Zhang Lin dikenal sebagai "Dewa Pedang" dari Dinasti Yin; ketika dia sedang menjalankan sebuah misi, dia tiba-tiba dihadapkan dengan sebuah pengkhianatan dari negerinya sendiri hingga membuatnya meregang nyawa.
Namun, bukannya langsung meninggal dan pindah ke alam baka—Zhang Lin justru mendapatkan kesempatan kedua untuk kembali hidup di dunia modern yang di mana semua orang hidup dengan cara yang cepat.
Di dunia modern, Zhang Lin bertemu dengan Li Na—seorang asisten editor di salah satu penerbit besar.
Kehidupan kerja Li Na begitu berat, dan sejak kecil dia telah terkenal karena nasib buruknya; namun, ketika bersama dengan Zhang Lin, nasib buruk itu berganti dengan keberuntungan—namun, keberuntungan itu datang bersamaan dengan bayangan kematian yang mengintainya dan Zhang Lin dari kejauhan.
...
Untuk mendapatkan update ilustrasi karakter, bisa follow akun sosmed author, ya!
FB : Refinawriters
IG : Refinawriters_
TT :refinawriters
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R. Seftia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ajakan Tinggal Bersama
Setelah bertemu dengan Liu Wei dan juga berbicara serius dengannya, Zhang Lin kembali pulang ke rumah dengan membawa dua ekor ayam goreng untuk Li Na. Dan setelah memberikan ayam goreng itu kepada Li Na, entah kenapa tetapi pada saat itu Zhang Lin sudah tidak punya lagi tenaga ekstra untuk duduk bersama dengan Li Na untuk menikmati ayam goreng itu.
Zhang Lin langsung berjalan lurus menuju kamar dan kemudian tidur di sana. Dan anehnya sepanjang malam ia terus saja memikirkan tentang Liu Wei yang tampaknya pada saat itu masih menyimpan perasaan kepada Li Na, dan hal yang sama pun juga terlihat jelas dari Li Na.
Mereka berdua sama-sama masih menyimpan perasaan yang sama untuk satu sama lain.
"Tapi ... kenapa aku harus pusing-pusing memikirkan tentang hal itu?! Lagi pula semua itu bukan urusanku. Jadi kenapa aku repot-repot memikirkan tentang hal itu?! Sampai-sampai aku tidak tidur semalaman penuh ...."
Zhang Lin bangun dengan mata pandanya; karena kemarin malam ia benar-benar tidak bisa tidur sama sekali karena terus memikirkan tentang Liu Wei dan Li Na. Dan di pagi harinya, ia benar-benar sangat menyesal karena telah membuang-buang waktu istirahatnya hanya untuk memikirkan hal-hal tidak penting seperti itu.
Dan sialnya, walaupun pada saat itu ia masih merasa mengantuk, tetapi ia harus tetap pergi bekerja pada hari itu. Dan tidak peduli jika memang ia kurang tidur ... Zhang Lin tetap harus bekerja untuk menjaga Ah Yin.
Untuk bisa sampai tepat waktu ke kediaman Ah Yin, Zhang Lin sampai merawatkan sarapan pagi dan langsung berangkat pergi bekerja untuk mengejar bis yang membawa dirinya pergi.
Setelah berlari cukup lama, akhirnya ia berhasil sampai ke bis yang hampir saja berangkat meninggalkan dirinya.
...
Seperti biasa, pagi ini pun Bai Feng adalah orang pertama yang datang lebih dulu dibandingkan dengan Zhang Lin.
Pada saat Zhang Lin datang di waktu yang pas-pasan, Bai Feng justru datang lebih awal.
Namun walaupun datang lebih awal, hal itu tidak langsung membuat Ah Yin menyukai Bai Feng, karena sesungguhnya dia jauh lebih menyukai Zhang Lin.
Terlebih lagi pada saat ini dia telah mengetahui hubungan sebenarnya diantara Zhang Lin dan juga Li Na, serta alasan mengapa mereka tinggal bersama-sama di bawah satu atap.
Dan siang itu ....
"Zhang Lin," panggil Ah Yin di tengah-tengah makan siangnya.
"Iya, nona." Zhang Lin mendekat kepada Ah Yin untuk mendengarkan lebih jelas apa yang ingin dikatakan oleh Ah Yin saat itu.
Ah Yin berbalik, menatap langsung kepada Zhang Lin, dan kemudian ....
"Mulai sekarang aku mau kamu tinggal di sini saja bersama dengan diriku," kata Ah Yin.
Perkataan yang baru saja diucapkan oleh Ah Yin itu tentu saja mengagetkan dan tidak pernah diduga oleh siapa-siapa, termasuk, Zhang Lin sendiri.
"Apa?!"
