"Dendanya lima miliar rupiah, Clara. Atau... kamu tanda tangani kontrak tiga tahun jadi asisten pribadi saya!"
Berniat kabur dari masa lalu dan hidup mandiri, Clara justru terjebak dalam jaring laba-laba Elzio Mahendra—CEO tampan, kaya raya, dan obsesif yang tak mempan digertak. Hanya demi mengikat Clara di sisinya, Elzio tak ragu membeli perusahaan tempat Clara melamar dan menjeratnya dengan kontrak denda bernilai fantastis.
Segala cara Clara lakukan agar Elzio ilfil—mulai dari bersikap super galak, memboroskan uangnya, hingga kabur naik KRL. Namun, bukannya menyerah, sang CEO gila justru makin gila dan posesif padanya.
Di tengah intrik perjodohan elit dan trauma masa lalu yang menghantui, akankah Clara berhasil bebas dari jerat denda lima miliar, atau justru akhirnya bertekuk lutut dalam pelukan sang CEO?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15
Ponsel di atas meja kerja Clara bergetar hebat. Layar digitalnya menampilkan nama yang sudah sangat lama tidak dihubunginya: Papa.
Clara menatap nama itu dengan tatapan dingin bercampur kebas. Tanpa perlu menebak, dia tahu betul apa alasan pria paruh baya itu tiba-tiba menghubungi nomornya setelah sekian lama mengabaikannya.
"Angkat saja, Clara. Buka speaker-nya," suara bariton Elzio terdengar santai namun tegas dari balik meja kerja mewahnya.
Clara menghela napas panjang, lalu menggeser tombol hijau dan mengaktifkan pengeras suara.
"CLARA! ANAK KURANG AJAR KAMU YA!" Suara bentakan dari ujung telepon langsung menggelegar, memenuhi keheningan ruangan. "Apa yang sudah kamu lakukan pada Mas Ardan dan Miska, hah?! Kenapa kamu tega menghancurkan bisnis keluarga kita sendiri?!"
Clara bersandar di kursinya, menyunggingkan senyum sinis. "Selamat siang juga, Pa. Kabar Clara baik, terima kasih sudah bertanya."
"Enggak usah sok polos kamu!" potong ayahnya dengan nada memburu dan napas terengah-engah. "Miska menangis histeris pulang ke rumah! Perusahaan Ardan terancam bangkrut dan semua pinjaman bank kita dibekukan! Itu semua gara-gara kamu dan pria simpanan kamu itu, kan?!"
"Pria simpanan?" Clara terkekeh hambar, mata indahnya melirik Elzio yang kini perlahan menghentikan ketikannya di laptop. "Pria yang Papa sebut simpanan itu adalah bos di perusahaan tempat aku kerja. Dan soal Ardan sama Miska... mereka sendiri yang cari masalah duluan di ruang rapat."
"Tutup mulutmu! Papa enggak mau tahu!" bentak ayahnya egois tanpa mau mendengarkan penjelasan sedikit pun. "Kamu harus bertanggung jawab atas semua kerugian ini, Clara! Datang ke restoran biasa malam ini jam tujuh! Kita bicara!"
"Clara sibuk, Pa. Enggak ada yang perlu dibicarakan—"
"Kalau kamu enggak datang malam ini," ancam ayahnya dengan suara menajam yang dingin, "rumah tua peninggalan almarhumah ibumu dan seluruh sisa aset hartanya akan Papa jual malam ini juga untuk menutupi semua utang perusahaan! Kamu tahu Papa tidak main-main, Clara!"
DEG.
Tangan Clara mendadak mengepal kencang. Matanya membelalak lebar, memancarkan rasa sakit dan amarah yang mendalam. "Papa! Itu rumah peninggalan Ibu! Papa udah janji enggak akan pernah sentuh aset Ibu!"
"Makanya datang kalau kamu masih peduli sama peninggalan ibumu!"
TUT... TUT... TUT...
Sambungan telepon diputus sepihak. Clara membeku di tempatnya, menatap layar ponselnya yang mendadak gelap dengan dada yang naik turun menahan emosi yang membakar.
Di sudut ruangan, aura Elzio mendadak berubah drastis. Kehangatan yang biasa dia tunjukkan pada Clara menguap tanpa sisa, berganti dengan hawa membeku dan membunuh yang sangat pekat.
Elzio berdiri dari kursinya, melangkah tegap mendekati meja kerja Clara.
"Apa yang sebenarnya ingin ayah kamu lakukan, Clara?" tanya Elzio dengan suara rendah yang sangat dalam, menahan amarah yang meletup-letup di dadanya.
Clara menunduk, mengusap wajahnya yang terasa panas. "Dia mau manfaatin gue lagi... Seperti biasa. Dia cuma peduli sama Kirana dan Miska."
...****************...
Pukul sembilan malam, di salah satu ruang VIP restoran privat di daerah Jakarta Pusat.
Pintu ruangan terdorong pelan. Clara melangkah masuk dengan gaun hitam simpel namun anggun. Namun, langkah kakinya tidak sendirian. Di belakangnya, Elzio berdiri tegap bersetelan jas gelap, memancarkan aura dominasi yang membuat suasana ruangan yang remang mendadak terasa makin menyempit dan menekan.
