Seorang pria bernama AZKA (27 tahun) sudah beberapa minggu mengalami koma akibat kecelakaan kerja ketika ia yang merupakan pimpinan konstruksi sedang meninjau proyek pembangunan.
Azka telah menikah dengan VISHA (24 tahun) selama 3 tahun tapi belum memiliki momongan. Meskipun begitu, hubungan pernikahan mereka masih sangat harmonis. Visha senantiasa merawat Azka di rumah sakit.
Tapi siapa sangka kalau ternyata otak Azka yang sedang koma justru menciptakan ingatan baru yang berbeda.
Dia teringat dengan SESILIA (19 tahun) yang merupakan kepala tim QC baru di kantornya. Walaupun Azka baru bertemu beberapa kali, ternyata secara tidak sadar, Azka mempunyai rasa ketertarikan dengan Sesilia.
Hal ini membuat kenangan-kenangan indah tentang hubungan Azka dan Sesilia. Sedangkan ingatan tentang Visha justru terhapuskan.
Semenjak sadar, Azka mengalami dilema antara Visha dan Sesilia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Storyginal Finger, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13: Tanggal Ulang Tahun Beda Tipis
Di antara keheningan pagi yang belum sepenuhnya riuh, Azka tampak lebih bersemangat dari biasa. Melangkah ringan, gerak-gerik cepat namun tidak terlalu buru-buru, seperti ada semangat baru menyala di dalam diri.
Ia bersenandung kecil saat menyeruput kopi, sesuatu yang jarang sekali ia lakukan selama ini. Sikap tak biasa Azka itu tak luput dari perhatian Visha.
“Kamu kelihatan bahagia sekali?” tanyanya.
Azka beralasan bahwa permasalahan di kantor sebagian besar sudah bisa teratasi dengan baik.
“Mungkin berkat kemarin kita lari sore. Sepertinya itu bisa jadi solusi untuk aku sekarang. Kalau ada masalah, bawa lari saja,” jelasnya sambil menyantap omelet buatan Visha yang kini sudah kembali pulih.
Menanggapi ucapan suaminya, Visha langsung membanggakan diri.
“Benar kan? Apa aku bilang, lari bukan hanya bagus untuk kesehatan, tapi juga pikiran,” ucap Visha jumawa.
***
Waktu berlalu cepat hingga Azka telah kembali berada di dalam ruang kantor. Suasana masih tenang, jam dinding belum menunjukkan pukul delapan. Udara pagi membawa keteduhan tak terusik oleh gaduhnya kesibukan aktivitas kerja.
Ia duduk dibalik meja, membuka layar handphone, lalu menatapnya sejenak. Jempol melayang-layang di atas nama yang terpampang dalam daftar kontak, Kayla. Namun, ada keraguan menggantung di pikiran.
Keinginan untuk menghubunginya begitu kuat. Ia memikirkan sesuatu yang mungkin saja bisa dibicarakan. Tapi Azka mengurungkan niat, meletakkan kembali handphonenya. Ia menggeleng pelan. Belum waktunya, masih terlalu pagi, terkesan kurang pantas.
Baru saja ia mencoba mengalihkan perhatian ke berkas di hadapannya, suara itu datang. Ketukan pelan tapi tegas terdengar dari balik pintu. Azka menoleh cepat, ali sedikit terangkat. Ia tidak menunggu siapapun pagi ini.
“Masuk,” kata Azka.
Ternyata Sesilia muncul dengan mengenakan bando berwarna merah menyala. “Selamat pagi, Pak Azka,” sahutnya sesaat setelah membuka pintu.
“Oh, Kayla. Mari, masuk,” Azka mengulangi ucapannya.
Mendengar Azka memanggil nama itu, wajah Kayla berseri sambil berjalan masuk ruangan, ia kemudian justru bertanya tentang bando merah yang baru ia beli.
“Lucu tidak, Pak?” ujarnya sambil berpose seperti kelinci.
