NovelToon NovelToon
Transmigrasi: Bercerai Dari Suami Brengsek Jatuh Ke Pelukan Vilain

Transmigrasi: Bercerai Dari Suami Brengsek Jatuh Ke Pelukan Vilain

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Jeje Jennifer

Orielle Celeste mati bersama bayi yang tak sempat ia lahirkan. Semua orang mengira wanita lemah yang selalu menangis itu akhirnya menyerah pada hidup. Mereka tidak tahu… Tubuhnya kini dihuni oleh Celeste Seraphina, mantan bodyguard profesional yang cerewet, dan ahli bela diri. Hal pertama yang ia lakukan setelah membuka mata bukanlah menangis. Ia menandatangani surat cerai, menghajar mantan suaminya hingga bersimbah darah, lalu meninggalkan rumah neraka itu tanpa sedikit pun penyesalan. Baginya, perceraian hanyalah awal. Namun, bahkan Celeste tidak menyangka seseorang telah menunggunya. Caspian Orion Devereux. Pria yang dijuluki sebagai villain paling berbahaya. Sosok yang bahkan dunia bawah pun enggan menyentuhnya. Tanpa banyak basa-basi, Caspian meletakkan sebuah kontrak pernikahan di hadapannya. “Menikahlah denganku.” “Sebagai gantinya, aku akan memastikan mantan suamimu… dan siapa pun yang pernah menyakitimu menerima balasan yang setimpal.” Kesepakatan yang terdengar menguntungkan. Sayangnya, bermain-main dengan seorang villain tidak pernah berakhir sederhana. Terlebih ketika pernikahan yang semula hanya sebuah kontrak perlahan berubah menjadi obsesi. Dan sang villain memutuskan bahwa wanita itu… adalah miliknya


Noh yg suka bini yg jijik liat suami pas Transmigrasi nohhhh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeje Jennifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertama

Ini panjang ya!

Sinar matahari pagi merayap pelan menembus tirai beludru tebal di kamar utama mansion mewah milik Caspian.

Cahaya hangat itu jatuh tepat di atas permukaan seprai sutra putih, menggelitik pelupuk mata Celeste dan memaksanya untuk perlahan mengerjap terbuka.

Argh...

Desisan tertahan langsung lolos dari bibir Celeste begitu gelombang rasa sakit yang teramat tajam menghantam kepalanya.

Kepalanya terasa begitu berat, berdenyut-denyut nyeri seolah ada ribuan jarum yang menusuk bagian pelipisnya.

Tenggorokannya juga terasa sangat kering dan pahit.

Celeste memejamkan mata rapat-rapat sambil memijat pelipisnya sendiri, mencoba mengumpulkan serpihan kesadarannya yang berserakan. Namun, saat ia mencoba bergerak, ia baru menyadari ada beban berat yang melingkar posesif di pinggang rampingnya.

Sebuah lengan kekar milik seorang pria mendekapnya erat dari belakang, mengunci tubuhnya agar tetap rapat menempel pada dada bidang yang hangat.

Seketika itu juga, ingatan semalam berkelebat cepat di kepala Celeste.

Klub malam, minuman, goyangan pinggul bersama Cassandra, ciuman panas di hadapan semua orang, diangkat ke dalam mobil, hingga... ingatan tentang dirinya yang meringsut ke pangkuan seorang pria—yang ia sadari sekarang adalah Caspian—serta ocehan ngawur tentang ingin belajar mencium karena takut kepalanya dipotong!

Wajah Celeste langsung berubah pucat pasi, lalu berubah merah padam menahan rasa malu yang teramat sangat.

(Ya ampun... Demi Tuhan, bunuh aku sekarang juga!) teriak Celeste dalam hati, ingin rasanya ia menghilang saat itu juga.

Bagaimana bisa ia bertingkah senekat dan sebodoh itu di hadapan suaminya yang terkenal kejam dan dingin?

"Sudah bangun, istriku?" Sebuah suara bariton yang rendah, serak khas baru bangun tidur, tiba-tiba berdengung tepat di dekat telinganya. Napas hangat Caspian menggelitik tengkuk Celeste, disusul oleh sebelah tangan pria itu yang kini mengusap perut ratanya dengan gerakan santai.

Celeste membeku di tempat, tidak berani sama sekali membalikkan tubuhnya untuk menatap wajah sang suami.

Sebenarnya, Caspian sudah terjaga jauh sebelum Celeste mengerjap atau bahkan mengeluh kesakitan. Pria itu sudah menghabiskan beberapa menit terakhir hanya untuk menikmati pemandangan di dalam pelukannya—membiarkan hidungnya tenggelam dalam aroma

vanilla bercampur strawberry yang menguar dari surai hitam sang istri.

Bahkan, saat Celeste masih memejamkan mata menahan sakit kepala, Caspian sempat mengecup lembut puncak kepala istrinya beberapa kali, lalu perlahan membawa jemari mungil Celeste ke dekat bibirnya untuk memberikan ciuman-ciuman ringan di sana. Bagi Caspian, jari-jari kecil itu tercium sangat wangi.

Mendengar napas Celeste yang mendadak tertahan dan tubuhnya yang menegang kaku, sudut bibir Caspian terangkat membentuk senyuman miring. Ia tahu betul wanita di dalam dekapan nya itu sedang dilanda kepanikan luar biasa akibat rasa malu.