Di dalam ruangan, ayah Clara—Bambang—duduk bersama Kirana (ibu tiri Clara) dan seorang pria paruh baya bertubuh tambun dengan rambut yang sudah menyelisik putih, mengenakan pakaian mencolok penuh perhiasan emas.
Melihat kehadiran Elzio di belakang Clara, wajah Bambang dan Kirana sempat tersentak kaget. Namun, Bambang dengan cepat menguasai dirinya dan membuang muka dingin.
"Bagus kamu datang, Clara," ujar Bambang tanpa basa-basi, mengabaikan keberadaan Elzio. "Duduk."
Clara tidak duduk. Dia menyilangkan tangannya di dada, menatap ayahnya lurus-lurus. "Langsung ke intinya aja, Pa. Soal rumah Ibu."
Pria tua tambun di sebelah ayahnya tersenyum menjijikkan, menatap tubuh Clara dari atas ke bawah dengan pandangan lapar. "Aduh, Bambang... anak gadismu ternyata jauh lebih cantik dan manis daripada di foto ya. Sangat cocok untuk mendampingi saya."
Clara memicingkan matanya tajam, mendadak merasa mual. "Siapa pria tua ini, Pa?"
Kirana menyunggingkan senyum cemoohan yang menang. "Jaga bicaramu, Clara! Ini Pak Handoko! Beliau ini pengusaha properti kaya raya dari Surabaya! Beliau yang bakal menyelamatkan keluarga kita dari kehancuran gara-gara ulah kelakuanmu!"
"Maksudnya apa?" suara Clara meninggi, firasat buruk menghantam dadanya.
Bambang menepuk meja pelan, menatap Clara tanpa rasa bersalah sedikit pun. "Karena kamu sudah membatalkan kerja sama Ardan dan bikin perusahaan kita rugi miliaran, kamu harus bertanggung jawab, Clara! Pak Handoko bersedia melunasi semua utang keluarga kita dan menyuntikkan modal sepuluh miliar..."
Bambang menggantung kalimatnya, menunjuk Clara dengan tegas. "...dengan syarat, kamu harus mau menikah dengan Pak Handoko minggu depan!"
"APA?!" Clara menjerit histeris, tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. "Papa gila ya?! Pria ini umurnya bahkan lebih tua dari Papa! Papa mau jual aku?!"
"Ini bukan menjual, Clara! Ini namanya berbakti pada orang tua!" bentak Bambang tanpa urat malu. "Pilihanmu cuma dua: kamu nikah sama Pak Handoko, atau seluruh aset dan rumah peninggalan ibumu Papa sita dan balik nama atas nama Kirana untuk dijual malam ini juga!"
Handoko terkekeh senang, memegang cangkir tehnya. "Sudahlah, Sayang... Terima saja. Bersama saya, kamu bakal hidup enak. Daripada kamu jadi simpanan pria muda yang belum tentu mau tanggung jawab—"
BAM!
Suara hantaman keras memecahkan meja kayu tebal di tengah ruangan.
Cangkir teh Handoko terpelanting dan pecah berkeping-keping di lantai.
Elzio melangkah maju satu detik. Wajah tampannya kini dipenuhi dengan kegelapan yang sangat mengerikan. Binar matanya menyala penuh murka yang tak tertahankan. Aura membunuh yang memancar dari tubuhnya begitu kuat hingga membuat Kirana memekik ketakutan dan Bambang mendadak melompat dari kursinya.
SRET!
Tanpa memberi peringatan, Elzio mencengkeram kerah baju Handoko dengan satu tangan, mengangkat pria tua tambun itu dari kursinya hingga kakinya terangkat sedikit dari lantai.
"U-uhuk! Apa-apaan ini?! Lepas!" erang Handoko panik, matanya membelalak ketakutan melihat tatapan Elzio yang bagaikan iblis dari neraka.
"Kamu..." suara bariton Elzio terdengar sangat rendah, berbisik tepat di depan wajah Handoko, namun sanggup membuat bulu kuduk semua orang berdiri, "...berani menyebut calon istri saya sebagai simpanan? Dan berani bermimpi untuk menyentuhnya?"
"Elzio, lepas!" jerit Kirana histeris. "Bapak tahu dia siapa?! Dia ini mitra kami!"
Elzio tidak mendengarkan. Dengan satu kibasan tangan yang kuat, Elzio menghempaskan tubuh Handoko ke sudut dinding hingga pria tua itu tersungkur dan mengaduh kesakitan.
BRUK!
"Aaghh! Kurang ajar kamu!" ringis Handoko sambil memegangi pinggangnya.
Elzio menarik napas dalam-dalam, merapikan lengan kemejanya yang sedikit kusut, lalu menatap Bambang dengan pandangan penuh penghinaan yang mutlak.
"Arka," panggil Elzio dingin tanpa menoleh.
Arka yang berdiri di luar pintu langsung masuk dengan beberapa pengawal pribadi berbadan tegap.