Tingkah laku Kayla tampak begitu santai, namun tetap anggun dalam setiap aksinya membuat Azka gugup bukan main. Ia berusaha tetap tenang, menjaga ekspresi agar tak terlalu mencolok, tapi jantungnya berdetak lebih cepat.
Ada sesuatu tersirat dari cara Kayla menatap, dalam senyum tipis yang muncul begitu saja tanpa dibuat-buat. Azka merasa seluruh ruangan menyempit, menyisakan hanya mereka berdua.
Di hatinya, Azka mengakui tanpa ragu, Kayla terlihat begitu mempesona. Ia bukan hanya cantik secara rupa, tapi juga punya daya tarik luar biasa menyusup perlahan ke lubuk sanubari.
Namun, di tengah gejolak yang mulai tumbuh diam-diam, Azka menyadari kalau ia tidak boleh terhanyut. Ia harus bisa menahan perasaan, sekuat mungkin. Karena ada hal-hal dalam hidup yang tak dapat ditentukan oleh getaran sesaat, seindah apapun pesonanya.
“Ini sudah saya order dari minggu lalu, baru sampai kemarin sore,” beber Kayla.
“Haha, kamu ini ada-ada saja,” respon Azka berusaha tetap santai.
Sekarang mereka sudah duduk berhadapan. Jika kemarin hanya menggunakan handphone, kini mereka mengeluarkan laptop masing-masing.
Tidak lagi bercanda, mereka mulai masuk ke suasana serius untuk membahas pekerjaan. “Mudah-mudahan hari ini bisa selesai semua ya,” ucap Kayla.
“Saya sudah sangat lelah dengan tabel-tabel laporan,” sambungnya.
Azka hanya menanggapi dengan senyum disertai anggukan kepala pelan. Ia terlihat sedang menunggu seseorang. Namun, ketika ia membuka handphone untuk menghubungi orang itu, terdengar suara ketukan pintu.
Seperti biasa, Azka mempersilakannya masuk.
Ternyata orang yang ditunggu adalah Noval. Selain untuk belajar menyelesaikan permasalahan, Noval diajak sebagai pendamping agar Azka tak berduaan dengan Kayla.
“Ambil kursinya, Noval. Duduk di sebelah saya,” ucap Azka memberi perintah.
Sesaat kemudian, mereka pun memulai diskusi.
***
Waktu kembali berlalu dengan begitu cepat.
Azka menghentikan diskusi, meminta Kayla dan Noval untuk istirahat. Tanpa diduga, Kayla kembali mengajak mereka makan siang di luar kantor.
“Ayolah, kemarin saya sudah ditolak, masa sekarang juga?” rayu Kayla manja.
Noval sempat melirik ke arah Azka. Ia tak mengetahui kalau Azka dan Kayla mengadakan pertemuan kemarin.
Mereka berdua diam. Azka tidak bisa menerima ajakan tersebut karena Visha telah membawakan bekal. Tapi Azka malu kalau memberitahu alasan tersebut.
Namun Kayla kembali berhasil membuat Azka terkejut.
“Pak Azka bawa bekal ya? Kalau gitu nanti Pak Azka pesan minum saja. Sumpah deh, bapak harus cobain kopi di sana, enak sekali!” ujar Kayla masih merayu.
Tak menduga kalau Kayla akan sefrontal itu, Azka pun merasa tidak ada yang perlu disembunyikan lagi sekarang.
“Baiklah, ayo Pak Noval,” sahut Azka.
“Kita naik mobil saya saja,” ucapnya lagi.
Perjalanan mereka dari kantor tidak memakan waktu lama. Hanya beberapa menit berlalu sebelum akhirnya mobil berhenti di depan sebuah kafe yang tampak sederhana dari luar, namun menyimpan pesona tersendiri.
Bangunannya tidak besar, namun desain bergaya klasik dengan jendela kayu tinggi, pintu kaca berbingkai besi hitam memberi kesan elegan dan instagramable.
