Menceritakan soal pemuda bernama Lucien yang dulu dikenal sebagai Ash van Astoria, pangeran keempat yang dibuang karena dianggap gagal. Tidak punya sihir, dihina keluarganya sendiri, lalu dijatuhkan ke jurang demi menjaga "harga diri" kerajaan.
Tapi bukannya mati, ia justru dipilih oleh konstelasi kuno, Ophiuchus.
Sejak saat itu, hidupnya berubah.
Lucien mendapatkan kekuatan langka, kemampuan untuk memanggil dan mewarisi kekuatan dari para rasi bintang. Namun setiap konstelasi hanya akan memberikan kekuatannya kepada orang yang mereka akui.
Ditemani Chiron dari Konstelasi Centaurus, Lucien memulai perjalanan untuk menjadi lebih kuat, menaklukkan ujian para bintang, dan membuktikan kalau "sampah" yang dibuang kerajaan… bisa bersinar paling terang.
Dan ini baru permulaan.
Karena suatu hari nanti, 88 konstelasi akan menjadi kekuatannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katsumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Identitas Baru
Suasana kembali hening selama beberapa detik.
Gadis elf itu masih memalingkan wajahnya dengan pipi sedikit merah, sementara Ash hanya duduk canggung sambil menggaruk kepalanya sendiri.
Di samping mereka, Chiron terlihat santai sambil menikmati situasi.
Kruuuukkk~
Suara perut yang sangat jelas tiba-tiba menggema di area jurang.
"..."
"..."
Ash langsung membeku. Wajahnya perlahan berubah malu. "Ah... benar juga," gumamnya sambil memegangi perut. "Aku lagi cari makan..."
Gadis elf itu berkedip pelan. Baru sekarang ia sadar wajah Ash terlihat sedikit pucat. Ditambah lagi, tubuhnya tadi baru saja menerima luka dalam jumlah besar. Tidak aneh kalau kondisinya sekarang benar-benar kelaparan.
"Kau... belum makan?" tanyanya pelan.
Ash tertawa kering. "Kalau ada makanan di jurang begini, aku juga tidak bakal sengsara begini."
"Kondisi Anda benar-benar menyedihkan, Tuan," tambah Chiron santai.
"Diamlah..."
Perut Ash kembali berbunyi. Kali ini lebih keras.
Kruuuukk~
Ash langsung menutup wajahnya malu. "Tolong jangan bunyi terus..." gumamnya lemas pada perutnya sendiri.
Melihat itu, gadis elf tersebut tanpa sadar menahan tawanya sedikit.
"Pfft..."
Ash langsung menoleh. "Barusan kau ketawa, kan?"
"T-Tidak, kau salah denger," jawabnya.
Gadis elf itu buru-buru memalingkan wajah lagi sambil berusaha menenangkan ekspresinya. Namun bahunya masih sedikit bergerak menahan tawa.
Ash langsung memasang wajah pasrah. "Ugh... harga diriku hancur total hari ini..."
"Tidak perlu khawatir," ujar Chiron sambil menepuk bahu Ash. "Harga diri Anda sudah hancur sejak kejadian meraba dada tadi."
"KAU DIAM!!" tanpa sadar Ash membalas cukup keras.
Gadis itu diam-diam memperhatikan Ash—atau lebih tepatnya, manusia aneh di depannya itu. Sedari tadi ia sering berbicara sendiri, membalas sesuatu yang bahkan tidak bisa dilihat ataupun didengar orang lain.
Kalau dipikir normal, mungkin Ash memang gila. Namun Gadis itu tidak merasakan tanda-tanda kegilaan dari dirinya. Tatapan matanya masih jernih. Reaksinya juga terlalu natural untuk seseorang yang hanya berhalusinasi.
Apa dia memiliki roh yang terikat kontrak dengannya?
Kemungkinan itu langsung muncul di pikiran Gadis itu.
Sebagai elf, ia cukup familiar dengan teknik roh dan kontrak spiritual. Namun justru karena itulah ia merasa aneh.
Aku sama sekali tidak bisa melihat keberadaan roh di sekitarnya...
Padahal biasanya roh kontrak tetap meninggalkan jejak mana atau aura tertentu.
Namun di sekitar manusia ini, tidak ada apa-apa.
Atau mungkin... level roh itu terlalu tinggi sampai aku tidak bisa merasakannya?
Gadis itu melirik Ash sekali lagi sebelum akhirnya memutuskan mengabaikannya untuk sementara.
"Kalau begitu, apa mau kubantu cari makanan?" tawarnya.
Mata Ash langsung sedikit berbinar. "Y-ya... itu sangat membantu." Ia bahkan tidak mencoba menyembunyikan rasa lega di wajahnya.
Ash tahu kondisi tubuhnya sekarang sudah terlalu lelah. Kalau harus bertarung lagi demi mencari makanan, mungkin ia benar-benar bakal tumbang.
Gadis itu tersenyum kecil melihat reaksinya. "Kalau begitu kita coba cari jamur saja. Seharusnya ada beberapa spesies jamur yang tumbuh di sini."
"Ya...?" Jawaban Ash terdengar sedikit ragu.
Jujur saja, setelah mendengar kata jamur, ia langsung membayangkan jamur aneh beracun yang biasa muncul di game survival. Namun di kondisi sekarang, ia tidak punya hak buat pilih-pilih makanan.
Gadis itu perlahan berdiri sambil membersihkan sedikit debu di bajunya. "Ah, ngomong-ngomong..." ucapnya sambil menoleh ke arah Ash. "Namaku Azalea," ucapnya sambil tersenyum lembut saat memperkenalkan diri.
Ash sedikit terdiam. "Aku A—" Kata-katanya terhenti di tengah jalan.
Ash van Astoria. Nama itu tiba-tiba terasa berat di mulutnya. Nama seorang bangsawan. Nama seseorang yang dibuang ke jurang. Nama yang dipenuhi penghinaan dan pengkhianatan.
Entah kenapa... Ia tidak ingin menggunakan nama itu lagi.
Sebuah nama lain perlahan muncul di pikirannya. Nama yang pernah ia miliki sebelum semua ini terjadi.
"Lucien..." ucapnya akhirnya.
Nama itu terasa asing sekaligus familiar di saat yang sama.
Azalea memiringkan kepalanya sedikit. "Lucien yah..." gumamnya pelan. "Kalau begitu kupanggil Luc saja boleh?"
Ash—tidak, Lucien—terdiam sesaat sebelum akhirnya mengangguk kecil.
"Ya... tidak masalah."
Untuk pertama kalinya sejak terbangun di jurang itu, ia merasa seperti benar-benar meninggalkan identitas lamanya.