Nara Ayuningtyas pernah mati setelah kehilangan segalanya.
Suaminya meninggal. Kedua putranya menyusul. Dan putri yang ia besarkan dengan segenap cinta justru mengaku bahwa semua itu berawal dari satu kejahatan: pertukaran bayi pada malam persalinan.
Ketika Nara membuka mata, ia kembali ke tahun 2006—tepat saat air ketubannya pecah di sebuah klinik bersalin yang gelap karena mati listrik. Di balik pintu, bidan yang ia percaya sedang menyiapkan dua gelang bayi yang sama.
Kali ini, Nara tidak akan terlambat.
Dengan bantuan seorang perawat yang ketakutan, ia berhasil memastikan Kirana, putri kandungnya, kembali ke pelukannya. Namun Siska, adik iparnya, tetap percaya pertukaran itu berhasil. Ia menunggu hari ketika “putrinya” tumbuh besar, kaya, dan bisa direbut kembali.
Sementara Nara membangun Cahaya Nara dari sudut dapur rumah cicilan hingga menembus panggung elite Jakarta, Raka Wiratama—suaminya yang dingin dan taat aturan—memilih berdiri di sisinya, lagi dan lagi. Bukan dengan menyalahgunakan seragamnya, melainkan dengan membuat kebenaran mendapat jalan.
Delapan belas tahun kemudian, Siska datang ke sebuah gala di Menteng membawa gelang lama dan hasil DNA.
Di depan kamera, ia menunjuk Kirana dan berteriak, “Dia putriku!”
Namun sebelum Nara menjawab, Maya—gadis yang selama ini dibesarkan Siska—melangkah ke atas panggung sambil membawa rekaman yang dapat menghancurkan kebohongan seluruh keluarga.
Malam itu, siapa yang sebenarnya akan kehilangan anaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Bab 20
Bayi yang Terlalu Ringan
Keesokan paginya, Siska benar-benar datang ke Puskesmas Bergas.
Ia tiba hampir tiga puluh menit lebih lambat daripada waktu yang disepakati. Maya dibungkus selimut tebal dan tidur di lengannya. Nara menunggu bersama Bu Sari di bangku dekat loket pendaftaran.
“Dimas tidak bisa meninggalkan pekerjaan,” kata Siska tanpa diminta.
Nara tidak mempermasalahkannya. “Kartu kesehatan Maya dibawa?”
Siska mengeluarkan kartu dari dalam tas. Beberapa kolom setelah kelahiran masih kosong.
Petugas pendaftaran meminta Siska mengisi data dan menandatangani persetujuan pemeriksaan sebagai ibu serta wali Maya. Nara tidak ikut menjawab pertanyaan yang menjadi hak Siska. Ia hanya membantu memegang tas ketika Siska harus membuka selimut bayi.
Bu Sari membawa satu kaleng susu formula yang masih tersegel. “Ini yang Nara bilang kemarin. Tapi kita tanya dokter dulu sebelum mengubah apa pun.”
Siska mengambil kaleng itu. “Kalau memang mau membantu, berikan saja. Tidak perlu menyeretku ke tempat ini.”
“Susu yang tepat tetap harus diberikan dengan ukuran dan cara yang tepat,” jawab Bu Sari. “Menimbang anak juga bukan hukuman.”
Nama Maya dipanggil.
Di ruang pemeriksaan, dr. Laila meminta Siska meletakkan bayi di timbangan. Setelah mencatat berat dan panjang tubuh, dokter melihat kartu pertumbuhan, lalu mengulangi penimbangan untuk memastikan angka.
Nara merasakan kuku jarinya menekan telapak tangan sendiri.
“Berat badannya bertambah, tetapi kurang dari yang kami harapkan untuk jarak waktu ini,” kata dr. Laila. “Saya perlu bertanya tentang pola minum, jumlah popok basah, muntah, demam, dan keadaan di rumah.”
Siska mengangkat dagu. “Dia minum susu.”
“Berapa kali dalam dua puluh empat jam?”
“Kalau dia menangis.”
“Kira-kira setiap berapa jam?”
Siska tidak segera menjawab.
Dr. Laila tidak memarahinya. Ia mengeluarkan lembar sederhana dan meminta Siska mengingat hari sebelumnya dari pagi sampai malam. Jawaban yang muncul tidak teratur. Kadang Maya diberi susu setelah dua jam, kadang dibiarkan lebih lama ketika tidur.
“Apakah takaran dibuat sesuai petunjuk pada kemasan?” tanya dokter.
“Kalau terlalu encer, dia cepat lapar. Jadi kadang saya tambahkan bubuk.”
Dr. Laila menjelaskan dengan tenang bahwa takaran tidak boleh diubah tanpa arahan tenaga kesehatan. Campuran terlalu pekat atau terlalu encer sama-sama dapat membahayakan bayi. Ia menunjukkan cara membaca petunjuk, kebersihan air, sterilisasi botol, dan tanda bahaya yang memerlukan pertolongan segera.
Nara tetap diam. Ia datang untuk mendampingi, bukan mengambil alih konsultasi.
“Apakah ini berarti dia sakit?” tanya Bu Sari.
“Belum bisa disimpulkan hanya dari satu angka,” jawab dr. Laila. “Hari ini kami mencatat pertumbuhan berat yang kurang. Kita perbaiki pola pemberian susu, pantau, lalu timbang ulang. Jika tidak membaik atau ada gejala lain, pemeriksaan dilanjutkan.”
