NovelToon NovelToon
Api Di Bumi Majapahit

Api Di Bumi Majapahit

Status: tamat
Genre:Action / Fantasi / Petualangan / Fantasi Timur / Epik Petualangan / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:7M
Nilai: 4.9
Nama Author: Ricky Wicaksono

Api di Bumi Majapahit adalah buku ke dua dari Trilogi Naga api....Dianjurkan membaca Pedang Naga Api sebagai buku pembuka sebelum membaca Api di Bumi Majapahit agar semua misteri tersambung..

Seribu tahun setelah pertempuran pendekar langit merah dengan pendekar terkuat pengguna Naga api dan bertepatan dengan berdirinya Kerajaan Majapahit, sebuah perguruan silat misterius bernama Tengkorak merah muncul kedunia persilatan dan kembali membuat kekacauan.

Mereka mencari kitab ilmu kanuragan tanpa tanding yang pernah dimiliki oleh Sabrang Damar, Pendekar terkuat pengguna Naga api yang menghancurkan Pendekar langit merah. Ilmu kanuragan yang mampu mengendalikan energi Banaspati itu bernama Kitab Api Abadi.

Disaat yang bersamaan seorang pemuda yang sangat membenci ilmu kanuragan karena masa lalu kelamnya justru menjadi harapan baru dunia persilatan untuk menghancurkan kekejaman Perguruan tengkorak merah yang memiliki ilmu kanuragan tinggi.

Pertemuan pemuda itu dengan seorang gadis dari perguruan aliran putih merubah segalanya.

Apakah pemuda itu akan terseret kedalam pusaran dunia persilatan atau justru dia tetap memilih menjauhi Ilmu kanuragan yang sangat dibencinya?

Semua perjalanan hidup pemuda itu di kemas dalam novel berlatar belakang kerajaan terbesar nusantara Majapahit.

Update Setiap Hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ricky Wicaksono, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kemunculan Pria Misterius

Arya beberapa kali terpental terkena serangan Mentari, sekuat apapun dia menghindar Mentari selalu lebih cepat darinya.

Arya kembali mengumpat dalam hati ketika Mentari memukul kepalanya.

"Jika aku menggunakan pedang maka kepalamu sudah terpisah dari tubuhmu" ejek Mentari.

Namun tanpa Arya sadari semakin lama gerakannya membuat Mentari terpaksa menggunakan tenaga dalamnya untuk mengimbangi kecepatannya yang terus meningkat. Kobaran api kecil mulai menyelimuti tubuh Arya walau dia tidak menyadarinya.

"Cakra manggilingan?" Mentari mengeryitkan dahinya saat merasakan Arya menyerap auranya perlahan.

"Anak ini benar benar sangat mirip dengan Yang mulia" gumamnya sambil menghentikan serangannya.

"Sepertinya hari mulai gelap, ayo kita kembali. Besok ada yang harus kuajarkan padamu".

"Apa bibi tak pernah mendengarkan pendapat orang lain? aku sudah katakan tidak ingin mempelajari ilmu kanuragan" ucapnya kesal.

Mentari hanya tertawa mendengar rengekan Arya, dia tiba tiba bergerak mendekatinya dengan kecepatan tinggi. Arya yang mengira Mentari akan kembali menyerang mencoba menghindar namun Mentari lebih dulu memegang lengannya.

"Suatu saat kau akan mengerti jika yang kulakukan ini demi kebaikanmu". Dia menyerahkan sebuah kalung yang terbuat dari emas bertuliskan Wentira. "Kalung ini diberikan oleh orang yang sangat berarti dalam hidupku, Aku ingin kau memilikinya". Mentari tersenyum hangat.

Arya hanya terdiam sambil memakai kalung itu, dia sedikit merasa bersalah karena selalu berbicara ketus pada Mentari.

"Aku akan mencari makanan, bibi pergilah dulu".

"Kau ingin melarikan diri?" Mentari menoleh kearah Arya.

"Jika aku berniat melarikan diri sudah dari kemarin aku pergi. Aku hanya ingin makan enak untuk memulihkan kondisi tubuhku".

Mentari tersenyum sambil menatap keturunannya itu "Kembalilah sebelum gelap, hutan ditempat ini sangat berbahaya" ucapnya pelan.

***

"Siapa bibi sebenarnya? dan apa yang bibi rencanakan pada Arya?". Pertanyaan tiba tiba Arkadewi menghentikan langkah Mentari.

"Apa maksudmu nona cantik?" Mentari tersenyum lembut.

"Aku menemukan batu tulis dan dibatu itu ada nama yang sama dengan nama bibi. Seingatku ayah pernah mengatakan jika kelompok teratai merah telah ribuan tahun hilang, bagaimana bibi masih hidup sampai saat ini?".

"Dengar nak, ada sesuatu yang lebih baik kau tidak mengetahuinya, rasa ingin taumu suatu saat bisa membunuhmu". Ucap Mentari dingin sambil melangkah meninggalkan Arkadewi.

