Suara tangisan bayi di ruang bersalin malam itu tidak membawa kebahagiaan bagi Husein. Bagi pria itu, jeritan napas pertama putri kecilnya adalah detik terakhir dari hembusan napas wanita yang paling dicintainya. Istrinya mengembuskan napas terakhir tepat setelah merenggang nyawa demi melahirkan sang buah hati.
"Namanya... Kirana Husein..." bisik Husein dengan suara bergetar, memeluk tubuh istrinya yang telah mendingin tanpa sedikit pun menatap bayi di dalam boks bayi.
Sejak hari itu, Kirana tumbuh bukan sebagai lambang cinta, melainkan sebagai bayangan duka yang teramat dalam bagi Husein. Setiap kali melihat wajah polos Kirana, yang terbayang di benak Husein hanyalah penderitaan dan kepergian istrinya. Rasa benci yang tidak adil mulai mengakar di dada Husein. Bagi Husein, kehadiran Kirana adalah alasan utama mengapa belahan jiwanya telah tiada.
Demi menjauhkan Kirana dari pandangannya, Husein mengirim putri tunggalnya itu ke sekolah asrama di tempat yang sangat jauh sejak usia K
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sentuhan Hangat Di Mansion Mewah
Langkah kaki Devan berhenti tepat di depan sebuah kamar tamu utama berukuran luas di lantai atas. Dengan satu isyarat mata, pengawal di belakangnya bergerak cepat membukakan pintu berukir yang kokoh. Devan melangkah masuk dan membaringkan tubuh Kirana yang rapuh di atas ranjang king size berdinding kain sutra tebal.
Gadis itu masih tak sadarkan diri. Wajahnya yang memucat tampak begitu kontras dengan sprei berwarna abu-abu gelap, sementara napasnya masih terengah pelan menahan kelelahan dan dampak dingin yang sempat merayapi tubuhnya.
Devan berdiri menjulang di samping ranjang, berdiri tegak sambil melipat kedua tangannya di dada. Matanya yang tajam menatap lekat garis wajah Kirana yang polos dan tanpa pertahanan. Di kepalanya, berbagai pertanyaan muncul tentang siapa gadis ini sebenarnya dan bagaimana ia bisa tergeletak pasrah di tengah terpaan badai salju tanpa arah tujuan. Namun, Devan menahan naluri rasa ingin tahunya untuk sementara waktu.
Pria itu kemudian memutar badan dan melangkah menuju pintu. "Panggil beberapa pelayan wanita ke sini sekarang," perintah Devan dingin kepada pengawal yang menunggu di luar.
"Baik, Tuan."
Hanya dalam hitungan menit, beberapa orang pelayan wanita berapron rapi bergegas memasuki ruangan. Mereka membungkuk hormat saat berselisih jalan dengan sang majikan di ambang pintu.
"Ganti pakaiannya dengan baju yang kering dan hangat. Pastikan dia tidak kedinginan," titip Devan singkat, suaranya terdengar tegas tanpa kompromi. "Setelah itu, selimuti dia dengan kain yang lebih tebal dan panggil dokter pribadi untuk memeriksanya."
"Siap, Tuan Devan. Kami akan mengurusnya dengan baik," jawab salah satu pelayan dengan patuh.
Devan mengangguk pelan, memberikan satu tatapan terakhir ke arah ranjang tempat Kirana terbaring sebelum akhirnya ia berbalik dan melangkah keluar kamar. Pintu kayu jati itu tertutup rapat, menyisakan keheningan di dalam ruangan saat para pelayan mulai menjalankan tugas mereka untuk merawat sang gadis asing.
Setibanya di lantai bawah, Devan melangkah mantap menuju ruang kerja pribadinya yang terletak di ujung koridor utama. Ruangan luas bernuansa kayu mahoni gelap itu adalah pusat kendali atas seluruh kekuasaan yang ia pegang—tempat di mana keputusan-keputusan besar terkait bisnis Devan Corp dibuat, sekaligus tempat ia mengatur jalannya operasi dunia bawah tanah dengan tangan dingin.
Devan menutup pintu ruang kerja rapat-rapat, lalu melangkah menuju meja kerjanya yang megah. Pria itu menyandarkan tubuhnya pada kursi kulit hitam yang empuk, melonggarkan ikatan dasinya, dan mengembuskan napas panjang. Suasana ruangan yang tenang dan temaram menjadi tempat berteduh sementara baginya setelah malam yang penuh kejadian tak terduga.
Ia meraih satu gelas kristal, menuangkan sedikit whisky amber dari botol di atas meja, lalu memutar-mutar gelas itu perlahan. Di luar, badai salju masih terdengar meliuk-liuk menghantam kaca jendela kedap suara yang tinggi. Namun, pikiran Devan saat ini justru tertuju pada sosok gadis asing yang terbaring di kamar tamu lantai atas.
Bagaimana mungkin seorang gadis dengan pakaian tipis dan koper di sampingnya tergeletak pasrah di tengah cuaca se-ekstrem itu? Mengapa tidak ada seorang pun yang mencarinya?
Sambil menyesap minumannya secara perlahan, Devan menyandarkan punggungnya dan menatap lurus ke arah pintu. Tatapannya yang tajam dan tak tertebak memancarkan rasa ingin tahu yang samar. Di balik topeng CEO yang tegas dan reputasinya yang ditakuti sebagai pemimpin mafia kejam, ada sebuah dorongan yang tak bisa ia jelaskan—keinginan untuk mendengar langsung cerita dari mulut gadis itu begitu ia membuka matanya nanti.
Pria itu pun memilih untuk tetap berada di ruang kerjanya, menyelesaikan beberapa berkas laporan yang tertunda sembari menunggu kabar bahwa sang tamu tak diundang telah siuman dari pingsannya.