Seorang gadis terpaksa menikah dengan sahabat masa kecilnya karena calon suaminya pergi begitu saja tanpa kabar dihari pernikahannya.
Hal yang paling menyakitkan dalam hidupnya bukan ditinggalkan calon suaminya saja, ternyata sahabatnya yang sudah sah menjadi suaminya menikah lagi dengan kekasih suaminya dimalam pertama mereka.
Istri kedua suaminya selalu menekankan pada gadis itu bahwa statusnya sebatas di atas kertas.
Apakah gadis itu bisa bertahan dalam menjalankan pernikahannya atau malah memilih untuk berpisah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wilda ellen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bekal
"Dari siapa?" tanya Alex bingung saat melihat isi dari paper bag yang diterimanya.
"Tadi pembantu yang di rumah bapak datang"
Alex langsung pergi begitu saja saat mendengar siapa yang mengantarkan makanan untuknya. Ada perasaan kecewa dalam hatinya, dia berharap kalau Sarah lah mengantarkan makanannya.
"Giant, pesankan makanan untuk ku!" ucap Alex saat mereka sudah berada dalam ruangan Alex.
"Tapi pak, bukannya itu bekal untuk bapak?" tanya Giant dengan bingung.
"Itu untuk mu saja" ucap Alex sambil meletakkan paper bag di atas meja nya.
"Baik, pak." Sesuai dengan apa yang dikatakan Alex, Giant memesankan makanan untuk Alex.
Setelah itu Giant mengambil paper bag yang berisi bekal untuk Alex dari atas mejanya Alex.
Saat Giant ingin memeriksa isi menu bekalnya, secarik kertas jatuh ke atas lantai. Dengan penasaran Giant membukanya dan melihat nama yang tertera di atas kertas itu. Dengan tersenyum Giant menatap Alex yang fokus dengan pekerjaannya.
"Apa bapak yakin bekal ini untuk saya?"
"Emmm..."
"Apa bapak tidak penasaran apa isi menunya?"
"Tidak!" jawab Alex dengan cueknya.
"Baiklah, sepertinya masakan nona Sarah sangat lezat" ucap Giant sambil melirik ke arah Alex.
Giant sengaja menyebutkan nama Sarah, karena dia ingin melihat reaksi dari Alex. Giant sangat yakin kalau dia menyebutkan nama Sarah, Alex pasti mengambil kotak bekalnya.
Ternyata dugaannya Giant benar, Alex menatapnya dengan mengkerut keningnya saat dirinya menyebutkan nama Sarah. Giant yang sangat mengerti dengan tatapan Alex, langsung memberikan kertas yang ada di bacanya. Dengan cepat Alex membaca isi dari surat yang diberikan Giant, kini kedua sudut bibirnya Alex sudah membentuk lengkungan ke atas. Giant tidak menyangka kalau Alex yang tadi tampak dingin kini tersenyum.
"Terimakasih pak untuk makanannya. Saya kembali ke ruangan saya" ucap Giant dengan senyum liciknya. Dia ingin mengerjai Alex.
Mendengar Giant mengucapkan terima kasih dan ingin kembali ke ruangannya, Alex langsung mendongakkan kepalanya menatap Giant yang sudah siap-siap melangkahkan kakinya.
"Stop. Kalau kau ingin keluar dari ruangan saya, yang kamu pegang itu tinggalkan di sini!" ucap Alex.
"Tapi pak, bukannya bapak sudah memberikannya pada saya? Lagian saya sudah memesan makanan untuk bapak"
"Makanan yang kau pesan untuk mu saja" ucap Alex sambil bangkit berdiri dan berjalan mendekati Giant. Tanpa bicara Alex mengambil bekal yang dari awal miliknya dari genggaman tangan Giant.
Mood nya yang tadi hilang, kini sudah kembali saat mendengar nama yang membuat bekalnya dan apalagi melihat isinya adalah makanan kesukaannya.
Giant sangat yakin kalau Sarah memiliki tempat di hati Alex. Rasa sayang Alex sebenarnya bukan sekedar rasa sayang kakak kepada adiknya, tapi antara Pria dan wanita. Hanya saja Alex belum menyadari hal itu, apalagi hubungan Alex dan Mayra sudah berlangsung lima tahun lebih. Saat Alex mulai bekerja di perusahaan milik papanya sendiri. Giant berharap kalau Alex segera menyadarinya siapa yang ada di hatinya sesungguhnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Sus, apa saya bisa mencicil biaya operasi papa saya? Saya tidak punya uang sebanyak itu." ucap Sarah dengan memohon.
Sarah yang baru saja pulang dari belanja kebutuhan toko kuenya, langsung mampir ke rumah sakit.