Tanpa melepaskan dekapannya, Caspian mengeratkan sebelah tangannya di pinggang Celeste, menarik tubuh mungil itu agar semakin rapat menempel padanya tanpa celah. Wajahnya ia condongkan hingga bibirnya nyaris menyentuh cuping telinga Celeste.

"Kenapa diam saja, hm?" bisik Caspian serak, suaranya terdengar begitu menggoda dan dekat. "Masih memikirkan kepala siapa yang mau dipotong hari ini, atau... memikirkan pelajaran ciuman semalam?"

Caspian terkekeh pelan di ceruk leher Celeste, menikmati bagaimana pipi istrinya itu semakin merona merah padam hingga ke ujung telinga.

Mendengar bisikan penuh ejekan itu, jantung Celeste rasanya hampir meloncat keluar dari dadanya. Wajahnya yang sudah memerah kini panas membara, dan ia langsung berniat merosot turun untuk kabur dari tempat tidur.

"Kau harus dihukum," bisik Caspian rendah, suaranya berubah menjadi nada mutlak yang tidak bisa dibantah.

Dalam satu gerakan kilat yang sangat tangkas, Caspian membalikkan tubuh Celeste telentang di atas tempat tidur.

Sebelum istri mungil itu sempat melayangkan protes atau sekadar menarik napas, tubuh atletis Caspian sudah menindih tubuh Celeste sepenuhnya, mengurung wanita itu di antara kedua lengan kokohnya.

Punggung Celeste tenggelam ke dalam kelembutan seprai sutra, sementara di atasnya, Caspian menatap tajam manik mata sang istri dengan seringai tipis yang tersungging di bibirnya. Bobot tubuh Caspian yang menindihnya membuat Celeste terperangkap tanpa celah—merasakan dada bidang suaminya yang bergesekan tipis dengan tubuhnya, serta tatapan mematikan namun sarat akan gairah yang siap melahapnya bulat-bulat pagi itu.

Iris kelam Caspian menatapnya lekat-lekat, memindai setiap inci wajah cantik istrinya yang merona merah padam hingga leher.

Sorot mata pria itu menyala dengan api kepemilikan yang murni dan hasrat yang tertahan sejak semalam.

"Semalam..." suara Caspian mengalun rendah, serak, dan begitu membius, menghantam langsung gendang telinga Celeste. "...kau berani menantangku, mengancamku, bahkan meminta pelajaran ciuman secara terang-terangan, hm?"

Celeste menelan salivanya. Ia mencoba mendorong dada bidang Caspian dengan kedua tangan gemetaran, meski tenaganya sama sekali tidak sebanding. "A-aku... aku mabuk, Caspian... Aku nggak sadar..." cicit Celeste dengan suara bergetar gugup.

Caspian terkekeh pelan. Getaran tawa itu merambat langsung dari dada sang suami dan menembus tubuh Celeste.

"Aku tahu kau mabuk," balas Caspian dengan seringai miring yang kian mematikan. Jemari besar pria itu turun, dengan lembut menyelipkan helai rambut hitam Celeste ke belakang telinga, lalu mengusap rahang halusnya perlahan. "Tapi sekarang... kau sudah sadar sepenuhnya."

Pandangan Caspian turun, mengamati bibir merah ranum istrinya yang sedikit terbuka karena napas yang memburu. Tatapan itu berubah semakin gelap.

"Malam pertama kita..." bisik Caspian tepat di depan bibir Celeste, suaranya berubah serak penuh janji berbahaya. "...kita tunda semalam karena kau terlalu sibuk membuatku cemburu di klub."

Caspian mendekatkan wajahnya, membiarkan ujung hidung mereka saling bersentuhan, menghirup aroma vanilla yang menguar dari tubuh sang istri.

"Sekarang, tidak ada alasan untuk menghindar lagi, istriku."

Caspian membungkam bibirnya dalam sebuah ciuman yang langsung menuntut, dalam, dan membakar segala kewarasan.

Tepat ketika bibir Caspian mulai turun menyusuri rahang dan leher jenjangnya, kesadaran Celeste mendadak meronta.

Dengan sisa-sisa tenaga dan napas yang terengah-engah, kedua tangan mungilnya menahan dada pria itu, mencoba memutus sejenak hasrat yang mulai menguasai mereka.

"T-tunggu dulu!" cicit Celeste dengan suara bergetar, dadanya naik-turun menahan detak jantung yang nyaris meledak. Ia menatap mata kelam suaminya dengan sisa-sisa kewarasan yang ada. "Bukannya... bukannya kita cuma nikah kontrak?"

Mendengar kepolosan yang keluar dari bibir istrinya di saat genting seperti ini, gerakan Caspian terhenti. Bukannya mundur, pria itu justru mengangkat kepalanya sedikit. Sebuah seringai miring yang teramat tampan dan berbahaya terukir lambat di bibirnya, menertawakan usaha sia-sia sang istri untuk berkelit.

"Nikah kontrak atau tidak..." balas Caspian dengan suara bariton yang serak dan bergetar rendah, menatap lurus ke dalam manik mata Celeste seolah ingin melahapnya bulat-bulat, "...ini adalah agenda wajib dalam sebuah pernikahan, Sayang."

"Sialan gue dipanggil SAYANG" batin Celeste.

