NovelToon NovelToon
Menjadi Sepupu Tirimu

Menjadi Sepupu Tirimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:642
Nilai: 5
Nama Author: arina_ar

Setelah dikhianati, Vivian bersumpah. "Aku akan buat dia menyesal...!"
Kesempatan itu datang ketika ibunya menikah kembali. Dan tanpa diduga, ayah sambungnya adalah paman dari kekasihnya.
Sempurna...
Vivian memanfaatkan kakak tirinya. Pura-pura dekat, pura-pura mesra, hanya untuk membalaskan rasa sakit hatinya.
Rencana berjalan lancar.
Sampai suatu malam Vivian sadar...
Ia terjebak dalam permainannya sendiri, benih cinta mulai tumbuh diantara batas yang tak seharusnya. Cinta terlarang yang sulit dilepaskan...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arina_ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ciuman pertama

Vivian melangkah pelan, membelah kesunyian. Suara tapak kaki menggema di sepanjang lorong yang sunyi. Bulu kuduknya sedikit meremang, namun ia tak peduli.

Ia memutuskan langsung masuk ke dalam kamarnya, membersihkan diri sejenak, lalu mengenakan pakaian tidur yang nyaman.

"Aneh sekali pakaian tidur orang kota, sangat tipis dan sedikit nerawang. Tapi tak apa, harus cepat adaptasi biar tak di ejek kampungan lagi"

Sebuah lingerie tipis berwarna merah muda menyelimuti tubuhnya dengan sempurna. Kainnya yang lembut jatuh berlipat halus, membentuk setiap lekukan tubuhnya yang indah.

Cit...

Suara decitan pintu terbuka perlahan, membuatnya tersentak.

Vivian melompat terkejut di atas pembaringan. Tubuhnya membeku, tak ada selimut, tak ada kain yang bisa ia tarik untuk menutupi, untuk melindungi sesuatu yang tak sepantasnya.

"Vivian... kamu belum tidur?" suara Satria terdengar lembut namun menusuk. Tanpa sadar langkah kakinya mendekat perlahan, seakan terhipnotis oleh keindahan yang bukan miliknya.

"Kamu mau apa, mas? Ini sudah malam" tanya Vivian lirih, penuh ketakutan. Tubuhnya perlahan beringsut mundur, merangkak di atas kasur.

"Hanya ingin melihatmu..." ucapnya lembut, matanya tak lepas sedetik pun. "Cantik..." gumamnya pelan, begitu rendah hingga hampir tak terdengar. Seakan terucap tanpa sengaja, dari lubuk hatinya yang terdalam.

Vivian makin beringsut mundur, ketika jarak mereka hampir tak bersekat. Tangan Satria terulur ke depan, napasnya memburu berat, dan sepasang matanya kini diselimuti kabut yang tak lagi sanggup disembunyikan.

"Aku... aku mengantuk" ucap Vivian gemetar. Kedua tangannya menyilang erat di depan dada, berusaha menutupi bagian tubuhnya yang terekspos bebas.

Satria mengusap lembut rambut Vivian. Tangannya sempat berhenti sejenak, napasnya memburu, nyaris tak kuasa melepaskan.

Namun, seketika ia tersadar, menarik tangannya perlahan dan menahan diri sekuat mungkin.

Dengan berat hati ia pun berbalik, melangkah keluar meninggalkan ruangan dalam kesunyian. "Apa yang aku lakukan, ya Tuhan..."

Suara dentuman pintu tertutup membuat Vivian sedikit lega. Tapi, ia masih tetap terjaga. Pikirannya terus berputar, tak tenang.

Ia meraih kantung kecil, di laci lemari sudut kamarnya. Tempat ia menyimpan butir-butir rahasia. "Tak pernah terfikir sebelumnya, rasanya baru kemarin aku ke kota, dan secepat ini aku kembali memakaimu."

Satu butir obat meluncur di kerongkongan. Ia kembali terdiam, hanya menatap atap tanpa bintang. Perlahan pikirannya kembali tenang, hingga akhirnya rasa kantuk benar-benar merenggut kesadarannya, dan ia pun terlelap.

Belum lama ia tertidur, hal mengejutkan kembali datang membuatnya terbangun. Sebuah getaran halus terasa di permukaan kasurnya, dan sesuatu yang berat kini menindih sebelah lengannya.

Matanya masih terasa berat, namun pelan-pelan ia membukanya, dan napasnya seketika tertahan.

Di sana, di sampingnya, terbaring sosok pria yang dikenalnya.

"Kak Raynor...? Kenapa ada di sini? Ini kamarku..."

Vivian segera menarik pelan lengannya yang tertindih, lalu mengguncang bahu pria itu dengan lembut. Namun Raynor tetap diam, napasnya teratur, seakan ia sedang terlelap nyenyak sekali.

Namun seketika itu juga, gumaman pelan keluar dari bibirnya, cukup jelas hingga membuat darah Vivian seakan membeku di tempat.

"Maaf... kakak janji akan nurutin semua kemauanmu... Jangan pergi..."

