NovelToon NovelToon
Dibuang Lalu Dinikahi CEO

Dibuang Lalu Dinikahi CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Romansa
Popularitas:350
Nilai: 5
Nama Author: Hadid Salman

Keluarga Chandra membuang Lukas dengan alasan ia miskin dan tidak beruntung, tanpa tahu bahwa selama ini mereka menutupi jejak identitas aslinya yang sesungguhnya. Saat Lukas sudah tak punya tempat tujuan, Kirana datang—bukan untuk memberi belas kasihan, melainkan untuk mencarinya. Sebagai CEO yang sedang menyelidiki persaingan bisnis kotor, Kirana tahu Lukas adalah kunci dari semua misteri yang terjadi di lingkaran elit.

Pernikahan mereka adalah topeng untuk menyusup ke dalam rahasia besar. Di sela-sela kehidupan mewah yang tak pernah ia miliki, Lukas mulai menemukan fakta mengejutkan: pengusirannya dari rumah bukan sekadar karena ia miskin, melainkan upaya untuk menyembunyikan warisan besar yang seharusnya menjadi miliknya. Dan Kirana… wanita yang mengangkatnya dari keterpurukan, ternyata memiliki kaitan mendalam dengan musuh terbesar yang merampas haknya sejak dulu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Matahari mulai merunduk ke arah barat, menyisakan cahaya keemasan yang menyinari lantai ruang kerja apartemen. Di atas meja tersusun rapi berkas-berkas baru yang baru saja diserahkan oleh tim riset Kirana—berkas yang menghubungkan semua benang merah yang selama ini terpisah, mengungkapkan kenyataan bahwa musuh yang selama ini mereka hadapi bukanlah sekadar perorangan, melainkan satu kelompok besar yang beroperasi di bawah bayang-bayang kehormatan publik.

Kirana menunjuk pada foto berwarna hitam putih yang kini diperjelas: seorang pria berwajah tegas, berpenampilan rapi, dengan senyum yang tampak tulus namun menyembunyikan ketajaman yang menakutkan. Di bawah fotonya tertulis nama lengkap beserta gelar: Bima Surya Atmaja – Ketua Dewan Pengurus Asosiasi Pengusaha Sulawesi Tengah, Pendiri Grup Bima Nusantara, Tokoh Pembangunan Daerah.

“Selama ini masyarakat mengenalnya sebagai orang tua yang dermawan, pengusaha yang peduli pada rakyat kecil, dan pelopor kemajuan ekonomi di wilayah ini,” buka Kirana pelan, namun nada bicaranya penuh kepahitan. “Ia sering terlihat membagikan bantuan saat bencana, membangun sekolah di daerah terpencil, dan menjadi narasumber di berbagai seminar pembangunan. Namun di balik semua citra yang dibangunnya dengan sangat cermat, ia adalah sosok yang paling kejam dan tak kenal ampun dalam meraih apa yang diinginkannya.”

Lukas menatap foto itu lekat-lekat. Ia sudah mendengar nama ini berkali-kali—dari rekaman pembicaraan, dari pengakuan keluarga Chandra, dari dokumen-dokumen pengalihan aset. Namun baru sekarang ia melihat wajah lengkap dari orang yang telah merenggut segalanya dari keluarganya.

“Bukan hanya aset Grup Wijaya yang ia ambil,” lanjut Kirana, lalu menyebarkan peta persaingan bisnis di atas meja. “Sejak sepuluh tahun lalu, kelompok yang dipimpinnya secara sistematis menyingkirkan setiap pengusaha yang dianggap berpotensi menjadi saingan. Dan yang paling menyakitkan—Grup milik ayahku pun menjadi sasaran utama.”

Ia menceritakan detail yang selama ini ia simpan sendiri: Bima dulu pernah mengajak ayahnya bekerja sama secara paksa, menuntut agar Grup Anindya menyerahkan sebagian besar sahamnya dengan alasan penggabungan kekuatan untuk kemajuan daerah. Saat ayahnya menolak—karena mengetahui bahwa tujuan sebenarnya adalah memonopoli seluruh sumber daya alam dan jalur perdagangan—mulailah serangan dilakukan. Proyek-proyek yang sudah disepakati dibatalkan sepihak, izin operasional dicabut dengan alasan yang dibuat-buat, hingga akhirnya kecelakaan yang merenggut nyawa ayahnya terjadi tak lama kemudian.