Sarah terus memohon pada pihak administrasi untuk memberikan dia keringanan. Setelah bernegosiasi dengan pihak administrasi, akhirnya Sarah merasa lega. Karena dia diberikan keringanan untuk biaya operasi papanya.
Saat Sarah keluar dari ruangan administrasi, dokter Dika yang sekaligus menjadi dokter papa nya Sarah mendengar pembicaraan Sarah dan pihak administrasi.
"Berikan pada saya rincian biaya pak Jaya, dari orang tuanya Nona Sarah" ucap Dika.
"Baik, pak..."
Saat Dika mendapatkan rincian biaya pak Jaya, Dika langsung membawanya pergi. Sesampainya di ruangannya, Dika memfotonya dan mengirimkan pada Alex. Mendengar Sarah meminta keringanan pada bagian administrasi, membuat dia langsung mengerti kalau Sarah pasti tidak memberi tahu pada Alex.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Pa, apa aku yang harus pergi ke sana? Kenapa tidak papa saja?" Alex sangat kesal karena papa Bryan memaksanya untuk mengurus cabang perusahaan mereka yang ada di Inggris.
"Tidak bisa, Lex. Saat ini mama meminta papa menemaninya ke puncak. Ada acara sosial disana."
"Tapi, pa..."
"Tidak ada tapi-tapian Alex. Ini sudah keputusan papa! Lusa kamu harus kesana! Oh, ya Lex, papa ingin bertanya apa kamu menyembunyikan sesuatu dari kami?"
"Ti... Tidak pa..." Alex tampak sangat gugup karena mendengar pertanyaan papanya.
Alex tidak sanggup untuk jujur apa yang sudah dilakukannya di belakang ke-dua orangtuanya. Dia sangat yakin kalau kedua orangtuanya tahu, kalau dia menikah lagi tanpa seijin kedua orangtuanya pasti sudah dipastikan dia akan berada di dalam rumah sakit.
"Baiklah. Ingat jangan Sampai membuat kami Kecewa dengan mu. Oh, ya nanti malam ajak menantu kami untuk makan malam di rumah. Mama mu sudah merindukannya..."
"Baik pa..."
Setelah papanya pergi Alex menjatuhkan tubuhnya di atas kursi dengan lemas. Hati dan pikirannya saat ini tengah gusar. Entah kenapa saat ini Alex sangat enggan untuk berjauhan dengan Sarah, apalagi dia mendapatkan laporan dari Dika kalau papa Jaya, akan dioperasi satu Minggu lagi. Dia tidak tahu apakah dia bisa cepat menyelesaikan pekerjaannya di Inggris.
Selain itu dia juga tampak sangat bingung bagaimana caranya dia mengatakan pada Sarah atas ajakan makan malam bersama kedua orangtuanya.
"Apa yang harus ku lakukan?" gumam Alex sambil mengacak rambutnya.
Tok...Tok...
"Masuk!" Giant yang baru saja masuk melihat kegusaran Alex.
"Apa terjadi sesuatu?" tanya Giant sambil menyerahkan map pada Alex.
"Papa meminta kita untuk ke Inggris untuk mengurus perusahaan cabang yang disana, padahal satu Minggu lagi om Jaya akan dioperasi. Tidak hanya itu saja, papa meminta ku untuk membawa Sarah makan malam bersama di rumah"
"Oh. Jadi apa keputusan mu?"
"Untuk masalah ke Inggris, mau tidak mau kita harus kesana. Dan untuk masalah makan malam, aku sangat bingung apa yang harus ku katakan pada Sarah. Apalagi Sarah seperti tidak suka kalau aku ada di dekatnya" ucap Alex dengan lemah.
"Katakan saja kalau om dan Tante mengundang kalian makan malam"
"Aku takut kalau dia akan menolak"
"Kamu belum mencobanya"
Mendengar ucapan Giant membuat Alex langsung mengambil hp nya. Sesuai dengan apa yang disarankan Giant padanya, Alex mengirimkan pesan pada Sarah.
✉️ Sa, mama dan papa mengajak kita makan malam bersama di rumah orang tua ku. Apa kau bisa ikut?
Alex terus menatap layar ponselnya berharap Sarah membalas pesannya dan mengatakan kalau dia mau ikut. Sudah setengah jam lebih Sarah tidak juga membalas pesannya.
"Kenapa dia tidak juga membalas nya? Sedang apa dia?" gumam Alex dengan gelisah.
Giant yang melihat tingkah Alex seperti itu, tampak biasa saja. Melihat kegusaran Alex karena Sarah tidak membalas pesannya, hal sudah biasa dia lihat. Dari awal dia mengenal Alex, Alex akan selalu gusar kalau Sarah tidak membalas pesannya.
*******