Sarif adalah lelaki yang diajukan sebagai calon suami Ratna dalam perjodohan keluarga, tetapi karena ia menolak, akhirnya dialihkan pada sepupunya Tara.
Gadis yang baru satu tahun lulus SMA itu menerima dengan suka cita sebab ia menghindari dikirim keluar kota untuk kuliah.
Tara: Jodoh itu misterius, dia yang tenang untuk aku yang darderdor
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7
Ruangan langsung hening. Ratna memberanikan diri melanjutkan. "Kalau masih bisa... Ratna maunya dijodohkan sama Sarif."
Brak!.Ayahnya spontan meletakkan gelas yang sedang dipegang hingga menimbulkan bunyi cukup keras. Untuk pertama kalinya sejak Ratna dewasa, wajah pria itu benar-benar menunjukkan kemarahan. "Kamu pikir hidup itu seenak isi kepalamu saja?"
Ratna terkejut.n"Ayah..."
"Waktu Ibu dan Nenekmu susah payah membujukmu, kamu menolak mentah-mentah. Di depan keluarga besar lagi." Nada suaranya semakin berat. "Sekarang setelah melihat orangnya, kamu tinggal bilang berubah pikiran?"
Ratna hanya menunduk.
"Perjodohan itu bukan permainan. Bukan barang yang bisa ditolak hari ini lalu diminta lagi besok." Ayahnya menggeleng pelan, menahan kecewa. "Kamu harus belajar bertanggung jawab atas keputusanmu sendiri." Tanpa menunggu jawaban, beliau berdiri dan keluar dari kamar. Pintu tertutup pelan. Ruangan kembali sunyi.
Ratna masih menunduk, sementara Ani memandang putrinya dengan wajah yang sulit ditebak. Beberapa saat kemudian, Ani justru tersenyum tipis. "Kalau dipikir-pikir..."
Ratna mengangkat kepala.
"Anaknya lumayan juga ya, Rat."
Ratna langsung mengangguk kecil. "Iya, Bu."
Ani menyipitkan mata sambil menahan senyum. "Kamu suka?"
Pipi Ratna memerah. Ia tidak langsung menjawab, tetapi ekspresinya sudah cukup menjadi jawaban. Beberapa detik kemudian ia berbisik pelan, "Memang... masih boleh, Bu?"
Ani berpikir sejenak.."Lha, Ibu mana tahu."
"Lalu?"
"Coba saja bicara sama nenekmu."
Mata Ratna kembali berbinar. "Iya juga, ya." Ia langsung bangkit dari tempat duduk.
Melihat putrinya yang kembali bersemangat, Ani hanya menggeleng pelan. Dasar anakku... tadi mati-matian menolak, sekarang mati-matian mengejar.
***
Malam itu, Ratna mengumpulkan seluruh keberaniannya. Ia tahu kemungkinan ditolak sangat besar. Namun, rasa penasarannya jauh lebih besar daripada rasa malunya. Perlahan ia menghampiri Nenek Bani yang sedang duduk di ruang tengah sambil membaca kacamata. "Nek..."
"Hm?" sahut Nenek Bani tanpa mengalihkan pandangan.
Ratna menarik napas panjang. "Aku... mau ngomong sesuatu."
Nenek Bani menutup buku yang sedang dibacanya, lalu menatap cucu tertuanya itu. "Ada apa?"
Ratna menggenggam kedua tangannya sendiri. "Kalau... kalau sekarang aku bersedia dijodohkan sama Sarif..."
Belum sempat kalimatnya selesai, wajah Nenek Bani langsung berubah. "Apa?" Suara beliau meninggi.
Ratna sampai refleks mundur selangkah. "Nek, aku cuma,"
"Kamu ini sebenarnya menganggap perjodohan itu apa?"bBentakan Nenek Bani membuat orangtuanya Ratna angsung menoleh. "Kemarin kamu menolak mati-matian. Sampai berdebat dengan Nenek di depan keluarga besar."
Ratna menunduk.
"Hari ini, setelah melihat Sarif, kamu tiba-tiba berubah pikiran?"
"Nek, aku sadar kalau,"
"Sudah!" Tongkat yang berada di samping kursi diketukkan pelan ke lantai. "Kamu pikir cucu sahabat Nenek itu barang pajangan? Bisa kamu pilih sesuka hati?"
Ratna semakin ciut.
"Kalau kemarin kamu menerima sejak awal, mungkin ceritanya berbeda." Suara Nenek Bani mulai terdengar lebih kecewa daripada marah. "Tapi sekarang, keluarga Sarif sudah datang melamar Tara. Mereka sudah saling mengenal dan sama-sama menyatakan kesediaannya." Beliau menatap Ratna lekat-lekat. "Kamu mau Nenek membatalkan semuanya hanya karena kamu berubah pikiran?"
Ratna tak mampu menjawab. Air mukanya memucat.
