untuk mengambil jarak, namun semuanya sudah terlambat.
Shen Yu sudah berada tepat di depan wajahnya. Namun, ia sama sekali tidak mengayunkan bilah pedang tuanya. Shen Yu hanya menjulurkan dua jari tangan kirinya ke depan dengan santai.
Tap.
Ujung jari Shen Yu mendarat dengan tepat, menyentuh ujung kain lengan baju hijau lumut milik Lin Yue.
Detik itu juga, seluruh atmosfer di dalam aula Lantai Kedua mendadak hening total. Angin berhenti berhembus, dan tidak ada lagi desingan petikan kecapi yang mematikan.
Shen Yu menarik kembali tangannya, lalu menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan pesona sarkasnya. "Sepertinya... aku dinyatakan lulus dari ujianmu, Nona Cantik."
Lin Yue menatap lekat-lekat ke arah ujung lengan bajunya yang baru saja disentuh oleh jari Shen Yu. Beberapa saat kemudian, ia perlahan memejamkan matanya kembali dan menganggukkan kepalanya dengan khidmat.
"Benar. Kau lulus dari ujianku."
Roh Menara di tepi arena langsung mengembuskan napas lega yang panjang, gurat ketegangan di wajahnya mencair. "Kerja bagus, Bocah! Sepanjang sejarah puluhan ribu tahun menara ini berjalan, tidak ada satu pun pewaris sebelum dirimu yang mampu memecahkan kode irama Lin Yue secepat ini."
Lin Yue kembali menatap Shen Yu, sorot mata hijau zamrudnya kini memancarkan sedikit riak penghargaan. "Sebagai hadiah atas keberhasilanmu menembus batasan iramaku... aku akan mewariskan sebuah teknik tingkat tinggi kepadamu."
Lin Yue mengangkat jari telunjuknya yang anggun, lalu menempelkannya tepat di tengah dahi Shen Yu.
Wuuuung!!!
Seketika itu juga, seberkas pilar informasi formula bergerak meluncur masuk ke dalam kesadaran pikiran Shen Yu. Sebuah manual teknik pergerakan kaki (movement technique) yang teramat mistis:
[Langkah Bayangan Ilusi]
"Teknik pergerakan ini sama sekali bukan diciptakan untuk tujuan melarikan diri dari musuh," ujar Lin Yue dengan nada serius. "Melainkan sebuah teknik tirani untuk memastikan posisi tubuhmu akan selalu berada satu langkah lebih cepat di depan kalkulasi musuhmu."
Shen Yu menyunggingkan senyum puas, merasakan formula teknik itu menyatu dengan instingnya. "Teknik yang luar biasa. Ini benar-benar sangat cocok dengan gaya bertarung seekor pemburu sepertiku."
Lin Yue mengangguk pelan. "Dan teknik ini juga akan sangat berguna... untuk modal dasar keselamatanmu saat kau diburu oleh seluruh penguasa dunia luar kelak."
Mendengar kalimat terahir Lin Yue, senyuman di wajah tampan Shen Yu perlahan-lahan memudar, digantikan oleh kernyitan di dahinya. "Dihancurkan oleh seluruh dunia? Apa maksudmu—"
Belum sempat Lin Yue memberikan penjelasan lebih lanjut...
BOOOOOOMMMMMM!!!!!
Sebuah ledakan yang teramat dahsyat dan masif mengguncang seluruh fondasi Menara Dewa Kuno dari tingkat paling dasar. Getaran kali ini seratus kali lipat lebih brutal dan destruktif dibandingkan dengan gempuran-gempuran sebelumnya, membuat beberapa pilar batu di aula Lantai Kedua langsung retak dan runtuh.
Wajah Roh Menara yang semula tenang seketika berubah menjadi pucat pasi tanpa darah bak mayat. Tubuh spiritualnya gemetar hebat karena horor.
"Tidak mungkin... Ini benar-benar mustahil! Bagaimana bisa?!" pekik Roh Menara dengan suara tercekat di tenggorokan.
Shen Yu segera menggenggam erat pedang tuanya, ikut bersiaga penuh. "Ada apa lagi, Kakek?! Siapa yang datang?!"
Roh Menara menatap ke arah lubang tangga spiral menuju lantai dasar dengan tatapan penuh teror absolut.
"Segel pelindung luar jurang... telah hancur total! Anjing-anjing dari Sekte Mata Surgawi dan para Pemburu Dunia Atas... telah berhasil menembus masuk ke dalam menara ini!!!"