Cerita ini mengisahkan seorang wanita yang ditinggal mati oleh suaminya karena kecelakaan yang dialami suaminya. Dimas, sebelum kepergiannya ia menitipkan pesan pada Dinda istrinya, untuk mendonorkan jantungnya pada pasien di rumah sakit yang sama. Dengan persetujuan Dinda akhirnya jantung itu di donorkan pada seorang pasien.
Setahun kepergian Dimas, Dinda mulai mencari kesibukan lagi. Walau belum hilang rasa sedih serta rindunya pada Dimas. Dinda bekerja di sebuah perusahaan dengan rekan-rekan yang sangat baik padanya salah satunya Ana. Ana juga sahabat Agra CEO perusahaan tempat mereka bekerja dan juga orang yang mendapatkan donor jantung Dimas.
Diawal pertemuan, Dinda dan Agra ada rasa ketertarikan pada mereka berdua. Tapi, Dinda dan juga Agra tidak terlalu menggubris hati mereka.
Namun, seiring berjalannya waktu Agra memahami hatinya yang telah jatuh cinta pada Dinda. Dengan berbagai alasan, Agra mengajak Dinda untuk menikah dengannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Mawarni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Ya Sudah Kita Menikah
"Nggak mungkin Ma, Pa. Dinda gak bisa menerimanya gitu aja! ", ucap Dinda yang Shock dengan penjelasan kedua orang tuanya.
Dinda yang sedang menjalani hari liburnya di rumah orang tuanya begitu terkejut tentang lamaran yang diajukan oleh Agra. Dan lucunya lagi kedua orang tuanya setuju dengan hal itu, menurutnya.
Tidak bisa dipercaya, sedangkan kedua orang tuanya baru sehari mengenal Agra tetapi mereka begitu antusias menyuruh dirinya untuk menerima lamaran Agra.
Ada apa ini? pikirnya.
"Sayang, Agra itu pemuda yang baik. Mama yakin dia pasti bisa membuatmu bahagia", kata bu Mirna sambil membelai kepala anaknya.
"Ma, ini sangat lucu. Kalian baru mengenalnya sehari. Lalu menerimanya gitu aja", bantah Dinda.
"Kalau begitu bagaimana denganmu, Nak?" tanya Anas.
"Maksud Papa?"
"Ya, kamu kan sudah beberapa bulan ini kenal dengan Agra. Jadi, apa pendapat mu Nak?"
Dinda tertunduk lemas, "Iya, Agra yang aku tau selama ini memang orang yang sangat baik..... ".
" Dan dia telah menceritakan semuanya dengan kami, termasuk mimpi Dimas yang..... ", ucapan pak Anas terputus.
" Jadi, mimpi itu lagi ya? Apakah bunga tidur itu bisa di jadikan sebuah alasan?" ucap Dinda masih lesu dengan wajah manyunnya.
"Mama dan Papa hanya berharap kamu bisa punya keluarga yang bahagia. Mengingat usia kamu yang masih muda apalagi dipernikahan kamu sebelumnya kamu belum punya anak..... ", ibu Mirna mencoba menjelaskan.
" Iya, Ma. Oke aku kan bicarakan ini pada Agra", sahut Dinda memotong pembicaraan mamanya.
Ia tidak ingin pembicaraan ini berlarut-larut. Karena bukan keadaan yang seperti ini yang dia inginkan saat mengunjungi rumah kedua orang tuanya.
.
.
.
.
Tok... tok.. tok....
Sebuah ketukan pintu di ruangan Agra.
"Masuk!", perintah Agra.
Pintu itu perlahan terbuka lebar dan menampakkan seorang wanita yang sudah ia sangka akan datang ke ruangannya.
Dinda berjalan mendekati Agra yang sedang di meja kerjanya. Mereka saling berpandangan dan berpikir dengan pikiran masing-masing.
Agra mempersilahkan Dinda duduk dihadapannya.
" Ada apa ini Agra?", tanya Dinda sedikit kecewa.
"Seperti yang kamu bilang. Ketika wanita ditanya mengapa dia mencintai seorang pria yang dipilihnya? Padahal banyak pria lain yang lebih baik darinya . Atau , ketika wanita ditanya apakah benar kamu mencintainya dan sejak kapan? Wanita sulit untuk menjawabnya". Agra menjelaskan.
Dinda diam, masih ingin mendengar penjelasan Agra.
"Tapi, menurut ku hal yang sama terjadi pada seorang pria, aku.... jika kamu menanyakannya aku juga sulit untuk menjawabnya. Hati kalau sudah 'klik' mau bilang apa lagi?" lanjut Agra.
"Tapi, apa secepat itu kamu memutuskan untuk menikah dengan ku?" tanya Dinda.
"Itu karena...... ", omongan Agra terputus.
" Mimpi. Ya kan? Pasti karena mimpi kamu yang bertemu dengan Dimas. Oke sekarang terserah! Kalian semua menganggap itu sebuah pertanda kan? Kalau begitu lakukanlah!" ucap Dinda sambil berdiri dari kursinya.
Dinda hendak berjalan keluar namun langkahnya terhenti.