"Apakah bibi adalah sang dewi racun yang juga merupakan selir kerajaan Malwageni?". Arkadewi pernah mendengar dari ayahnya jika ada pendekar wanita terkuat yang juga merupakan selir Raja Malwageni.

Mentari kembali menghentikan langkahnya, dia cukup terusik dengan pertanyaan pertanyaan masa lalunya.

"Anggap saja seperti itu, lalu apa yang akan kau lakukan?".

Arkadewi tersentak kaget mendengar jawaban Mentari, sesuai dengan dugaannya jika wanita dihadapannya adalah Dewi racun namun yang membuatnya tak habis pikir bagaimana Mentari bisa hidup hingga saat ini.

"Lalu apa sebenarnya yang bibi rencanakan dengan membawa Arya kemari?" tanya Arkadewi pelan, setelah mengetahui latar belakang Mentari dia merasa khawatir pada Arya.

"Dengan ketampanan wajahnya, wanita mana yang tidak tertarik padanya?" Mentari sedikit menjulurkan lidahnya menggoda Arkadewi.

"Tapi.. tapi bibi kan sudah tua".

"Tua? bahkan wajahku jauh lebih muda darimu, aku akan menjadi lawan beratmu nona". Mentari tersenyum kecil sebelum melangkah masuk meninggalkannya sendiri.

"Ah aku lupa mengatakan sesuatu". Mentari menoleh kearah Arkadewi sebelum melanjutkan ucapannya. "Kuharap percakapan ini hanya kita berdua yang tau atau kau akan merasakan akibatnya". Mentari tiba tiba melepaskan aura yang cukup besar dari dalam tubuhnya. Dia ingin Arkadewi menjaga rahasianya karena dia merasa belum saatnya Arya mengetahui jati dirinya.

"Ternyata dia rubah tua yang licik, Selir yang haus belaian pria muda. Dia mengincar para pria untuk melampiaskan hasratnya" gumam Arkadewi dalam hati, terbayang dalam pikirannya bagaimana wajah licik Mentari saat memperdaya Arya sebelum menyetubuhinya.

Arkadewi memukul kepalanya berkali kali untuk menghilangkan bayangan wajah mesum Mentari dalam pikirannya. "Aku harus memberitahu sibodoh itu secepatnya".

***

Arya menghentikan langkahnya ketika merasakan tekanan yang luar biasa besar, bahkan Naga api pun bereaksi pada kekuatan itu, dia melepaskan kobaran api untuk melindungi tubuh Arya.

Aura merah menyelimuti hampir di seluruh area hutan itu, bahkan Mentari yang merupakan pendekar terkuat saat ini menelan ludahnya.

"Siapa pemilik aura sebesar ini?" gumam Mentari pelan. Raut wajahnya berubah seketika saat teringat Arya yang sedang berada di hutan sendirian. Mentari langsung melesat kedalam hutan untuk mencari Arya.

Seorang pria tua berjubah lusuh memakai tongkat dari kayu Galih asem tiba tiba muncul dengan senyum ramahnya.

"Dia bukan manusia?" gumam Naga api dalam hati.

"Tak kusangka kau dilindungi Naga api, aku semakin tertarik padamu nak" ucap pria tua itu ramah.

Arya sebenarnya ingin mengatakan sesuatu namun mulutnya seperti terkunci, dia hanya bisa mendengarkan Naga api dan pria tua itu berbicara.

"Jauhi anak ini atau kau akan kubakar sampai tak bersisa". Ancam Naga api saat pria tua itu mulai mendekat. Naga api terus mengingat sosok tubuh yang ada dihadapannya namun dia cukup yakin tidak pernah mengenalinya.

"Kau mengancamku? mahluk lemah sepertimu bahkan tak pantas bicara padaku". Pria tua itu merapal suatu jurus sebelum tiba tiba muncul dihadapan Naga api.

Naga api berusaha menyerang pria itu namun gerakannya kalah cepat. Pria itu lebih dulu mencengkram ruh Naga api yang terus meronta kesakitan.

"Kuakui aku cukup terkejut kau memiliki energi yang sangat besar namun api tak akan berpengaruh padaku".

Namun tiba tiba pria tua itu melepaskan cengkraman nya pada Naga api dan kembali muncul dihadapan Arya saat dia merasakan energinya terhisap dalam jumlah besar.

"Bahkan kau menguasai Cakra manggilingan tingkat sempurna, aku terlalu meremehkanmu namun kau memang harus mengejutkanku jika ingin kupilih sebagai tuanku".

"Tuan tuan apanya? kalian selalu seenaknya sendiri memaksakan kehendak. Pergilah, masih banyak pendekar kuat yang bisa kau jadikan tuan. Aku tidak tertarik sama sekali bertemu mahluk aneh seperti kalian". Ucap Arya ketus.

Pria tua itu cukup terkejut Arya bisa lepas dari pengaruh jurusnya, senyumnya semakin melebar saat mengetahui bakat terpendam Arya.