"Beli seluruh saham perusahaan Pak Handoko ini dalam waktu tiga puluh menit," perintah Elzio mutlak, suaranya menggelegar tenang di dalam ruangan. "Jatuhkan harga sahamnya sampai dasar, dan pastikan seluruh aset pribadinya disita atas nama hukum besok pagi."
Handoko yang mendengar hal itu mendadak pucat pasi di lantai. "Ka-kamu... kamu siapa sebenarnya?!"
"Saya Elzio Mahendra," jawab Elzio dingin. "Pria yang bisa menghancurkan hidup kamu hanya dengan satu jepitan jari."
Handoko gemetar hebat, menyadari bahwa dia baru saja membangunkan raksasa gila.
Elzio lalu membalikkan badannya, menatap Bambang yang kini berdiri kaku dengan wajah seputih kertas. Bambang akhirnya menyadari siapa sosok pria yang berdiri di depan anak tirinya ini—pemilik Mahendra Group yang tak tersentuh.
"Dan untuk Anda... Tuan Bambang," ujar Elzio, melangkah mendekati ayah Clara hingga pria tua itu mundur ketakutan sampai mentok ke dinding. "Anda menyebut diri Anda seorang ayah? Menjual anak kandung sendiri demi menutupi ketidakmampuan Anda mengelola uang?"
"S-saya... ini urusan keluarga saya!" gagap Bambang, mencoba membela diri meski suaranya gemetar parah. "Clara itu anak saya! Saya berhak atas hidupnya!"
"Mulai detik ini, Anda tidak punya hak sedikit pun atas Clara," potong Elzio tegas, suaranya tidak menerima bantahan. "Seluruh utang perusahaan Anda sebesar sepuluh miliar rupiah... akan saya lunasi malam ini juga."
Clara tersentak kaget, menatap Elzio tak percaya. "Elzio, enggak usah! Jangan bayar apa-apa buat mereka!"
Elzio menoleh pada Clara, menyunggingkan senyum lembut yang menenangkan, lalu kembali menatap Bambang dengan tatapan dingin.
"Saya bayar sepuluh miliar itu bukan untuk membantu Anda," desis Elzio penuh kejam. "Tapi sebagai uang transaksi resmi untuk membeli seluruh hak kepemilikan atas rumah tua, dokumen warisan, dan seluruh aset almarhumah ibu Clara. Dan sekaligus... sebagai uang pemutus hubungan antara Anda dan Clara selamanya."
Kirana membelalakkan mata gembira mendengar kata sepuluh miliar, namun Bambang tertegun. "Maksudmu...?"
"Artinya, jika Anda, istri Anda, atau anak tiri Anda berani mendekati, menelepon, atau menampakkan diri di depan Clara lagi walau hanya satu meter..." Elzio merendahkan tubuhnya, berbisik dingin di telinga Bambang, "...saya pastikan Anda dan seluruh keluarga Anda akan membusuk di dalam penjara atas tuduhan penipuan dan eksploitasi."
Bambang menelan ludah kasar. Rasa takut akan kekuasaan Mahendra Group melumpuhkan seluruh keberaniannya.
Elzio merogoh saku jasnya, mengeluarkan dokumen pengalihan aset yang sudah disiapkan oleh tim hukumnya sejak sore tadi, lalu melemparnya ke atas meja.
"Tanda tangani surat pelepasan aset ini sekarang," perintah Elzio tajam. "Atau perusahaan Anda akan bangkrut total malam ini, dan Anda masuk penjara tanpa sisa."
Tanpa pikir panjang, dengan tangan gemetar hebat karena takut dan terdesak, Bambang menyambar pulpen dan menandatangani dokumen pelepasan aset tersebut. Kirana di sampingnya tidak berani bersuara sedikit pun.
Setelah dokumen selesai ditandatangani, Arka menyambar berkas itu dan menyerahkannya pada Elzio.
Elzio menatap lembaran kertas di tangannya, lalu mengulurkan kertas itu pada Clara. Binar matanya melembut sepenuhnya saat menatap wanita impiannya.
"Sesuai janji saya, Clara," bisik Elzio halus. "Rumah dan seluruh kenangan ibu kamu... sekarang sepenuhnya milik kamu. Tidak ada seorang pun yang bisa mengambilnya lagi dari kamu."
Mata Clara meremang basah. Air mata haru dan ketidakpercayaan menetes membasahi pipinya. Dia menatap surat aset ibunya, lalu menatap Elzio yang berdiri kokoh di depannya sebagai benteng pelindung yang selama ini tidak pernah dia miliki dari siapa pun.
"Elzio..." cicit Clara parau, dadanya bergemuruh hebat oleh rasa haru yang tak terbendung.
Elzio menyapu air mata di pipi Clara dengan ibu jarinya, lalu merangkul pinggang wanita itu secara posesif, menariknya keluar dari ruangan beracun itu tanpa memandang orang tua Clara lagi sedikit pun.
"Kita pulang sekarang, sweetheart," bisik Elzio lembut di dekat telinga Clara. "Kamu tidak perlu takut lagi. Kamu sudah aman bersama saya."