Irene, seorang gadis cantik dan mandiri. Harus kehilangan ayah, satu-satunya harta yang ia miliki.
Mendekati usia dua puluh tiga tahun ia harus kehilangan kesuciannya yang secara tidak sadar direnggut oleh mantan kekasihnya.
Membuatnya harus tertatih berjuang untuk mendapatkan cinta yang tulus.
Hingga suatu ketika ia bertemu Tian, seorang presdir muda yang menduda diusia yang cukup muda.
Ketika cinta mereka mulai bersemi, Tian meragukannya.
Apakah cinta Irene dan Tian bisa bersatu?
Note : Karya pertama yang aku buat berdasarkan imajinasi dan beberapa penggalan pengalaman temen aku yang aku samarkan. Happy Reading.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ms. Riana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PART 14
Mama Gina tidak dapat menutupi kesedihannya diabaikan oleh anak sulungnya.
"Maafkan Tian ma," ujar Tian sambil mengusap lembut punggung wanita yang sudah melahirkan dan membesarkannya.
"Ada yang mau Tian ceritakan pada mama," lanjutnya lagi.
Setelah mengusap lembut kedua pipi mamanya yang basah oleh air mata akibat ulahnya.
"Kita bicarakan diruang tengah," ajak mama Gina menarik tangan Tian.
Ia tidak sabar mendengarkan cerita yang ingin disampaikan Tian.
Walaupun beberapa aktifitas Tian akhir-akhir ini sudah ia ketahui dari beberapa orang disekitar Tian.
"Mau mama buatkan minum?" tawar mamanya.
"Tidak usah ma," tolak Tian halus, ia tidak ingin merepotkan mamanya.
"Ya sudah, ceritakan! Mama siap mendengarkannya," ucap mama Gina lembut sembari menggenggam tangan putranya.
Kemudian Tian mulai menceritakan kandasnya hubungannya dengan Desi, bagaimana Desi mengkhianatinya. Ia menyesal tidak mendengarkan nasihat mamanya.
Raut amarah terpancar dari wajah mama Gina.
Tega sekali Desi melakukan itu pada putranya.
"Tapi mama tenang saja, Tian sudah move on," lanjutnya lagi sambil tersenyum.
Sejenak Tian terdiam, membuat mamanya penasaran dengan cerita selanjutnya.
Kabar yang sangat ingin ia dengar.
"Tian sudah menemukan penggantinya," ujarnya bersemangat.
Rona kebahagiaan terpancar diwajah tampannya.
"Gadis yang meeting bersamamu?" sela mamanya.
Tian mengerutkan keningnya.
"Itu, Robby yang memberitahu mama," ujarnya kemudian.
"Astaga, dia memata-mataiku," ucap Tian terkekeh. Tidak menyadari perhatian asisten yang sekaligus sepupunya.
"Apa kamu memiliki fotonya? Mama ingin melihat wajahnya" potong mama Gina.
Tian hanya mengangguk. Kemudian mengeluarkan ponselnya dari saku kemeja yang ia pakai.
Mencari beberapa foto candid Irene dan memperlihatkan pada mamanya.
"Namanya Irene ma," ujarnya seakan mengerti apa yang dipikirkan mamanya.
"Cantik," puji mama Gina sambil melihat potret Irene di ponsel Tian.
"Trus?" cecarnya lagi.
"Dia tinggal dan bekerja di Surabaya," lanjut Tian.
"Tunggu! Jangan bilang kamu dikenalkan oleh James," potong mama Gina.
Mama Gina teringat rencana James yang ingin mengenalkan seorang gadis pada Tian, tapi Tian menolaknya.
Karena Tian begitu kekehnya mempertahankan hubungannya dengan Desi.
"Awalnya begitu ma, tapi tidak sengaja takdir mempertemukan aku dan Irene disebuah meeting," jelas Tian.
"Tunggu! Darimana mama tau rencana James?" selidik Tian.
"Waktu kamu bilang ada meeting di Surabaya, kamu terlihat kacau," mama Gina terdiam
"Beberapa pesan dan panggilan telpon mama kamu abaikan," lanjutnya sambil menarik nafas kemudian menghembuskannya perlahan.
Terlihat raut sedih menghiasi wajah mama Gina.
Tian menatap mamanya sambil mengusap lembut punggung tangan mamanya.
Ia menyesal telah menyalahkan mamanya ketika Desi menghilang tanpa kabar.
"Mama mencemaskanmu, kemudian mama menelpon James," ujarnya.
"Mama menceritakan keadaanmu pada James, mama juga meminta bantuannya dan disitu James mengutarakan niatnya tapi katanya kamu menolak," lanjutnya dengan nada sedih.
"Maafkan Tian ma," Tian tidak kuasa menahan air matanya.
"Maafkan Tian yang sudah menyakiti mama, Tian sudah durhaka sama mama," tambahnya sambil bersimpuh dikaki mamanya.
Mama Gina hanya mengangguk sambil mengusap kepala anak sulungnya.