Caspian perlahan menarik tubuhnya sedikit ke atas, memberikan ruang di antara mereka. Dengan tatapan memanas yang tak lepas dari wajah istrinya, kedua tangan kekar pria itu bergerak cekatan membuka kancing kemeja hitam yang sejak semalam masih membalut tubuhnya.

Satu per satu kancing terlepas dengan cepat, hingga dalam satu gerakan mulus, Caspian meloloskan kemeja itu dari bahunya dan melemparnya sembarangan ke lantai kamar.

Seketika itu juga, napas Celeste seolah ditarik paksa dari paru-parunya.

Kedua mata gadis itu terbelalak lebar, terpaku sempurna pada pemandangan luar biasa yang kini terpampang nyata tanpa penghalang apa pun di atas tubuhnya. Otot dada Caspian yang tebal, bidang, dan kokoh tampak begitu sempurna, menurun lurus pada deretan perut six-pack yang mengeras dengan pahatan tegas bak patung dewa perang Yunani yang dia liat di majalah dewasa dulu.

Otot-otot di lengan dan perutnya menegang seiring setiap helaan napasnya, memancarkan aura maskulinitas dan dominasi yang membuat kerongkongan Celeste mendadak terasa sangat kering.

Ia hanya bisa meneguk salivanya susah payah, wajahnya memanas hebat hingga ke telinga, mati kutu di bawah bayang-bayang fisik suaminya yang benar-benar tanpa cela.

Melihat ekspresi dan tatapan takjub yang terpancar jelas dari mata Celeste, senyuman miring di bibir Caspian semakin terukir dalam.

Caspian meraih tangan kanan sang istri yang masih gemetar. Dengan lembut, ia menuntun jemari-jemari lentik itu agar menyentuh permukaan kulit dada bidangnya.

Seketika, ujung jemari Celeste merasakan tekstur kulit yang hangat, keras, dan kokoh. Caspian tidak berhenti di situ; ia terus membimbing tangan Celeste menuruni lekuk otot perut six-pack yang bergelombang, membiarkan gadis itu merasakan setiap jengkal permukaan tubuh maskulin suaminya secara langsung tanpa ada halang apa pun.

Napas Celeste tercekat hebat. Sentuhan itu terasa begitu membakar, mengirimkan sengatan listrik ribuan volt langsung ke ujung sarafnya dan membuat sekujur tubuhnya merinding seketika.

"Masih mau membahas tentang kontrak, hm?" bisik Caspian serak, suaranya terdengar begitu rendah dan sensual tepat di samping telinga Celeste.

Manik kelam pria itu menatap tajam manik mata istrinya yang kini tampak basah oleh antisipasi dan gairah.

Caspian langsung menundukkan kepalanya. Bibir pria itu membungkam bibir Celeste dalam sebuah ciuman yang mendalam, menuntut, dan langsung merenggut seluruh sisa akal sehat sang istri.

Lidah Caspian mendesak masuk, sementara Celeste hanya bisa mengerang pelan di dalam tautan bibir mereka, membiarkan dirinya sepenuhnya terhanyut.

Di tengah ciuman yang kian membius dan membuat kepalanya berputar, tangan besar Caspian tidak tinggal diam. Jemari kokoh pria itu bergerak dengan cekatan, menelusuri tepi pakaian Celeste yang masih melekat di tubuhnya. Sentuhan hangat itu mengirimkan gelombang kejut ke sekujur kulit Celeste, membuat napas gadis itu semakin memburu dan dadanya naik-turun dengan tidak beraturan.

Satu demi satu pengait dan lapisan kain pembatas di tubuh Celeste mulai dilonggarkan oleh tangan terampil sang suami. Tidak ada gerakan terburu-buru yang menyakiti.

Lengguhan lembut kembali lolos dari bibir Celeste, menggema pelan di dalam kamar yang kini dipenuhi oleh aroma keintiman dan napas yang memburu. Suara itu bertindak layaknya percikan api yang menyiram bensin pada gairah Caspian yang sejak semalam sudah berada di ujung tanduk.

Pria itu menggeram pelan di sela ciuman mereka, suara baritonnya yang serak terdengar begitu berat.

Celeste, yang kini sepenuhnya telah terlena dan hanyut dalam pusaran rasa panas yang diciptakan suaminya, tidak lagi merasa ragu. Dengan kesadaran yang sepenuhnya tunduk pada sentuhan Caspian, ia melingkarkan kedua tangannya erat-erat di leher sang suami. Gaun yang tadinya membatasi mereka kini sudah sepenuhnya tersingkap dan terlepas, membuat bagian atas tubuh kedua insan itu sama sekali tanpa sehelai benang pun.

Tanpa ada lagi sekat pembatas, dada bidang Caspian yang kokoh dan panas bergesekan secara langsung dengan kulit dada Celeste. Sentuhan kulit bertemu kulit itu mengirimkan sengatan listrik luar biasa yang membuat Celeste mendesis, melengkungkan punggungnya secara insting dan menempelkan tubuh mereka semakin erat, seolah ingin menyatu tanpa celah di bawah dekap penuh kuasa sang penguasa.

Ciuman mereka semakin dalam dan menuntut, menghanyutkan keduanya ke dalam pusaran gairah yang kian membara. Caspian memperdalam tautan bibir itu, menyesap setiap desahan yang lolos dari bibir Celeste seolah itu adalah candu yang paling mematikan.

