Taniza dan Tania.
Saudara kembar yang terpisah sejak kecil.
Taniza dan Tania merupakan kembar identik, hanya saja sifat mereka bertolak belakang.
Taniza adalah sosok anak yang lemah lembut, baik hati, tidak pernah menyakiti siapapun, ia gadis yang sangat penurut.
sedangkan Tania , ia gadis yang lebih liar, tidak mau di atur, suka seenaknya,dan lebih suka hidup semaunya..
namun di balik sifat keduanya yang sangat bertolak belakang, mereka sama-sama saling menyayangi, namun takdir berkata lain, mereka mengalami kecelakaan dan membuat nya terpisah,namun sebelum kecelakaan itu terjadi, mereka iseng-iseng bertukar nama, tapi ternyata pertukaran identitas itu terbawa sampai dewasa.
Bismillahirrahmanirrahim....
Yuk ikuti kisahnya....
kawal mereka sampai tuntas...
jangan lupa beri dukungan ya ...
salam sehat semua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Tak lama kemudian, suara gelak tawa dan langkah kaki terdengar beramai dari arah jalan depan rumah. Tiga orang teman pergaulan Niza di desa, dua pemuda dan seorang gadis yang biasa diajak mengurus karang taruna, berjalan mendekat dengan sopan.
"Assalamu’alaikum, Niza! Bu Sumiati!" sapa Yoga, salah satu teman dekat Niza, penuh semangat.
"Wa'alaikumsalam. Rapi-rapi mau ke mana kalian pagi-pagi begini?" tanya Ibu Sumi ramah.
Gadis di sebelah Yoga, Nina , melangkah maju sambil tersenyum lebar menatap Niza. "Ini lho, Bu... akhir pekan ini anak-anak Karang Taruna mau pendakian ke Gunung Salak. Kita baru saja berkumpul , Kebetulan cuaca lagi bagus-bagusnya. Kita ke sini mau menculik Niza!"
Mendengar kata Gunung Salak, mata Niza seketika berbinar terang. Jiwa petualang dan keberanian alaminya, sifat asli Tania yang tak pernah padam, seketika terbakar oleh rasa antusias. Menaklukkan jalur pendakian yang menantang, menembus hutan tropis, dan menikmati pemandangan dari puncak adalah hal yang sangat ia sukai.
"Wah, Gunung Salak?! Beneran mau naik minggu ini?" tanya Niza antusias, matanya berbinar-binar.
"Iya, Za! Jalur pendakian baru disemprot dan dibersihkan sama petugas. Kamunya gimana? Tubuhmu sudah enak, kan? Kemarin katanya sempat masuk rumah sakit?" tanya Yoga memastikan.
"Sudah sehat seratus persen! Samsak di rumah saja kemarin sampai jebol Niza tendang!" pamer Niza santai yang disambut tawa tawa renyah dari teman-temannya.
Namun, alih-alih langsung mengiyakan ajakan itu, adab dan kesopanan tinggi yang ditanamkan orang tua angkatnya membuat Niza menahan diri. Ia membalikkan badan dan berjalan mendekati Ibu Sumiyati serta Pak Harto yang baru keluar dari pintu samping.
Niza meraih jemari tangan ibunya dengan kedua tangannya, menatap wajah sang ibu dengan tatapan penuh permohonan yang santun.
"Ibu... Ayah... Niza boleh ikut teman-teman mendaki Gunung Salak?" minta Niza lembut, suaranya penuh rasa hormat. "Niza janji akan jaga diri baik-baik, ikut arahan ketua rombongan, dan tidak akan ceroboh. Boleh ya, Bu, Yah?"
Pak Harto menatap putri angkatnya lalu tersenyum tipis. Ia tahu betapa tangguhnya Niza secara fisik. Namun, sebagai orang tua, kekhawatiran tentu tetap ada, apalagi Gunung Salak terkenal dengan jalurnya yang cukup ekstrem dan mistik yang kental bagi warga lokal.
"Tubuhmu benar-benar sudah tidak sakit lagi, Niza?" tanya Pak Harto memastikan.
"Tidak sama sekali, Yah! Niza rasanya sedang bertenaga sekali hari ini," jawab Niza mantap.
Ibu Sumiati mengelus lembut pipi Niza yang merona segar. "Ya sudah... Ibu izinkan. Tapi ingat pesan Ibu, jaga adab di gunung, jangan sombong, selalu berdoa, dan jangan terpisah dari rombongan. Paham?"
"Siap, Ibu! Terima kasih, Bu, Ayah!" sahut Niza gembira, mencium tangan kedua orang tua angkatnya bergantian sebelum berbalik menghampiri teman-temannya dengan sorak kecil...
"Oke ,,,, Aku ikut" jawab Niza mantap di depan teman-temannya.
____
Di tengah ruangan, seluruh anggota keluarga berkumpul. Kakek Hamzah duduk di kursi rodanya dengan wajah tegang, sementara Danin, Chana, dan Filio berdiri berdampingan. Di depan mereka, Ameer berdiri tegak dengan pakaian rapi, siap untuk berangkat ke bandara menuju Amerika sekarang juga . Di samping Ameer, berdiri Tania,sosok yang jiwa aslinya adalah Taniza, dengan gamis yang sudah pas di tubuhnya karena Ameer sudah memerintahkan pada orang-orangnya untuk membelikan pakaian untuk Tania serta ameer meminta Tania untuk kembali ke kamar lamanya,namun Tania menolak karena sudah nyaman berada di kamar sempit, tetapi Tania memegang kunci kamar asalnya untuk meletakkan barang-barang yang cukup besar miliknya.
Tania menunduk anggun namun memancarkan keraguan di Matanya .
