Arga Mahendra dikenal sebagai CEO termuda sekaligus paling menyebalkan di kota. Wajahnya tampan, hartanya melimpah, tetapi sifatnya dingin, arogan, dan perfeksionis. Semua orang takut padanya… kecuali satu orang. Namanya Nayla Pramesti. Gadis pemberani yang mulutnya lebih cepat daripada otaknya. Saat pertama kali bertemu, Nayla tanpa sengaja menyiram kopi ke jas mahal Arga. Bukannya minta maaf, ia malah berkata, “Kalau jalan jangan kayak punya trotoar sendiri, Pak CEO.” Sejak hari itu, Arga bersumpah akan membuat hidup Nayla sengsara. Takdir justru mempertemukan mereka lagi ketika Nayla diterima bekerja di perusahaan Arga. Setiap hari kantor berubah menjadi medan perang. Mereka saling mengejek, saling menjahili, dan tak ada yang mau mengalah. Namun di balik pertengkaran itu, Arga mulai melihat sisi lembut Nayla yang selalu disembunyikan di balik sikap bar-barnya. Sementara Nayla mulai menyadari bahwa di balik wajah dingin CEO itu, ada luka masa lalu yang belum sembuh. Saat cinta mulai tumbuh, muncul seorang tunangan pilihan keluarga Arga dan mantan kekasih Nayla yang berniat merebutnya kembali. Akankah dua orang keras kepala ini akhirnya mengakui perasaan mereka, atau justru kehilangan satu sama lain karena gengsi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syah_runi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Hari ini adalah hari pertama Nayla kembali bekerja seperti biasa.
Begitu pintu lift terbuka, hampir seluruh karyawan langsung menyapanya.
“Mbak Nayla, akhirnya balik juga!”
“Sehat, Mbak?”
“Kami kangen!”
Nayla tersenyum lebar.
“Kangen apa? Kangen disuruh revisi laporan sama aku?”
Semua tertawa.
Rina langsung memeluk sahabatnya.
“Untung kamu baik-baik saja.”
Nayla mengangguk.
“Tenang, aku susah mati.”
“Itu mulutmu memang nggak ada rem.”
“Kalau ada rem, bukan Nayla namanya.”
Mereka kembali tertawa.
Di lantai paling atas…
Arga berdiri di depan jendela ruangannya sambil menikmati secangkir kopi.
Dimas masuk membawa tablet.
“Pak.”
“Apa?”
“Nayla sudah masuk.”
Arga hanya mengangguk singkat.
“Bagus.”
“Bagus saja?”
Arga menoleh.
“Maksudmu?”
Dimas menahan senyum.
“Saya kira Bapak bakal turun sendiri.”
“Tidak penting.”
Padahal sejak pukul tujuh pagi Arga sudah tiga kali melihat CCTV lobi hanya untuk memastikan Nayla benar-benar datang.
Namun tentu saja hal itu tidak akan pernah ia akui.
“Laporan bulan lalu mana?”
Suara dingin Arga terdengar memenuhi ruang kerja divisi administrasi.
Semua karyawan langsung sibuk.
Nayla yang baru saja duduk menghela napas.
“Tuh kan…”
“Baru juga datang.”
Rina berbisik pelan.
“Hati-hati.”
“Lagi mode galak.”
Nayla mendengus.
“Emang pernah mode baik?”
Belum sempat mereka melanjutkan obrolan…
Arga sudah berdiri tepat di depan meja Nayla.
“Nayla.”
“Iya, Pak.”
“Laporan pemasok.”
“Sudah.”
“Mana?”
“Di meja Bapak.”
Arga mengernyit.
“Aku belum lihat.”
“Soalnya Bapak belum masuk waktu saya taruh.”
Arga langsung menoleh ke arah Dimas.
Dimas membuka map di tangan.
“Benar, Pak.”
“Sudah ada sejak pagi.”
Beberapa karyawan langsung menunduk menahan tawa.
Arga berdehem pelan.
“Kalau begitu…”
“…kerja lagi.”
“Iya, Bos.”
Cara Nayla menjawab membuat Arga menghela napas.
Entah kenapa setiap berbicara dengan gadis itu, selalu saja ia dibuat kehilangan wibawa.
Siang harinya…
Mahendra Group kedatangan tamu dari perusahaan mitra.
Seorang CEO muda bernama Rafael Wijaya.
Usianya sekitar tiga puluh tahun.
Ramah.
Murah senyum.