Di saat yang sama, tangan kiri Caspian yang menangkup punggung polos Celeste memberikan usapan lambat, memetakan setiap garis lekuk tulang belakang istrinya dengan jemari kasarnya.

Kontak langsung kulit bertemu kulit itu membuat Celeste bergidik nikmat, melengkungkan punggungnya semakin melekat pada tubuh sang suami.

Sementara itu, tangan kanan Caspian bergerak lebih berani. Jemarinya menelusuri lekuk pinggang Celeste, lalu naik perlahan untuk membelai lembut dada sensitif sang istri. Setiap sentuhan yang diberikan terasa begitu telaten dan memuja, membangunkan sensasi baru yang belum pernah dirasakan Celeste seumur hidupnya. Dari sana, tangan besar tersebut turun perlahan, mengelus permukaan perut rata Celeste yang naik-turun dengan liar akibat napasnya yang tersengal-sengal.

Celeste mencengkeram tengkuk Caspian semakin erat, jemarinya meremas helaian rambut hitam pria itu untuk melampiaskan rasa geli bercampur nikmat yang merambat ke seluruh penjuru tubuhnya.

Suara napas mereka yang beradu dan gesekan dada bidang Caspian yang keras dengan kulitnya menciptakan harmoni liar yang membuat akal sehat Celeste benar-benar luluh lantak tanpa sisa.

Di tengah gairah yang kian memuncak dan membakar batas kewarasan mereka, Caspian secara perlahan melepaskan tautan bibir mereka.

Pria itu menarik wajahnya sedikit, memberi jarak bagi keduanya untuk mengambil napas. Dadanya naik-turun dengan cepat, dan iris kelamnya menatap wajah Celeste dengan pandangan yang kian menggelap, dipenuhi oleh hasrat murni yang nyaris tak tertahankan.

Tangan kanan Caspian yang sebelumnya menelusuri perut rata istrinya kini bergerak turun, menyusup ke bagian bawah tubuh Celeste. Dengan gerakan yang sangat lembut, pria itu membelai daerah inti istrinya yang sudah sepenuhnya basah—bahkan menembus lapisan tipis pakaian bawah yang tersisa.

Celeste langsung tersentak hebat, punggungnya melengkung ke atas dan matanya terbelalak lebar akibat sengatan nikmat yang teramat sangat. Sebuah desahan tertahan lolos dari bibirnya, diiringi tubuh yang meremang hebat.

Caspian menundukkan wajahnya, mendekatkan bibirnya ke dekat telinga Celeste. Suara bariton pria itu terdengar begitu serak, rendah, dan sarat akan nada menggoda yang membuat bulu kuduk Celeste merinding seketika. "Kau sudah basah...sayang"

Tidak membuang waktu lagi, tangan terampil Caspian bergerak cepat meloloskan sisa pakaian terakhir yang menutupi bagian bawah tubuh Celeste.

Dalam hitungan detik, seluruh pembatas di antara mereka benar-benar lenyap.

Caspian menarik kedua lutut istrinya, membuka lebar kaki Celeste dan memosisikannya agar sepenuhnya terbuka dan terekspos di bawah tatapannya. Pria itu terdiam sejenak, menegakkan sedikit tubuhnya untuk memperhatikan setiap inci keindahan dan bukti nyata dari gairah sang istri yang sudah tak tertolong lagi. Manik kelamnya menatap lekat-lekat daerah intim Celeste yang berkilau basah, mengagumi sekaligus meresapi betapa tubuh wanita itu telah menyerah seutuhnya padanya.

Pikiran Caspian teralihkan sesaat, seperti teralihkan sesuatu yg lain.

Merasa begitu terekspos dan telanjang bulat di bawah tatapan tajam sang suami, gelombang rasa malu yang luar biasa menghantam Celeste. Secara refleks, kedua tangannya bergerak hendak merapatkan paha dan menutupi dirinya.

"Jangan," suara Caspian bernada rendah, menghentikan gerakan Celeste seketika.

Caspian merendahkan tubuhnya. Pria itu menenggelamkan wajahnya di antara kedua paha sang istri.

Tanpa aba-aba, lidah hangat Caspian langsung menjilat naik melewati titik paling sensitif itu.

Ah—!

Jeritan tertahan lolos dari bibir Celeste bersamaan dengan tubuhnya yang terlonjak hebat, melengkung ekstrem dari tempat tidur. Cengkeramannya pada seprai dan rambut Caspian menguat seketika, sekujur tulangnya mendadak lemas seiring lidah mahir pria itu mulai bergerak dengan ritme yang menghancurkan seluruh sisa akal sehatnya.

Sensasi panas yang membakar langsung menghantam sekujur saraf Celeste, membuat dunia di sekitarnya mendadak berputar hebat.

Setiap sentuhan lidah Caspian terasa begitu telaten, menghisap dan mengeksplorasi setiap inci area sensitifnya tanpa ampun, menciptakan gelombang kenikmatan luar biasa yang belum pernah ia rasakan dan bayangkan sebelumnya.

Celeste mendesis putus asa, kepalanya menengadah ke belakang dengan mata terpejam rapat sementara bibirnya terbuka lebar mengeluarkan desahan-desahan manis yang tak lagi mampu ia tahan.