Begitu mereka melangkah masuk, suara lonceng kecil di atas pintu berdenting lembut, disambut wangi kopi samar dan musik lagu pop barat yang berasal dari sudut ruangan. Meskipun di luar matahari sangat menyengat, di dalam sini suasana terasa sejuk.
“Hei, Sesil!” sapa salah seorang pegawai.
Hal ini menunjukkan kalau ia memang sering datang kesini hingga pegawai kafe telah mengenalnya dengan begitu dekat.
Mereka kemudian duduk di salah satu pojok restoran. Azka duduk di sebelah noval, sedangkan Kayla berhadapan dengan Azka.
“Aku pesan yang biasa ya,” ucap Kayla ke pegawai yang berdiri di dekatnya.
“Saya spaghetti carbonara sama minumnya jus jeruk,” sahut Noval.
Sekarang giliran Azka yang hanya memesan minum, “Saya pesan air mineral saja, minta es batu di gelas.”
Dengan polos, pegawai itu bertanya, “Kakaknya tidak makan juga? Mungkin bisa cobain best seller kita enak-enak lho,” ujarnya.
Tanpa memikirkan perasaan atasannya, Kayla berbisik ke teman pegawai itu, “Dia bawa bekal dari istrinya.”
Sontak saja pegawai tersebut langsung paham alasan Azka hanya memesan air mineral.
Sedangkan dalam hati Azka, ia merasa sangat malu karena Kayla memberitahu temannya. Tapi ia juga tidak bisa berbuat banyak karena walau bagaimanapun, rasa malu tergantung dari sudut pandang.
Ia tidak ingin mempermasalahkan yang menurutnya justru akan terlihat aneh. Belum selesai dengan pergumulan hati barusan, Azka kembali dikejutkan dengan ulah Kayla selanjutnya.
“Eh pak, saya mau lihat dong, foto istri Pak Azka, pasti cantik ya?”
Sempat bingung harus memperlihatkan atau tidak, Azka memutuskan untuk mengambil handphone, lalu memperlihatkan foto istrinya yang ada di galeri.
Noval juga tidak bisa banyak berkomentar di sini.
“Wih, cantik sekali, Pak,” kata Kayla memberikan pujian.
“Usia berapa ya?” tanyanya lagi.
Azka lalu menjawab, “Dua puluh empat tahun.”
“Oh, diatas saya satu tahun,” respon Kayla yang masih terlihat sangat tertarik dengan topik ini.
“Bulan depan, dia ulang tahun,” entah kenapa Azka tiba-tiba ingin memberitahunya.
Mendengar itu, Kayla tiba-tiba reflek menggebrak meja yang membuat Azka dan Noval terkejut.
“Demi apa istri bapak ulang tahun bulan depan? Sama dong, saya juga bulan depan ulang tahun!” kata Kayla bersemangat.
“Istri bapak cancer juga dong?,” lanjutnya bertanya tentang zodiak.
Azka mengangguk pelan, “Iya, cancer”.
Tapi dalam hatinya ia berpikir tentang zodiak mereka yang sama namun kalau dari segi kepribadian, mereka sangat bertolak belakang.
Masih belum puas dengan pembahasan itu, Kayla kembali bertanya, “Saya ulang tahun tanggal satu juli, kalau istri pak Azka tanggal berapa?”
“Oh ya? Beda satu hari. Istri saya tanggal dua juli,” jawab Azka.
Di sela obrolan mereka, Noval tiba-tiba ikut berbicara.
“Kalau istri saya, tidak tahu tanggal berapa. Belum punya istri sih,” ujarnya sambil tertawa sebentar lalu berubah menjadi datar.
“Ya ampun, maaf Pak Noval. Kita jadi asik sendiri,” kata Kayla menyadari kalau Noval kesal lantaran diabaikan.
Untungnya suasana kikuk tidak berlangsung lama karena makanan dan minuman telah tiba. Mereka pun menyantap hidangan tersebut sambil membicarakan tentang masalah pekerjaan.