"Dengar baik-baik." Nenek Bani menghela napas panjang. "Keputusan yang sudah kamu ambil harus kamu pertanggungjawabkan. Jangan pernah menganggap urusan jodoh seperti permainan yang bisa diulang sesuka hati."
Ratna hanya bisa menundukkan kepala. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia benar-benar merasakan pahitnya konsekuensi dari keputusan yang dibuat dengan emosi. Orangtuanya pun Tak ada satu pun yang berani membela Ratna kali ini. Karena mereka semua tahu... Nenek Bani marah bukan karena Ratna menolak Sarif. Melainkan karena Ratna baru menginginkannya setelah melihat apa yang telah ia lepaskan.
"Ingat, jangan sampai Tara tau ini. Jangan sampai dia nggak enak hati gara-gara kamu yang plin-plan. Lagipula selama ini aku sudah nggak adil padanya karena kamu, jangan sampai dia mendapatkan ketidakadilan lagi!" Nenek Bani beranjak meninggalkan Ratna yang mulai bercucuran air mata.
***
Ratna berlari menuju kamarnya sambil menahan tangis..Begitu pintu tertutup, semua air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya luruh begitu saja. Ia terduduk di lantai, memeluk kedua lututnya. Tangisnya pecah..Entah mengapa, dadanya terasa begitu sesak. Bukan semata-mata karena dimarahi Nenek Bani. Melainkan karena baru kali ini ia benar-benar merasa kehilangan sesuatu yang bahkan belum pernah ia miliki.
Bayangan wajah Sarif terus berputar di kepalanya. Pria itu sopan, tenang, dewasa, dan jauh dari bayangan yang selama ini ia ciptakan sendiri. "Kenapa aku begitu gegabah?" batinnya. "Kenapa aku menolaknya bahkan sebelum mau mengenalnya?"
Semakin dipikirkan, semakin ia merasa tidak yakin. Bagaimana kalau... Ia tidak pernah lagi bertemu laki-laki sebaik Sarif? Bagaimana kalau... Keputusannya hari itu adalah penyesalan terbesar dalam hidupnya?
Tok... tok... Pintu kamar diketuk pelan.
Ratna buru-buru mengusap air matanya. Ani dan suaminya masuk bersamaan. Melihat putri mereka menangis sesenggukan, hati keduanya ikut terasa berat. Ani segera duduk di samping Ratna, lalu memeluknya erat. "Sudah, Rat... jangan disimpan sendiri."
Ratna kembali menangis di pelukan ibunya. "Bu... Ratna nyesel."
Ani mengusap rambut putrinya dengan lembut. "Ibu tahu."
"Ratna takut... nggak bisa dapat laki-laki yang lebih baik dari dia." Kalimat itu keluar di sela-sela isak tangisnya.
Ani tidak langsung menjawab. Ia hanya membiarkan Ratna meluapkan seluruh penyesalannya terlebih dahulu.
Sementara itu, ayah Ratna berdiri beberapa saat sebelum akhirnya duduk di kursi yang menghadap putrinya. Nada suaranya kini jauh lebih tenang dibanding sebelumnya. "Ratna."
Putrinya perlahan mengangkat kepala.
"Ayah memang marah tadi. Tapi Ayah bukan marah karena kamu menyukai Sarif."
Ratna menatap ayahnya dengan mata sembab.
"Ayah marah karena kamu mengambil keputusan terlalu cepat, lalu ingin mengubahnya ketika keadaan sudah berubah." Beliau menghela napas panjang. "Dalam hidup, tidak semua kesempatan datang dua kali."
Ratna kembali menunduk.
"Kalau hari ini kamu merasa kehilangan, jadikan ini pelajaran."
"Pelajaran untuk apa, Yah?"
"Untuk tidak menilai seseorang dari dugaan atau gengsi. Kenali dulu orangnya, baru ambil keputusan."
Ratna menggigit bibirnya pelan. "Lalu... sekarang bagaimana?"
Ayahnya tersenyum tipis. "Sekarang kamu harus belajar menerima. Perjodohan Sarif dan Tara sudah berjalan. Jangan berharap sesuatu yang memang bukan lagi bagianmu." Beliau menepuk pelan bahu putrinya. "Kamu perempuan yang baik, Rat. Percayalah, jodohmu juga sedang dipersiapkan oleh Allah. Tapi jangan terus melihat ke pintu yang sudah tertutup, sampai-sampai kamu tidak menyadari ketika pintu lain dibukakan."
Ratna menarik napas panjang. Air matanya memang belum berhenti mengalir. Nasihat ayahnya memang benar, tetapi tetap saja ia belum yakin akan menemukan jodoh yang lebih baik dari Sarif.
***
Malam mulai larut. Rumah yang sejak pagi dipenuhi tamu akhirnya kembali tenang. Piring-piring sudah dibereskan, kursi-kursi kembali dirapikan, dan satu per satu anggota keluarga memilih beristirahat.