Suaranya terdengar begitu berat dan penuh kepedihan. Hening sejenak, lalu gumaman itu terdengar lagi, lebih pelan namun jauh lebih menyayat hati.

" Vi..."

Gadis itu menoleh perlahan, menatap wajah teduh kakaknya yang kini kembali tenang. Ia mendekat sedikit, dan seketika sepasang alisnya berkerut samar.

Tercium aroma menyengat yang asing baginya, keluar dari napas pria itu. Pelan ia menepuk pipi kakaknya, namun tak ada tanggapan sedikit pun.

"Tadi Kak Raynor ngomong apa ... kayak nyebut namaku..." gumamnya pelan, lalu mengguncang bahu bidang pria itu lembut. "Apa kak? Coba ulangi sekali lagi!"

Namun pria itu tetap diam, terbaring kaku seolah tak mendengar apa pun.

"Kak Raynor... bangunlah. Aku sudah sangat mengantuk, ingin cepat tidur. Kakak sebaiknya kembali ke kamar sendiri," ucapnya sambil menguap lebar. Rasa kantuk benar-benar menyerangnya hebat, hingga tanpa sadar, ia pun akhirnya merebahkan diri kembali di samping sosok itu, memejamkan mata lelap tanpa mempedulikan apa pun.

Hingga suara ketukan pintu terdengar heboh, memaksanya membuka mata. Sinar matahari pagi yang hangat telah menyapa wajahnya. Ia tersentak bangun seketika, nyaris melupakan segalanya saat mendapati sosok sang kakak masih terbaring lelap di sampingnya.

"Ya Tuhan... semalaman aku tidur berdua sama Kak Raynor?" Ia buru-buru membekap mulutnya sendiri, jantungnya berpacu kencang.

"Vivian? Kamu sudah bangun?" Suara itu terdengar dari balik pintu, seketika mengacaukan pikirannya yang belum sepenuhnya jernih.

"Aku masuk ya..." Suara tuas pintu berdecit pelan.

Dengan cekatan, Vivian menggulung tubuh sang kakang menggunakan seprai.

"Aku sudah bangun!" serunya sedikit meninggi, berusaha mencegah pintu itu terbuka lebar. Ia berlari mendekat, membukanya sedikit saja agar tak memberi celah bagi siapa pun untuk mengintip ke dalam.

"Ada apa?" tanyanya dingin bercampur kesal.

"Hanya ingin menyapamu pagi ini, Vivian. Tidurmu nyenyak semalam?"

"Seharusnya nyenyak... jika kamu tak menggangguku sepagi ini, Satria..."

"Ah... maaf. Lanjutkan istirahatmu saja." Satria melongokkan wajahnya sedikit, berusaha mengintip ke dalam, namun Vivian tetap berdiri tegak menghalangi pandangannya.

Segera ia menutup pintu kembali rapat-rapat, lalu mengelus dadanya yang masih berdebar, merasa lega sejenak.

"Kalau sampai ada yang tahu Kak Raynor semalam tidur di sini... pasti akan menjadi masalah besar..." gumamnya lirih.

Ia pun berbalik perlahan. Tanpa tau sesuatu yang hangat dan lembut menyambutnya.

"Apa ini?" pikirannya kosong, untuk sepersekian detik tubuhnya membeku. Sejak tadi Raynor berdiri tepat di belakangnya, tubuhnya sedikit menunduk, dan ketika Vivian berbalik tiba-tiba, kedua bilah bibir mereka tak sengaja bertemu.

Mata mereka saling tatap dengan jarak begitu dekat, napas tertahan, berat. Namun tanpa diduga, bukannya melepaskan, pria itu malah perlahan menunduk lebih dalam, lalu melumatnya lembut.

Sentuhannya begitu halus, namun membuat napas Vivian seketika memburu tak beraturan.

Gadis itu tak bisa menolak, juga tak sanggup membalas. Ia merasakan getaran yang belum pernah sekalipun ia rasakan seumur hidupnya. Sentuhan itu tak berlangsung lama, hanya beberapa detik, hingga Raynor mundur perlahan, dan jatuh kembali tertidur di lantai.

"Apakah ini..." dengan tangan gemetar, ia menyentuh pelan bibirnya sendiri. Rasa hangat itu masih membekas di sana, seakan tak ingin sirna.

"Dia... mencuri ciuman pertamaku..."

1
Allea
masih bodoh di bab ini
Allea
katanya jijik dipeluk diem bae munalah 🤭🤣😅
falea sezi
goblok jujur bodoh lu pergokin dia kmren😒 ehh maaf mc oon jd males Thor mau kasih hadiah sayang bgt vote buat novel kayak gini🤣🤣
falea sezi
cuma gt doank harusnya di sp karyawan mu pakk🤣 ceo bodoh
falea sezi
🤣🤣 satria bodoh
falea sezi
klo q jd vivian mending kos cari krja ngapain numpang di rmh ibumu saudara tiri uda ada pcr g bs di gebet🤣
falea sezi
🤣🤣lemah kok mau bales dendam bodoh
arina_ar
sabar kak, huhu.... author juga ikutan geregetan nih
kelinci kecil
greget banget sama stela, pengen ikutan Jambak rambutnya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!