Bulan gadis 18 tahun terpaksa menikah dengan Bharata, majikan ibunya karena dijebak.
Karena tidak ingin ibunya dipenjara, Bulan terpaksa menjadi istri ke 3 Bharata yang sudah berusia 39 tahun.
Tetapi setelah menikah, Bharata justru kecewa karena dibalik wajah innocent Bulan, dia menyimpan rahasia besar.
Bulan ternyata adalah sugar baby sahabatnya sendiri yang bernama Satria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENGINAP DI RUMAH DILLA
"Kamu tidur dikamar Bulan aja malam ini Mas." Kata Dilla disela sela makan malam.
"Aku tidur sama kamu aja." Bhara terang terangan menolak.
Dilla melirik ke arah Bulan. Gadis itu hanya diam saja tanpa ekspresi.
Setelah selesai makan Bhara langsung menuju ruang kerjanya. Meninggalkan ke dua istrinya yang masih mengobrol di meja makan.
"Apa aku boleh minta bantuan mbak Dilla." tanya Bulan.
"Tentu saja, bantuan apa yang bisa aku berikan untukmu?"
"Tolong bujuk Tuan Bhara agar mengijinkan Bulan kuliah."
"Kenapa kau tak bicara sendiri dengannya?"
"Dia pasti menolak jika aku yang minta. Tapi jika Mbak Dilla yang membujuknya, dia pasti akan setuju."
"Cobalah dulu, nanti aku akan menyuruhnya ke kamarmu. Sekarang istirahatlah. Tunggu dia dikamar. Jangan lupa pakai baju tidur yang sudah aku siapkan."
Dilla menemui Bhara di ruang kerjanya. Dia menyuruh Bhara untuk ke kamar Bulan karena ada yang ingin dibicarakan.
Ceklek, mendengar suara pintu dibuka, Bulan langsung pura pura tidur. Jujur dia masih takut untuk berbicara dengan Bhara.
"Apa kau sudah tidur?" Bulan diam saja karena sedang pura pura tidur. "Baiklah kalau begitu aku membeli ke kamar Dilla."
"Tunggu." teriak Bulan. Dia segera mengubah posisinya menjadi duduk.
"Ternyata benar dugaanku, dia cuma pura pura tidur." batin Bhara.
"Aku ingin bicara sesuatu."
"Katakan." Ucap Bhara sambil mengambil duduk di sofa.
"Aku ingin kuliah."
"Aku tidak mengizinkannya." Jawab Bhara dengan enteng.
"Bukankah dulu Tuan bilang akan memberiku besiswa hingga S3?"
"Bukankah kau sudah menolaknya?"
Bulan bingung harus berkata apalagi. Sepertinya dia tidak ada harapan untuk kuliah. Dan cita citanya sepertinya hanya akan jadi menghilang seperti debu yang tiup angin.
"Kalau tidak ada yang ingin dibicarakan lagi, aku akan keluar."
Saat Bhara ingin keluar dari kamar, tiba tiba ponselnya berdering. Bhara kembali duduk dan mengangkat telepon disana.
Bulan sebenarnya ingin ketoilet sejak tadi, karena dia memakai Lingerie dia malu ingin berjalan ke toilet. Dari tadi Bulan menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Astaga aku sudah tak tahan lagi. Kalau tak buru buru ke toilet aku bisa ngompol disini. Kenapa sih orang itu gak pergi-pergi." batin Bulan.
Karena sudah benar benar diujung tanduk, akhirnya Bulan berlari ke toilet. Bhara yang sibuk telepon tidak melihat ke arah Bulan.
Saat ingin keluar Bulan mengintip dari balik pintu. Dia lega karena tidak melihat Bhara disofa.
"Akhirnya dia pergi juga," batin Bulan.
Bulan keluar dengan santai karena Bhara sudah tidak ada dikamar. Sebenarnya ini semua ulah Dilla. Dia yang memaksa Bulan memakai Lingerie malam ini. Bulan yang memang tidak membawa baju ganti akhirnya pasrah menerima.
Bulan terbelalak kaget saat melihat Bhara duduk ditepi ranjang sambil mencari sesuatu dinakas.
Bulan segera menutupi dadanya dengan kedua tangannya saat Bhara melihat ke arahnya.
Bhara memandang Bulan dari atas sampai bawah tanpa berkedip.
"Kau....kau kenapa pakai baju seperti itu? kau sengaja ingin menggodaku?" tanya Bhara.
"A...a.. aku juga tidak ingin pakai baju ini, tapi mbak Dilla yang memaksaku." jawab Bulan.
"Apa kau tak punya mulut, kau bisa menolaknya kan? Aku tahu jika ini akal akalanmu saja untuk menggodaku."
"Huft, lelah kalau harus berdebat dengannya. Dia maunya menang sendiri. Lebih baik aku diam saja." Gumam Bulan dalam hati.
Sebenarnya Bhara kepanasan melihat Bulan memakai lingerie. Dia terlihat sangat seksi dengan baju transparan itu.