Kemudian mengusap air mata yang mengalir di kedua pipi Tian.
"Sudah, jangan disesali. Mama sudah memaafkanmu," ucap mamanya lembut.
"Terima kasih ma," ujar Tian kemudian memeluk mamanya.
Mama Gina membalas pelukan putranya sambil mengusap lembut punggung putra sulungnya.
"O iya, sampai dimana tadi cerita tentang gadis itu? Siapa namanya tadi?" cecar mamanya sambil tersenyum begitu Tian melepaskan pelukannya.
"Namanya Irene ma," jawab Tian.
"Boleh mama bertemu dengannya?" tanya mamanya penuh harap.
"Nanti Tian atur agar mama bisa segera bertemu Irene. Kebetulan Irene sedang berada di Jakarta," jelas Tian.
"Tapi maa...," Tian terhenti. Ia takut mamanya tidak merestui hubungannya lagi.
"Kenapa berhenti?" ucap mamanya lembut seakan tau apa yang dicemaskan putranya.
"Irene anak yatim piatu dan ia hanya staff biasa dikantornya," ujar Tian.
"Tapi dia baik dan tulus," lanjutnya lagi.
"Dia juga mandiri," sahutnya lagi ingin meyakinkan mamanya.
"Melihat dia bisa secepat itu mengobati luka hati anak mama, mama tau dia pasti gadis yang baik," puji mamanya.
"Dan pasti spesial. Mama saja tidak bisa mengalihkan pandanganmu dari si siapa itu mantan kamu itu," ujar mamanya yang enggan menyebutkan nama Desi.
Tian terkekeh melihat mimik muka mamanya ketika membahas Desi.
"Mama tidak peduli dengan status sosialnya, mana pernah mama menilai seseorang dari status sosialnya?" cecar mamanya sambil memunggunginya dengan raut kecewa.
Bisa-bisanya putranya menilainya seperti itu.
Melihat mamanya yang cemberut membuat Tian terkekeh.
"Bukan begitu mama aku yang cantik," ujarnya sambil mengusap lembut punggung mamanya.
"Terus?" tanya mamanya cepat sambil membalikkan badan agar bisa menatap putranya.
"Tian hanya takut mengecewakan mama lagi dengan pilihan Tian," ucapnya lembut.
"Ajak dia kesini ya," pinta mamanya.
"Iya ma," sahut Tian.
"Mudah-mudahan mama bisa menerima Irene," batin Tian.
Waktu menunjukkan pukul dua dini hari. Setelah sesi curhat dengan mamanya Tian memutuskan untuk menginap menuruti permintaan mamanya.
Flashback off.
Makan malam itu terasa hangat bagi Irene.
Mama Gina dan kedua adik Tian menerimanya dengan hangat.
Sudah lama Irene tidak merasakan kebahagiaan sebuah keluarga. Setelah ayahnya tiada, keluarga satu-satunya hanya paman dan bibinya dikampung.
Yang sesekali dalam sebulan ia luangkan waktunya untuk mengunjungi mereka sekalian berziarah ke makam ayahnya.
Melihat sikap lembut mama Gina, Irene jadi tau kenapa Tian juga begitu lembut padanya.
Setelah makan malam mereka melanjutkan obrolan diruang tengah yang biasa digunakan untuk bersantai.
Terlihat Irene mulai akrab dengan Elis. Mereka membahas tentang hobby masing-masing. Bahkan mereka berdua sudah merencanakan untuk hangout bersama dalam waktu dekat.
Sedangkan Dani terlihat bertanya beberapa hal pada Tian. Karena mereka jarang sekali bertemu.
"Sambil diminum," ujar mama Gina yang baru bergabung dengan nampan berisi sari lemon hangat.
"Ini bagus untuk kesehatan," ujar mama Gina.
"Iya ma," sahut Irene sambil tersenyum.
Kemudian mengambil segelas lemon hangat dan menyeruputnya perlahan.
"Kalau begitu kapan mama bisa melamarmu Ren?" tanya mama Gina tiba-tiba.
Seketika Irene tersedak. Pertanyaan mama Gina yang tiba-tiba membuatnya kaget.
"Minumnya pelan-pelan sayang," ujar Tian lembut, mengambil tisu dan membantu mengelap baju Irene yang sedikit basah.
Irene hanya menganggukan kepalanya.
"Maafkan pertanyaan mama ya Ren," timpal mama Gina. Ia merasa tidak enak melihat wajah pucat calon menantunya.
Pertanyaan mama Gina yang mendadak membuatnya gelisah. Ia belum memiliki keberanian menceritakan masa lalu kelamnya pada Tian.
"Tidak apa-apa ma," sahut Irene lembut melihat raut wajah menyesal mama Gina.
"Kami belum membahas sejauh itu ma," ujar Tian menengahi.
Tian yang merasakan aura canggung berusaha mencairkan suasana.
"Sudah malam aku antar kamu pulang ya sayang?" lanjutnya.
dukung karya ku juga y cucu manja oma
*Suamiku ceo ganas
"Sarlince(cinta sepihak)