Dihina karena dantiannya cacat, Xiao Bai mendadak mendapatkan Tungku Ekstraksi Surgawi—sebuah artefak gaib yang berfungsi sebagai sistem mutlak. Tanpa perlu berkultivasi dengan cara biasa, ia bisa mengekstrak esensi monster, tumbuhan obat, hingga pusaka kuno menjadi pil murni tanpa cacat! Dari seorang sampah yang diinjak-injak, Xiao Bai bangkit mengekstrak langit dan bumi untuk menjadi penguasa tunggal yang tak tertandingi.
#Romance #Drama #Adventure #Kultivasi #Sistem #Overpowered #BalasDendam #Action-Fantasy
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tantangan Terakhir
# TUNGKU EKSTRAKSI SURGAWI
Keheningan yang mencekam alun-alun perlahan pecah oleh gumaman-gumaman cemas dari kerumunan yang masih berusaha mencerna apa yang baru saja mereka saksikan. Tetua Zhou masih berdiri kaku, matanya sesekali melirik ke arah langit seolah masih bisa merasakan sisa gelombang energi yang baru saja menyebar jauh melampaui batas kota.
Lin Hai, yang sempat terjatuh terduduk karena syok, perlahan bangkit berdiri, wajahnya masih pucat namun matanya kini dipenuhi campuran ketakutan dan keputusasaan yang mulai berubah menjadi sesuatu yang lebih berbahaya—harga diri yang terluka, mencari jalan untuk menyelamatkan wajahnya sendiri di depan seluruh kota yang baru saja menyaksikan kejatuhannya.
"Ini tidak mengubah apa pun," Lin Hai tiba-tiba berteriak, suaranya sedikit gemetar namun dipaksakan terdengar tegas, membuat seluruh kerumunan kembali menoleh ke arahnya. "Bakat hanyalah potensi kosong tanpa kemampuan nyata! Aku sudah berkultivasi selama bertahun-tahun, mencapai tingkat tiga Pemurnian Qi dengan kerja keras yang sesungguhnya. Sementara dia—" ia menunjuk Xiao Bai dengan tangan yang masih sedikit gemetar, "—hanya baru saja mendapatkan bakat yang bahkan belum pernah ia latih sama sekali!"
Beberapa orang di kerumunan mulai mengangguk setuju, argumen Lin Hai memang tak sepenuhnya salah—bakat memang bukan jaminan kekuatan nyata, dan riwayat kultivasi Xiao Bai yang sesungguhnya memang masih kosong sepenuhnya di sembilan ranah pertama.
"Aku menantangmu," lanjut Lin Hai, melangkah maju dengan keberanian yang dipaksakan, matanya menyala penuh tekad untuk mempertahankan reputasinya yang mulai runtuh, "duel terbuka, di sini, sekarang juga. Kalau bakatmu memang seistimewa yang batu itu katakan, buktikan langsung di hadapan seluruh kota, bukan hanya lewat cahaya kosong yang tidak berarti apa-apa tanpa kemampuan bertarung nyata!"
Seluruh alun-alun bergemuruh dengan bisikan-bisikan penuh antisipasi. Tetua Zhou melangkah maju, hendak menengahi, namun Xiao Bai mengangkat tangan, menghentikan langkah sang tetua sebelum sempat bicara.
"Aku terima tantanganmu, Lin Hai," kata Xiao Bai, suaranya tenang namun menggema jelas ke seluruh penjuru alun-alun.
Gemuruh kekagetan kembali meledak di antara kerumunan. Tetua Zhou menatap Xiao Bai dengan raut khawatir. "Xiao Bai, kau baru saja mengalami lonjakan energi yang belum sepenuhnya stabil. Duel terbuka dalam kondisi seperti ini bisa sangat berbahaya—"
"Aku mengerti risikonya, Tetua Zhou," potong Xiao Bai, menoleh sejenak dengan sorot mata yang penuh keyakinan, "tapi ini adalah kesempatan yang tepat untuk mengakhiri semua ini sekali dan untuk selamanya. Biarkan aku menyelesaikannya."
---
Arena duel disiapkan di tengah alun-alun, sebuah lingkaran besar yang ditandai dengan batu-batu putih, tempat yang biasa digunakan untuk pertarungan uji tanding antar murid sekte. Seluruh kerumunan berkumpul mengelilingi arena, ketegangan memenuhi udara saat kedua sosok itu berdiri berhadapan—Lin Hai dengan jubah kultivasi terbaiknya, qi tingkat tiga Pemurnian Qi berputar terlihat jelas di sekelilingnya bagi mereka yang cukup peka merasakannya, dan Xiao Bai, berdiri tenang tanpa qi kultivasi apa pun yang terlihat, hanya mengandalkan cahaya keemasan samar yang masih berdenyut pelan dari dalam dadanya.
"Aku akan memberimu kesempatan terakhir untuk mundur," kata Lin Hai, mencoba menutupi rasa gugupnya dengan nada mengejek yang biasa. "Meski dantianmu istimewa, kau bahkan belum tahu cara menggunakannya untuk bertarung. Aku bisa merobohkanmu dalam tiga gerakan."
Xiao Bai tidak menjawab, hanya memejamkan mata sejenak, berkomunikasi diam-diam dengan suara yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari dirinya sendiri.
"Tungku," bisiknya pelan, hanya cukup terdengar oleh dirinya sendiri, "apa yang bisa kita lakukan sekarang?"