Kedua tangannya yang meremas seprai sutra putih kini berpindah, mencengkeram kuat helaian rambut hitam Caspian, seolah berusaha mendorong pria itu agar berhenti karena kenikmatannya sudah terlampau batas, namun di saat yang sama ia justru semakin membenamkan wajah suaminya agar terus melakukannya.

Caspian sama sekali tidak berniat melonggarkan cengkeramannya. Satu tangannya yang besar dan kokoh menahan kuat paha bagian dalam Celeste, memastikan posisi istrinya tetap terbuka lebar dan tak bisa bergerak ke mana-mana, sementara tangan yang satunya lagi meremas pinggul Celeste dengan erat, memberikan pegangan yang stabil di tengah gejolak liar tersebut.

Ritme lidah Caspian kian menjadi, menekan tepat pada titik puncak kenikmatan Celeste hingga tubuh gadis itu mulai gemetar hebat.

Napas Celeste tersengal-sengal, dadanya naik-turun dengan sangat cepat sementara keringat tipis mulai membasahi pelipis dan leher jenjangnya. Gelombang klimaks yang dahsyat mendadak merambat naik dari ujung kakinya, menghantam dadanya, dan mengancam untuk meledakkan seluruh sisa kesadarannya.

"C-Caspian... Ah, tuhan... Caspian, aku..." racau Celeste tidak karuan, suaranya bergetar hebat di ambang batas kepuasan mutlak.

Mendengar rintihan putus asa dan melihat bagaimana tubuh istrinya menegang kaku, Caspian memberikan satu sentuhan akhir yang jauh lebih dalam dan intens dengan lidahnya.

Puncak itu datang. Celeste menjerit tertahan, tubuhnya melengkung ekstrem ke atas dengan mata terbelalak kosong dan napas yang terhenti seketika. Seluruh ototnya menegang, merasakan gelombang kenikmatan yang begitu dahsyat menghantam kesadarannya hingga ia terkulai lemas di atas ranjang dengan air mata kelegaan yang meleleh di sudut matanya, dadanya naik turun dengan sangat cepat mencoba menghirup udara sebanyak-banyaknya.

Caspian menegakkan tubuhnya perlahan, menjauhkan wajah dari tubuh sang istri. Bibirnya basah, dan iris kelamnya menatap lekat-lekat pada wajah Celeste yang tengah terengah-engah dengan tubuh basah oleh keringat. Pria itu menyeringai kecil, tampak sangat puas melihat bagaimana ia berhasil membuat istrinya tunduk tak berdaya di bawah kuasanya.

Tanpa membuang waktu, Caspian merangkak naik kembali, menempatkan tubuhnya di antara kedua kaki Celeste yang masih lemas. Ia menunduk, mencium bibir istrinya yang masih bengkak dan terbuka, menyalurkan rasa manis dari diri Celeste yang tertinggal di bibirnya sendiri.

"Ini baru permulaan, istriku" bisik Caspian serak tepat di depan bibir Celeste, sebelum akhirnya ia mensejajarkan posisinya, bersiap untuk memberikan penyatuan seutuhnya yang telah mereka nantikan.

Caspian membungkam bibir Celeste sekali lagi dalam sebuah ciuman.

Lidah Caspian kembali mendesak masuk, membelit lidah Celeste yang masih lemas akibat terjangan klimaks baru saja, membiarkan gadis itu merasakan kembali sisa rasa manis dari dirinya sendiri yang tertinggal di bibir suaminya. Celeste mengerang pelan di dalam tautan itu, tangannya yang tadinya terkulai lemas kini kembali terangkat, merengkuh leher Caspian erat-erat seolah menemukan satu-satunya pegangan di tengah dunia yang berputar hebat.

Ciuman itu berlangsung lama dan membakar, menyatukan napas mereka yang sama-sama memburu, hingga perlahan Caspian menarik wajahnya sedikit. Ia menyisakan jarak beberapa sentimeter saja, membiarkan dahi mereka saling bersentuhan.

Iris kelam Caspian menatap lekat-lekat manik mata Celeste yang masih sayu, berkaca-kaca, dan menatapnya penuh kepasrahan.

"Sekarang..." bisik Caspian serak, napasnya yang berat menerpa bibir Celeste yang basah dan membengkak. "...siap untuk menjadi milikku seutuhnya, hm?"

Menatap manik kelam Caspian yang menyala penuh gairah di hadapannya,

Celeste menelan salivanya yang tercekat. Sisa-sisa keraguan atau rasa canggung yang sempat tersisa di benaknya mendadak lenyap begitu saja, menguap bersama sengatan nikmat yang baru saja ia rasakan.

Di dalam hatinya, Celeste membatin pasrah, (Anjir, pasrah aja gue... Ini kan suami gue juga. Enak lagi, huhuhu...)

Melihat binar kepasrahan dan kesiapan yang akhirnya terpancar jelas di mata sang istri, senyuman miring penuh kemenangan terukir di bibir Caspian.

Caspian mengangguk pelan, seolah bisa membaca setiap isi kepala istrinya yang telah menyerah seutuhnya. Pria itu mulai bergerak dengan sangat berhati-hati.