Zhang Lin benar-benar sangat terkejut ketika mendengar hal tersebut. Dan tentu saja di waktu yang sama itu juga, Bai Feng pun tidak kalah terkejutnya ketika mendengar tentang hal itu.
"Yang barusan saja kamu dengar itu benar. Aku memang menawari kamu untuk tetap tinggal di sini daripada tinggal bersama dengan Li Na. Dan lagi pula, aku tinggal di rumah ini sendiri. Jadi akan jauh lebih aman jika kamu pun juga tinggal di sini bersama denganku. Bagaimana?"
Menanggapi ajakan yang ditawarkan oleh Ah Yin, Zhang Lin berusaha untuk menjawab dengan tenang dan juga dengan baik agar tidak menyakiti perasaan Ah Yin.
"Maaf, Nona Ah Yin. Tapi saya rasa hal itu tidak pantas untuk dilakukan. Dan pada saat ini saya merasa sangat nyaman tinggal bersama dengan Li Na dan Lin Yi, jadi ... tolong maafkan saya," ucap Zhang Lin dengan kepala yang tertunduk di hadapan Ah Yin.
Dan ketika mendengar jawaban tegas dari Zhang Lin, Ah Yin kembali memutar tubuhnya untuk kembali fokus kepada makanan yang ada di meja makan pada saat itu.
"Baik. Jika memang kamu tidak mau, maka aku tidak bisa memaksa kamu lagi. Tetapi jika saja nanti kamu berubah pikiran, maka jangan sungkan untuk datang kepadaku," kata Ah Yin.
...
Selanjutnya setelah Ah Yin sarapan, kegiatan di lanjutkan dengan latihan berpedang. Dan di situ, kemampuan Ah Yin sudah jauh lebih meningkat karena terus berlatih dengan Zhang Lin.
Dan ketika di tengah-tengah istirahat, tiba-tiba saja Ah Yin menyinggung masalah kecelakaan Zhang Lin beberapa hari yang lalu; tepat ketika Zhang Lin pulang bekerja dan kemudian dipukul oleh seseorang dari belakang dengan menggunakan batu bata.
"Tentang orang yang mukul kamu pakai batu itu ... aku sudah berusaha untuk mencari rekaman CCTV di area kejadian, tapi anehnya, semua rekaman CCTV di area itu tiba-tiba rusak. Seakan-akan ada yang ngerusak semua bukti itu," ungkap Ah Yin.
Mendengar apa yang baru saja Ah Yin katakan, Zhang Lin tiba-tiba saja merasa tubuhnya merinding. Dan kemudian ia berpikir, jika semua bukti dihilangkan dengan begitu rapi, maka pasti saat ini ia tengah berhadapan dengan orang yang tidak sembarangan!
Mereka orang-orang terlatih dengan sumber daya yang cukup!
"Zhang Lin, kenapa kamu diam saja begitu? Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Ah Yin.
Zhang Lin menggeleng.
"Tidak ada," jawab Zhang Lin.
"Kamu sedang memikirkan tentang apa yang baru saja aku katakan?" tanya Ah Yin lagi. Tak percaya saat Zhang Lin bilang bahwa dia tidak sedang memikirkan apa-apa.
Zhang Lin sekali lagi menggelengkan kepalanya dan kemudian menegaskan bahwa ia tidak sedang memikirkan apa yang baru saja dikatakan oleh Ah Yin, walaupun yang sebenarnya adalah ia benar-benar memikirkan tentang hal itu.
...
Seharian penuh menemani Ah Yin berlatih pedang, akhirnya tiba juga waktunya untuk pulang kembali ke rumah.
Sesampainya di rumah, Zhang Lin langsung duduk di ruang tamu dan tidak menyadari bahwa di rumah itu tidak ada siapa-siapa, bahkan Lin Yi yang merupakan pengangguran pun juga tidak ada di rumah itu sekarang.
Ketika Zhang Lin menyadari jika di rumah itu sudah tidak ada siapa-siapa lagi, ia dengan cepat langsung menghubungi nomor telepon Li Na untuk bertanya kepadanya kenapa dia tidak ada di rumah.
Dan ketika ia terus mencoba untuk menghubungi Li Na, tetapi tetap saja ia tidak mendapatkan jawaban apa-apa ... sampai tiba-tiba, Lin Yi datang.
Namun pada saat itu, Lin Yi hanya datang sendiri saja.
"Di mana Li Na?" tanya Zhang Lin langsung tanpa banyak basa-basi.
"Aku tidak tahu. Seharian ini aku bermain game di warnet. Dan bukankah seharusnya dia sudah pulang jam segini? Kok belum pu—"
Belum selesai Lin Yi bicara, Zhang Lin langsung berlari dengan kecepatan luar biasa meninggalkan Lin Yi untuk mencari dimana keberadaan dari Li Na; karena pada saat itu perasaannya sangat tidak enak!
...
-Bersambung-