> **[Host, segel yang retak sepenuhnya telah membuka akses penuh ke kapasitas dasar Tungku Ekstraksi Surgawi. Salah satu kemampuan yang kini tersedia adalah Ekstraksi Instan—memungkinkan Host mengekstrak esensi kekuatan dari pil-pil cadangan yang telah Host kumpulkan, menyerapnya langsung ke dalam tubuh untuk penguatan sementara namun signifikan. Aku mendeteksi Host memiliki tujuh pil energi cadangan hasil latihan selama sepuluh hari terakhir.]**
Xiao Bai membuka matanya, sorot tenang namun penuh tekad menatap Lin Hai yang masih berdiri angkuh di seberang arena. "Lakukan," gumamnya pelan.
Cahaya keemasan tiba-tiba menyala terang dari dalam dadanya, dan dalam hitungan detik, tujuh pil energi yang selama ini tersimpan rapi di kantung kecilnya lenyap, esensinya terserap langsung mengalir ke seluruh tubuh Xiao Bai. Ia merasakan kekuatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya—bukan qi kultivasi seperti yang dimiliki Lin Hai, melainkan sesuatu yang lebih murni, lebih padat, mengalir deras di setiap otot dan urat nadinya.
Lin Hai, yang sejak tadi menunggu dengan tak sabar, akhirnya melesat maju, kepalan tangannya yang diperkuat qi tingkat tiga Pemurnian Qi mengarah lurus ke wajah Xiao Bai dengan kecepatan yang bagi kultivator biasa mustahil untuk dihindari.
Namun Xiao Bai, dengan tubuh yang kini dipenuhi esensi murni dari tujuh pil energi, bergerak dengan kecepatan yang mengejutkan dirinya sendiri—ia menunduk cepat, menghindari pukulan Lin Hai hanya dengan selisih beberapa senti, sebelum membalas dengan pukulan telak ke perut lawannya.
Suara benturan keras menggema di seluruh alun-alun. Lin Hai terhuyung mundur beberapa langkah, wajahnya berubah dari percaya diri menjadi keterkejutan murni, tangannya mendekap perutnya yang terasa seperti dihantam batu besar.
"Ti-tidak mungkin," desis Lin Hai, terengah menahan sakit. "Kau tidak punya qi kultivasi sama sekali! Bagaimana bisa—"
"Kau benar," jawab Xiao Bai, berdiri tenang di tengah arena, matanya menatap tajam ke arah Lin Hai yang mulai kehilangan kepercayaan dirinya, "aku tidak punya qi kultivasi seperti dirimu. Tapi kau lupa satu hal, Lin Hai—selama ini, aku tidak hanya bertahan hidup dengan berdiam diri berharap keajaiban. Aku belajar, berlatih, dan mempersiapkan diri dengan caraku sendiri, sementara kau terlalu sibuk merayakan kesombonganmu."
Kerumunan yang mengelilingi arena mulai bergemuruh dengan sorak-sorai kekaguman, menyaksikan pembalikan yang tak seorang pun sangka akan terjadi secepat dan sedramatis ini.
Lin Hai, dengan amarah yang kini bercampur ketakutan, kembali melesat maju, kali ini mengerahkan seluruh qi kultivasinya dalam serangan yang jauh lebih kuat—namun Xiao Bai, dengan kekuatan dan kecepatan yang diperoleh dari esensi murni tujuh pil energinya, bergerak lebih cepat, menghindar dengan gesit sebelum menghantamkan pukulan terakhir yang telak mengenai dagu Lin Hai, membuat tubuh pemuda arogan itu terhempas ke tanah, tak sadarkan diri seketika di hadapan seluruh kerumunan yang menyaksikan dengan mulut menganga.
Xiao Bai berdiri di tengah arena, napasnya sedikit memburu namun matanya memancarkan ketenangan yang jauh lebih dalam dari sekadar kemenangan fisik semata. Ia menatap sekeliling, ke arah ratusan wajah yang beberapa minggu lalu menertawakan dan menghinanya, kini menatap balik dengan campuran rasa takjub, hormat, dan sedikit ketakutan.
"Pembalasan yang selama ini kubayangkan," gumamnya pelan, cukup lirih agar hanya dirinya sendiri yang mendengar, "ternyata bukan tentang menghancurkan seseorang yang menghinaku. Ini tentang membuktikan bahwa aku tidak pernah benar-benar sama seperti yang mereka pikirkan."
Namun di tengah kemenangannya, sebuah bisikan dari kerumunan tiba-tiba menarik perhatiannya—seorang murid tergopoh-gopoh berlari masuk ke arena, wajahnya pucat dan panik.
"Tetua Zhou! Gawat! Ada rombongan dari luar kota yang baru saja tiba di gerbang sekte—mereka membawa lambang Kekaisaran Xuan Yu, dan mereka bilang mereka datang khusus untuk mencari sumber gelombang energi yang baru saja mengguncang seluruh wilayah!"
Seketika, seluruh kerumunan yang tadinya bersorak merayakan kemenangan Xiao Bai kini kembali terdiam, wajah-wajah yang tadinya penuh kekaguman berubah menjadi kekhawatiran, menyadari bahwa kejadian hari ini mungkin baru saja mengundang perhatian dari kekuatan yang jauh lebih besar dan lebih berbahaya daripada sekadar rivalitas dengan seorang Lin Hai.