"Apa maksudnya Din?" tanya Agra bingung mengartikan ucapan Dinda.
"Kamu ingin menikah denganku kan?" tanya Dinda sambil menoleh kesamping tapi tidak melihat Agra. "Ya, sudah kita menikah. Kamu tepati janjimu pada kedua orang tuaku dan juga Dimas. Tapi, aku tidak janji bisa menjadi istri yang baik untukmu", jelas Dinda dan melangkah keluar dari ruangan Agra.
Agra masih diam terpaku. Antara sedih atau bahagia. Tapi, walaupun begitu Dinda sudah setuju. Dia siap menerima resikonya.
Memang ya, ini terlalu cepat dan mungkin tidak masuk akal. Tapi inilah jalan yang sedang dia jalani. Memilih untuk mengikuti kata hatinya.
Kini anehnya ia terasa seperti terbakar. Seolah perkataan Dinda sengaja ingin menantangnya. Agra pun ingin menunjukan pada Dinda bahwa dia serius dengan ucapannya. Tidak ada pembatalan apalagi penundaan.
Agra cepat-cepat ke meja Bowo untuk menyuruhnya mengumumkan pernikahannya pada Dinda yang akan di selenggarakan 2 bulan lagi. Tentu saja hal ini membuat Bowo terkejut. Tapi, ia hanya bisa mengangguk pada perintah bosnya itu.
Agra kembali ke ruangannya. Dan Bowo mulai mengerjakan perintah bosnya. Ia mengirim Email ke setiap divisi dengan isi yang telah bosnya katakan.
Tidak memakan waktu lama berita itu tersebar kesemua karyawan dan membuat kaget semuanya termasuk di ruangan bagian keuangan tempat Dinda bekerja.
"Ha? Pak Agra mau nikah dengan Dinda? Dua bulan lagi? Serius ini?" ucap bu Wita dengan suara menggelegar.
Semua orang yang di dalam ruangan itu terkejut dan langsung mengerumuni laptop bu Wita. Berbeda dengan Ana yang langsung tersedak sampai permen yang baru ia makan ikut tertelan.
Setelah selesai membaca email tersebut mereka langsung menatap Dinda, ingin tau alasannya.
'Ternyata begitu ya, bahkan dia tidak bertanya padaku lagi', batin Dinda.
Dinda menampakkan senyumnya pada rekan sekantornya. Walaupun terpaksa, ia lakukan senatural mungkin. Ia tidak ingin ada banyak pertanyaan jika ia murung. Jadi, ia harus pura-pura bahagia di depan semua orang.
Semua bersorak dan memberikan selamat kepada Dinda. Namun, berbeda dengan Ana yang langsung berlari keluar ruangan. Dia tidak percaya dengan senyuman Dinda. Lebih baik ia bertanya pada Agra.
Brak!!!
Ana mendobrak pintu ruangan Agra.
"Apa yang terjadi?" tanya Ana sambil berjalan ke meja kerja Agra.
"Ana, setidaknya cobalah untuk menjadi karyawan yang baik untuk tidak selalu merusak pintuku!"
"I don't care! Yang aku ingin tau kenapa tiba-tiba kamu ngumumin pernikahan kalian dan kenapa tiba-tiba juga Dinda setuju? Kenapa aku tidak tau apa-apa!!!", Ana marah karena ia merasa di acuhkan dari berita hot ini.
" Ana, tidak semua urusanku, kamu harus tau kan?" ucap Agra.
"Tapi, aku mau tau..... ", tiba-tiba Ana merengek seperti anak kecil. " Aku udah terlanjur terjebak dengan kisah dua sahabatku ...... ".
" Oke... oke... aku akan cerita...... "
Agra pun menceritakan semuanya dari ingin membeli tanah yang ternyata tanah orang tua Dinda sampai yang melabraknya ke kantornya dan menantangnya dengan persetujuan.
Kini Ana bisa paham apa yang sedang di alami Dinda. Ia yakin bahwa Dinda tidak sebahagia kelihatannya malah kenyataannya sebaliknya. Tapi, Ana tidak ingin mengatakannya pada Agra takut jika Agra mencemaskan Dinda.
"Apa kamu yakin orang tua Dinda bisa merahasiakan masalah donor jantung itu?" tanya Ana.
"Mungkin untuk saat ini, iya. Tapi, seandainya suatu saat mereka mengatakannya pada Dinda juga tidak masalah. Karena cepat atau lambat Dinda pasti akan tahu".
" Ya sudah kalau begitu. Yey.......! Agra nikah.... Agra nikah", sorak gembira Ana ala Dora ketika berhasil.
Agra hanya menggeleng-geleng aneh melihat kelakuan sahabatnya yang random itu. Datang dengan seenak jidatnya, marah-marah gak jelas, tiba-tiba merengek dan pada akhirnya pecicilan kegirangan.
.
.
.
.
bersambung....
Terus dukung Author ya dengan Vote dan Like
Dan dukung juga Novel author yang lain yg berjudul Cintaku tapi Musuhku
So Happy Ending
Time Travel Lia mampir
Vio emang jahat banget sih
Time Travel Lia mampir
Time Travel Lia mampir
Time Travel Lia mampir