Ameer menarik napas panjang, mengedarkan pandangan mata tajamnya yang dingin ke arah Danin, Chana, dan Filio.
"Sebelum saya berangkat kembali ke Amerika untuk menyelesaikan tugas saya," suara Ameer bergema berat dan memutus keheningan, "ada satu hal penting yang harus saya umumkan kepada kalian semua di rumah ini."
Filio menaikkan sebelah alisnya, berpura-pura penasaran dengan senyum tipis di bibirnya.
Ameer menggenggam pergelangan Tania yang tertutup kain panjang dengan lembut, sebuah gerak perlindungan yang tegas. "Begitu saya kembali dari Amerika nanti, saya akan menikahi Tania secara resmi."
DEG!...
Pengumuman itu menghantam ruangan bagai petir di siang bolong.
Bibir Filio mendadak kelu, senyum manis buatan di wajahnya membeku seketika. Matanya membelalak lebar menatap genggaman tangan Ameer dan Tania. Rasa dengki, iri, dan kebencian yang amat sangat mendadak membakar dadanya hingga sesak. Jika pernikahan itu terjadi, Tania akan sah menjadi istri dari pemilik kepemimpinan tertinggi Hasanuddin Group,menjadikan posisi Tania tak tersentuh sama sekali di rumah ini.
Chana mengepalkan tangannya rapat-rapat di balik punggungnya, menggertakkan gigi menahan amarah yang hampir meledak, sementara Danin hanya bisa terpaku dengan raut wajah serba salah.
Namun, di hadapan Ameer, Filio memasang topeng terbaiknya. Ia menelan saliva yang terasa pahit, lalu memasang wajah terkejut yang dibuat-buat manis.
"Wah... Kak Ameer... Tania..." ucap Filio dengan nada gembira yang dipaksakan, melangkah mendekat sambil menepuk tangannya pelan. "Selamat ya... Filio terkejut sekali. Tapi Filio ikut bahagia kalau Tania akhirnya ada yang menjaga."
Tania, dengan jiwanya yang polos dan selalu berprasangka baik, mendongak dan tersenyum tulus mendengar ucapan Filio. "Terima kasih, Filio..." bisik Tania pelan, merasa haru karena mengira sepupunya benar-benar sudah berubah baik.
Ameer tidak terkecoh sedikit pun oleh akting Filio. Sebagai seorang agen rahasia, ia bisa melihat kilatan dendam yang tersimpan rapat di balik mata sepupunya itu.
Ameer meminta Tania untuk pergi sebentar menemani Kakek Hamzah ke taman belakang. Setelah Tania dan Kakek Hamzah melangkah menjauh, atmosfer di ruang tengah seketika berubah menjadi sangat dingin dan mematikan.
Ameer melangkah mendekati Filio dan Chana. Aura dominasinya begitu pekat hingga membuat Filio refleks mundur satu langkah.
Ameer menatap Filio tepat di manik matanya, menyipitkan mata dengan nada suara yang sangat rendah namun sarat ancaman mematikan.
"Filio... Tante Chana..." pangkas Ameer dingin. "Jangan pikir aku tidak tahu apa yang ada di kepala kalian. Pura-pura baik di depanku tidak akan mengubah fakta siapa kalian sebenarnya."
"Ameer, apa maksudmu?!" potong Chana berusaha membela diri, walau suaranya bergetar.
"Dengarkan ancamanku baik-baik," sela Ameer tegas, tidak memberi ruang untuk bantahan. "Selama aku di Amerika, jika aku mendengar ada satu helai rambut Tania yang gugur karena ulah kalian... jika ada satu luka baru di tubuhnya... aku tidak akan segan-segan mencabut seluruh hak keuangan kalian dari Hasanuddin Group. Aku akan memastikan kalian berdua keluar dari mansion ini tanpa membawa sepeser pun uang!"
Filio menahan napasnya, wajahnya pucat pasi mendengar ancaman finansial dan kekuasaan mutlak dari Ameer.
"Aku punya mata dan telinga di mana-mana di rumah ini," tambah Ameer tajam sambil menatap Filio. "Jaga kelakuanmu, Filio. Jangan coba-coba memancing singa yang sedang tertidur."
Setelah memberikan ancaman pamungkas itu, Ameer pamit pada Kakek Hamzah dan Tania, lalu melangkah keluar mansion menuju mobil yang sudah menunggunya.
Dari balik jendela kaca lantai dua, Filio berdiri memperhatikan SUV hitam Ameer yang perlahan menghilang di balik gerbang utama mansion. Topeng ramah dan manis yang tadi dipakainya runtuh seketika, berganti dengan raut wajah yang penuh kebencian dan rasa dendam yang makin membara.
Tangannya meremas pinggiran tirai hingga kusut.
"Menikah dengan Kak Ameer...?" desis Filio penuh racun, matanya menyala merah oleh dengki. "Jangan harap, Tania! Aku tidak akan pernah biarkan anak angkat pembawa sial sepertimu jadi Ratu di rumah ini, bayangkan saja ,semenjak ada kamu, ke empat orang yang menyayangiku meninggal , bahkan orang tua kandung mu pasti meninggal karena kamu memang pembawa sial, aku tidak ingin orang tua ku menjadi target selanjutnya!"
sebentar lagii, Ameer dan Tania akan Sah menjadi pasangan suami isteri, mungkin ya..kmu akan menghadirkan sosok Venera dihari yg sakral ini, tapiiii semua itu tidak akan membuat Ameer dan Tania goyah akan keputusan mutlak dr sesepuh Hasanuddin 😁 gaskuyyyy kakk, up lagiii yaaa.. krn kemarin aku tunggu dan bolak balik kesini ga ada muncul² 😆