Sejak tubuhnya menggemuk, Laila tak pernah lagi dihargai oleh suaminya. Ia terus dihina karena penampilannya, padahal sang suami sendiri hanya mampu memberi nafkah seadanya. Demi membeli satu botol skincare impiannya, Laila diam-diam menyisihkan sisa uang belanja setiap hari. Namun, ketika sebuah kesempatan mengubah hidupnya, pria yang dulu merendahkannya justru mulai menyesal. Akankah Laila memaafkan, atau memilih meninggalkan semua luka yang pernah ia terima?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1_Hinaan
"Mas... uang belanja minggu ini cuma segini lagi?" tanya Rani lirih. Bibirnya bergetar, sementara matanya menatap beberapa lembar uang di atas meja dengan wajah cemas.
"Iya. Memangnya kenapa?" jawab Arga ketus. Keningnya berkerut, rahangnya mengeras, sementara sorot matanya penuh rasa tidak sabar.
"Sayur sudah habis. Beras tinggal sedikit. Gas juga mau habis..." ucap Rani pelan. Wajahnya terlihat gugup, sementara jemarinya saling menggenggam menahan gelisah.
Arga mendengus.
"Dasar boros! Uang segitu saja nggak cukup." bentak Arga. Wajahnya memerah, alisnya bertaut tajam, sementara rahangnya mengeras menahan emosi.
Rani terdiam. Matanya mulai berkaca-kaca, tetapi ia berusaha tetap tersenyum tipis agar tidak memperpanjang pertengkaran.
"Aku benar-benar hemat, Mas." ucap Rani lirih. Bibirnya bergetar, sorot matanya penuh kesedihan, sementara senyumnya dipaksakan agar air matanya tidak jatuh.
"Hemat?" Arga tertawa sinis. Sudut bibirnya terangkat mengejek.
"Lihat badanmu dulu! Makan terus kerjaannya. Pantas uang belanja cepat habis." ejek Arga. Tatapannya menyapu tubuh Rani dengan penuh hinaan, sementara senyum sinisnya semakin lebar.
Kalimat itu menusuk tepat ke hati Rani.
Ia hanya menundukkan kepala. Bahunya perlahan turun, sementara air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Aku... nggak makan sebanyak itu, Mas." jawab Rani pelan. Suaranya bergetar, bibirnya gemetar menahan tangis, sementara matanya tak berani menatap wajah suaminya.
"Sudahlah! Jangan membela diri."hardik Arga. Tangannya mengibas kesal, wajahnya dipenuhi rasa jengkel, sementara sorot matanya tetap dingin tanpa sedikit pun rasa iba.
Arga berdiri sambil mengambil tas kerjanya.
"Lagian perempuan kayak kamu mana perlu dandan. Badan gendut begitu mau pakai skincare jutaan juga tetap saja jelek." ucap Arga dengan nada menghina. Bibirnya melengkung sinis, matanya menatap tajam, seolah sengaja ingin melukai perasaan Rani.
Rani menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Wajahnya memucat, sementara dadanya terasa sesak mendengar penghinaan itu.
Pintu rumah dibanting keras.
Brak!
Rani terduduk di kursi. Air matanya akhirnya jatuh satu per satu. Ia menatap cermin kecil yang sudah kusam.
Kulit wajahnya memang mulai terlihat kusam. Bekas jerawat semakin banyak. Bukan karena ia malas merawat diri. Melainkan karena ia memang tidak mampu.
Beberapa bulan lalu ia pernah melihat diskon skincare di sebuah toko. Harganya hanya seratus ribuan. Ia sudah sangat senang.
Namun uang itu akhirnya dipakai membeli minyak goreng karena persediaan di rumah habis.
Rani mengusap air matanya.
"Lupakan saja..." gumamnya pelan. Bibirnya memaksakan senyum tipis, sementara matanya masih memerah karena terlalu banyak menangis.
Ia membuka dompet.
Di dalamnya hanya ada beberapa lembar uang lima ribuan yang ia sisihkan sedikit demi sedikit dari uang belanja.
Uang itu bahkan belum mencapai lima puluh ribu rupiah.
"Kalau terus nabung... mungkin dua bulan lagi cukup buat beli facial wash." bisiknya lirih. Tatapannya tertuju pada lembaran uang yang sudah mulai kusut, sementara matanya kembali berkaca-kaca membayangkan keinginan sederhana yang terasa begitu sulit diwujudkan.
Ia tersenyum kecil. Namun senyum itu terasa begitu pahit.
Malam harinya...
Arga pulang dengan wajah masam.
"Ada makan nggak?" tanyanya datar. Alisnya terangkat tipis tanpa sedikit pun senyum.
"Ada, Mas." jawab Rani lembut. Ia segera berdiri dengan senyum tipis yang dipaksakan, meski wajahnya masih terlihat lelah.
Rani segera menyajikan nasi, tempe goreng, dan sayur bening.
Arga baru satu suapan langsung meletakkan sendok.
"Tempenya keras." keluhnya. Keningnya berkerut, bibirnya mengerucut kecewa, sementara tatapannya penuh ketidakpuasan.
"Maaf, Mas. Minyaknya tinggal sedikit." jawab Rani pelan. Wajahnya tampak cemas, sementara kedua tangannya saling menggenggam di depan perut.
"Alasan lagi!" bentak Arga. Rahangnya mengeras, telapak tangannya menghantam meja pelan, sementara nada bicaranya semakin meninggi.
Rani menunduk.
"Besok aku usahakan lebih baik." ucapnya lirih. Bibirnya bergetar, sementara suaranya hampir tak terdengar.
"Tahu nggak? Teman-teman kantorku istrinya cantik-cantik." kata Arga sambil menyandarkan tubuh ke kursi. Sudut bibirnya terangkat tipis, seolah sengaja membandingkan istrinya dengan wanita lain.
Rani diam.
"Mereka langsing." lanjut Arga. Matanya menatap Rani dari ujung kepala hingga kaki dengan penuh penilaian.
Diam lagi.
"Wajahnya bersih." sambung Arga lagi. Senyum sinisnya semakin terlihat, sementara nada suaranya terdengar meremehkan.
Rani semakin menunduk.
"Nggak kayak kamu." ucap Arga dingin. Tatapannya tajam, tanpa sedikit pun rasa bersalah setelah melontarkan kata-kata yang menyakitkan.
Kalimat terakhir membuat ruang makan seketika sunyi. Rani mencoba tersenyum meski hatinya hancur.