"Kau benar benar bodoh, saat semua pendekar saling membunuh untuk memiliki kekuatanku kau malah menolak". Pria tua itu tertawa lantang.

"Mereka yang bodoh, saling membunuh hanya demi hal yang semu".

Pria tua itu tak menanggapi ucapan Arya, dia terlihat menghitung sesuatu ditangannya.

"Puncak purnama akan datang tiga hari lagi, saat itu aku akan datang menemuimu bocah. Suka tidak suka takdirmu sudah digariskan dan pilihanmu cuma dua, mati atau menerimaku". Pria itu tertawa lantang sesaat sebelum Mentari muncul.

Pria tua itu menoleh kearah Mentari sesaat sebelum dia tersenyum kecil.

"Wanita abadi pemilik ajian lebur sukma, kau pasti sangat merepotkan".

"Maaf tetua kalau boleh tau, anda siapa?" Mentari melepaskan seluruh aura ditubuhnya untuk menekan pria tua itu.

Pria tua itu mengernyitkan dahinya saat merasakan tekanan ditubuhnya.

"Walau Cakra manggilingan milikmu tak sempurna seperti bocah ini namun aku cukup terhibur nona". Pria itu kembali terkekeh.

"Cakra manggilingan Arya sempurna?" gumam Mentari bingung, setahunya hanya Sabrang yang dapat menguasai dengan sempurna.

"Dengar aku nona, kita berada di pihak yang sama lagipula walaupun kau bergabung dengan Naga api kalian tetap tidak akan bisa mengalahkanku. Aku akan kembali saat purnama mencapai puncaknya, saat itu tiba ada yang harus kubicarakan dengan kalian".

Aura merah yang menyelimuti hutan itu perlahan menghilang diikuti dengan sosok tubuh pria itu.

Setelah kepergian pria tua itu, Mentari menarik kembali auranya dan berbicara pada Naga api dipikirannya.

"Apa kau mengenalnya?" tanya Mentari.

Naga api menggeleng pelan "Aku cukup yakin tidak pernah bertemu atau merasakan energinya".

"Lalu siapa orang tua itu sebenarnya?". Mentari menatap Arya yang masih tampak kebingungan. "Kau baik baik saja?".

Arya mengangguk pelan "Aku baik baik saja nek". Ucapnya pelan, tubuhnya masih bergetar karena efek tekanan yang sangat besar.

1
Sakha Azis
tidak ketemu
Penulis Receh ˢⁿᵃ: wa ajamas
total 1 replies
Dicky Marshell.
sangat bagus..teruskan thor
amaa 01
MAS MANA LANJUTNYA?? :( udh di cri dmn² gk ketemu
Penulis Receh ˢⁿᵃ: wa aja... 0819-3066-6840
total 1 replies
Mely Kanzafaiz
maaf, lanjut baca dmna ya Thor 🙏🙏
Penulis Receh ˢⁿᵃ: wa aja +62819-3066-6840
total 1 replies
Hanif Purwo nugroho
kalo kalian pengen tau Pangeran Pancaka versi real life. silahkan kalian bayangkan sosok wapres wakanda. masih muda, dungu, berambisi terlalu besar, tapi culun dan mudah dimanfaatkan orang lain. 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Hanif Purwo nugroho: kau menghina ku dg sebutan itu. sama artinya, secara gak langsung kau mengakui. kalo si otak 🐷yg kau maksud itu dirimu sendiri🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
Hanif Purwo nugroho
bang, novelmu yg di fizo. yg judulnya kitab sabdo waktu kenapa gak dilanjutkan?
Rafly Rafly
apalagi ini /Tongue/
will
lupa ceritanya 🤭
Abah'e Rama
monggo 😔😔😔😔
Rafly Rafly
Sabdo Loji... serial nya ratusan..di posting di pesbuk....sampe kriting kalo buka per halaman.../Grin/
Penulis Receh ˢⁿᵃ: hahaha... wa aja kang... d grup wa
total 1 replies
Aifa 2 Jeddah
Wulan istri Wardana sang dewi kematian?
Aifa 2 Jeddah
wadeh....dasar ARYA....
Aifa 2 Jeddah
don juan jadul....
Le Akasha
Authornya sangat berpengalaman …keren
Sofan Hadi
siapa yaa kok lupa ane
F O U R
bang mau baca lanjutan novel ketiga
info nya bang gimana , kalau misalnya Masih dijual chat via noveltoon ya udah saya follow
Penulis Receh ˢⁿᵃ: wa aja kang siap.. 0819-3066-6840
total 4 replies
Abdulah Albanjalani
Luar biasa
Eko Haryanto
kok buku geger ditanah nusantara nggak ketemu om.
mohammad nuhdin
Ko ga ketemu yahh kitab sado loji nya
Penulis Receh ˢⁿᵃ: 0819-3066-6840
total 1 replies
Ceisya Azahra
ceritanya agak berbeda dari 2 tahun yg lalu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!