NovelToon NovelToon
ADIKKU SELINGKUHAN SUAMIKU

ADIKKU SELINGKUHAN SUAMIKU

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Selingkuh / Pengkhianatan / Tamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Bagi Lina, pengorbanan adalah bahasa cinta. Ia rela menelan ego, mengubur ambisi, dan menjadi istri sempurna demi Raka, pria yang ia cintai sejak kuliah. Namun, retakan mulai muncul ketika Raka sering pulang larut dengan alasan pekerjaan, sementara Lina sibuk mengurus rumah tangga mereka yang terasa semakin hampa.

Puncaknya terjadi pada malam ulang tahun pernikahan mereka yang ke-5. Bukan hadiah mewah yang Lina temukan di meja makan, melainkan notifikasi dari ponsel Raka yang tertinggal. Pesan itu bukan dari rekan kerja, melainkan dari "Sayang"—yang ternyata adalah Dinda, adik kandung Lina sendiri. Gadis manis yang selalu Lina lindungi, yang sering menginap di rumah mereka karena "masalah di kosannya", dan yang selalu memeluk Lina erat sambil berbisik, "Kakak adalah segalanya bagiku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEBENARAN YANG MEMBAKAR

Hujan semakin deras mengguyur aspal, menyamarkan air mata Lina Ponselnya tergeletak di tanah, layarnya retak berbentuk jaring laba-laba Nama Dinda terpampang jelas di balik kaca pecah itu, seolah mengejek kepolosannya selama ini.

Adiknya yang dulu selalu ia gendong, yang ia belikan boneka, yang ia lindungi dari bully di sekolah. ternyata Dinda adalah dalang di balik kehancurannya?

"Lina!"

Suara Arka terdengar dari kejauhan, disertai deru mesin mobil yang mengerem mendadak. Lampu sorot mobil menyilaukan mata Lina sebelum kendaraan hitam itu berhenti tepat di depannya. Pintu terbuka, dan Arka keluar tanpa payung, menerobos hujan deras menuju Lina.

Wajahnya pucat, matanya penuh kecemasan yang jarang terlihat pada pria sedingin es batu itu.Arka tidak bertanya apa-apa. Dia langsung melepas jaket kulitnya dan melingkarkannya di bahu Lina yang gemetar kedinginan bukan karena suhu, tapi karena shock.

"Masuk kemobil dulu! " perintah Arka singkat, tangannya mencengkeram lengan Lina dengan kuat namun hati-hati. "Kita nggak bisa diam di sini. Victor punya banyak orang Dan kalau dia tahu kamu sudah melihat nama Dinda... kamu akan dalam bahaya ."

Lina membiarkan dirinya diseret masuk ke dalam mobil. Dinginnya kursi kulit menempel di punggungnya, tapi dia tidak peduli. Otaknya masih berputar-putar, mencoba memproses informasi yang mustahil itu.

"Dinda..." bisik Lina, suaranya parau. "Kenapa, arkA? Kenapa Dinda?"

Arka menyetir mobil dengan cepat, membelah jalanan sepi yang licin oleh hujan. Rahangnya mengeras, tatapannya fokus ke jalan, tapi keringat dingin terlihat di pelipisnya.

"Karena Dinda bukan korban, Lin," kata Arka berat. "Dia pemain. Sejak awal. Raka memang lemah, mudah dimanipulasi. Tapi Dinda... Dinda cerdas. Licik. Dia tahu persis apa yang diinginkan ayahmu: kekuasaan dan perluasan bisnis. Dan dia tahu apa yang diinginkan Raka: validasi dan uang ,Dinda menjadi jembatan di antara mereka. Dia mengatur pertemuan. Dia yang menyarankan pernikahan kalian lima tahun lalu. Dia yang membocorkan kelemahan psikologis Raka kepada ayahmu."

Lina merasa mual. "Jadi... kehamilan itu? Itu juga bagian dari rencana?"