Ia menahan tubuhnya dengan kedua tangan yang bertumpu di sisi kepala Celeste, lalu perlahan-lahan menyatukan diri mereka. Caspian tidak langsung mendesak masuk sepenuhnya, ia memberi waktu bagi tubuh Celeste untuk beradaptasi, merasakan setiap inci kehangatan dan kebasahan yang menyambutnya.

"Tarik napas, sayang" bisik Caspian serak, suaranya terdengar begitu menenangkan di tengah debar jantung mereka yang bergemuruh.

Celeste memejamkan matanya erat-erat, menuruti perintah suaminya. Ia menarik napas dalam-dalam melalui hidung, merasakan betapa penuh dan sesaknya rongga tubuhnya saat Caspian mulai mengisi kekosongan di antara mereka.

Sensasi asing yang luar biasa itu sempat membuat tubuhnya menegang kaku, mencengkeram erat seprai putih di bawah punggungnya.

Mendapati tubuh istrinya yang menegang, gerakan Caspian langsung terhenti. Pria itu tidak melanjutkan sodorannya. Ia menurunkan kepalanya, memberikan ciuman-ciuman lembut bertubi-tubi di kening, pelipis, hingga turun ke kelopak mata Celeste yang basah, berusaha meredakan ketegangan tersebut.

"Aku di sini... Tenanglah, hm" bisik Caspian lembut, mengusap punggung polos Celeste dengan usapan melingkar yang menenangkan.

Setelah beberapa saat, tatkala otot-otot Celeste mulai mengendur dan terbiasa dengan ukuran tubuhnya, Caspian kembali memulai pergerakannya. Pelan. Sangat pelan dan terukur. Ia menarik diri sedikit, lalu mendorongnya masuk kembali dengan ritme lambat yang menciptakan gesekan begitu intens di dalam sana.

Setiap dorongan yang diberikan Caspian terasa begitu dalam, merambat naik dan membakar kembali sisa-sisa kesadaran Celeste. Rasa penuh yang awalnya mendatangkan rasa kaku kini perlahan berubah menjadi gelombang sensasi menggelitik yang luar biasa nikmat.

Celeste mendesah pelan, matanya terbuka kembali menatap wajah suaminya yang berjarak hanya beberapa sentimeter darinya. Keringat tipis menghiasi pelipis Caspian, dan tatapan kelam pria itu penuh dengan kekaguman serta rasa memiliki yang teramat besar.

"Enak...?" bisik Caspian rendah tepat di telinganya, sengaja memperlambat tempo gerakannya untuk menggoda sang istri.

Wajah Celeste merona merah padam, tetapi kali ini ia tidak berniat mengelak.

Dengan napas yang tersengal-sengal, ia mengangguk pelan dan melingkarkan kembali kakinya di pinggang Caspian, mempererat tautan mereka.

Mendapatkan respons jujur itu, seringai puas terukir di bibir Caspian. Ritme yang tadinya lambat dan penuh kehati-hatian itu perlahan mulai berubah, menjadi sedikit lebih cepat, lebih dalam, dan semakin membakar dunia mereka hingga tak ada lagi batas di antara keduanya.

Mendapatkan respons dan desakan dari tubuh Celeste yang semakin meminta, Caspian tidak lagi menahan diri. Tempo yang tadinya konstan dan berhati-hati kini berubah drastis, menjadi semakin cepat, liar, dan menuntut.

Suara gesekan kulit dan desahan napas yang memburu berpadu menjadi satu di dalam kamar mewah tersebut, menciptakan alunan yang sarat akan gairah murni.

Celeste melengkungkan punggungnya semakin tinggi, kedua tangannya mencengkeram erat otot bahu Caspian hingga meninggalkan bekas kemerahan di sana. Tubuhnya terasa melayang di udara, dihantam oleh gelombang kenikmatan bertubi-tubi yang datang tanpa henti seiring setiap entakan kuat dari sang suami.

"Caspian... Ah, tuhan... S-sakit, tapi... enak..." racau Celeste di sela tangis kecil dan desahannya yang putus asa, matanya terpejam rapat dengan air mata kenikmatan yang tumpah ke pelipisnya.

Mendengar rintihan itu, Caspian semakin kehilangan kendali. Iris kelamnya menggelap sempurna, menatap wajah istrinya yang tampak begitu rapuh sekaligus memabukkan di bawah kuasanya. Pria itu menangkup wajah Celeste, membungkam bibir sang istri dalam ciuman yang sama liar dan kasarnya dengan ritme tubuh mereka.

Tempo Caspian semakin menggila, menghantam tubuh Celeste tanpa kenal ampun. Setiap entakan yang bertenaga membuat tubuh mungil Celeste terhentak naik turun secara drastis di atas pangkuannya, menciptakan suara gesekan dan hantaman yang memecah keheningan ruangan.

Napas Celeste sudah benar-benar berantakan, tercekat di tenggorokan di antara desahan panjang dan isak nikmat yang tak lagi bisa ia bendung. Kedua tangannya mencengkeram erat bahu suaminya, membiarkan dirinya diombang-ambingkan oleh kenikmatan luar biasa yang merenggut seluruh sisa akal sehatnya.

Di tengah gairah yang membakar itu, Caspian menundukkan kepalanya. Bibir panas pria itu mulai menelusuri leher jenjang Celeste, memberikan ciuman-ciuman menuntut sebelum lidahnya menjilat naik ke atas, mengecap kulit sensitif di sekitar rahang, lalu turun kembali untuk menghisap dan menjilat dada istrinya dengan liar.