Dokter memeriksa napas, suhu, warna kulit, dan respons Maya. Semua hasil ditulis di rekam medis. Ia kemudian menetapkan jadwal kontrol satu minggu kemudian dan meminta Siska membawa catatan waktu minum serta jumlah popok basah.
Siska mengangguk di depan dokter. “Saya akan lakukan.”
Dr. Laila meminta Siska mengulangi kembali takaran susu dan tanda bahaya untuk memastikan penjelasan dipahami. Setelah Siska menjawab, ia menerima lembar petunjuk dan tanggal kontrol tertulis.
Dokter juga meminta izin sebelum membuka pakaian Maya untuk pemeriksaan. Siska menyetujuinya. Bu Sari membantu menutup jendela agar bayi tidak kedinginan, sedangkan Nara berdiri jauh dari meja.
Tidak terlihat keadaan gawat yang memerlukan rawat inap saat itu. Namun dr. Laila menegaskan bahwa Maya harus segera dibawa kembali jika sulit dibangunkan, menolak minum, demam, muntah berulang, atau jumlah popok basah berkurang. Siska kembali mengulang tanda-tanda tersebut.
“Siapa yang membantu Ibu di rumah?” tanya dokter.
“Suami saya bekerja. Ibu saya kadang datang.”
“Berikan jadwal ini kepada mereka juga. Merawat bayi tidak harus dikerjakan satu orang, tetapi semua pengasuh harus memakai takaran yang sama.”
Bu Sari meminta satu salinan tambahan. dr. Laila memberikannya setelah Siska mengangguk. Tidak ada hasil pemeriksaan yang diserahkan kepada Nara tanpa persetujuan wali.
Sebelum mereka keluar, Nara bertanya, “Kalau keluarga ingin membantu membeli susu, apakah ada jenis tertentu?”
“Gunakan yang sesuai usia dan terdaftar. Jangan sering berganti merek tanpa alasan. Yang paling penting, ikuti takaran dan jadwal yang sudah dijelaskan.”
Di koridor, Bu Sari menyerahkan kaleng yang masih tersegel beserta dua botol baru. “Simpan struknya. Kalau tidak cocok, jangan dipaksa.”
Siska memasukkan semuanya ke tas tanpa berterima kasih.
Mereka berjalan sampai halaman. Begitu jauh dari pintu ruang periksa, wajah patuh Siska menghilang.
“Puas?” tanyanya kepada Nara.
“Puas karena Maya diperiksa.”
“Sekarang ada catatan seolah aku tidak bisa memberi makan anak.”
“Catatannya mengatakan berat Maya perlu dipantau.”
“Sama saja.”
Maya bergerak dalam gendongan. Siska melihatnya dengan kesal.
“Kalau bukan karena dia, aku bisa mengurus masalah Kirana,” gumamnya. “Setiap hari hanya susu, popok, menangis. Dia menyeretku dari kesempatan mendapatkan kembali anak kandungku.”
Bu Sari berhenti berjalan. “Maya juga anak kandungmu.”
Siska terdiam.
Nara merasakan dingin menjalar dari tengkuk. Hasil DNA pribadi telah menunjukkan hubungan masing-masing bayi dengan orang tua yang membesarkannya. Namun Siska tetap memilih khayalan yang membuat Kirana menjadi hadiah dan Maya menjadi beban.
“Jangan pernah menyalahkan bayi karena kebutuhan dasarnya,” kata Nara.
“Kamu mudah bicara. Kamu mendapat anak yang kamu inginkan.”
“Maya tidak mengambil apa pun darimu.”
Siska membuka pintu kendaraan umum yang berhenti di depan puskesmas. Sebelum naik, ia merapatkan selimut Maya tanpa memeriksa wajah bayi itu.
“Aku akan datang minggu depan,” katanya. “Tidak perlu mengawasiku.”
Nara mencatat ucapan tersebut bersama tanggal kontrol setelah pulang. Ia tidak menulis penilaian tentang kemampuan Siska. Ia menulis kata-kata yang benar-benar terdengar, siapa yang hadir, dan arahan medis yang diberikan.
Bu Sari membacanya sebelum buku ditutup. “Kamu khawatir catatan ini akan dipakai nanti?”
“Aku khawatir semua orang akan mengingat versi yang berbeda.”
“Lalu apa yang bisa kita lakukan sekarang?”
“Mengingatkan jadwal. Menawarkan bantuan yang jelas. Kalau ada keadaan darurat, bawa Maya ke tenaga kesehatan. Kita tidak boleh mengambil anak itu hanya karena marah kepada ibunya.”
Bu Sari mengangguk. Mereka menyimpan nomor Puskesmas Bergas di dekat telepon dan mencatat nomor Dimas sebagai kontak kedua. Langkah itu kecil, tetapi tetap berada dalam batas yang dapat mereka lakukan tanpa merebut keputusan wali atau menggantikan pemeriksaan profesional.
Selama satu minggu, Nara tidak menelepon setiap hari. Ia mengirim satu pengingat dua hari sebelum jadwal. Pesan itu dibaca, tetapi tidak dibalas.
Pada hari kontrol, Nara dan Bu Sari tiba lebih awal di Puskesmas Bergas. Mereka duduk di bangku yang sama, membawa salinan jadwal dan satu kaleng susu cadangan.
Waktu pemeriksaan berlalu.
Nama Maya tidak pernah didaftarkan.
Siska tidak muncul.