Berbanding terbalik dengan Arga.
Begitu memasuki ruang rapat, Rafael langsung menyapa semua orang.
“Halo.”
“Saya Rafael.”
Ketika melihat Nayla membawa minuman, Rafael tersenyum.
“Terima kasih.”
“Eh, sama-sama.”
“Nama Anda?”
“Nayla.”
“Nama yang cantik.”
Nayla terkekeh kecil.
“Makasih.”
Di ujung meja rapat…
Arga yang sedang membaca dokumen perlahan mengangkat kepala.
Tatapannya langsung mengarah pada Rafael.
Dimas yang duduk di sebelahnya langsung menyadari perubahan ekspresi sang CEO.
“Waduh…”
“Ada yang mulai panas.”
Rapat selesai satu jam kemudian.
Saat semua orang keluar…
Rafael sengaja berjalan di samping Nayla.
“Mbak Nayla.”
“Iya?”
“Kalau nanti sempat…”
“Boleh saya minta rekomendasi tempat makan enak di sekitar sini?”
“Boleh.”
“Saya baru pertama kali ke kantor ini.”
“Oh, nanti saya kasih tahu.”
Mereka mengobrol santai sambil tertawa.
Tiba-tiba…
Suara dingin terdengar dari belakang.
“Nayla.”
“Iya, Pak?”
“Masuk.”
“Sekarang.”
Nayla mengedip bingung.
“Tapi saya lagi—”
“Sekarang.”
Nada suara Arga tidak keras.
Namun cukup membuat semua orang diam.
Rafael hanya tersenyum sopan.
“Kalau begitu lain kali saja.”
Nayla mengangguk.
“Iya.”
Begitu pintu ruang CEO tertutup…
Nayla langsung menyilangkan tangan.
“Ada apa, Pak?”
Arga tetap membaca berkas.
“Tidak ada.”
“Lho?”
“Tapi Bapak nyuruh saya masuk.”
“Karena ada pekerjaan.”
“Mana?”
Arga terdiam.
Dua detik.
Tiga detik.
Sebenarnya…
Tidak ada pekerjaan.
Ia hanya tidak suka melihat Nayla tertawa bersama pria lain.
Namun bagaimana mungkin ia mengaku?
“Ada revisi.”
“Revisi apa?”
“…Nanti.”
Nayla mengangkat alis.
“Pak.”
“Iya?”
“Bapak lagi ngusir saya ngobrol sama orang itu, ya?”
Arga langsung menatapnya.
“Siapa bilang?”
“Soalnya revisinya aja belum ada.”
Arga kehilangan jawaban.
Nayla justru tertawa.
“Pak Arga…”
“Bapak jangan bilang…”
“…lagi cemburu?”
Batuk!
Arga yang sedang minum kopi langsung tersedak.
“Cemburu?”
“Iya.”
“Nggak mungkin.”
“Yakin?”
“Sangat.”
Nayla menyeringai jahil.
“Kalau nggak cemburu…”
“Kenapa muka Bapak asem banget waktu saya ngobrol sama Pak Rafael?”
Arga memijat pelipisnya.
“Gadis ini…”
“Kenapa?”
“Kamu cerewet.”
“Bapak juga nyebelin.”
“Kamu dibayar buat kerja.”
“Saya kerja kok.”
“Bukan ngobrol.”
“Itu juga kerja.”
“Bagaimana bisa?”
“Menjalin relasi.”
Jawaban cepat Nayla membuat Arga benar-benar kehabisan kata.
Di luar ruangan…
Dimas yang hendak mengetuk pintu menghentikan langkahnya.
Ia mendengar perdebatan itu sambil tersenyum geli.
“Kalau begini terus…”
“Pak Arga bisa cepat tua.”
Sore harinya…
Nayla turun ke minimarket depan kantor untuk membeli camilan.
Saat hendak kembali…
Ia melihat Rafael berdiri di dekat mobilnya.
“Mbak Nayla.”
“Lho, belum pulang?”
“Saya mau pamit.”
“Oh.”
“Tapi sebelum itu…”
Rafael mengeluarkan sebuah kotak kecil berisi cokelat premium.
“Ini.”
“Buat saya?”
“Iya.”
“Sebagai ucapan terima kasih.”
Nayla tersenyum canggung.
“Wah… makasih.”
Belum sempat ia menerima…
Seseorang lebih dulu mengambil kotak itu.
“Tidak perlu.”
Suara Arga terdengar datar.