"C-Caspian, tunggu... hosh... aku mau pipis, lepas dulu!" racau Celeste panik di tengah hantaman yang bertubi-tubi, kedua tangannya mendorong dada suaminya dengan sisa tenaga yang ia miliki. Sensasi penuh di bagian bawahnya mendadak terasa begitu mendesak, berpadu antara hasrat yang membuncah dan dorongan alami tubuhnya.

Namun, Caspian sama sekali tidak mengindahkan permohonan itu. Pria tersebut justru menyeringai semakin lebar, menangkap sinyal dari tubuh istrinya yang bergetar hebat. Alih-alih melambat, Caspian justru semakin mempercepat dan memperdalam entakannya, membuat Celeste benar-benar kehilangan pegangan.

Gelombang klimaks yang kesekian kalinya, jauh lebih dahsyat dari sebelumnya, menghantam tubuh Celeste dengan telak.

Jeritan tertahan lolos dari bibirnya saat cairan hangat menyembur keluar bersamaan dengan pelepasan luar biasa yang merenggut seluruh kesadarannya. Celeste terkulai lemas di atas pangkuan suaminya, napasnya tersengal-sengal dengan air mata kelegaan yang tumpah, merutuki dirinya sendiri dalam hati,

"Kan aku bilang apa, aku pengen pipis" Celeste rasanya ingin menangis.

Melihat tubuh istrinya yang melemas dan gemetar hebat dalam dekapannya, Caspian menghentikan gerakannya sejenak. Pria itu menunduk, merapatkan bibirnya ke daun telinga Celeste yang masih memerah, lalu mengulumnya lembut sebelum berbisik dengan suara baritonnya yang serak dan penuh kemenangan:

"Itu bukan pipis, sayang"

"Can i keep going, Orielle? Please"

.

.

.

.

Uap hangat masih mengepul dari mangkuk bubur ayam yang dibawa Caspian ke atas nakas. Setelah membersihkan tubuh Celeste di kamar mandi—karena gadis itu terlalu lemas dan gemetar untuk berdiri sendiri—Caspian membalut istrinya dengan gaun tidur yang longgar dan nyaman.

Kini, Celeste duduk bersandar pada tumpukan bantal empuk di atas ranjang.

Meski rasa lengket di tubuhnya sudah hilang berganti dengan kesegaran, sensasi terbakar dan rasa perih yang luar biasa masih jelas terasa di bagian bawah tubuhnya. Setiap kali ia sedikit saja bergeser, ringisan tertahan hampir selalu lolos dari bibirnya.

Padahal, ini bukan pertama kalinya Celeste berhubungan intim. Walaupun mungkin dia cuma sekali berhubungan dengan Lucian dan langsung hamil.

"Buka mulutnya, sayang" titah Caspian lembut, memecah keheningan kamar.

Pria itu duduk di tepi ranjang, memegang mangkuk di tangan kiri sementara tangan kanannya menyendokkan makanan. Wajah

Caspian tampak begitu tenang, sangat kontras dengan sosok beringas yang menguasainya beberapa jam lalu.

Celeste mengerjap pelan, menatap suaminya dengan tatapan jengkel bercampur lemas. Dengan enggan, ia membuka mulutnya dan menerima suapan pertama. Rasa lapar akibat terkurasnya banyak tenaga langsung mendesak, membuat Celeste mengunyah dalam diam meski rasa perih di tubuhnya terus mengingatkannya pada betapa liarnya sang suami.

Suapan demi suapan bubur ayam itu akhirnya tandas juga, membantu mengembalikan sedikit tenaga Celeste yang sempat terkuras habis. Caspian meletakkan mangkuk kosong tersebut ke atas nakas, lalu menoleh kembali kepada istrinya dengan tatapan yang jauh lebih melunak.

Pria itu merapikan helai rambut Celeste yang masih sedikit lembap, mengusap pipi istrinya dengan punggung jarinya yang hangat.

"Hari ini kamu tidak usah ke mana-mana," ucap Caspian dengan nada final yang tidak bisa diganggu gugat. Pria itu merapikan selimut yang menutupi tubuh Celeste hingga sebatas dada. "Istirahat saja di rumah. Aku ada urusan sebentar, mau ke kantor untuk membereskan beberapa berkas penting."

Celeste yang mendengar itu hanya bisa mendengus pelan di balik selimutnya, melirik suaminya dengan tatapan jengkel. Ingin sekali ia memprotes atau mencak-mencak, tapi tubuhnya yang masih terasa remuk redam dan perih di bagian bawah membuatnya mengurungkan niat. Untuk bergerak sedikit saja rasanya butuh perjuangan, apalagi jika harus pergi ke galeri atau keluar rumah hari ini.

"Iya, terserah kamu," gerutu Celeste lemah, suaranya terdengar serak. "Sana pergi. Awas saja kalau nanti malam kamu minta lagi."

Caspian terkekeh pelan—suara bariton yang terdengar begitu menyebalkan namun sukses membuat jantung Celeste berdegup dua kali lebih cepat. Pria itu membungkuk, mengecup kening Celeste sekilas sebelum akhirnya beranjak dari sisi ranjang, menyambar jas kerjanya, dan meninggalkan kamar tidur utama.

