Nadira menghabiskan empat tahun menunggu suami yang hanya ia temui saat akad nikah. Saat Arga akhirnya pulang, ia datang bersimbah darah ke IGD, dan Nadira sendiri yang mengoperasinya. Tapi Arga tidak pulang sendirian. Ada nama perempuan lain di bibirnya, dan anak kecil yang memanggilnya Papa. Di tengah luka tembak, gugatan cerai, dan rahasia masa lalu yang mulai terkuak, Nadira memilih pergi. Arga baru sadar bahwa istri yang ia tinggalkan bukan sekadar nama di buku nikah. Tapi mengejar Nadira berarti ia harus rela terbakar oleh penyesalan yang selama ini ia hindari. Dan saat dua keluarga, dua rahasia, dan dua nama Alya bertabrakan, siapa sebenarnya cinta sejati Arga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Bab 21 - Jejak Vania
Vania Hartono menghilang tanpa suara.
Itu yang paling membuat Arga tidak tenang. Orang yang panik biasanya meninggalkan jejak kasar. Menarik uang tunai terlalu banyak, menelepon orang yang salah, memaki staf rumah, atau setidaknya meninggalkan satu barang yang bisa dibaca.
Vania tidak begitu.
Ia pergi dari rumah keluarga Hartono sebelum subuh, membawa paspor, satu koper kecil, dua ponsel, dan beberapa dokumen perusahaan. Kamera gerbang merekam mobil hitam keluar pukul 04.17. Mobil itu ditemukan tiga jam kemudian di parkiran mal, kosong.
"Dia sudah siap sejak awal," kata Bima.
Arga berdiri di ruang kerja rumah Wijaya. Di meja ada peta Jakarta, beberapa cetakan CCTV, dan daftar nomor yang pernah menghubungi Laras. Luka di dadanya masih belum sembuh, tapi ia menolak duduk terlalu lama.
"Bukan kabur karena takut," lanjut Bima. "Lebih seperti pindah posisi."
Arga menatap foto Vania. Perempuan itu tersenyum di acara amal, rambutnya disanggul rapi, kalung berlian kecil di lehernya.
"Dia tidak bekerja sendiri."
"Kevin mengaku tidak tahu."
"Aku percaya dia tidak tahu semua. Tapi keluarga Hartono punya terlalu banyak orang yang bisa dipakai."
Bima mengangguk. "Tim legal Hartono meminta kita menyerahkan semua bukti ke mereka untuk pemeriksaan internal."
Arga tertawa dingin. "Mereka pikir kita anak magang?"
"Saya sudah jawab bukti ada pada polisi dan kuasa hukum Dokter Nadira."
"Bagus."
Ponsel Arga bergetar.
Nadira.
Ia langsung mengangkat. "Nadira?"
Di seberang, suara Nadira terdengar tenang, tapi terlalu datar. "Mas di mana?"
"Rumah. Kenapa?"
"Aku dapat kiriman."
Arga menegakkan tubuh. "Kiriman apa?"
"Kotak kecil. Dikirim ke ruang dokter. Isinya foto."
"Jangan sentuh lagi. Aku ke sana."
"Aku sudah pakai sarung tangan."
Arga hampir lupa bernapas. Tentu saja. Ia sedang bicara dengan dokter yang kalau disuruh jangan menyentuh barang bukti, sudah lebih dulu berpikir seperti itu.
"Tetap di ruangan. Jangan sendirian."
"Mas Arga."
"Ya?"
"Aku menelepon untuk memberi tahu, bukan meminta izin."
Arga menutup mata sebentar.
"Baik. Aku datang karena aku khawatir, bukan karena memerintah."
Hening sebentar.
"Kalimat itu lebih baik," kata Nadira.
Arga sudah mengambil jaket sebelum telepon terputus.
Bima mengikuti. "Rumah sakit?"
"Sekarang."
Di Rumah Sakit Cakra Medika, Nadira menunggu di ruang dokter bersama Maya dan Santi. Kotak putih kecil diletakkan di atas nampan stainless. Di dalamnya ada tiga foto.
Foto pertama: Nadira keluar dari apartemen bersama Fadli.
Foto kedua: Nadira duduk di mobil Arga malam setelah akun gosip menyerang.
Foto ketiga: Nadira memeluk Kendra di rumah sakit.
Di bawah foto ada secarik kertas.
Kamu pandai sekali membuat semua laki-laki merasa harus melindungimu.
Maya sudah mengumpat selama sepuluh menit.
"Ini pasti Vania. Gaya kalimatnya aja sudah bau iri."
Nadira tidak menjawab. Ia menatap foto Kendra lebih lama daripada foto lain.
"Dia memakai anak lagi."
Arga masuk bersama Bima dan seorang penyidik yang sudah menangani kasus Laras. Begitu melihat foto, wajah Arga mengeras.
"Amplop?"
Santi menunjuk kantong bukti. "Sudah saya simpan, Pak. Kurirnya bilang dari jasa instan. Nama pengirim palsu."
Penyidik mengangguk dan mulai memproses.
Arga menatap Nadira. "Kamu baik-baik saja?"
"Menurut Mas?"
"Tidak."
"Kalau sudah tahu, kenapa tanya?"
"Karena aku ingin dengar dari kamu."
Maya melirik mereka. "Aku benci mengakui ini, tapi komunikasi kalian mulai membaik."
Nadira mengabaikan Maya.
Arga mengambil foto Kendra dengan sarung tangan. "Ini bukan cuma ancaman. Ini pesan. Vania ingin kamu merasa setiap kedekatanmu dengan orang lain bisa dipakai melawanmu."
"Dia ingin aku menjauh dari semua orang."
"Iya."
"Berarti dia tidak mengenalku."
Arga menatap Nadira.