“Jadi selama ini kita berjuang melawan musuh yang sama,” ucap Lukas pelan, menyadari sepenuhnya betapa eratnya keterkaitan nasib mereka berdua. “Bima tidak hanya mengambil apa yang menjadi hakku, tapi juga merampas masa depanmu dan nama baik ayahmu.”

“Benar,” jawab Kirana mantap. “Ia tidak pernah membedakan siapa yang dihadapi. Bagi Bima, siapa pun yang tidak tunduk padanya adalah penghalang yang harus disingkirkan. Ia membangun kekuasaannya dengan pola yang sama berulang kali: pertama, mencari tahu kelemahan target—baik itu masalah keuangan, ancaman terhadap keluarga, atau rasa takut akan kehilangan nama baik. Kedua, menawarkan kerja sama yang tampak menguntungkan namun sebenarnya menjebak. Ketiga, jika ditolak atau jika target sudah tidak berguna lagi, ia akan menghancurkannya tanpa ampun, lalu mengambil alih asetnya seolah itu adalah hasil kerja kerasnya sendiri.”

Dari data yang dikumpulkan, terlihat jelas bagaimana kelompok Bima bergerak. Mereka memiliki jaringan yang luas: menyewa pengacara terbaik untuk memanipulasi hukum, memiliki orang kepercayaan di instansi pemerintahan untuk memperlancar izin, bahkan menggunakan orang-orang yang terdesak kesulitan ekonomi untuk menjadi alat pelaksana seperti keluarga Chandra. Mereka sangat teliti dalam menyembunyikan jejak—setiap transaksi besar dialihkan melalui puluhan perusahaan cangkang yang tersebar di berbagai pulau, setiap saksi yang berani bicara akan mengalami kesulitan hidup atau menghilang tanpa kabar.

“Yang membuatnya begitu berbahaya adalah kemampuannya membalikkan fakta,” tambah Kirana sambil menunjuk kliping berita lama. “Setelah Grup Wijaya diambil alih, ia memberikan pernyataan pers bahwa ia menyelamatkan ribuan pekerja dari kebangkrutan perusahaan yang dikelola dengan buruk. Setelah ayahku meninggal, ia bahkan menyampaikan belasungkawa secara terbuka dan menyumbangkan dana untuk pemakaman—seolah mereka adalah sahabat karib, padahal dialah penyebab kematiannya.”

Lukas merasakan amarah yang perlahan membara, namun ia segera menahannya. Ia sadar bahwa kemarahan saja tidak cukup untuk menjatuhkan seseorang yang sekuat Bima. Ia harus berpikir jernih, harus memanfaatkan setiap bukti yang ada, dan harus berhati-hati agar tidak terjebak dalam perangkap yang sama seperti korban-korbannya yang lain.

“Dia terlihat sangat kuat dan tak tersentuh,” ucap Lukas perlahan. “Tapi dia pasti punya kelemahan juga, kan?”

Kirana tersenyum tipis, lalu menunjuk pada tumpukan berkas di sisi lain meja.

“Setiap orang yang membangun kekuasaannya di atas kebohongan pasti punya kelemahan. Dan kelemahan terbesar Bima adalah kamu. Selama ada kamu—pewaris sah yang bisa membuktikan bahwa semua aset yang ia miliki adalah hasil perampokan—posisinya akan goyah. Ia takut kamu akan muncul, takut kamu akan berbicara, takut semua topeng kehormatannya runtuh sekaligus.”

Mereka berdua berdiri berdampingan di depan jendela kaca, memandang ke arah gedung pencakar langit tertinggi di kawasan bisnis pusat—pusat operasional Grup Bima Nusantara. Gedung itu tampak megah dan tak tergoyahkan di bawah langit senja, namun bagi Lukas dan Kirana kini terlihat seperti istana yang dibangun di atas tanah yang rapuh.

Mereka akhirnya tahu dengan pasti siapa musuh yang sebenarnya. Bukan keluarga Chandra yang hanya terjebak ketakutan, bukan kerabat yang hanya memandang rendah, melainkan sosok yang dihormati semua orang, yang memegang kendali atas banyak hal di kota ini—Bima Surya Atmaja. Dan kini, dengan mengetahui identitasnya, dengan memegang bukti-bukti yang kuat, dan dengan berdiri bersama sebagai satu kekuatan yang utuh, mereka siap untuk menghadapi musuh yang sama itu secara langsung.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!