"Kemungkinan besar," jawab Arka dingin. "Anak itu adalah asuransi. Dengan hamil, Dinda memastikan Raka tidak bisa lepas darinya. Dan dengan memiliki anak dari menantu kakak iparnya, dia memegang kartu truf untuk memeras harta keluarga kalian berdua jika skema besar ini gagal. Atau justru, itu cara dia mengamankan posisi sebagai 'ibu dari pewaris' dalam kerajaan bisnis ayahmu yang korup."

Lina menutup matanya. Bayangan Dinda yang menangis di pengadilan, yang meminta maaf dengan wajah polos, kini berubah menjadi topeng monster yang menyeramkan. Setiap air mata Dinda adalah manipulasi. Setiap pelukan Dinda adalah perhitungan.

"Dan kamu?" tanya Lina tiba-tiba, membuka matanya dan menatap Arka tajam. "Kamu bilang kamu nggak tahu soal Victor. Tapi kamu tahu soal Dinda. Kamu tahu semua ini. Berarti kamu bohong padaku di vila. Kamu bohong saat kita minum kopi pahit."

Arka menghela napas panjang, suara ban mobil berdecit saat dia mengambil tikungan tajam.

"Aku nggak bohong tentang perasaanku, Lin," kata Arka, suaranya terdengar lelah dan sakit. "Aku benar-benar ingin membantu kamu. Awalnya, ya, Victor memintaku mendekatimu untuk memantau perkembangan kasus perceraianmu. Dia ingin tahu apakah ayahmu akan panik. Tapi... seiring waktu, aku melihat kamu. Aku melihat kekuatanmu. Aku melihat betapa hancurnya kamu, tapi betapa bangganya kamu bertahan. Dan aku jatuh hati. Bukan karena misi. Tapi karena kamu."

Lina tertawa getir. Tawa yang terdengar hampa di dalam mobil yang sempit.

"Cinta?" ulang Lina sinis. "Apakah itu juga strategi, Rak? Agar aku percaya padamu? Agar aku memberikan folder itu padamu?"

Arka menoleh sekilas, matanya berkaca-kaca. "Jika aku ingin folder itu, aku sudah mengambilnya saat kamu pingsan di vila. Atau saat kamu tidur di apartemen. Aku tidak menyentuhnya, Lin. Karena aku tahu isinya akan menghancurkanmu. Dan aku... aku tidak tega melihatmu hancur lebih lagi."

Hening kembali menyelimuti mereka, hanya diisi suara wiper mobil yang bergerak monoton. Sret-sret. Sret-sret.

"Lalu apa sekarang?" tanya Lina pelan. "Apa yang harus aku lakukan? Menyerahkan Dinda ke polisi? Menghancurkan adikku sendiri?"

"Bukan menyerahkan Dinda," koreksi Arka. "Tapi menyelamatkan dirimu. Dan mungkin... menyelamatkan Dinda dari dirinya sendiri sebelum terlambat. Karena jika ayahmu tahu Dinda bermain ganda, ayahmu tidak akan memberinya ampun. Ayahmu bukan tipe pria yang memaafkan pengkhianatan, bahkan dari darah dagingnya sendiri."

Tiba-tiba, ponsel Arka berdering. Nama Victor muncul di layar dashboard mobil.

Arka menatap telepon itu, lalu menatap Lina.

"Jangan angkat," kata Lina tegas.

Arka menekan tombol tolak panggilan. Telepon itu berdering lagi. Dan lagi.

"Dia marah," gumam Arka. "Victor tidak suka dikendalikan."

"Biarkan dia marah," kata Lina, suaranya tiba-tiba tenang. Ada sesuatu yang berubah di dalam diri Lina. Rasa takut itu hilang, digantikan oleh kemarahan yang dingin dan terkalkulasi. "Dia pikir aku pion. Dia pikir ayahku dalang. Dia pikir Dinda korban. Tapi mereka semua salah."