"Baiklah, aku hargai usahamu." Kata Bhara sambil tersenyum sinis. "Kau ingin kuliahkan? Aku memberimu kesempatan untuk menggodaku malam ini. Jika kau berhasil membuatku menghabiskan malam ini bersamamu. Aku akan mengizinkanmu kuliah." Kata Bhara dengan tatapan mata nakalnya.
Bulan tersenyum pelik mendengarnya. " Lucu sekali orang ini. Dia menyuruhku menggodanya. Aku tahu tujuanmu, kau hanya ingin merendahkanku." batin Bulan geram.
"Ayo lakukan, jangan buang buang waktu." Kata Bhara sambil duduk selonjoran diatas ranjang sambil menyilangkan kedua tangannya didada.
"Huft." Bulan membuang nafas kasar. Ia memutar bola matanya jengah. Ia lelah menghadapi sikap Bhara yang tidak jelas.
"Ayo cepat, kenapa kau hanya diam saja." Bhara sudah tak sabar melihat bagaimana Bulan menggodanya dengan nakal.
Bulan mulai melepaskan lingerienya. Bhara menatapnya tanpa berkedip. Setelah lingerienya lepas, dia mulai melepas bra dan celana dalamnya.
Bhara menggelengkan kepalanya perlahan. Jujur saja dia tak tahan melihat tubuh polos Bulan. Bhara tak berkedip melihat pemandangan indah didepan matanya.
Bulan mendekat kearah ranjang. Jantung Bhara berdetak sangat kencang, nafasnya mulai memburu. Juniornya mulai menegang.
Bulan naik keatas ranjang, lalu menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya bahkan hingga kepalanya. Dia berbaring membelakangi Bhara.
"Kau pikir aku ingin menggodamu, kau salah Tuan besar. Aku hanya ingin tidur. Aku sengaja mengerjainya tadi. Matanya bahkan tidak berkedip saat melihat tubuhku." Bulan tersenyum puas dibalik selimut.
"Hei kau, kenapa kau malah menutupi tubuhmu dan membelakangiku?" Bhara dibuat bingung dengan kelakuan Bulan. Dia pikir tadi Bulan akan mulai melakukan aksi nakalnya.
Bulan diam saja tak menggubris kata kata Bhara. Dia memilih memejamkan matanya dan memulai tidur.
"Hei kau?" Bhara menarik selimut Bulan. Tapi Bulan memegangi selimutnya itu dengan sangat kuat.
"Berisik." Bentak Bulan sambil mengeluarkan kepalanya dari balik selimut. "Aku ingin tidur, pergi saja ke kamar Mbak Dilla."
"Kau berani membentakku?"
Bulan diam saja karena malas berdebat dengan Bhara.
"Rupanya gadis ini mengejaiku," batin Bhara.
"Jadi kau tak ingin kuliah? cih, usaha sedikit saja kau tidak mau," ejek Bhara.
Bulan geram mendengar kata kata Bhara.
"Aku tidak bodoh, aku tahu kau hanya ingin merendahkanku saja kan? Seberapapun usahaku untuk menggodamu, kau tak akan tergoda. Aku tahu kau jijik denganku? Lalu untuk apa kau menyuruhku menggodamu. Kau hanya ingin mempermalukanku."
Bhara terkejut mendengar Bulan berani bicara seperti itu padanya. Bulan juga tidak tahu dapat keberanian darimana dia kali ini sampai berani bicara seperti itu pada Bhara.
"Kau, berani sekali kau bicara seperti itu padaku. Aku ini suamimu, apa kau lupa itu?"
"Iya benar, aku sudah lupa kalau kau suamiku. Yang aku ingat, aku hanya pembantu dirumahmu."
PLAK
Sebuah tamparan keras mendarat diwajah Bulan. Bulan memegangi pipinya yang terasa panas.
"Kau sudah berani kurang ajar."
"Kau lupa dengan kata katamu saat ingin menikahiku. Kau menjanjikan berjuta kebahagiaan untukku. Tapi apa yang aku dapatkan? Kau menjanjikan surga, tapi kau memberikanku neraka."
"Kau tahu kenapa aku seperti ini. Karena aku sudah tertipu dengan wajah innocentmu itu. Kau hanya wanita kotor yang bersembunyi dibalik wajah innocentmu."
"Aku tak pernah menipumu, aku tak pernah minta kau nikahi. Kau sendiri yang memaksaku untuk menikah. Dimana letak kesalahanku katakan?" teriak Bulan.
PLAK
Bhara kembali menamparnya hingga keluar darah segar dari sudut bibirya.
"Kau belum sadar dimana kesalahanmu. Kesalahanmu adalah tidak bisa menjaga kesucianmu untuk suamimu." Bentak Bhara.
"Kalau begitu ceraikan aku."
Bhara semakin murka mendengar Bulan minta cerai.
"Wanita tak tahu diri." Bhara menarik rambut Bulan dengan keras lalu medorongnya hingga dia jatuh tersungkur ke lantai.
Bulan memegangi dahinya yang sakit karena terbentur lantai yang keras. Bhara yang sudah tak bisa menahan amarah langsung keluar kamar meninggalkan Bulan.