Rafael menoleh.
“Pak Arga.”
“Perusahaan kami melarang karyawan menerima hadiah dari rekan bisnis.”
Arga mengembalikan kotak itu kepada Rafael.
“Itu aturan.”
Padahal…
Aturan seperti itu tidak pernah ada.
Nayla menggigit bibir, berusaha menahan tawa.
Begitu Rafael pergi, Nayla menoleh ke Arga.
“Pak.”
“Hm?”
“Itu aturan baru?”
Arga berjalan lebih dulu menuju kantor.
“Iya.”
“Kapan dibuat?”
“Barusan.”
Nayla akhirnya tidak kuat lagi.
Ia tertawa terbahak-bahak.
“Pak Arga!”
“Bapak lucu kalau cemburu!”
Arga menghentikan langkahnya.
Ia menoleh dengan wajah datar.
“Aku.”
“Tidak.”
“Cemburu.”
“Iya… iya… terserah Bapak.”
Nayla masih tertawa sambil berjalan di belakangnya.
Melihat tawa gadis itu, sudut bibir Arga tanpa sadar ikut terangkat.
Mungkin benar.
CEO Mahendra Group memang tetap nyebelin.
Tetapi hanya satu orang yang berani menggodanya tanpa takut dimarahi.
Dan orang itu adalah…
Nayla, si gadis bar-bar.
Pagi itu, Mahendra Group lebih ramai dari biasanya.
Semua divisi sibuk mempersiapkan acara ulang tahun perusahaan yang akan digelar dua hari lagi. Balon, backdrop, dan berbagai dekorasi mulai memenuhi aula utama.
Nayla berdiri di tengah aula sambil memegang clipboard.
“Banner dipindah sedikit ke kanan!”
“Mas, lampunya jangan warna ungu semua. Ini acara perusahaan, bukan konser!”
Beberapa staf langsung tertawa.
“Iya, Mbak Nayla!”
Rina menghampiri sambil membawa dua gelas es kopi.
“Nih.”
“Semangat banget jadi panitia.”
Nayla menerima minuman itu.
“Kalau nggak diawasi, nanti hasilnya berantakan.”
“Itu sih kamu memang perfeksionis.”
“Belajar dari siapa lagi kalau bukan CEO nyebelin itu.”
Mereka kembali tertawa.
Di lantai atas…
Arga berdiri di balik kaca ruangannya.
Tatapannya tidak tertuju pada dekorasi.
Melainkan pada satu orang yang sejak pagi belum berhenti mondar-mandir.
“Nayla.”
Dimas yang berdiri di samping ikut melihat ke bawah.
“Pak.”
“Iya?”
“Sejak lima menit lalu…”
“Bapak belum berkedip.”
Arga langsung berdehem.
“Aku sedang mengawasi persiapan acara.”
“Oh…”
“Kirain mengawasi Nayla.”
Tatapan Arga langsung beralih ke Dimas.
“Dimas.”
“Iya, Pak?”
“Kamu terlalu banyak bicara.”
Dimas hanya tersenyum kecil.
Siang harinya…
Nayla sedang berdiri di atas tangga lipat untuk memasang pita di bagian atas backdrop.
“Sedikit lagi…”
“Sedikit…”
Namun tangga itu tiba-tiba bergeser.
“Astaga!”
Tubuh Nayla kehilangan keseimbangan.
“AAAA!”
Belum sempat ia jatuh…
Sepasang tangan kuat menangkap pinggangnya.
Bruk.
Nayla membuka mata perlahan.
Arga berdiri tepat di depannya.
Tangannya masih melingkar di pinggang Nayla.
“Kamu memang hobi bikin orang panik?”
Nayla berkedip beberapa kali.
“Pak…”
“Kalau naik tangga, lihat dulu.”
“Saya tadi lihat kok.”
“Hasilnya?”
“Hampir jatuh.”
Beberapa karyawan yang melihat kejadian itu langsung saling berbisik.
“Pak Arga nangkap Mbak Nayla!”
“Romantis banget…”
Rina buru-buru berdeham.
“Eh… semuanya kerja lagi!”
Nayla segera melepaskan diri.
“Waduh… makasih ya, Pak.”
Arga mengangguk singkat.
“Lain kali panggil orang.”
“Bapak aja?”
“Bukan.”
“Dimas.”
Dimas yang mendengar namanya langsung protes.
“Lho, kok saya?”
Semua orang tertawa.
jd senam jantung🤧