Lina mengambil folder cokelat itu dari pangkuannya. Dia membukanya lagi, menatap foto-foto bukti korupsi, transfer ilegal, dan tanda tangan palsu.

"Aku bukan pion, Rak," kata Lina, matanya bersinar dengan determinasi baru. "Aku adalah ratu yang baru sadar bahwa papan catur ini curang. Dan kalau permainannya curang... maka aturannya harus diubah."

" Apa maksudmu?" tanya Arka waspada.

Lina tersenyum tipis. Senyuman yang tidak mencapai matanya, senyuman yang mirip dengan senyuman Victor tadi. Tapi lebih berbahaya. Karena senyuman ini lahir dari rasa sakit yang mendalam.

"Kita tidak akan lari," kata Lina. "Kita akan menyerang. Tapi bukan dengan cara Victor. Kita akan menggunakan senjata mereka sendiri: rahasia, kebohongan, dan keserakahan."

Arka mengerutkan kening. "Itu berbahaya, Lin. Kamu melawan tiga musuh sekaligus: Ayahmu yang punya koneksi politik, Raka yang putus asa, dan Dinda yang licik. Plus Victor yang obsesif."

"Aku tahu," jawab Lina. "Tapi aku punya satu keunggulan yang mereka tidak punya."

"Apa?"

"Aku tidak punya apa-apa lagi untuk kehilangan," kata Lina datar. "Mereka bertarung untuk mempertahankan kekuasaan, uang, dan citra. Aku bertarung untuk kebenaran. Dan kebenaran... meskipun pahit, dia tidak pernah berkarat."

Mobil Arka berhenti di depan sebuah gedung tua di pusat kota. Bukan kantor polisi. Bukan kantor pengacara. Tapi sebuah gedung arsip lama milik pemerintah daerah, tempat di mana semua dokumen legalitas tanah dan perusahaan disimpan secara fisik—satu-satunya tempat yang tidak bisa diretas secara digital oleh ayah Lina atau Victor.

"Kita ke sini?" tanya Arka bingung.

"Ya," kata Lina sambil membuka pintu mobil. Hujan masih deras, tapi dia tidak merasa dingin lagi. "Di dalam sana, ada salinan asli sertifikat tanah leluhur Victor yang digusur ayahku. Dan ada salinan kontrak asli pernikahanku dengan Raka. Jika kita bisa mendapatkan akses ke brankas utama malam ini... kita punya bahan bakar untuk membakar seluruh kerajaan busuk itu sampai habis."

Arka menatap Lina dengan campuran kekaguman dan ketakutan. "Kamu berencana merampok arsip negara?"

"Bukan merampok," koreksi Lina sambil melangkah keluar ke hujan. "Mengambil kembali hak kami. Dan kali ini, Rak... jangan ikuti aku jika kamu takut terbakar."

Arka terdiam sejenak. Lalu, dia tersenyum. Senyuman lelah, tapi tulus. Dia mematikan mesin mobil, mengambil payung dari jok belakang, dan mengikuti Lina keluar.

"Aku sudah terbakar sejak hari pertama kita bertemu di kafe itu, Lin," kata Arka sambil menyamakan langkah dengannya. "Jadi, ayo kita bakar bersama."

Mereka berjalan menuju pintu belakang gedung arsip yang gelap. Di dalam saku Lina, kunci duplikat yang dia dapatkan dari Ibu Tuti (yang ternyata mantan petugas kebersihan gedung itu) terasa panas.

Permainan catur telah berakhir. Sekarang, waktunya perang gerilya. Dan Lina siap menjadi jenderal yang paling tak terduga.

1
Allea
kok bisa dapet harta selama baca novel anak haram nasabnya ( bener ga) ikut ibu jd ga berhak atas warisan ( kata cerita2 novel ya bukan kata saya)😄
Nuna_Pena: bikin berbeda dari yang lain🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!