Perempuan itu lelah, jelas. Bayangan gelap ada di bawah matanya. Tapi punggungnya tetap tegak. Tidak ada air mata, tidak ada histeris. Hanya marah yang dingin dan bersih.
"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Arga.
"Bekerja."
Maya langsung berkata, "Dir."
Nadira menoleh. "Aku punya pasien operasi jam dua. Aku tidak akan memberi Vania kepuasan melihat aku bersembunyi."
Arga ingin mengatakan tidak. Ingin menyuruhnya cuti, pulang, dijaga, dikunci kalau perlu. Kata-kata itu sudah sampai di lidah.
Lalu ia menelannya.
"Baik. Aku akan pastikan keamanan rumah sakit diperketat."
Nadira menatapnya.
"Lewat direktur rumah sakit," tambah Arga. "Bukan dengan menaruh prajurit di depan ruang operasi tanpa izin."
Maya menunjuk Arga. "Nilai delapan. Masih ada nada mau mengatur, tapi ada usaha."
Bima batuk menahan tawa.
Nadira akhirnya berkata, "Aku terima bantuan keamanan. Tapi pasien tidak boleh terganggu."
"Setuju."
Penyidik membawa kotak dan foto untuk diperiksa. Setelah mereka keluar, ruangan terasa lebih sempit.
Nadira mengambil map pasien.
Arga masih berdiri.
"Mas tidak perlu menunggu."
"Aku tahu."
"Tapi tetap menunggu?"
"Di luar. Sampai operasimu selesai."
"Itu tidak perlu."
"Mungkin. Tapi aku perlu."
Nadira menatapnya. Ada sesuatu yang hendak ia katakan, tapi akhirnya hanya menghela napas.
"Jangan lupa makan."
Arga terdiam.
Maya menutup mulut, matanya membesar.
Nadira sadar kalimat itu keluar terlalu alami. Ia langsung membuka map, pura-pura membaca.
"Maksudku, kalau Mas pingsan di rumah sakit, stafku tambah kerja."
Arga menunduk, menyembunyikan senyum kecil. "Baik, Dokter."
Operasi Nadira berjalan hampir tiga jam. Arga menunggu di lorong bersama Bima. Ia benar-benar makan nasi kotak yang dibeli Bima, meski rasanya seperti kardus.
Saat Nadira keluar, ia tampak lelah tapi stabil.
"Operasi berhasil?" tanya Arga.
"Iya."
"Syukurlah."
Nadira duduk di kursi koridor, melepas penutup kepala. "Mas masih di sini."
"Aku bilang menunggu."
"Mas juga sering bilang banyak hal dulu."
"Iya." Arga duduk di kursi seberangnya. "Karena itu sekarang aku harus membuat kalimatku punya isi."
Nadira tidak menjawab, tapi ia tidak pergi.
Beberapa saat kemudian, Bima datang membawa kabar.
"Komandan, kurir yang mengantar paket sudah ditemukan. Dia menerima pesanan dari akun atas nama D. Lokasi pemesanan dari kafe dekat kantor Hartono Group."
Arga berdiri.
Nadira juga.
Bima melanjutkan, "Ada CCTV. Orang yang memesan memakai masker dan topi, tapi posturnya perempuan. Dia tidak datang sendiri. Ada pria yang menunggu di mobil."
"Wajah pria itu?"
Bima menyerahkan ponsel.
Arga melihat gambar buram dari CCTV. Pria itu hanya tampak setengah wajah, tapi cukup untuk membuatnya mengerutkan kening.
"Aku pernah lihat dia."
Nadira mendekat tanpa sadar.
Arga memperbesar foto.
Bima berkata, "Namanya Reza Hartono. Sepupu Kevin dan Vania. Dia mengurus beberapa proyek keluarga."
Arga menatap nama itu lebih lama. "Dia hadir di gala?"
"Tidak di daftar tamu utama. Tapi staf hotel mencatat dia masuk lewat akses vendor sekitar satu jam sebelum acara dimulai."
Nadira memegang pinggir meja. "Jadi saat minumanku diganti, dia mungkin ada di sana."
"Mungkin," jawab Bima. "Belum bisa dipastikan."
Maya mendengus. "Keluarga kaya selalu punya pintu belakang. Bahkan untuk masuk ke kejahatan pun pakai jalur VIP."
Arga tidak tertawa. "Apa Kevin tahu Reza ada di sana?"
"Kevin bilang tidak," kata Bima. "Tapi dia juga bilang Reza sering masuk ke acara keluarga tanpa perlu izin."
Nadira menatap foto buram itu. Selama ini ia memusatkan marah pada Vania, pada Laras, pada semua perempuan yang menjadikan dirinya musuh. Sekarang ada laki-laki lain di belakang layar, lebih tenang, lebih bersih, mungkin lebih berbahaya.
"Kenapa dia membantu Vania?" tanya Nadira.
Bima menjawab pelan, "Menurut data awal, Reza punya masalah dengan Kevin. Proyek ruang anak yang dipimpin Kevin bisa menaikkan posisi Kevin di keluarga. Kalau proyek itu rusak karena skandal, Reza diuntungkan."
Maya mengangkat kedua alis. "Ah. Jadi iri hati versi korporat."
Arga menatap Nadira. "Ini bukan lagi hanya tentang kamu dan Vania."
"Aku tahu."
"Kalau Reza bermain, dia akan memakai cara yang terlihat legal."
Nadira menarik napas. "Bagus. Aku juga bisa terlihat legal sambil melawan."
Maya yang baru datang langsung mengumpat. "Bagus. Satu keluarga ikut main?"
Nadira menatap foto itu.
Vania tidak kabur sendirian.
Dan kalau keluarga Hartono sudah ikut melindunginya, permainan ini baru naik tingkat.