Sepeninggal Caspian, kamar kembali sunyi. Celeste berniat merebahkan diri untuk melanjutkan tidurnya yang sempat tertunda. Namun, baru saja matanya terpejam, suara dering ponsel yang diletakkan di atas nakas mendadak memecah keheningan.

Celeste mendengus kesal, meraba meja dengan tangan lemasnya untuk meraih benda pipih tersebut. Begitu layar menyala dan tertera nama Cassandra di sana, Celeste langsung menggeser tombol hijau dan mendekatkan ponsel itu ke telinganya.

Belum sempat Celeste mengucapkan halo, suara amukan Cassandra sudah lebih dulu meledak di seberang sana, nyaris memecahkan gendang telinganya.

"CELESTE! SIALAN BANGET YA LO! DITELFON DARI TADI PAGI NGGAK DIANGKAT-ANGKAT! LO KEMANA HAH?! JANGAN BILANG LO LAGI ASYIK BULAN MADU SAMPAI LUPA TEMEN SENDIRI?!" maki Cassandra menggelegar, terdengar sangat kesal karena pesannya diabaikan.

Celeste menjauhkan sedikit ponselnya dari telinga, meringis pelan sambil memijat pelipisnya yang mendadak pening. Dengan suara lemas, manja, dan tanpa dosa, ia memotong omelan panjang sahabatnya itu.

"Dih, santai dong, Cassa... Lo kayak gak tahu aja pengantin baru lagi sibuk ngapain," jawab Celeste lesu, sengaja mendesah pelan di ujung kalimatnya.

Di seberang sana, suara teriakan Cassandra langsung terhenti, digantikan oleh keheningan sesaat sebelum suara sahabatnya itu berubah penuh selidik.

"Tunggu... Suara lo kenapa lemas gitu? Kayak orang mau sakaratul maut. Jangan-jangan..."

Celeste terkekeh pelan, meski tubuhnya masih terasa perih. Rasa ingin pamer sekaligus curhat mendadak menguasainya. Ia mengubah posisi rebahannya, meringis kecil saat bagian bawah tubuhnya kembali bergesekan dengan seprai, lalu mulai bercerita blak-blakan tanpa filter.

"Sumpah ya, bestie... Semalem gue di-unboxing sama suami tampan gue. Parah banget, gila!" adu Celeste dengan nada dramatis, setengah mengeluh setengah membanggakan. "Gue dikurung, diciumin, terus yang paling parah... dia mainnya brutal banget, anjir! Trus lama lagi"

Cassandra di seberang sana langsung memekik kaget, suaranya melengking tinggi. "HAH?! SERIUS LO?! BENTAR-BENTAR... LO DI-UNBOXING SAMPAI GIMANA EMANGNYA?!"

"Seluruh badan gue pegel-pegel, rasanya mau copot! Bagian bawah gue sampai perih banget, padahal gue kan udah pernah nikah sebelumnya... Suami gue kayak singa kelaparan! Tadi aja gue sampai harus dimandiin karena kaki gue lemes gak bisa berdiri sendiri!" racau Celeste panjang lebar, meluapkan segala uneg-uneg dan rasa lelah bercampur nikmat yang ia rasakan pada sahabat setianya itu.

1
Muft Smoker
aaaaa Manis nya mereka
Muft Smoker
di luar ekspektasi yx cele ,, 😂😂😂
Muft Smoker
😂😂😂😂😂😂😂😂
khemjira
Wkwkwk pantes. kaget kmrn tb2 Jocelyn🤭🤣
Muft Smoker
sabar ,, sabar ,, org sabar rejeki ny melebaaaar ,, 😂😂😂😂

POV cassian : bukan rejeki yg melebar tp kepala ma telinga saya yg melebar ,, 😒😒😒😒😒😒



🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker
Xander lngsung jdi patung hidup ,, 😂😂😂😂
Muft Smoker
😂😂😂😂😂😂😂😂klo gx liat mubazir yx ,, 😂😂😂
Muft Smoker
sabar yx cele ,, 😂😂😂😂😂
Muft Smoker
lanjuuut kak ,, ceritany seruuuuuu
Muft Smoker
gx majikan , gx ipar , gx pelayan ny ,, semua ny gesrek ,,
kasihan caspian di sekitar ny byk org2 di luar Nurul ,, termasuk sang istrii ,,
Muft Smoker
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Muft Smoker
astgaaaaa gx elegan banget mulut ny di jepit pake jepit rambut ,, sekalian di kuncir bibir adik ny caspian ,, 😂😂😂😂😂😂
Muft Smoker
sabar xanderion si Mak lagi mode senggol bacok ,,
Kade di Kadek ,, 😂😂😂😂
Muft Smoker
tenaga perempuan klo lagi dongkol setengah meninggoy bisa juga menggeser kulkas 2 pintu 😂😂😂😂😂
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
Muft Smoker
sbar yx Cassandra ,, selama 2 hari ini anda mentraktir org yg slah ,, 😂😂😂😂
Muft Smoker
aiisshhh ,, gibah dlm sgala hal ,, 😂😂😂😂😂
Muft Smoker
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
aku
jadi yg bnr 2 bulan apa 90 hari tor? 😁
Jennifer: makasiiii hihi
total 1 replies
Muft Smoker
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!